Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 227


__ADS_3

Pada akhirnya Ardi mengerti apa yang ditunjukkan Haikal, ia langsung mengikuti cara-cara di mana Haikal mengambil air pada sumur.


Dan lagi Ardi, baru pertama kali melakukan sebuah hal-hal yang menurut dirinya tak biasa. Ardi merasa kagum dengan Haikal yang hidup sederhana dan mampu bahagia, berbeda dengan dirinya. Hidup kaya di masa kecil tidak pernah menemukan kebahagiaan.


Tok ... tok ... tok ... tok.


Tiba-tiba suara pintu diketuk, di mana Ardi tengah menikmati hidangan yang sudah disediakan Haikal di atas meja, Saat itulah Haikal mulai membuka pintu rumahnya melihat siapa yang datang malam malam.


Saat pintu rumah dibuka.


"Nining, kamu malam malam ke sini?"


Nining muncul membawa makanan untuk Ardi dan juga Haikal.


"Nining teh bawa makanan untuk Aa Ardi dan juga Aa Haikal."


"Padahal enggak usah repot repot, Aa juga masak."


"Gak papa, Aa ini juga di suruh ibu, Nining bawain kalian berdua makanan, katanya takut Aa Haikal belum makan begitupun dengan Aa Ardi."


Nining sedikit melirik ke arah Ardi yang fokus menyantap makanan.


"Masuk dulu atuh Ning."


"Mm."


"Ayo, kita makan bareng."


Nining merasa semua itu adalah sebuah kesempatan. Untuknya bisa dekat dengan Ardi, walau Nining tak yakin, sahabat Haikal akan menyukai gadis desa seperti Nining.


"Ya udah atuh Aa, Kalau di bolehin Nining masuk."


Nining perlahan masuk dengan wajah malu malunya, jantungnya merasa tak karuan, akan berdekatan dengan Ardi.


Sekilas Ardi yang memainkan ponselnya, sembari menikmati makanan membuat ia, melihat ke arah Nining yang menundukkan pandangan.


"Ayo, Ning duduk."


"Iya A."


Kini Nining mulai duduk, terlihat sekali wajah malu malunya.


Haikal mulai membuka rantang makanan yang dibawakan Nining, ia kini meletakkan satu persatu makanan yang sudah dimasak bibinya.


"Apa tuh."


Ardi yang belum pernah melihat masakan ala desa membuat ia bertanya?


"Yang mana?"


Dengan sigap Nining bertanya di depan Ardi.


"Tuh yang bentuknya sedang, daging bukan sih!"

__ADS_1


Ardi menunjuk-nunjuk ke arah makanan yang ia tidak tahu, saat itu Nining mulai menjelaskan nama makanan yang ditunjuk-tunjuk oleh Ardi.


"Itu namanya jengkol, Aa."


Ardi baru pertama kali mendengar kata jengkol," apa sih, namanya aneh."


"Si Aa emang belum pernah makan jengkol?"


Ardi langsung menggelengkan kepalanya, namanya terasa aneh apalagi untuk memakannya.


"Coba deh lu cobain."


Haikal kini menyodorkan ke arah Ardi untuk mencicipi makanan ala desa.


perlahan tangan kekar hati mulai mengambil potongan-potongan jengkol dari piring.


Ia mulai mencoba, memasukkan ke dalam mulut, perlahan mengunyah." rasanya aneh. Sedikit ada bau bau."


"Gimana Aa, enak kan?"


"Lumanyan."


Nining benar-benar terpana dengan pesona Ardi yang tersenyum, saat mencoba makanan yang dimasak oleh ibunya.


Haikal yang menyadari tatapan keponakannya terhadap Ardi seperti tak biasa, ada isyarat seperti ingin memiliki.


sedangkan Ardi begitu terlihat cuek, ia tak peduli di sekitarnya, yang ia pedulikan makanan di hadapanya.


"Ini enak."


"Boleh."


Dengan senang hati, Nining langsung melayani Ardi. mengambilkan nasi dan juga beberapa lauk pauk.


Haikal begitu fokus melihat Nining yang begitu bahagia saat melayani Ardi.


"Ning, cepat makan."


ucapan Haikal hanya membuat Nining menganggukkan kepala.


Hingga tak terasa acara makan malam pun telah selesai, Nining mulai berpamitan kepada Haikal dan juga Ardi untuk segera pulang ke rumah.


Ardi yang merasa kasihan terhadap Nining kini berani berucap." Apa kamu mau aku antar pulang ke rumah?"


Tawaran Ardi tentulah membuat hati Nining berdetak tak karuan.


"Mau di antar enggak?"


Ardi terus menawarkan diri Untuk mengantarkan Nining pulang ke rumahnya, ada rasa malu dan juga senang dalam hati ini saat itu.


Haikal semakin curiga terhadap keponakannya, sepertinya Nining sudah jatuh cinta terhadap Ardi. hingga terlihat dari sorot matanya, mengisyaratkan bahwa ia begitu menginginkan Ardi.


"Kalau aa maksa, ya sudah ayo atuh."

__ADS_1


Ardi mulai mengeluarkan motor butut kepunyaan Haikal yang sudah lama tak terpakai. Untung saja motor yang disimpan Haikal tetap utuh, dan masih layak dipakai.


Nining benar-benar senang kegirangan, saat itulah ia mulai naik pada motor, tanganya sedikit memegang pinggang Ardi, Nining menaiki motor, melihat pemandangan di atas langit begitu banyak bintang-bintang yang berkelap kelip.


"Begitu romantis." Gumam hati Nining.


Ingin rasanya Nining memeluk Ardi pada saat itu, Akan tetapi rasa ingin itu kini ia tahan. karena ia tahu Ardi sudah bertunangan dengan Lina. Nining tak punya hak untuk memiliki Ardi, walau sebenarnya hatinya sangat menginginkan sekali.


setelah sampai di rumah, Nining kini turun dari motor butut Haikal, ia mengucapkan kata terima kasih terhadap Ardi yang sudah mau mengantarkannya pulang.


"Mau masuk dulu enggak Aa."


"Boleh."


Tawaran Nining membuat Ardi masuk ke dalam rumah. sebenarnya Ardi masih penasaran dengan keberadaan Lina, dia merasa bahwa Lina berada di sekeliling rumah Nining.


"Duduk atuh Aa, nya."


Ardi langsung duduk, sedangkan Nining dengan tergesa-gesa mengambilkan air minum untuk tamunya. 3 menit kemudian. Minuman pun sudah jadi. sebuah air teh manis untuk Ardi.


Nining benar-benar terlihat malu-malu, ketika berdapan dengan Ardi, hatinya tak karuan.


Tok ... tok ...


suara ketukan pintu kini terdengar jelas, di mana kedua orang tua Nining ternyata sudah pulang dari pengajian.


Sang Bapak yang memang tidak menyukai orang kota, kini menatap tajam ke arah Ardi.


seperti memperlihatkan isyarat, agar Ardi cepat pulang dari rumahnya.


"Ya sudah. Saya mau pulang dulu?"


Ada rasa kecewa pada hati Nining, saat orang tuanya datang ke rumah. saat itulah Ardi tergesa-gesa berpamitan untuk segera pulang.


"Loh. kak. Airnya belum di minum."


"Enggak usah, saya udah kenyang."


saat itulah Ardi mulai berpamitan kepada keluarga Nining, Ardu tak mau jika kedatangannya membuat keluarga Nining salah paham.


"Aa, tapi."


Nining hampir mengejar Ardi yang sudah menaiki motor, akan tetapi sang Bapak yang masih di depan pintu rumah, menarik lengan Nining untuk segera masuk ke dalam rumah. Lelaki tua itu tak ingin melihat Nining berdekatan dengan anak kota yang tak pernah lelaki tua itu sukai'


"Nining. Ayo cepat masuk ke dalam rumah," ucap Ibu menyuruh Nining untuk segera masuk ke dalam rumah, karena hari sudah menjelang malam sekali.


"Tapi Nining kegerahan, malu."


@@@@@


Akan tetapi sang bapak kini duduk di bangku depan rumah, sambil menghirup asap rokok yang membuat pikirannya tenang.


sang ibu yang sudah mengantarkan anaknya untuk segera tidur di kamar, kini menghampiri sang suami yang duduk melamun memikirkan sesuatu hal yang tak pernah istrinya tahu.

__ADS_1


.


__ADS_2