
Maya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di vila yang di tempati adiknya.
Hingga beberapa jam kemudian, Maya sampai di vila yang sudah lama tidak pernah ia singahi.
"Sudah lama aku tidak pernah ke sini."
Wanita dengan tampilannya yang angun, kini keluar dari dalam mobil, melihat ke arah Vila yang ia tuju.
"Nyonya."
"Mm."
"Kami menemukan Tuan Pras bersama wanita yang mungkin anda kenal."
Sang suruhan menunjukkan sebuah poto, seorang wanita. Dimana Maya tersenyum tipis," ini Alya. Dia kekasih Pras. Itu bukan hal yang aneh."
"Maaf Nyonya sebelumnya, wanita ini sudah beberapa kali saya lihat dia di siksa oleh Tuan Pras, saya tak berani merekam adegan kekerasan itu."
"Mm, di siksa. Kenapa? Bukanya Pras sangat mencintai Alya, kenapa Pras begitu tega menyiksa Alya?"
"Entahlah Nyonya, setiap mereka bertengkar, pasti Tuan Pras memukul atau menampar Nona Alya!"
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa semua membuat aku bingung."
Maya kini mulai melangkahkan kaki, berjalan menuju gerbang vila itu.
"Apa Nyonya yakin akan pergi sendirian ke dalam?"
Ada raut rasa cemas pada wajah sang suruhan, ia tahu jika di dalam vila itu terdapat, beberapa penjaga dan suruhan Pras. Yang mungkin mereka terkenal sadis.
Maya memperlihatkan telapak tanganya," sudah kamu jangan kuatir, saya akan menghadapi adik saya sendirian. Kamu tinggal menunggu saya dari kejauhan."
Sang suruhan menganggukan kepala, setelah printah dilayangkan oleh Maya." Baik, Nyoya."
Maya, mulai menjalankan aksinya, ia datang dengan mengetuk gerbang Vila. Di mana para penjaga kaget dengan kedatangan seorang wanita.
"Buka."
Mendengar suara itu, mereka kini membuka gerbang Vila.
"Nyonya Maya."
Melepaskan kaca mata hitam yang menempel pada kedua matanya. " Kalian ternyata masih ingat dengan saya."
Kedua penjaga itu terlihat gugup, dengan kedatangan sang Nyoya besar ke Vila.
__ADS_1
"Oh, ya. Ini kunci mobil saya."
"Oh ya, Nyonya."
Sudah Maya duga, jika pelayan dan penjaga pasti akan mengenal dirinya, karna vila ini masih atas nama Maya.
Pras kini keluar Vila, ia baru menyadari akan kedatangan sang kakak.
"Wah, Kak Maya. Apa kabar? Pras tak menyangka jika Kakak datang ke sini?"
Maya melipatkan kedua tanganya, menatap tajam ke arah Pras.
"Sebagai adik kamu tidak sopan mematikan panggilan teleponku."
"Maaf kakak sayang."
Pras mencoba mengedipkan mata ke arah suruhanya. Untuk siap siaga jika kakaknya melakukan hal di luar kendali.
"Pras, cepat kamu megakui diri kamu salah ke kantor polisi." Printah Maya dengan tegas.
"Kakak, kenapa kakak berbicara seperti itu, memangnya kakak enggak mau lihat Pras bahagia dengan hidup Pras yang seperti ini," bantah Pras pada sang kakak.
"Tidak ada seorang kakak yang tega membuat adiknya, menderita. Mereka semua ingin melihat adiknya bahagia. Tapi Pras, kejahatan kamu sudah keterlaluan dan tak termaafkan, harusnya di saat Ardi menjebloskan kamu ke kantor polisi kamu sadar akan kesalahanmu," nasehat sang kakak, tak membuahkan hasil untuk Pras sadar.
"Pras, jaga ucapanmu. Kamu tidak boleh membuat orang lain menderita apalagi sampai membunuhnya. Harusnya kamu ini tidak usah menuruti dendam sahabatmu itu," hardik sang kakak.
Pras tak suka dengan nasehat sang kakaknya, hingga ia berusaha menyodorkan pisau pada leher Maya.
"Kakakku sayang kamu lihat ini apa?" Tanya Pras pada sang kakak.
"Pras kamu ini gila, kamu mau membunuh kakak kamu sendiri!" jawab Maya.
"Aku tidak akan membunuh kakak, Jika kakak tidak ikut campur urusanku, di mana aku akan membalaskan dendam sahabatku sampai selesai, aku ingin melihat sahabatku tersenyum dalam kebahagian di alam lain," ucap Pras..
"Pras jangan gila kamu, seberapa besar arti sahabat itu bagimu Pras. Jangan karna kamu sangat peduli pada sahabatmu itu. Kamu merelakan kehidupanmu hanya untuk balas dendam," pekik Maya.
Pisau semakin dekat ke arah leher sang kakak, Pras malah tertawa terbahak bahak," sudahlah kak, jangan sok menasehati orang lain. Apalagi aku. Kakak tidak akan tahu cerita masa lalu persahabtanku degan Burhan. Orang yang menitipkan dendam padaku, untuk membalas pada orang yang di tuju."
"Sadar, Pras. Sadar. Semua itu hanya nafsu setan," nasehat sang kakak terlontar kembali.
Maya berusaha menatap ke arah pejaga Vila.
"Cepat lepaskan aku dari gengaman adikku sendiri."
Para pelayan itu hanya diam, menundukkan kepala.
__ADS_1
"Di sini, kakak tidak ada kuasa memerintah pelayan atau penjaga Vila ini. Mereka sudah menurut padaku kak."
"Pras, vila ini masih atas nama kakak. Dan pelayan di sini masih surahan kakak," teriak Maya.
Pisau itu semakin menekan pada leher Maya, membuat Maya terdiam seketika.
"Kakak ini jangan mengaku ngaku ya, Vila ini sudah menjadi meliki sepenuhnya, jadi kakak tak usah mengaku ngaku."
"Kamu justru yang mengaku ngaku Pras, sudah cepat hentikan kebodohanmu ini. Pras."
Tetap saja sang Adik tidak mau mendengarkan nasehat Kakaknya sendiri, Pras lebih baik membunuh kakaknya daripada harus Mendengarkan nasehat yang membuat dirinya tak nyaman.
Kenapa Pras begitu mengabdi kepada Burhan, kenapa dia begitu mau menuruti perkataan Burhan yang menyuruhnya balas dendam.
Sebenarnya kemana Pras yang dulu?"
Alya yang mendengar keributan kini ke luar dari dalam kamar, ia kaget dikala melihat Tante Maya berada pada pelukan Pras dengan pisau yang hampir melukai Tante Maya.
"Tante Maya."
Maya yang mendengar panggilan dari Alya, kini menatap ke arah wajah gadis itu.
"Alya."
Benar apa yang dikatakan suruhan Maya, banyak luka pukulan di tangan dan juga kaki Alya.
"Pras, kamu ini gila, ya. cepat lepaskan Tante Maya, jangan sampai kamu melukai kakakmu sendiri." hardik Alya. Berusaha menghentikan aksi Pras yang keterlaluan.
"Alya. kamu tak usah menghuatirkan tante. Pras hanya mengetrak tante saja. Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar."
"Tapi tante."
Alya nekad menghampiri Maya, untuk segera melepaskan Maya dari Pras. Ia takut jika Pras tanpa sadar melayangkan pisau pada leher Kakaknya sendiri.
"Pergi kamu dari sini, Alya. Atau kamu yang akan megantikan Kakakku untuk mati," pekik Pras.
Alya kini melepaskan pisau dari tangan Pras, hingga pisau itu jatuh ke atas lantai membuat Pras marah.
"Apa yang kamu lakukan, gadis bodoh."
Pekik Pras pada Alya.
"Aku ingin menyelamatkan kakakmu, dari kegilaanmu Pras. Sadarlah Pras, sudah berapa bayak orang yang kamu lukai dan juga bunuh. Ini semua bukan jati diri kamu yang susungguhnya. Ke mana? Pras yang dulu. Lembut baik hati, tidak membela sahabatnya yang sudah mati dan membalaskan dendam sang sahabat, sadarlah Pras." Teriak Alya.
Membuat Pras memegang kepalanya..
__ADS_1