
#Kau_Buang_Istrimu_Seperti_Sampah_Ku_Pungut_Dia_Seperti_permaisuri
"Dinda, Dinda buka pintunya."
Burhan terus saja menggedor pintu depan rumah. Dinda dan Lina terkejut mendengar teriakan Burhan, mereka yang masih duduk di balik pintu, dengan sigap Dinda sang kakak menyuruh adiknya untuk segera pergi memasuki kamar tidur.
"Dinda kenapa lama sekali." Gedoran pintu itu semakin keras. Hingga Burhan menendang pintu depan rumah.
Dinda mengusap bulir bening yang menetes dengan kedua punggung tangannya, seraya berdiri membuka pintu depan rumah.
"Ke mana aja kamu ini, bodoh. Kenapa kamu lama sekali buka pintu rumah," teriak Burhan menenteng nasi bungkus untuk di makan.
"Maaf bang, tadi Dinda lagi di kamar mandi!" jawab Dinda berbohong.
"Ya sudah. Ini nasi bungkus buat kamu dan adik kamu cepat makan," ucap Burhan menyodorkan keresek putih berisi dua bungkus nasi berserta lauk pauknya.
Dinda meraih keresek putih itu, segera menyiapkannya untuk adiknya.
"Lina ayo kita makan," panggil sang kakak kepada adiknya.
Lina datang dengan raut wajah yang murung.
Sesekali Burhan yang terduduk menyender pada kursi melirik pada Lina gadis kecil yang mulai beranjak dewasa.
Burhan berbisik dalam hati, ternyata Lina sudah mulai beranjak dewasa. Tak sia-sia baru kemarin aku menemukan dia di panti asuhan. Lumayan, bisa ku cicipi.
Dinda yang melihat tatapan Burhan kepada adiknya sungguh berbeda. Dinda seakan takut saat itu, karna dia tahu adiknya sudah mulai beranjak dewasa. Walau pun umurnya masih kecil, tapi Lina mempunyai badan yang bongsor dan bodi yang sudah terlihat menonjol.
"Bang." Panggil Dinda.
Burhan mengabaikan panggilan istrinya, Lelaki berkepala botak itu tengah melamun sembari tersenyum dan menggosok-gosok janggut tipisnya dengan kedua jari tangan.
"Bang." Panggil lagi sang istri.
Tiba-tiba lamunan Burhan seketika membuyar, membuat ia terentak kaget.
"Dinda kenapa sih," sentak Burhan yang kesal dengan sang istri yang telah membuat lamunannya membuyar.
"Maaf bang, apa abang sudah makan. Kenapa abang melamun?" tanya Dinda pada sang suami. Ada rasa curiga menghantui Dinda saat tatapan Burhan pada Lina.
"Kalian makan saja lah, aku sudah makan tadi di warung," ucap Burhan berlalu pergi. Dengan rasa kesal yang menyelimuti hati, karna Dinda sudah membuat khayalan Burhan menjadi buyar.
Setelah kedua adik kakak itu selesai makan, Lina tiba-tiba menarik tangan kakaknya.
"Ka, Lina takut liat kak Burhan," ucap Lina wajahnya tampak murung.
"Tenang Lina, ada kakak. Kamu jangan khawatir kakak pasti jagain kamu!" jawab sang kakak meyakini adiknya.
"Kaka jangan jauh-jauh sama Lina ya. Kalau kakak pergi Lina ikut," ucap gadis berambut pendek itu seraya memegang kedua tangan kakaknya.
Dinda mengusap rambut pendek Lina seraya memeluk penuh kasih sayang," ya. Kaka janji sayang. Kamu jangan takut lagi ya."
Lina menganggukan kepala, mengiya kan perkataanku.
Sejujurnya kaka juga takut Lina, takut kamu di apa-apain oleh Bang Burhan. Bisik Hati Dinda.
Dinda sungguh di belitkan dengan kehidupannya sekarang, setiap Dinda kabur Burhan selalu menemukannya. Terlalu banyak teman dan komplotan Burhan di daerah Dinda tinggal.
"Sekarang kamu tidur, kakak akan bawa kamu pergi dari rumah ini besok."
Lina akhirnya tertidur di kamar, tak lupa dengan sang kaka yang selalu menemani.
Melihat Lina yang tertidur begitu lelap membuat Dinda menangis, seraya berucap." Maafkan Kaka yang lemah ini Dinda. Kaka tidak tahu suami kakak sekejam itu."
Dinda merogok dompetnya, melihat foto almarhum kedua orang tuanya. Air matanya seketika tumpah begitu saja.
__ADS_1
"Ibu, Bapak. Sebenarnya kalian punya salah apa sama Bang Burhan, kenapa lelaki yang menjadi suami Dinda begitu kejam."
Mengusap air mata dengan punggung tangannya, Dinda mulai menarik nafas pelan begitu terasa sesak di dada. Karna terlalu banyak sekali beban yang kini ia rasakan.
"Dinda." Teriakan Burhan mengagetkan Dinda yang tengah melamun memikirkan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Dinda segera berlari menghampiri sang suami. " Ada apa bang?" tanya Dinda.
"Tolong pijitin badanku, aku cape!" suruh Burhan yang sudah bertelanjang dada.
Urutan pertama, sudah Dinda lakukan hingga. Hasrat Burhan tiba-tiba kambuh, ia mulai menyentuh Dinda, entah kenapa saat Burhan menyentuh Dinda ia malah mendorong tubuh istrinya.
"Abang kenapa?" tanya Dinda. Dalam balutan kain yang sudah terbuka oleh sang suami.
"Aku mau tidur saja. Gak nafsu liat badan kamu yang kerempeng!" jawab Burhan membuat hati Dinda merasakan sakit.
Dinda segera merapikan baju, dan berlalu pergi dengan luka yang membekas pada hati.
Memegang dada begitu erat, merasakan sakit yang sangat luar biasa. "Padahal sering sekali Mas Burhan berkata seperti itu, tapi kenapa hatiku menangis."
Memegang dinding dengan kedua tangannya, tubuhnya merosot seketika, " Kenapa aku sebagai seorang istri di perlakukan macam sampah. Bang Burhan selalu menjauhiku dan berkata bahwa aku ini jijik."
Dinda merangkul kedua lututnya, mencoba menahan air mata yang terus saja mengalir.
"Ka Dinda kenapa di sini?" tanya Lina. Menghampiri sang kakak.
"Lina, kakak enggak kenapa-napa ko. Ayo kita tidur lagi!" jawab sang kakak mengusap pelan air mata yang mengalir.
"Kaka jangan bohong. Kaka nagis ya?" tanya Lina. Terduduk di atas lantai.
"Kaka enggak kenapa-napa Lina. Kaka hanya ingat sama ibu dan bapak, sudah ayo kita tidur ini sudah malam!" ajak Dinda berdiri. Merangkul sang adik masuk ke dalam kamar tidur.
Jam menujukan pukul 02:00 malam di mana Burhan terbangun tiba-tiba. Ia merasakan ingin buang air kecil, di saat itu pun Burhan melihat Lina sang adik tengah pergi ke kamar mandi. Burhan mulai mengikuti Lina dari belakang. Ternyata Lina tengah berwudu untuk menunaikan Shalat malam.
"Ini kesempatanku," ucap pelan Burhan.
Ia mulai merencanakan aksinya. Menunggu di balik pintu.
Sesaat pintu itu terbuka, mulut Lina tiba-tiba di bungkam di bawa ke dalam kamar tidurnya.
"Diam kamu, aku akan berikan kenikmatan untuk kamu Lina," bisik pelan Burhan pada telinga kiri Lina.
Lina meronta melawan, mencakar. Pada wajah Burhan, dengan sekuat tenaga dia berusaha melawan.
Burhan sudah mulai menyentuh mengangkat rok panjang Lina.
Lina terus berusaha melawan meminta pertolongan dalam hati. Agar di selamatkan dari nafsu bejat sang kakak.
Jeritan hati Lina terus meraung, meminta tolong kepada sang maha kuasa. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara karna bungkaman dari tangan Burham yang begitu keras.
"Tenang Lina aku tidak akan menyakitimu."
Air mata Lina mengalir mengenai telinga, tenaganya mulai melemah. Sudah berusaha melawan, tapi tenaga Burhan begitu kuat.
Di dalam kamar tidur, Dinda meraba-raba kasur. Terbangun mencari sang adik.
"Dimana Dinda?"
Rasa khawatir menghantui hati Dinda, ia mulai beranjak berdiri dari tempat tidur. Mencari keberadaan Lina.
Dengan sigap Dinda menghampiri kamar suaminya. Dinda melihat Lina tengah di bekam oleh Burhan saat itulah Dinda mengambil kursi besi di belakangnya.
Memukulkan pada kepala Burhan.
__ADS_1
Dan Brugggg ....
Burhan terjatuh, mengeluarkan sedikit darah segar. Matanya mulai samar, Burhan pingsan seketika.
"Ya Allah, Lina kamu enggak kenapa-napa de?" tanya Dinda. Memeluk sang adik dengan terisak tangis, tangannya bergetar ketakutan.
"Ayo kita pergi dari rumah ini, sebelum suami kaka bangun."
Dinda merangkul bahu adiknya membawa ke kamar untuk segera berkemas. Lina masih merasakan trauma yang berat.
Saat itulah mereka kabur dari rumah.
"Lina takut ka," ucap sang adik air matanya mengalir deras.
"Kamu tenang de, kita pergi jauh dulu dari sini!" jawab sang kaka, sembari berjalan beriringan tengah malam.
"Kita mau pergi ke mana, angkutan pun tidak ada?" Lina mengeluh. Dia benar-benar ketakutan.
Dinda terus menenangkan sang adik. Ada rasa sedikit tenang pada diri Dinda, karna mereka telah pergi jauh dari rumah Burhan.
Walau pun hanya dengan berjalan kaki.
Jam sudah menujukan pukul 04:35 dimana terdengar suara adzan subuh berkumandang. Lina dan Dinda berhenti di salah satu masjid, untuk menunaikan shalat subuh.
Mereka mengambil air wudhu membasuh pada area tubuh yang wajib di basuh.
Rasa tenang mulai menyelimuti hati dan pikiran mereka berdua, berdoa meminta pertolongan pada sang maha kuasa dengan pasrah dan karna sang Ilahi Robbi.
Meminta petunjuk dari semua musibah yang menimpa sang adik.
Setelah Shalat Lina berkata pada sang kakak," ka. Kita istirahat saja di sini, Lina lelah berjalan kaki terus. Lina ingin tidur sebentar."
Dinda menganggukkan kepala, menyuruh sang adik tertidur pada kedua paha kakanya.
Dinda terus bertasbih beristigfar, meminta kekuatan dan ketabahan dari segala yang menimpanya.
"Semoga saja Burhan tidak menemukan kami di sini." Ucap Pelan Dinda, mulutnya kian menguap. Ada rasa kantuk menghantui dirinya.
*******
"Ahk, sakit."
Burhan terbangun sembari memegang kepalanya. Ia melihat pada tangan kanannya terdapat bercak darah.
"Kenapa aku begini," ucap pelan Burhan. Lelaki berkepala botak itu. Berusaha berdiri mencari istrinya.
"Dimana Dinda."
Saat melihat pintu depan rumah ternyata sudah terbuka. "Sial mereka pasti kabur, awas aja kamu Dinda."
Burhan berusaha untuk meraih gelas minum, terasa sekali tenggorokannya seakan kering. Menegak air minum itu dengan rasa kesal, karna aksinya semalam tidak berhasil.
Dinda malah memukul kepala Burhan begitu keras dengan kursi besi. Membuat kepala Burhan terus terasa sakit, melempar gelas yang masih terisi air putih.
"Ahk, sial. Dinda. Aku benar-benar ingin membunuhmu sekarang."
Mengacak kepala dengan kasar resah gelisah yang kian di rasakan Burhan membuat dirinya benar-benar stres.
Burhan segera mengambil ponselnya dan menelepon sahabatnya.
__ADS_1