
Pak Anton mencubit bibir Maya seketika, membuat wanita itu terdiam lalu menatap ke arah suaminya dengan tatapan bingas.
kedua bola mata Pak Anton menunjukkan arah pinggir, berharap sang istri mengerti kode yang ditampilkan suaminya. akan tetapi dimana Bu Maya yangbsudah di rendungi rasa-kesal yang mendera. membuat wanita tua itu hilang kendala.
Bu Maya memegang jari jemari tangan Pak Anton yang sengaja mencubit bibirnya, saat itulah ia menghempaskan jari jemari Pak Anton yang kini sudah terlepas begitu saja.
"Asin."
rasa ingin tertawa sengaja mereka tahan, kedua Insan itu tetap terlihat egois. tak ada yang mau mengalah satu sama lain, mereka lebih meninggikan ego mereka berdua. daripada harus saling memaafkan satu sama lain.
Lina hanya berpura-pura tak tahu masalah yang tengah dihadapi Pak Anton dan juga istrinya, Iya dari tadi hanya bisa merebah kan tubuhnya di ranjang tempat tidur, berpura-pura tidur seakan tak mendengar perdebatan kedua insan Di hadapannya.
saat itulah Pak Anton mulai menarik tangan sang istri untuk keluar dari ruangan calon menantunya, Iya kini berkata kepada sang istri," Sudahlah kita akhiri saja pertengkaran ini, Aku sudah lelah bertengkar dengan tak ada gunanya."
pada akhirnya Pak Anton Mengalah dari perdebatan yang tak kunjung Usai, membuatmu Maya merupakan kedua tangannya dan tersenyum senang dengan mengalahnya sang suami.
akan tetapi Bu Maya tak gampang mengakhiri perdebatan itu, ia malah memajukan kedua bibirnya tanpa menatap sang suami sedikit pun.
" Maya ayolah kita berdamai saja, Untuk apa kita selalu berdebat dengan masalah sepele, semua tak ada gunanya." ucap Anton membuat Maya sekilas menatap wajah suaminya yang terlihat sayu.
"Mm, apa bisa seperti itu. Anton?" tanya Maya.
"Kenapa tidak bisa, kita kan sudah mempunyai ikatan perjanjian setelah Ardi menikah, perjanjian itu akan terlepas!" jawab Anton seakan tak menerima semua itu.
hatinya begitu berat untuk meninggalkan wanita yang selama ini menemani dirinya. Iya sebenarnya begitu tak ingin berpisah dengan Maya.
"Aku ingin bertanya pada kamu, Anton?" tanya Maya.
__ADS_1
"Bertanya kenapa. Maya!" jawab Anton.
"Di hati kamu apakah masih ada sebuah rasa yang mungkin tidak bisa kamu ungkapkan," ucap Maya yang ternyata mulai mendekati tubuh Sang suami begitu saja .
Anton menelan ludah, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya itu. antara berkata jujur ataupun berbohong, Anton masih bingung mengungkapkan semua isi hati yang memang hatinya masih mencintai Maya.
tangan Maya mulai memegang dada bidang Anton," Apa kamu bisa berkata jujur dengan perasaanmu saat ini?"
Deg ...
jantung Anton seketika berdetak tak karuan, seperti ada magnet yang tiba-tiba menempel membuat jantungnya seakan ingin terlepas dari tubuh Anton, mengikuti aliran magnet itu.
Anton yang masih belum berani mengatakan semua yang ia pendam dari hatinya, hanya bisa melepaskan tangan Maya yang menempel dari dada bidangnya," Sudahlah jangan pernah bertanya soal itu, percuman saja aku berkata jujur dengan apa yang aku katakan dari mulut ku saat ini. kemungkinan besar Kamu tidak akan menerima apa yang terlontar dari mulut ini, sia-sia. Aku mengatakan apa yang ada pada perasaan saat ini, itu hanya membuang-buang waktu. Kamu mungkin akan merasa jijik."
Anton kini bergegas pergi dari hadapan Maya, akan tetapi Maya tidak mau menyia-nyiakan momen yang tepat bagi dirinya, Iya dengan sengaja menarik tangan Anton hingga kedua Insan itu saling bertatapan begitu dekat.
" mungkin terlihat aneh kita bertatapan seperti ini di depan orang lain, akan tetapi bagi diriku inilah moment yang tetap yang aku ingin katakan kepada kamu, Anton."
"Apa yang akan kamu katakan? Bukannya kamu sendiri yang berharap tentang perjanjian yang kita sepakati waktu,"
ketegasan dari ucapan Anton membuat Maya tersenyum lebar.
saat itulah Maya mulai menunjukkan ponsel di hadapan sang suami, Jari tangannya kini mulai menekan sebuah tombol rekaman yang mungkin akan terdengar jelas pada telinga Anton.
" Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu yang mungkin membuat kamu kaget, dan berharap bibir kamu ini bisa berkata jujur."
sebenarnya Anton masih merasa bingung dengan tingkah Maya yang tiba-tiba berubah mendekatinya dengan menunjukkan sebuah rekaman yang entah ia tidak tahu apa isi dari rekaman itu.
__ADS_1
"Rekaman?"
suara rekaman itu terdengar begitu jelas, di mana Anton yang tengah mengigau mengatakan sesuatu hal yang membuat dirinya malu, kedua pipi lelaki tua itu memerah tak menyangka dengan apa yang sudah dilakukan sang istri.
Anton berusaha merebut ponsel yang tengah dipegang oleh istrinya, akan tetapi Maya berusaha menjauhkan bangsanya agar tidak direbut oleh sang suami,
"Kenapa? sudahlah jujur saja, dengan perasaanmu."
"Baik, aku akan berkata jujur saat ini tentang perasaanku kepadamu Maya. aku memang masih mencintaimu dari dulu hingga sekarang. Tapi bagi diriku saat ini, semua itu percuma jika aku katakan semuanya kepada kamu. Pastinya kamu tidak akan menerima, perasaanku yang sebenarnya. Dan lagi, Kamu pasti akan mengelak dan berkata bahwa aku tukang selingkuh. jujur saja aku tidak pernah tidur dengan mereka, aku hanya melampiaskan semua kekesalan yang aku rasakan. karena dari dulu kamu tidak pernah menganggap diriku ada."
Maya tak menyangka, dengan apa yang ia lakukan. pada akhirnya sang suami mau mengakui perasaannya, hati Maya sedikit berbunga-bunga, setelah mendengar ungkapan dan perasaan dari mulut Anton untuk dirinya.
perlahan Maya mulai bertanya pada sang suami, tentang hubungannya dengan Sisil wanita yang dulu Maya percaya dan Maya sayangi seperti anak sendiri.
Anton yang menundukkan pandangan tak menatap ke arah Maya, membuat Maya langsung memegang dagu Anton, dan mengarahkan dagu suaminya ke arah dirinya. Maya ingin melihat Anton menatap dirinya saat itu juga.
"Anton, Aku ingin bertanya sekali lagi kepada kamu?"
" bertanya apa lagi Maya? bukannya sudah jelas apa yang aku katakan kepada kamu!"
" memang Semua sudah jelas kamu katakan dengan perasaanmu dan kejujuranmu saat ini Anton, hanya saja bukan masalah itu saja yang akan aku tanyakan kepada kamu, ini menyangkut Sisil?"
Anton seakan bersikap Santai dengan apa yang dikatakan," Kenapa kamu bertanya tentang wanita itu kepada diriku?"
" karena kemarin aku bertemu dengan sahabatku bernama Tia, yang di mana Tia itu adalah ibu kandung Sisil. sahabatku itu mengatakan kejujuran tentang Sisil dan dirimu. Anton."
"Terus, apa yang dia katakan pada kamu?"
__ADS_1
" dia mengatakan kepadaku, bahwa kamu sekarang tengah berhubungan dengan anaknya sendiri. Apa benar itu Anton!"
"Sebenarnya ..."