
Lina kini kembali menutup pintu kamarnya, setelah perdebatan itu terjadi.
"Lina, kenapa kamu malah menutup pintu kamarmu. Kakak belum sempat bicara."
Lina menutup kedua kupingnya dengan tangan, tak ingin mendengar apa perkataan sang kakak.
"Lina, buka."
Dinda terus saja mengetuk getuk pintu, amarah dalam hatinya semakin mengebu gebu. Mengusap kasar wajah dan berkata," cobaan apa lagi ini."
Dinda mulai mentap ke arah jam dinding, waktu sudah menujukkan pukul lima sore yang di mana Haikal akan pulang sebentar lagi, dengan sigap Dinda menyiapkan makanan untuk malam. Walau tenanganya begitu lemah, karna seharian bulak balik ke kamar mandi, muntah dan terus muntah. Membuat badannya tak vit.
Saat memotong bawang merah, Dinda kembali ingin mengeluarkan isi dalam perutnya. Membuat dirinya tak fokus untuk memasak.
"Ahk, kenapa rasanya mual sekali."
Lina mulai ke luar dari kamarnya secara perlahan, ia mengintip pada
tembok kontrakan, yang tak jauh dari dapur. Melihat kakaknya sendiri memasak dengan kondisi yang tak memungkinkan.
Ada rasa kasihan pada hati Lina, dan juga satu kesempatan untuk dirinya.
Lina menghampiri sang kakak dan bertanya," kakak kenapa?"
"Lina, kepala kakak rasanya pusing sekali."
"Ya sudah, kalau begitu kakak istirahat saja dulu. Biar Lina yang memasak."
"Tapi."
Lina dengan perlahan membawa kakaknya ke kamar untuk beristirahat, saat itu juga ia mulai bergegas memasak di dapur. Menghidangkan masakan untuk Haikal," pasti kak Haikal suka dengan masakkanku."
Satu jam berlalu semua masakan di tata rapi oleh Lina.
"Assalamualaikum."
Haikal datang melihat kesibukan Lina, membuat Lina menjawab," Walaikum salam."
"Lina, ke mana Kak Dinda."
Lina tersenyum licik, ia menjawab," kakak Dinda dari tadi tidur terus."
Haikal yang lelah karna pekerjaanya, merasa sedikit kesal. Membuat ia berjalan ke arah kamar. Melihat Dinda tengah tertidur.
"Dinda."
Dinda terbangun mendengar namanya di sebut.
"Mas, kamu sudah pulang." Ucap Dinda memegang kepalanya yang begitu terasa sakit.
Haikal kesal, bukan main ia tak membalas perkataan istrinya. Tanganya langsung meraih handuk membersihkan diri ke kamar mandi.
Dinda merasa heran dengan tingkah Haikal, yang tak biasanya. Ia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
Beberapa menit kemudia.
"Mas, ayo kita makan." Ajak Dinda. kepada Haikal.
"Kenapa kamu membiarkan Lina memasak sendirian, apa kamu tidak kasihan dengan dia." cetus Haikal.
Deg .....
Mendengar ucapan Haikal, Dinda merasa sedikit sakit hati.
"Mas, tadi aku mau memasak. Tapi kepalaku tiba tiba saja pusing, dan Lina."
Dinda yang berusaha menjelaskan semuanya, tertahan dengan kedatangan Lina. Secara tiba tiba.
"Kak Haikal, Kak Dinda. Makanan sudah beres."
Haikal, perlahan berjalan. Untuk segera makan, tanpa mengajak sang istri.
"Mas."
Kepala Dinda begitu terasa sangat sakit, membuat ia kembali lagi duduk di rajang tempat tidur.
Sedangkan Haikal, sudah duduk di tempat makan. Ia tak melihat istrinya mengikuti dirinya.
"Loh, kak Dindanya ke mana?" tanya Lina dengan bernada begitu lembut.
"Entahlah, kakak heran dengan kakak kamu. Lina. Kenapa dia menjadi pemalas begitu!" jawab Haikal.
"Maafkan kesalahan kakakmu ya Lina. Kakak juga heran dengan kakakmu."
Lina tersenyum kecil, hatinya berbisik," bagus. Kakak Haikal simpati padaku."
Rasa lapar mulai Dinda rasakan, membuat ia perlahan memaksakan diri untuk berjalan. Ke meja makan, yang di mana ia melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Melihat adiknya bercanda dengan sang suami.
Dinda kini mulai duduk, Haikal, hanya fokus dengan makanannya. Tampa mempedulikan sang istri sama sekali.
"Kakak, ini aku buatkan makanan enak untuk kakak." Ucap Lina. memperhatikan sang kakak menyidukan beberapa makanan.
"Jangan manjakan Dinda, Lina. Biarkan saja dia mengambil makanan ya sendiri." Ucap Haikal. Pada Lina.
Wajah Dinda yang sudah pucat, membuat tangannya bergetar hebat. Mendengar sang suami berkata seperti itu.
Haikal yang sudah beres makan, langsung pergi begitu saja.
Sedangkan Lina, bergegas membereskan piring bekas makananya.
Dinda memaksakan diri untuk menyuapkan makanan, walau tubuhnya benar benar terasa lemas.
Kedua mata Dinda tiba tiba menetes, hatinya begitu sakit. Apa kesalahannya, kenapa Haikal begitu dingin pada dirinya.
"Ada apa dengan suamiku." Gumam hati Dinda.
Setelah beres makan, Dinda dengan memaksakan diri. Membawa piring bekas makannya ke dapur.
__ADS_1
"Kak Dinda. Sini biar Lina yang cuci."
Dinda terpaksa memberikan bekas piring makannya, ke pada Lina. Karna kondsi tubuhnya yang begitu lemas.
Haikal melihat semua itu, langsung mendengkus kesal. Ia langsung datang ke pada Lina dan Dinda.
"Lina, biarkan saja kakakmu yang cuci piring. Kamu sudah lelah mengurus rumah."
Haikal mengambil piring, dari tangan Lina memberikan pada istrinya.
"Jangan malas malas kamu, mengandalkan Lina. Kasihan dia." Ucap Haikal.
"Tapi mas." Balas Dinda.
Haikal tak mau mendengar penjelasan istrinya, ia langsung menarik tangan Lina untuk menemaninya menonton tv.
Saat itu juga, Dinda langsung memaksakan diri. "Mas Haikal. Kamu kenapa berubah."
@@@@@
Selesai mencuci piring, kini Dinda kembali lagi ke kamar. Ia berjalan melewati Lina yang begitu sibuk menyetrika.
Terlihat di dalam kamar, Haikal tengah merebahkan tubuhnya. Membuat Dinda menyusul dan tidur di samping sang suami.
"Mas, besok bisa antarkan aku ke rumah sakit," ucap Dinda.
"Besok aku sibuk, antar saja ke Lina," balas Haikal.
"Tapi aku ingin di antar sama kamu, Mas," ucap Dinda memohon.
"Memangnya kamu sakit apa, Dinda?" tanya Haikal
"Entahlah seharian ini, aku muntah muntah badanku lemas. Makanya aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah!" jawab Dinda.
"Ya sudah. Besok aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit," ucap Haikal.
Sebenarnya Haikal tak ingin bersikap dingin seperti ini, ia terpaksa melakukan semuanya karna tak suka dengan sikap Dinda yang selalu menyalahkan adiknya sendiri.
Kini Haikal, mulai menutup ke dua matanya untuk tertidur. Sedangkan Dinda menatap perlahan wajah suaminya.
"Mas, kamu berubah." Gumam hati Dinda.
@@@@
Lina yang mengintip di luar pintu kamar sang kakak, dirinya hanya bisa tersenyum melihat Haikal dan Dinda saling berjauhan.
"Hah, senangnya melihat mereka. Tak seperti dulu, yang selalu membuat hatiku kesal." Gumam hati Lina.
Dinda yang belum tidur, melihat sebuah mata yang mengintip pada pintu kamarnya. Membuat ia bergegas berjalan mendekat ke arah pintu.
Lina yang menyadari akan kakaknya, berusaha berlari untuk segera kabur. Agar tak ketahuan jika dirinya sengaja mengintip.
"Hah, untung saja. Aku melihat Kak Dinda bangun dari tempat tidurnya. Kalau tidak, bisa gawat."
__ADS_1