
Haikal mendekat ke arah Nining, memegang pipi keponakannya, Apa yang Haikal lihat, memang benar itu adalah bekas tamparan.
"Aw."
Sang Bibi terlihat kesal dengan perlakuan Lina terhadap anaknya, ingin sekali wanita tua itu menampar balik Lina.
Haikal mulai bertanya dengan sebuah pertanyaan, yang akan menyulitkan Nining untuk menjawab.
Nining tidak akan bisa berbohong jika Haikal bertanya dengan pertanyaan yang akan menjebak keponakannya itu.
Ardi Yang penasaran dengan teriakan wanita tua yang menjadi Bibi Haikal kini menghampiri suara teriakan itu.
terlihat gadis kampung yang ia temui memegang Pipi dengan wajah meringis kesakitan.
sedangkan Haikal berusaha memberi pertanyaan kepada Nining. Tidak ada kata kasihan terlukis dari wajah Haikal.
"Nining. Kenapa Lina bisa kabur, dan menampar kamu?"
"Nining tadinya mau mencegah Teteh Lina untuk kabur, akan tetapi tenaga Teteh Lina begitu kuat. Teteh Lina berani menampar Nining, karena Nining yang terus menghalangi jalan untuk Teteh Lina biar tidak kabur."
"Apa alasan dia kabur?"
"Untuk masalah itu, Nining tidak tahu. karena Teteh Lina tidak pernah curhat kepada Nining."
Biasanya jika Haikal memberi pertanyaan, Nining selalu gugup, apalagi ketika Nining berbohong. Tapi tidak dengan sekarang, Nining terlihat tegar dan santai menerima pertanyaan yang terlontar dari Haikal.
Wanita tua yang menjadi Ibu Nining, kini menimpa pertanyaan keponakannya, "Sudahlah Haikal, jangan kamu bertanya lagi kepada Nining, jelas Nining itu tidak salah. Kamu yang seharusnya tidak membawa wanita itu ke desa ini. sekarang wanita itu kabur dan apa nanti kata orang, jika mereka tahu ada wanita yang kamu bawa ke desa. Mau ditaruh ke mana muka keluarga kita Haikal."
Haikal mengerti apa yang dikatakan bibinya, Ketika pulang ke desa seorang lelaki tidak boleh membawa wanita yang bukan mahramnya. Walaupun itu adik dari keluarga almarhum istri.
Haikal hanya terdiam menerima ucapan yang terus terlontar dari mulut sang bibi. Amarah yang terus menggebu dari mulut sang Bibi membuat Ardi perlahan menghampiri Haikal
"Ada apa ini?"
sontak semua orang yang berada di sana kaget dengan Ardi yang tiba-tiba saja datang, Tapi tidak untuk Nining, ia malah tersenyum senang melihat kedatangan Ardi, seakan ada peluang untuk dirinya bisa masuk ke dalam hati lelaki tampan yang membuat hatinya jatuh cinta.
Haikal semakin bingung dengan masalah yang terus berdatangan silih berganti, Iya hanya bisa menarik nafas kasar merangkul sang sahabat untuk berbicara di luar rumah.
Haikal berusaha berbicara dengan nada lembut dan berhati-hati. Iya takut jika perkataannya mampu membuat amarah dan kesedihan terlukis dari wajah sahabatnya.
__ADS_1
"Maafin gue, Lina kabur."
"Kabur?"
"Iya. Kemungkinan besar, ia tahu kamu akan menjemputnya!"
"Kenapa dia menghindar, padahal sebentar lagi dia akan menikah denganku?"
pertanyaan Ardi membuat Haikal tak mampu menjawab, ia takut akan ucapannya yang akan menyakiti hati sahabatnya itu.
Ardi menyender pada tihang kayu penahan rumah, hatinya kini benar benar rapuh.
"Padahal baru kemarin aku merasakan rasa bahagia, tapi sekarang ...."
Ardi tak melanjutkan perkataanya, hatinya malah sesak, antara kesal dan juga resah.
"Aku tak tahu jika semua ini akan terjadi pada Ardi. Rasa bersalah mulai aku rasakan sekarang, kenapa Lina harus menyukaiku," gumam hati Haikal. Menatap ka arah sahabatnya yang menyimpan kegelisahan.
Haikal berusaha menenangkan sahabatnya saat itu, ia menepuk bahu Ardi dan berkata," kamu harus berusaha membuat dia menyadari pengorbanan kamu selama ini, karna Lina itu masih tahap dalam mengenal cinta."
"Mm, ya. Karna mungkin dia masih bocah, jadi aku harus bisa membuat dia sadar."
Haikal memperlihatkan jempolnya, membuat Ardi tersenyum.
Mereka saling memukul tangan satu sama lain, membuat persabatan terjalin kembali.
Nining yang mendengar Haikal menasehati orang yang ia suka, seakan tak terima.
"Percuma Aa Haikal. Menasehati Ardi, toh teteh Lina sudah keras kepala, dia tetap mencintai Aa Haikal. Makanya dia tidak mau bertemu dengan Ardi."
Sang ibu yang mendengar ucapan anaknya berkata seperti itu, membuat ia kini berucap," apa yang kamu maksud, Nining."
Nining kaget dengan sang ibu yang ternyata sudah ada di belakang punggungnya, membuat ia menutup mulut dengan telapak tangan.
"Apa yang kamu katakan tadi, Ning. Cepat jawab?"
Sang ibu semakin menekan Nining untuk berbicara, akan tetapi mulut Nining seakan berat mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya.
Wanita tua itu memegang bahu anaknya, menggoyang-goyangkan dengan kasar, ia ingin anaknya berkata jujur dengan apa yang terdengar dari kedua telinga ibunya sendiri.
__ADS_1
"Cepat katakan, Ning. Ibu tidak mau kamu larut dalam kebohongan terus menerus."
Kenapa cinta mampu membuat seseorang berkata bohong, mampu membuat seseorang terluka? Apalagi sekarang Nining tengah merasakan arti sebuah jatuh cinta yang belum ia pahami sebelumnya.
"Nining."
Bibir tebal itu kini mampu berucap di hadapan wanita tua yang menjadi ibu kandung Nining.
"Aku takut jika aku mengatakan semuanya, ibu akan marah."
perkataan Nining ditepis oleh sang ibu, wanita berbibir tebal dengan rambut panjang berwarna hitam yang begitu melekat, membuat ia menarik nafas secara perlahan. Mencoba untuk bisa menceritakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Lina.
di mana ada sebuah cerita tentang kata cinta, yang tak seharusnya terjadi di antara Lina dan juga Haikal.
" sebenarnya teteh Lina kabur, sudah dari rencana kita."
"Rencana? Maksud kamu Ning."
"Teteh Lina teh bikin rencana untuk kabur bohongan karna ia tidak mau bertemu dengan tunangannya."
"Kenapa?"
"Karna teteh Lina mencintai Aa Haikal."
"APA."
Betapa syoknya lelaki tua yang menjadi bapak Nining, setelah mendengar percakapan antara Nining dan juga istrinya.
"Aduh gimana ini teh, Bu. Bapak jadi dengarkan," ucap pelan Nining dengan raut wajah ketakutanya.
sang Ibu kini memegang tangan Nining yang gemetar karena rasa takut akan Bapaknya mendekat dan menghampirinya, Nining takut pertanyaan-pertanyaan terlontar dari mulut bapaknya sendiri.
Iya tak mau ikut campur akan masalah yang dihadapi Haikal dan juga Lina, maka dari itu ia hanya diam. Tapi saat sang Ibu mendengar ucapannya yang tak terkotrol.
Membuat ia terpaksa mengatakan semuanya, karena dorongan sang ibu yang terus mendesak Nining untuk berkata jujur.
Kedua mata lelaki tua itu membulat, mendekat dan semakin mendekat ke arah Nining. Hanya saja sang ibu berusaha melindungi anak semata wayangnya akan amukan sang bapak.
"Kamu tenang aja, ibu akan menjelaskan semuanya pada bapak kamu."
__ADS_1
Nining hanya bisa mengangguk dan bersembunyi dari kemarahana bapaknya, Nining bersembunyi di pelukan sang ibu dengan begitu sangat erat.
Erat dan semakin erat, membuat lelaki tua yang menjadi ayah Nining. Menarik paksa anaknya.