Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 205 Amarah Ardi.


__ADS_3

Tatapan Ardi seakan kosong, di kala melihat calon istrinya tak mengenakan baju, hanya tertutup handuk putih dengan ngemercik air yang menempel pada tubuhnya.


Terasa sesak kini di rasakan Ardi, melihat apa yang tidak seharunya ia lihat.


"Ardi."


Lamunan Ardi seketika membuyar, membuat suasana semakin hening. Tak ada yang berani bertanya, hanya Haikal yang berusaha menjelaskan semua yang sudah terjadi.


Tatapan tajam, kini mengarah ke arah Haikal, tatapan seakan ingin menekram.


"Ardi, kamu dengan dulu penjelasanku."


Api cemburu kian memburu pada jiwa, Ardi berusaha tenang, akan tetapi rasa sesaknya tak bisa di bohongi, hati Ardi sudah dikuasai oleh amarah sesaat.


Kedua tangan lelaki berdada bidang dengan bola mata coklatnya, kini mengengam erat tangan.


"Ardi, kamu ...."


Burg ....


Hantaman kini akhirnya dilayangkan Ardi untuk sahabatnya, hataman rasa tak percaya akan apa yang Ardi lihat pada mata kepalanya sendiri.


Haikal kini merasakan sakit akibat pukulan Ardi yang begitu keras, tanganya memengan pipi dan berkata." Ardi, aku ..."


Brugg ....


Tamparan kini melayang kembali, dari tangan Ardi. Membuat tubuh Haikal seketika melemah, kemarahan pada diri Ardi Kian memuncak. membuat tatapan lelaki itu kian menakutkan.


sedangkan Lina hanya berdiri mematung melihat kemarahan pada diri Ardi, tangannya kini bergetar menahan rasa takut, antara harus memisahkan atau membiarkan begitu saja.


"Aku bingung, bagaimana ini. Jika aku membela Haikal, dia akan semakin tersalahkan dan begitu pun denganku," Gumam hati Lina.


Bruggg ....


Ardi kembali melayangkan sebuah pukulan, membuat tubuh Haikal semakin melemah.


"Haikal, kenapa dia malah diam saja, saat Ardi memukulnya beberapa kali?" gerutu hati Lina.


Haikal yang sudah lemah dengan tubuhnya, kini terduduk di atas lantai, dengan menahan rasa sakit pada kedua pipinya bekas pukulan Ardi.

__ADS_1


"Kenapa kami lemah, Haikal? Ayo berdiri lawan aku," hardik Ardi, dengan kemarahan yang tak terkendali.


Haikal hanya bisa memengang pipi yang terasa sakit, ia menatap lembut sahabtnya dengan berharap jika Ardi luluh dan mau mendengar penjelasan yang akan di berikan Haikal.


Ardi yang memang sudah di landa amarah, membuat ia mendekat. Memagang kerah baju Haikal dan berkata," kenapa tatapan matamu menunjukkan ketidak salahanmu, sudahlah jangan berpura pura sok polos. Akui semuanya."


Gengaman erat kian membuat Haikal terasa Sesak, seakan Ardi perlahan ingin membunuh sahabatnya secara perlahan.


Lina benar benar kebingungan sendiri, membuat ia harus memutar otak, agar bisa mengendalikan amarah Ardi yang terus tak terkendali.


"Ardi, aku tidak tahu, jika kemarahanmu begitu menyeramkan." Gumam hati Lina.


"Ayo bicaralah?"


Tekan Ardi, mencekram kuat kerah baju Haikal. Membuat nafas sahabatnya terasa sesak.


"Kenapa?"


Rasa tak tahan ingin bernafas, membuat Ardi semakin kuat mencekik leher sahabatnya.


"Ardi!"


Nafas Lina semakin tak terkendali, dengan apa yang ia lakukan. Ardi yang terjatuh kini mulai berusaha berdiri akibat dorongan yang tiba tiba dari Lina.


"Kenapa? Kenapa?"


Teriak Ardi, berulang kali mengucap perkataan yang sama, Ardi kini tersenyum sinis melihat Lina yang berusaha menyelamatkan Haikal.


wanita yang masih memakai handuk yang melingkar pada tubuhnya, kini berusaha menolong Haikal yang sudah tak berdaya, akibat pukulan yang bertubi-tubi dari tangan calon suaminya.


"Ayo kita pergi dari sini, kak."


"Lina?"


"Sudahlah kak, aku masih adikmu, wajar aku pergi dari rumah ini!"


Ardi yang melihat Lina menolong Haikal, membuat ia mengusap kasar wajahnya.


"Jadi kalian ini benar benar membohongiku selama ini?"

__ADS_1


Pertanyaan bodoh itu kini keluar dari mulut Ardi, yang tiba tiba saja membuat Haikal melepaskan bantuan tangan Lina.


"Kak."


"Sudahlah Lina. Lepaskan tanganmu dari kakak. Biarkan kakak pergi. Percuma kamu menjelaskan apa yang tidak kita lakukan, Ardi akan tetap marah."


"Tapi, kak."


"Sudah, kamu tenangkan Ardi."


Ardi mendengar apa yang dikatakan Haikal pada Lina, membuat Ardi dengan lantangnya berucap," sudahlah Haikal. Jangan muna dengan apa yang akan kamu lakukan pada calon istriku."


mendengar apa yang diucapkan Ardi membuat kepala Haikal menunduk, Iya tak bisa berucap satu kata-kata pun, karena Ardi yang memang sedang dikuasai oleh amarah pada hati dan juga pikiran.


"Ardi, jaga mulutmu. kami berdua tidak melakukan apa yang kamu pikirkan," tegas Lina.


Haikal berusaha menenangkan Lina agar tidak marah kepada Ardi, karena jika kemarahan dibalas dengan kemarahan semua itu akan menjadikan salah satu diantara mereka merugi.


"Sudah Lina, kakak akan pergi. Semua salah Kak Haikal, " balas Haikal dengan tatapan sayu, berharap jika semua yang ia lakukan akan membuat hati Ardi luluh.


"Kak."


Lina menarik tangan Haikal, akan tetapi Haikal berusaha menepis tangan Lina. tak ada harapan untuk dipercayai Ardi kembali, karena dari wajahnya dan juga kedua matanya Ardi terlihat sangat membenci sekali Haikal.


Haikal berjalan gontai dengan rasa sakit pada kakinya," sakit ini tak seberapa. Karna yang lebih sakit itu adalah perpisahan antara dua sahabat. Yang selalu bersama."


sedangkan Lina menatap Haikal dengan penuh kesedihan, ia kecewa melihat calon suaminya Ardi, yang begitu keterlaluan apalagi Ardi sampai benar-benar menfitnah Haikal.


"Ardi aku pergi, maafkan aku, Sebenarnyan tidak ada maksud pada Lina saat itu. Aku hanya ingin pergi ke toilet, akan tetapi pelayanmu itu langsung menunjukkan ke arah timur, yang membuat aku bingung. dan di mana Aku tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilku. dengan terpaksa aku masuk ke dalam kamar ini dengan harapan menemukan toilet, dan lagi kamar ini tidak dikunci sama sekali. asal kamu tahu selama aku bersahabat denganmu aku tidak pernah mengecewakanmu sedikitpun, apalagi mengganggu apa yang sudah menjadi milikmu. Aku berharap kamu bisa sadar dengan apa yang tidak aku lakukan bersama Lina." ucap Haikal panjang lebar.


Lina yang tak jauh berada di samping Ardi, hanya bisa menatap sayu ke arah kakaknya itu, dia bingung dengan jalan pikirannya sendiri, terlihat sekali Ardi seperti kekanak-kanakan, apalagi Ardi sampai tidak bisa mengendalikan amarahnya sendiri Karena rasa takut akan apa yang ia lihat.


"Kak, aku ikut."


Lina ingin sekali ikut dengan Haikal dia tak mau berada di rumah, Ardi calon suaminya yang tak mempercayai apa yang dikatakan Haikal.


Lina hanya bisa menatap kebencian yang teramat dalam pada hati dan juga pikiran Ardi, kepada sahabatnya yang ia tak menyangka jika sahabatnya selama ini hanya membuka kedok belakang dan membuat dirinya hancur seketika.


antara percaya dan juga tak percaya apa yang dirasakan Ardi saat ini, Ya hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu, yang berjalan gontai merasakan rasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2