Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 204 Ardi syok.


__ADS_3

Percakapan kedua polisi kini di akhiri dengan sebuah suara ponsel berbunyi, di mana satu panggilan masuk, membuat Jerry langsung mengangkat panggilan telepon dari ponselnya.


"Halo. Ar?"


"Jerry, bagaimana. Apa kamu sudah menemukan Pras!?"


"Belum Ar, kami sedang berusaha, Pras begitu pintar dalam memainkan petak umpet."


Ardi sedikit terkekeh saat Jerry berkata petak umpet, " Mm. Padahal aku sangat menghuatirkan Alya, apa dia baik baik saja. Ya?"


"Cie .... Cie .... Cinta lama mulai bersemi kembali!" sindir Jerry, membuat Ardi mengusap pelan wajahnya.


"Astga, bukan maksud aku begitu Jer," ucap Ardi.


"Ye elah bicara lu formal banget, sok soan sopan ama pak pol. Udahlah ngaku aja lu masih suka sama Alya kan?" tanya Jerry penasaran dengan jawaban Ardi sahabatnya.


"Rasa cinta, adalah sedikit. Tapi hati gue berusaha buat lupain Alya sepenuhnya, karna cinta sejati gue sekarang Lina!" jawab Ardi.


Jerry mendengar ucapan Ardi membuat ia, memajukan bibir bawahnya," Prett ..., pret ...."


"Napa lu, kentut, pastas bau bunga bangkai," ucap Ardi melayangkan candaan.


"Iri gue ama lu, bisa bisanya. Lu dekat terus sama ciwi ciwi cantik yang bodynya aduhay, montokss," balas Jerry.


"Apa sih lu, kalau ngomong yang benar, belajar dulu Abc biar ngomonglu enggak belepotan," ucap Ardi. Mebuat Jerry tertawa lepas.


"Habisnya hidup lu enak," balas Jerry.


"Enak karna punya cewek cantik? Heh lu makanya kalau mau cewek cantik kaya gue. Jangan lengkong kaya cewek, coba deh kekar dikit, apalagi lu polisi," sindir Ardi.


"Mm, emang gue kaya begini, Ardi, lu ya, lama lama gue cium," Jerry membuat Ardi terdengar muntah muntah.


"Hih. Najis."


Saat itulah panggilan telepon pun terputus sebelah pihak.


Jerry lelaki yang terlihat gagah, akan tetapi ia mempunyai salah satu masalah yang tidak di ketahui orang lain, sampai ia belum berani menikah.


Entah karna masa lalu? Atau tentang kehidupan dalam keluarganya?


Jerry orang yang bisa menutup luka di hatinya di hadapan orang lain, tanpa orang lain tahu bahwa dirinya pun sedang tidak baik.


Menghelap nafas yang terasa berat, Jerry kini mulai menyuruh para sahabatnya untuk melakukan pencarian besok lagi, karna waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Waktu mereka pulang dan beristirahat.


@@@@

__ADS_1


Lina yang tengah menikmati air mengalir dari atas sofwer dengan menutup kedua matanya, di dalam Kamar mandi, ia duduk santai pada redtum yang sudah berisi air hangat, membuat pikirnya seketika mengigat wajah Haikal.


Seketika percikan air yang mengalir pada rambutnya membuat ia membuka mata dan berkata," kenapa aku memikirkan kak Haikal. Bodoh Lina, walau pun Kak Haikal cinta pertamamu, kamu harus sebisa mungkin melupakan dia."


Lina menepuk kedua kepalanya dengan telapak tangan, ia tak menyangka jika hati tak bisa di bohongi.


Ia mencoba menenggalamkan kepalanya pada air yang berada di redtum, berusaha melupakan kepenatan masalah tadi siang.


"Ayo Lina kamu pasti bisa."


Beberapa menit kemudian, Lina mulai mengangkat kepalanya dari permukaan air, tanganya mengusap kasar wajah yang sudah basah dengan air.


Nafasnya terasa tersengal, akibat isi dari kepala yang harus ia bersihkan segera mungkin.


"Ayo Lina kamu bisa."


@@@@@@@


Sedangkan Haikal yang baru saja menginjak kaki di dalam rumah Ardi, tentulah bingung. Apalagi, rumah Ardi yang besar membuat ia tak tahu arah ke mana ia berjalan.


"Ke mana Ardi dan Lina, hah. Mana rumah ini gede banget."


Maklum saja Haikal orang kampung, ia memang terkenal sedikit culun di mata teman kantornya.


Walau pun begitu semenjak mengenal Ardi perubahan Haikal perlahan berubah.


Walau berat awalnya bagi Haikal. Tapi lama kelamaan kini Haikal sedikit terbiasa.


Saat itulah Haikal mencari seseorang yang bisa ia tanya, karna rasa ingin kecing membuatnya tak tahan.


"Eh, maaf Mbak, toilet di rumah ini sebelah mananya?"


Haikal yang memang tak fokus dengan menahan rasa ingin buang air kecil, membuat ia melihat telunjuk tangan yang salah dari pelayan yang memberi tahunya.


"Bapak tinggal lurus aja, nanti belok kiri lurus lagi terus. Nanti belok kanan, terus sampai belok kiri!"


Haikal menggaruk belakang kepalannya yang tak terasa gatal, membuat ia benar benar lupa akan arahan yang rumit dari pelayan di rumah Ardi.


"Ya sudah Pak, saya pamit mau mengantarkan dulu minum pada tuan Ardi." Sang Pelayan kini bergegas pergi, membuat Haikal mencoba memanggil kembali pelayan yang mengarahkannya jalan ke toilet.


"Mbak, e .... Tung ...."


Pelayan itu kini sudah pergi menjauh, membuat Haikal yang mencoba memanggilnya kembali.


"Ya, pelayanya sudah pergi jauh. Cepet amat jalanya."

__ADS_1


Haikal merasa tak tahan ingin buang air kecil, membuat ia berlari mengikuti jalan di rumah itu.


"Di mana sih toiletnya. Kenapa enggak ada tulisanga kaya di kantor atau di mall gitu."


Haikal berusaha mengigat perkataan pelayan yang menunjukkannya arah ke jalan toilet.


"Tadi pelayan itu bilang lurus, terus belok kanan apa belok kiri ya?"


Haikal di rendungi kebingungan, membuat dirinya kesal sendiri karna sudah tak sanggup lagi menahan air kencing.


"Astaga, di mana sih toiletnya?"


"Mm. Apa ini ya?"


Tangan Haikal kini mulai membuka ruangan yang entah ia tak tahu ruangan apa, dengan pelan. Pintu kini terbuka.


"Hah, tidak di kunci?"


Haikal senang ia bisa masuk dan mencari toilet di ruangan itu.


"Mudah mudahan di ruangan ini ada toilet."


@@@@@


Lina merasa dirinya sudah bersih, dan terasa tenang. Ia kini berdiri, meraih handuk yang tak jauh dari hadapanya.


Wanita berambut pendek, kini mulai mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dengan haduk. Setelah selesai, ia segera mungkin melingkarkannya pada badanya.


"Rasanya segar sekali."


Lina mulai membuka pintu kamarnya, sampai di mana ia kaget. Melihat Haikal sudah berdiri di depan kamarnya.


"Ahkkkkk."


Lina menjerit, begitu pun dengan Haikal yang kini berlari mengambil handuk yang terurai ke atas lantai.


Haikal berusaha menutup tubuh Lina dengan handuk yang baru saja jatuh, membuat Lina tentulah syok.


Tiba di mana, Ardi datang membuka pintu kamar. Melihat sosok Lina dan Haikal yang terlihat berpelukkan.


"Kalian."


Kedua mata Ardi membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat, seakan petir menyambar di siang bolong, membuat lutut Ardi melemas.


Haikal mencoba melepaskan gengaman tangannya pada handuk yang melingkar pada Lina. Mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.

__ADS_1


"Ar, ini tidak seperti apa yang lu lihat."


Haikal mencoba mendekat ke arah Ardi, berusaha menjelaskan semampu yang ia bisa. Walau mungkin akan sulit karna melihat amarah Ardi tak terbendung lagi pada hatinya, melihat apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


__ADS_2