Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 287


__ADS_3

Ardi mulai menghampirimu Nining, untuk menepati janjinya, membawa gadis desa itu untuk menemui sang ibunda. Rasa bahagia terpancar dari wajah Ardi ia tak sabar menemui kekasih hatinya yang akan segera ia jadikan sebagai seorang istri. Kini tidak ada lagi beban dan juga masalah yang dihadapi Ardi. Dimana ya sudah memutuskan Lina dan berniat menikahi Nining.


Ardi tidak mau menyakiti hati wanita. Iya lebih baik melepaskan sosok Lina daripada harus mempertahankan dan sampai menyakiti hati Nining.


Haikal ikut serta menemui Nining ke ponakanya sendiri, lelaki berbadan kekar itu ternyata bertekad ingin menempuh hidupnya sendiri, tanpa sosok seorang wanita. Entah kenapa dengan pikiran Haikal ia menolak cinta Lina, memilih untuk hidup sendiri.


Di dalam mobil menuju ke desa.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu, Haikal. Kamu menolak Lina yang memang begitu mencintai kamu? "


Haikal tersenyum kecil di kala Ardi sehabatnya berkata sedemikian.


"Aku sudah mencintai Dinda. Masa ia aku harus mencintai Lina yang jelas jelas adiknya. "


"Hey, Dinda sudah meninggal dunia. Sekarang kamu bersetatus Duda, ayolah hidup itu simpel tak usah buat ribet. "


"Mm, bisa saja kalau kamu bicara Ardi. Toh kamu juga memilih jalan hidupmu sendiri. "


Apa yang dikatakan Haikal memang benar, Ardi juga tak ingin memperjuangkan cintanya yang begitu rumit, ia lebih baik mencintai orang yang tulus mencintainya.


Setelah sampai di desa dengan perjalanan yang ditempuh lumayan jauh. Ardi yang tak sabar menunggu sang pujaan hati, kini memarkirkan mobilnya di depan rumah Nining, semua tampak sepi. Ia berjalan melangkah mendekat ke arah rumah sang pujaan hati.


Mengetuk pintu rumah, sembari memanggil nama Nining, sesaat keluarlah Bu Sari dan Pak Yono.


Ardi memberikan salam dan mencium punggung tangan mereka berdua.


"Apa kabar bu, pak? "


"Ya ampun Ardi. Akhirnya kamu datang lagi! "


Terlihat wajah bahagia di perlihatkan kedua orang tua Nining.

__ADS_1


"Iya Bu, sesuai janji Ardi akan membawa Lina ke kota begitupun dengan ibu dan juga bapak. Ardi sudah berjanji akan menikahi Nining segera mungkin. Oh ya ke mana Nining? "


Ardi mencari keberadaan Nining saat itu, Bu Sari mulai menjelaskan keberadaan anaknya,


"sebenarnya Nining masih berada di rumah sakit, ia tengah mengantarkan uang untuk Bu Nunik yang tengah menjalankan operasi. "


"Jadi Bu Nunik di oprasi. "


"Ya, untuk masalah penyakit Bu Nunik, ibu juga kurang tahu."


Pak Yono yang tadinya kesal, hanya bisa menerima keputusan Nining. Meminjamkan uang pada Pak Hasan. Walau sebenarnya ia tak ridho. Tapi Nining burusaha berdalil karna rasa kasihan.


Penjelasan Bu Sari membuat Ardi langsung mengerti, ya kini bergegas pergi ke rumah sakit begitupun Haikal. yang hanya mengikuti Ardi dari belakang


menaiki mobil hingga beberapa menit kemudian, sampailah di rumah sakit.


Karena jarak rumah sakit yang tak terlalu jauh di kampung Nining.


Ardi mulai masuk ke dalam rumah sakit, ia mencari sang pujaan hati yang belum juga ia lihat dan temui oleh kedua matanya, hatinya berdebar tak sabar ingin menemui Nining..


"Nining, itu dia. Pujaan hatiku. "


Ucap Ardi, kini berlari menghampiri Nining. Dengan perasaan senang di saat melihat sosok wanita yang sudah ia cari dan tak sabar ingin Ia temui, berlari dan melihat ke arah sosok itu. Begitu cantik jelita wajah natural yang selalu ia bayang-bayang setiap malam.


Nining tak menyadari jika Ardi kini tengah berdiri menatap dirinya, hatinya berdebar. Padahal dia tak ada rasa dengan Nining


Panggilan itu tentu saja membuat Lamunan Nining membuyar. Hingga Di mana ia menatap sang pujaan hati telah pulang memanggil namanya.


"Ardi kamu sudah pulang? "


Betapa senangnya hati Nining dikala melihat wajah sang Pujaan Hati menatap dirinya.

__ADS_1


"Iya aku kembali sesuai janjiku, aku akan menikahimu secepat mungkin." Tidak ada keraguan pada hati Ardi saat mengatakan hal seperti itu


Apa yang diucapkan Ardi tentu saja membuat Nining bahagia dia juga sudah tak sabar menantikan hari di mana. Sosok lelaki yang sangat ia cintai menikahi dirinya dan hidup bahagia bersamanya.


Sosok lelaki tua datang memberi kabar baik. Ia tersenyum dan menghampiri Nining yang tengah dilanda bahagia.


" Terima kasih, Ning. Berkat kamu yang mau meminjamkan uang pada bapak, akhirnya operasi berjalan lancar. "


Nining tentu saja tersenyum senang disaat lelaki tua itu mengatakan oprasi berjalan lancar.


"Syukur kalau begitu pak. "


Bu Nunik kini di pindahkan ke ruangan rawat, "wanita tua itu masih terbaring dengan wajah terlihat malu.


Nining menghampiri Bu Nunik, " Bu Nunik, bagaimana ke adaanya sekarang? "


Pak Hasan yang sudah menceritakan semuanya, kini membuat Bu Nunik sadar. Ia masih dengan tubuhnya yang merasakan rasa sakit.


"Saya sekarang agak mendingan. "


Nining tersenyum lega, jika Bu Nunik tak terlihat memendam dendam dan amarah lagi. Pak Hasan memberi kode pada istrinya, di saat Nining mulai berpamitan untuk segera pulang. karena kehadiran Ardi yang akan menjemputnya menuju ke kota.


" Pak Hasan, Bu Nunik. saya pamit untuk pulang ya, karena ada urusan penting yang harus saya selesaikan di rumah."


saat langkah kaki mulai melangkah pergi dari hadapan Bu Nunik. saat itulah, Bu Nunik mulai memanggil Nining," Nining tunggu dulu."


panggilan Bu Nunik membuat Nining membalikkan badannya, wanita itu ini bertanya kepada Bu Nunik. "Ada apa bu?"


" Sebenarnya saya ingin meminta maaf kepada kamu Nining, karena saya sudah berbuat jahat, tidak mengakui kesalahan malah menaruh dendam terhadap kamu seharusnya saya itu intropeksi diri tidak terlalu larut dalam emosi. Maafkan saya sekali lagi Nini saya benar-benar tulus meminta maaf kepada kamu, Saya berharap kamu mau memaafkan saya. setelah ini saya akan mendidik anak saya agar bisa lebih baik lagi tidak mengganggu kehidupan kamu Nining, Maafkan saya."


Perkataan Bu Nunik membuat Nining tersenyum, ia kini melangkah menghampiri wanita tua yang masih terbaring diranjang tempat tidur rumah sakit. memegang tangan Bu Nunik dan berkata," saya sudah memaafkan ibu saya tidak menaruh kebencian terhadap ibu, jika Ibu berubah. Saya sangat senang sekali saya bersyukur dengan kejadian ini bisa membuat kita menjadi manusia lebih baik lagi agar selalu menyadarkan diri dari kesalahan yang sudah diperbuat diri sendiri."

__ADS_1


Bu Nunik tersenyum senang, ia rasanya ingin memeluk wanita yang begitu baik hati terhadap dirinya, akan tetapi tubuhnya yang lemah. Tak bisa memeluk Nining.


Nining yang menyadari semua hal yang diinginkan Bu Nunik. "Cepat sembuh ya Bu ."pelukan itu datang tiba-tiba dari Nining membuat isak tangis terdengar dari mulut Bu Nunik.


__ADS_2