Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 111


__ADS_3

Perut Dinda terasa begitu sakit, membuat ia menekan perutnya dengan tangan kiri." Kenapa Perutku semakin sakit." gumam hati Dinda.


lelaki berjubah hitam itu seakan puas melihat Dinda yang semakin kesakitan. di atas sabar melihat tindak terkulai lemah di atas lantai tanpa seorang pun tahu keadaannya.


"Akkh." teriak Dinda semakin kesakitan.


"Bagaimana Dinda, sakit bukan?" tanya lelaki berjubah hitam itu.


"Tolong aku," ucap Dinda.


"Menolongmu, itu tidak mungkin Dinda. Aku tidak akan menyelamatkanmu," balas lelaki berjubah hitam mencoba mendekat ke arah Dinda.


"Kenapa kamu jahat kepadaku, apa salahku selama ini?" tany Dinda.


.


"Kamu ingin tahu kesalahanmu apa? Hah, dasar kamu Dinda, pura pura lupa!" jawab lelaki berjubah hitam itu. Memengan kedua pipi Dinda dengan tanganya.


"Apa maksud perkataan kamu, berpura pura?"


@@@@@


Haikal kini meraba ke ranjang tempat tidur di sampingnya, " Dinda."


Ia kaget karna tertidur, sampai dirinya bangun. Melihat sang istri yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya.


"Dinda ke mana kamu?"


Haikal tentulah panik, dengan sang istri yang tidak ada di sampingnya, membuat dirinya terburu buru bangun mencari Dinda. Haikal mempercepat langkah kakinya untuk segera menemui Dinda yang sudah tidak ada di dalam kamar. hatinya merasa tak enak, ia menyesal karena sudah tidur.


betapa kagetnya Haikal melihat sang istri sudah terkulai lemah di atas lantai, dengan bergegas Haikal menghampiri Dinda dan membangunkan istrinya itu.


"Dinda, Bangun, Dinda."


kedua mata Dinda tetap saja menutup, saat Haikal terus membangunkannya.


"Dinda."


lelaki berbadan kekar itu mencoba mengangkat sang istri dari atas lantai, ia mencoba menidurkan istrinya di sofa.


"Dinda, bangun."

__ADS_1


Dinda tetap saja tidak sadarkan diri, membuat kecemasan pada diri Haikal," ya tuhan. Kamu kenapa Dinda."


Haikal berusaha berlari kearah kamar, ia mencoba mencari keberadaan ponselnya.


" Hah, ke mana ponselku?" tanya Haikal pada dirinya sendiri.


ya terus mencari keberadaan ponselnya yang tidak ia temukan, Padahal dari tadi ponselnya masih berada di atas ranjang tempat tidur, namun tiba-tiba saja ponsel itu menghilang. membuat kepanikan semakin dirasakan Haikal.


Haikal melihat ke arah jendela yang sudah terbuka lebar, Dia berjalan kearah jendela itu. melihat sosok lelaki berjubah hitam berlari.


"Sial, ponselku di curi oleh orang itu."


mengacak rambut Haikal bingung harus melakukan apa lagi, padahal Ia berniat untuk menelepon ambulans.


"Ahk, siapa orang itu. Kenapa dia malah meneror keluargaku, apa tujuan dia?" Gumam hati Haikal.


jam yang sudah menunjukkan pukul 2 malam, membuat Haikal tak berpikir panjang. Ia dengan sigap membopong sang istri untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


Meminta tolong pada orang yang berada di sekitar sana.


Hening tak ada satu orang pun yang ia lihat.


"Ke mana orang orang di sini, aku sudah lelah mencari keberdaan mereka hanya untuk membantuku," ucap Haikal yang mulai putus asa.


Haikal berlari dengan membopong sang istri, hanya untuk mencari bantuan.


"Tolong."


Sampai setengah perjalanan, Haikal menemukan orang yang tengah berjaga di ronda.


"Pak, tolong istri saya," ucap Haikal dengan napas terengah engah, lelah karna berlarian ke sana ke mari.


"Ya pak, kenapa dengan istri bapak?" tanya orang orang di sana.


"Istri saya seperti keracunan makanan!" jawab Haikal terlihat sangatlah kelelahan.


Orang orang di sana langsung berlari untuk mencari kendaraan, agar bisa membawa Dinda ke rumah sakit.


"Bapak tenang dulu, teman saya sedang mencari kendaraan untuk membawa istri bapak," ucap salah satu warga yang tengah berjaga di pos ronda.


beberapa menit kemudian, kendaraan yang dibawa oleh salah satu warga kini menghampiri Haikal. dengan Sigap Haikal harus meletakkan istrinya di dalam mobil itu.

__ADS_1


Mereka membawa Dinda dan Haikal dengan begitu cepat.


"Dinda kamu bertahan, ya," ucap Haikal kepada sang istri. Yang masih memejamkan kedua matanya.


Dinda tetap saja tak bangun, ia tak sadarkan diri. Haikal begitu cemas, dirinya sangat mengkhawatirkan di Indo dan juga calon bayi yang berada dalam kandungan istrinya.


"Dinda, kamu bertahan ya, aku yakin kamu mendengar ucapanku." ucap Haikal.


air mata Haikal tak terasa kini jatuh mengenai kedua Pipi, ia terus mencium punggung tangan sang istri yang masih tak sadarkan diri.


" Kamu harus kuat Dinda," ucap Haikal.


saat Haikal melihat ke arah kaca mobil, ya begitu heran. jalanan yang dilalui mobil bukanlah jalanan ke arah rumah sakit. yang mengerutkan dahinya merasa heran dengan sang supir yang tak bicara dari tadi.


"Ke mana ini?" Gumam hati Haikal.


Haikal menatap ke arah kaca mobil yang memperlihatkan wajah Supir itu, melihat senyuman licik dari bibir sang supir.


"Sepertinya tidak ada yang beres saat ini." Gumam hati Haikal.


Haikal tak tahu dirinya akan dibawa kemana oleh sopir, dia hanya terdiam dan berusaha memikirkan cara agar dirinya tidak dibawa jauh. Bersama sang istri oleh sopir yang ia curigai bahwa sopir itu adalah komplotan lelaki berjubah hitam.


saat itulah ide mulai berdatangan, Haikal mencoba berpura-pura tak tahu apa-apa. Ya berusaha mengajak mengobrol sang sopir yang tengah menjalankan mobil dengan begitu fokus.


"Pak lebih cepat ya, saya takut istri saya kenapa kenapa," ucap Haikal.


dia mencoba meraih benda yang tak jauh dari hadapannya, Entah kenapa di dalam mobil itu ada pistol. membuat dirinya semakin yakin jika orang yang akan membawanya berusaha untuk mencelakai dirinya dan juga sang istri.


"Aku harus waspada."


Haikal mengambil pistol itu dan menaruhnya di dalam saku celana yang begitu besar, dirinya berusaha bersikap tenang agar sang supir tidak mencurigai gerak-gerik yang ia jalankan saat ini.


"Mm, pak sopir aku haus. Dari tadi berlarian ke sana ke mari, apa kamu punya air minum untuk di minum."


Sopir itu tetap saja diam, tak berkata satu patah katapun. dia mulai menyodorkan air minum untuk Haikal. dengan Sigap langsung mengambil air minum yang disodorkan sang supir.


"Terima kasih, pak Supir."


Supir itu tetap saja tidak menjawab balasan dari perkataan Haikal, Haikal mencoba meminum botol yang berisi air minum yang diberikan sang sopir. saat Haikal mulai meminum botol yang berisi air putih itu, tiba-tiba saja ia mencium aroma Yang tak menyenangkan dari dalam botol itu. membuat dirinya berpura-pura untuk meminum seteguk air minum dari botol yang diberikan sang sopir.


" sepertinya Sopir itu mau meracuni diriku." gumam hati Haikal.

__ADS_1


Haikal mencoba memberikan botol minum itu, ya berpura-pura merasakan rasa ngantuk Yang begitu berlebihan." ya tuhan, rasanya kepalaku terasa sakit sekali. Ini kenapa ya?"


Sopir itu tiba-tiba angkat bicara," sudah Sebaiknya kamu tidur dulu, karena rumah sakit masih jauh."


__ADS_2