Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 190 pura pura


__ADS_3

Wawan dan Abdul yang sudah jatuh pingsan, kini di sered paksa oleh seorang lelaki berbadan kekar.


Mereka dibawa kesebuah ruangan besar, yang tercium bau bangkai.


Bau bangkai itu begitu menyengat sekali, seperti mayat yang baru saja di gerumuni belatung. Entah kenapa ruangan itu selalu di tempatkan dengan hal hal kesalahan yang setiap dilakukan para pelayan.


Lima belas menit berada di ruangan itu, Wawan dan Abdul kini tersadar dari pingsan mereka, Abdul kini bangun terduduk karna mencium bau bangkai.


"Wan. Sepertinya kita berada di ruangan penyiksaan." Ucap Abdul, dengan wajah gelisa. Melirik ke kanan dan ke kiri.


"Ya, ruangan dimana kita memperkosa pelayan wanita yang diperintahkan Tuan, yang gagal dalam rencannya," balas Wawan, perlahan bangkit dari atas lantai.


"Bisa bisa kita jadi ...."


Belum perkataan Abdul terlontar semuanya, kini Wawan berucap dengan latang, sembari menepuk kepala Abdul.


"Hust, jangan mikirin yang aneh aneh."


"Iya juga sih," balas Abdul menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.


"Terus bagaimana caranya kita bisa kabur dari sini?" tanya Abdul membuat Wawan berpikir dengan apa yang terlontar dari mulut Abdul.


"Aku lagi cari akal, bagaimna caranya kita bisa kabur dari sini!" jawab Wawan terlihat wajah santainya. Ia seakan tak menjadikan masalah dan juga beban untuk dirinya.


"Cepat cari akalnya," gertu Abdul.


"Ya, kamu tenang aja," jawab Wawan, tersenyum kecil.


Wawan terkenal orang santai. Ia tak mempedulikan hidupnya sekarang dalam gengaman Pras yang menbenci mereka berdua.


@@@@


Alya kini bangun dari obat bius yang di berikan Andi, dokter yang menjadi sahabat Pras.


Awalnya Pras menggira obat bius itu akan lama, tapi ngatanya hanya sebentar. Padahal dari tadi Andi tak menujukkan jarum suntikpun. Hanya ucapan saja dan saat itulah membuat Alya pingsan sebentar.


"Di mana aku, Pras?"


Pertanyaan Alya membuat Pras tersenyum kecil, bisa bisanya Alya sempat berbohong berpura pura tak tahu dirinya ada di mana? Padahal dari tadi dia di kamar Ardi. Berpura pura mencari simpati orang orang di rumah agar mempedulikan dirinya.


"Alya. Apa kamu tidak ingat tadi kamu menjerit jerit?" tanya Pras dengan bersikap tenang. Tak menampikan wajah curiga terhadap Alya.


"Tidak!"


Jawaban Alya sembari mengeleng gelengkan kepalanya. Pras kini berdiri sembari merogok saku celananya. Ia tak menyangka jika Alya begitu keras kepala tak mau berkata yang sebenarnya.


"Apa kamu yakin dengan jawabanu itu, calon istriku," ucap Pras.


Alya menelan ludah saat Pras memojokkan dirinya, ia memegang kepalanya berpura pura merasakan rasa sakit.

__ADS_1


"Alya. Aku tanya sekali lagi pada kamu, apa tujuan kamu berpura pura gila." Tegas Pras.


Deg ....


Jantung Alya seakan tak karuan dengan apa yang dikatakan Pras, ia tak menyangka Pras bisa menebak dirinya berpura pura.


"Pras, apa yang kamu katakan aku tak mengerti."


Ucap Alya berpura pura polos.


"Jawab dengan jujur," hardik Pras. Menatap ke arah Alya.


Tatapan Pras bagi Alya begitu menyeramkan, membuat Alya hanya menundukkan kepala. Ia tak menjawab lagi ucapan Pras.


"Kenapa kamu malah diam, Alya. Aku bertanya sama kamu?"


Pras semakin membentak Alya, membuat Alya menitihkan air mata. Wanita itu mengandalkan air mata agar Pras tak terus bertanya.


Pras yang sudah bosan dengan tangisan Alya, kini mendekat pada calon istrinya itu. Tangan Pras kini layangkan pada dagu sang istri dan berkata," apa dengan cara menangis aku bisa mengasihanimu, Alya."


Air mata Alya mengalir mengenai pipi, membuat Pras mengusap pelan air mata itu dan menghampusnya secara kasar.


Pras begitu teganya mendorong tubuh Alya dan berkata." Jangan menangis."


Alya tetap saja mengandalkan tangisannya.


"Hapus air mata palsumu itu, Alya."


Sorot mata seakan ingin memangsa buas Alya pada saat itu juga.


Akan tetapi Alya, membuang wajah ke arah sisi kiri. Membuat Pras membalikkan wajah Alya hingga wajah wanita itu menghadap kembali ke arah Pras.


"Kenapa kamu membuang wajahmu seperti itu?" tanya Pras dengan begitu tegas.


Alya tetap saja diam, padahal tubuhnya sengaja di hempit oleh Pras.


"Ayo jawab, kenapa kamu diam saja."


Alya mengeramkan giginya, menahan kesal.


"Cepat menyingkir dari tubuhku, Pras. Kamu itu berat."


"Berat?"


Pras tetawa dengan penuh rasa kesal, aku tidak akan menyingkir dari tubuhmu. Sebelum kamu berkata jujur. Kini Alya berusaha memberontak dengan mendorong dada bidang Pras.


Pras masih bisa menahan tangan Alya yang berusaha mendorong tubuh Pras.


"Kenapa Alya? kamu mau menyingkirkan aku dari hempitanku yang menghepit tubuhmu."

__ADS_1


Tubuh Pras begitu berat, membuat Alya tak kuat menahan tubuh lelaki berbadan kekar seperti Pras.


"Pras, kumohon."


Kata kata permohonan yang terlontar dari mulut Alya tak di gubris oleh Pras. Dengan asiknya Pras tetap saja duduk di atas tubuh Alya.


Rasa seksak nafas kini terasa pada diri Alya. Karna tubuh kekar Pras yang terasa berat.


"Sudahlah tak usah meronta ronta. Aku tak akan beranjak berdiri sebelum kamu jujur."


"Jujur untuk apa Pras, tidak ada kebohongan yang aku sembunyikan padamu," ucap Alya.


Kedua mata berbinar itu, tak mampu meluluhkan hati Pras, tetap saja Pras berhati dingin ingin mengetahui kejujuran Alya yang sebenarnya.


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu beberapa kali di ketuk, membuat Pras kini bangun dan menghampiri pintu kamar Alya.


"Alya, aku belum mendengar kejujuran kamu."


Kini Pras berjalan membuka pintu kamar Alya.


"Maaf tuan, keponakan tuan. Menyuruh saya memanggil tuan."


"Ya sudah aku akan ke sana?"


Pras tersenyum menghampiri Alya dan berkata," aku akan bawa salah satu lelaki yang mungkin kamu bisa berkata jujur."


Deg ....


Alya tahu jika Pras pasti akan membawa Haikal dan kedua pelayannya.


"Kamu harus siap menjelaskan semuanya Alya, dengan kejujuran. Jika kamu berbohong."


Pras tak melanjutkan perkataanya, ia pergi menemui Haikal dan tak lupa mengunci kamar Alya.


Setelah kepergian Pras saat itulah Alya mengacak rambutnya dan berkata." Bagaimana ini?"


"Ahk, kenapa bisa si Pras itu tahu bawa aku pura pura depresi dan gila. Padahal tadinya aku mau menyulitkan Haikal agar bisa membantukku keluar dari jeratan Pras. Tapi sekarang buyar."


Alya berusaha depresi dan gila, hanya karna ingin terbebas dari ancanam dan penganiayaan Pras.


"Semakin aku ketahuan bohong, semakin benci Pras kepadaku."


Alya menggigit jarinya seakan tak tenang dengan apa yang akan terjadi jika Pras yang membawa Haikal dan juga Ardi ke dalam kamar.


Dengan berkacak pinggang Alya tak sanggup lagi dengan apa yang akan terjadi sekarang.


Apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


Ketukan pintu kembali terdengar, Alya berharap jika Haikal dan Kedua pelayan itu. Tetap saja diam saat ada salah satu orang yang bertanya tentang penjelasan soal di kamar tadi.


__ADS_2