Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 193 jambakan tangan Lina


__ADS_3

Ardi mulai menahan amarah Haikal, menarik tangannya dan berkata," kamu harus tenang. Haikal."


"Tapi. Mereka."


"Sudah, tenangkan dulu hatimu."


Haikal berusaha bersikap tenang, menarik nafanya secara perlahan, berusaha tetap tenang dan tak tersudut oleh fitnahan kedua satpam penjaga ruangan CCTV itu.


Lina melipatkan kedua tangannya dan bertanya?" apa ada bukti jika Kak Haikal datang ke sini menemui kalian, di jam dan waktu kapan."


Lina tahu betul jika Haikal dari tadi bersamanya dan juga Ardi.


Pras kini mengelak perkataan Lina," sudahlah gadis kecil, tak usah membela kakak kamu lagi. Sudah jelas ia salah."


"Diam kamu lelaki berdarah dingin, aku belum selesai berbicara." Tegas Lina.


Pras kini menutup kedua mulutnya, mengereyitkan dahi. Sedangkan Lina menunggu jawaban dari kedua satpam itu.


Kedua satpam itu tentulah bingung mereka gelisa dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Lina.


"Kami lupa jam di mana Haikal datang ke ruangan ini."


Lina tertawa dan membalas," kalian lucu sekali, masa ia hari ini bisa lupa jam di mana Haikal datang ke sini. Kalau berbohong itu pintar dikit napa."


Alya berusaha bersikap berani, ia mulai melawan perkataan Lina yang terus menekan kedua satpam itu.


"Sudahlah Lina, sudah jelas banyak saksi yang mengatakan semuanya. Apalagi aku adalah korban dari kejahatan kakak kamu sendiri."


Lina tersenyum kecil," hey. Di sini hanya kepercayaan calon suamimu saja, siapa tahu itu printah dari Pras bos cafe di sini."


Ardi kini mulai membela keadilan pada Haikal," sudahlah Alya. Jangan memperkeruh keadaan, ayo katakan kejujuran, bahwa yang mau melakukan hal tak senonoh itu kedua pelayan Om Pras kan."


Kedua tangan Alya mengepal, Ardi terus menyudutkan Alya dari kebohongan yang memang Alya buat sendiri.


"Ardi aku tanya sama kamu, jika Lina di posisi aku siapa yang akan kamu percaya Haikal apa Lina?" pertanyaan Alya membuat Ardi terdiam.


"Ayo jawab, jangan seenaknya kamu bilang kalau aku berbohong." Tegas Alya.


"Sudahlah Alya jangan pernah kamu membicarakan posisi kamu dengan Lina, karna Lina adalah wanita jujur tidak seperti kamu," ucap Ardi.


Sakit benar benar sakit yang kini dirasakan Alya dalam hatinya.


"Kamu ...."

__ADS_1


Pras berusaha menyelesaikan perdebatan yang terus berlanjut.


" Sudahlah kalian jangan lagi saling menyalahkan. Jelas jelas kita sudah mempunyai banyak saksi. Tapi kamu Haikal tetap saja mengelak dengan kesalahanmu sendiri."


"Saksi jika tidak ada bukti sama saja bohong," ucap Lina.


"Benar om, jika hanya karna Saksi tanpa bukti. Rasanya itu tak afdol," timpal Ardi.


"Bagaimana kalau kita panggil saja polisi untuk datang ke sini," ucap Haikal.


Deg ....


Hati Pras seakan tak tenang jika membahas tentang polisi. Apalagi jika polisi sampai datang ke cafe baru Pras.


"Gawat kalau mereka sampai mendatangkan polisi. Ke cafe baruku. Pastinya para polisi itu akan mengecek semua ruangan di rumah dan di cafeku. Bagaimana ini, aku harus memikirkan cara." Gumam hati Pras.


Haikal menatap Pras, telihat sekali rasa gelisah dari wajah pemilik cafe itu.


"Bagaimana Pras, jika kita memanggil polisi ke Cafe kamu ini, biar polisi saja yang menyelidiki semuanya," ucap Haikal memberi tantangan kepada Pras.


Pras menatap kesal terhadap Haikal karna ucapannya.


Sedangkan Lina menyetujui apa yang dikatakan Haikal, bagi dirinya itu sebuah ide yang sangat bagus.


"Kenapa harus menelpon polisi? Apalagi menyuruh Polisi datang ke sini, bukannya sudah jelas yang bersalah di sini itu Haikal. Sudahlah akui semuanya Haikal," timpal Alya.


"Aku serius dengan semua ini, aku tidak takut kalau memang polisi menjebloskan aku kepenjara kalau memang aku yang bersalah," ucap Haikal.


Ardi mulai merogok saku celananya untuk mengambil ponsel, menelpon polisi untuk segera datang ke cafe Omnya sendiri.


Kamu mau Menelepon siapa Ardi?" tanya sang Om terlihat gelisah.


"Bukannya tadi Haikal menyuruh kita untuk menelepon polisi ya? Agar Polisi datang ke sini memeriksa kejadian yang sudah terjadi tadi pagi. Biar jelas di sini siapa yang sebenarnya bersalah. Mumpung masih hangat!" jawab Ardi.


"Sudah tak usah telepon lagi polisi, hanya buang-buang waktu dan juga buang buang-buang saja," ucap Pras.


"Tadi Om bilang apa? Buang-buang uang! Bukannya Om ini pengusaha besar, mana mungkin untuk pengusaha besar Cafe ini bisa berkata seperti itu. Tidak etis rasanya, atau jangan jangan om takut," ucap Ardi.


"Ardi walaupun Om ini pengusaha besar, tapi untuk hal semacam seperti ini. Kenapa Harus mengundang polisi. Bukanya saksi dan korban sudah mengakui yang bersalah itu Haikal," balas Pras seakan tak mau memperpanjang masalah.


"Ya bukannya begitu, Om. Kita kan hanya butuh kepastian, sedangkan Om terus saja menyalahkan Haikal yang belum tentu buktinya, apa lagi Om menunjuk suruhan Om, seakan suruh Om itu om yang memerintah sehingga mereka menyudutkan temanku Haikal terus menerus," ucap Ardi mulai membantah ucapan Pras.


Alya menundukkan pandangan, seakan enggan berucap satu patah kata pun. Saat Ardi begitu tegas membela Haikal.

__ADS_1


Lina kini mendekat perlahan ke arah Alya, Ia senang sekali memojokkan Alya, membuat Alya ketakutan.


"Kenapa saat calon suamiku berkata dengan tegas, kamu seperti orang yang merasa ketakutan. Terus wajah kamu, itu kelihatan gelisa sekali?" tanya Lina. Tersenyum kecil.


"Jaga ucapan, jangan seenaknya kamu menilai orang dari wajahnya saja!" pekik Alya. Kesal dengan Lina yang seakan menenantang dirinya untuk berdebat.


"Sudahlah. Tak usah kamu berpura-pura lagi, Alya. Cuman berkata jujur saja susah sekali," sindir Lina.


Alya mengigit bibir bawahnya, menahan amarah akan perkataan Lina.


"Aku sudah bilang aku berkata jujur, kalian saja yang terlalu membela Haikal berlebihan," ucap Alya.


"Mm. Kami membela kak Haikal, karna aku tahu kamu wanita...."


Plak ....


Karna kesalnya Alya, tangan wanita itu kini ia layangkan pada pipi Lina.


"Kamu. Berani, menamparku."


Lina kini menjabak rambut Alya.


Ardi yang menyadari Alya dan Lina bertengkar segera mungkin memisahkan keduanya.


Lina terus menjambak-jambak rambut Alya hingga Wanita itu meringis kesakitan.


"sakit kan, rasakan ini."


Ardi berusaha menahan Lina agar berhenti menjambak rambut Alya.


"Lina hentikan."


Lina tak memperdulikan ucapan Ardi, Iya terus menjambak rambut Alya hingga Alya menangis merasakan kesakitan.


"Gimana rasanya sakitkan." ucap Lina.


"Ahk sakit." balas Alya.


"Alah lebai kamu. Tadi berani tampar aku, saat Ardi datang pura pura lemah," ucap Lina. Masih dengan tanganya yang menjambak rambut Alya.


"Ardi, tolong aku. Lepaskan aku dari calon istrimu yang gila ini," ucap Alya.


"Apa kamu bilang aku gila."

__ADS_1


Semakin Alya berpura pura kesakitan di depan Ardi, semakin Lina membuat rambut Alya rusak.


__ADS_2