Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 228 Kekuatiran Nining.


__ADS_3

"Bapak mah lier ngabandungan si Nining, bapak te resep jeung anak kota eta."


(Bapak pusing melihat Nining, baoak enggak suka sama anak dari kota.)


"Ya ges atuh pak, ke kuibu di bejaan si Niningna."


(Ya udah atuh pak. Nanti ibu kasih rahu sama Nining.)


Wanita tua itu tahu, jika suaminya tak mau berurusan dengan anak kota yang menjadi sahabat Haikal, ia takut jika Nining tersakiti.


Tok ... tok ...


"Ibu."


Nining membuka pintu kamarnya, melihat kekuatiran dari wajah ibunya.


"Ibu teh pengen bicara empat mata sama kamu, Ning, sekarang."


Wanita tua itu langsung masuk ke dalam kamar Nining dan duduk pada rajang tempat tidur.


Nining kini menutup pintu kamar, segera menghampiri ibunya yang duduk," ibu teh kenapa, kaya kuatir gitu."


"Ning, lebih baik kamu jangan terlalu dekat sama lelaki kota itu," ucap ibu, memegang tangan Nining.


"Loh, kenapa jadi membahas Aa Ardi, emang Nining teh salah ya, kalau suka sama lelaki kota?" balas Nining, dengan memainkan jari jemarinya


"Tidak salah Nining, hanya saja. Bapak melarang keras kamu, bapak tidak suka kamu sampai mencintai lelaki yang sudah bertunangan," ucap sang ibu, dengan tutur katanya yang lembut. Tangan yang sudah mengkerut ia usap pada kepala rambut anaknya.


Sedangkan Nining yang tak suka dengan larangan ibunya, kini berdiri, menatap ke arah jendela." Tapikan, si Teteh Linanya juga udah ngomong sama Nining, katanya dia teh enggak suka sama Aa Ardi, jadi kesempatan bagus atuh buat Nining."


Nining, memajukan bibir atas bawahnya, membuat sang ibu berdiri," tapi tetap saja Nining,"


Nining membalikkan badan dan berkata," tetap saja gimana atuh ibu teh, ibu sama bapak sama aja, enggak mau ngeliat anaknya bahagia."


"Nining, kok ngomongnya gitu, bapak sama ibu teh enggak bermaksud begitu, kami sayang sama Nining. Tapi kami juga ingin yang terbaik untuk Nining, enggak mau liat Nining mencintai lelaki yang salah," balas sang ibu. Semakin mendekat dan mulai memeluk anak semata wayangnya.


Akan tetapi pelukan sang ibu, Nining hempaskan begitu saja," Bapak sama ibu tenang aja, Nining teh enggak bakal sakit hati."


sang Ibu menggelengkan Kepala menatap raut wajah anaknya yang begitu yakin," sekarang kamu bisa ngomong seperti ini, tapi nanti ketika anak muda itu menolak kamu secara mentah-mentah bagaimana. Ibu ngeliat anak muda itu begitu mencintai wanita yang sudah dibawa Haikal ke desa ini. sepertinya lelaki itu tak mudah berpaling ke lain hati."


Nining semakin tak suka dengan perkataan ibunya, ia kini berjalan cepat, merebahkan badan. Merasakan rasa tak percaya diri akibat ucapan ibunya.


Sang ibu yang terus menyakini Nining, bahwa masih banyak lelaki yang bisa Nining cintai tanpa harus mencintai lelaki yang sudah bertunangan.


"Ning."


Sang ibu kini mulai berpamitan pada anaknya.


"Ning, ibu hanya mengigatkan kamu saja."


Menutup pintu kamar Nining.


@@@@@


Ardi dengan motor butut yang ia kendarai, telah sampai di rumah Haikal. Di mana Haikal Tengah duduk bersantai di kursi kayu depan rumahnya.


Ardi duduk, di samping kiri Haikal.

__ADS_1


"Lu tahu enggak? Tadi gue liat Nining, liatin lu terus!"


Obrolan yang di awali Haikal membuat Ardi tertawa," ya eluh lu, wajar. Kan gue tampan."


Haikal mentertawakan ucapan Ardi, membuat ia memukul bahu sahabatnya.


"Tapi gue enggak bercanda," tegas Haikal.


"Enggak papa, kalau dia suka sama gue, namanya juga bocah baru puber," balas Ardi.


Nining yang ternyata mengintip dari pohon dekat rumah Haikal, mengerutu kesal, mendengar obrolan Haikal dan Ardi.


"Meraka membicarakanku, awas ya."


Terlihat Ardi terdiam, saat melihat bintang berkelap kelip di atas langit, membuat ia mengigat wajah, Lina.


"Aku rindu Lina, di mana sekarang dia."


"Lu, enggak usah kuatir, Lina pasti ketemu."


"Rasanya hati ini tak tenang, ingin mencari keberadaanya."


"Mm."


Malam semakin larut, membuat hawa dingin menusuk kulit, saat itulah Ardi dan juga Haikal masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Nining yang mengintip dari tadi, terus menusuk nusuk, pohon dengan besi tajam.


"Aa Ardi masih saja memikirkan Teteh Lina, sudah tahu teteh Lina enggak cinta sama Aa Ardi."


"Aku harus mencari teteh Lina."


Tengah malah, Nining dengan beraninya masuk ke dalam rumah kosong itu sendirian, hatinya tak karuan.


" Teteh Lina."


"Teh. "


"Teh ini Nining."


Beberapa kali, Nining memanggil Lina, tapi tak ada jawaban dari rumah kosong itu.


"Ke mana atuh, teteh Lina teh, katanya sudah janjian."


Nining mengusap pelan buluk kunduknya yang merinding, membuat ia sudah tak sanggup lagi mencari keberadaan Lina.


Brug ....


"Teteh Lina?"


Mendekat melihat suara reruntuhan itu, membuat Nining memberanikan diri mendekat, mencari keberadaan Lina.


Nining begitu menghuatirkan Lina, ia takut jika Lina kenapa- kenapa.


"teh."


Tak ada apa apa.

__ADS_1


Pada akhirnya, Nining melihat Lina duduk sendirian.


"Teteh Lina?"


Lina diam dengan wajah pucatnya yang tak biasa.


"Teh ayo, kita pulang, Nining enggak mau terlibat dalam masalah ini lagi, sebaiknya teteh bicara aja yang jujur sama Aa Ardi."


Wanita itu tetap saja, diam." Ih si teteh teh, lain mah ngomong."


Hingga di mana teriakan terdengar dari arah depan.


"Ning."


"Hah. kok kaya suara teteh Lina."


Saat melihat ke arah wanita yang percis dengan Lina, wanita itu sudah tidak ada. Nining berlari ke luar rumah kosong itu.


"Ning."


"Ya Allah, teteh Lina."


Dengan nafas terengah engah, Nining benar benar ketakutan. Sambil menunjuk ke arah rumah kosong itu.


"Kamu kenapa?"


"Tadi ada yang menyerupai, teteh Lina!"


"Dimana."


"Tuh, di sana."


Saat Nining mulai. Melihat ke arah wajah Lina, saat itulah wajah Lina bersimpun darah, membuat Nining menjerit.


Ahkkkkkk.


"Ning, kenapa kamu teh menjerit?" tanya sang ibu yang ternyata sudah menunaikan ibadah shalat shubuh di kamar Nining.


Nafas Nining terengah engah, ia sesekali mengatur nafasnya, berusaha tetap tenang.


"Sudah tenang?"


"Ternyata mimpi!"


" Emang mimpi apa kamu teh, sampai teriak-teriak begitu?"


"Nining teh, ngimpi teteh Lina, di rumah kosong, sudah bersimpun darah di wajahnya!"


" Astagfirullah, masa iya kamu bisa mimpi seperti itu, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Lina?"


"Entahlah, Nining teh khawatir dengan keadaan Teteh Lina, Nining merasa bersalah sudah mau menuruti perkataan Teteh Lina, takut jika Teteh Lina kenapa-napa!"


" Ya sudah atuh sekarang kamu cepet ke kamar mandi, untuk segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu, ini teh sudah waktunya salat subuh."


" Ya udah atuh bu, Nining mau mandi."


Wanita tua itu, merasa mimpi Nining adalah sebuah isarat.

__ADS_1


__ADS_2