
Haikal mencoba menghampiri ruangan itu, ia melihat Alya calon istri Pras tengah menangis terisak isak. Membuat batinnya ingin menghampiri wanita itu.
"Sebenarnya kenapa dengan wanita itu?"
Tanpa berpikir panjang, Haikal kini melangkah mendekati Alya dan menyapa wanita itu," permisi. Mbak?"
Sontak Alya pun kaget dan segera mungkin menghapus air matanya yang terus mengalir," ada apa ya?"
Haikal melemparkan sebuah senyuman, membuat Alya terlihat malu, ia sedikit menundukkan pandangan.
"Toilet di sebelah mana ya. Mbak?"
Alya mulai menunjukkan toilet yang tak jauh dari hadapanya." Itu, toilet."
Betapa malunya Haikal saat itu, jika toilet tingga 3 langkah darinya.
"Oh deket ya." Ucap Haikal mengaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
Tiba tiba saja teriak terdengar begitu keras, membuat Haikal dan juga Alya kaget.
"Alya."
"Alya."
Ternyata teriakan itu adalah sebuah panggilan untuk Alya, "Sepertinya calon suamimu memanggil."
"Oh, iya saya permisi dulu."
"Alya."
Baru saja Alya mulai melangkah pergi menemui Pras, saat itu juga Pras berjalan ke arahnya.
"Alya, sedang apa kamu di sini."
Alya menatap ke arah samping kiri yang ternyata Haikal sudah tidak ada di dekatnya.
"Aku berharap kamu mengganti pakaianmu dengan anggun, tapi yang aku lihat," bentak Pras pada Alya.
"Pras, ini sudah ...." Belum perkataan Alya terlontar semuanya, Pras langsung membentak calon istrinya. "Cepat ganti pakaianmu, aku tidak suka."
Entah kenapa Pras begitu banyak mengatur tidak seperti biasanya, ia terkesan kasar dan sering membentak.
"Kenapa kamu diam saja, cepat ganti bajumu itu," hardik Pras.
Hati Alya seketika rapuh, ia menangis. Padahal ia berusaha kuat dan tegar. Ia ingin membalaskan dendam pada Pras, tapi kenyataanya. Alya malah rapuh dan melemah.
"Kenapa dengan hatiku, kenapa bisa selemah ini saat Pras membentak dan memarahiku, tapi aku malah kalah dengan perasaanku saat ini." Gumam hati Alya.
Pras berkacak pinggang dan berteriak." Alya. Kamu dengar apa tidak aku berkata apa?"
Alya memperlihatkan wajahnya yang menangis, membuat Pras malah menatap penuh kebencian pada Alya.
"Nangis, terusss." Dengan sengajanya Pras, mencekram dagu Alya dengan tangan kekarnya. Ia berucap pada Alya. "Hanya itu yang bisa di andalkan wanita, menangis dan menangis."
"Cepat ganti pakaianmu. Atau aku ...."
Haikal yang ternyata mengintip di pintu toilet mendengar percakapan dan teriakan Pras kepada Alya. Membuat ia ingin menahan tangan yang akan menampar Alya pada saat itu, akan tetapi Alya ternyata begitu sigap. Ia langsung menahan tangan Pras yang akan menamparnya lagi.
__ADS_1
"Apa hanya dengan kekerasan semua masalah bisa teratasi, Pras."
Pras yang di rendungi amarah kini melepaskan tanganya yang di tahan Alya.
" Sudah berapa kali di hari ini kamu membentak dan berkata kasar kepadaku? Apalagi di hari ini kamu mau menamparku hampir dua kali. Untung saja aku dengan sigap menahan tangan kekarmu itu."
Pras hanya mengusap kasar wajahnya, menahan rasa kesal yang terus menggebu pada hatinya.
" Jika kamu memang kesal kepada orang lain. Cobalah kamu tidak melampiaskan kekesalanmu itu kepada aku, yang memang aku tidak mempunyai salah kepadamu."
Pras malah tersenyum lebar, seketika ia tertawa menatap sinis ke arah Alya.
" kamu bilang apa tadi? Kamu bilang kamu tidak mempunyai salah?"
Alya terdiam, saat kata-kata Pras sedikit membuat Alya menyadari kesalahannya saat di dalam mobil untuk turun ke pemakaman.
" kenapa kamu diam saja. Apa kamu tidak menyadari kesalahanmu sendiri? Hai, Alya. Kenapa aku bisa seperti ini, itu karena kesalahan kamu sendiri. Coba jika kamu tidak membuat kesalahan yang begitu fatal, mungkin aku tidak akan menjadi sosok seorang lelaki yang kejam yang hanya bisa menyiksa kamu. Jadi kamu harus terima akibatmu sendiri, yang di mana itu terbuat dari kesalahanmu sendiri."
" stop, Pras. Iya, oke, aku mengaku. Memang aku salah saat di pemakaman aku tidak sadar menyebut nama Ardi, sampai kamu mendengar apa yang aku ucapkan. Tapi tolong jangan buat aku sakit hati terus-menerus hanya karena kesalahanku satu kali."
"Satu kali. Sejak kapan hari ini, kesalahanmu hanya satu kali saja. Apa kamu tidak menyadari kesalahanmu itu di hari ini begitu banyak, ucapanmu yang terus memuji keponakanku, kedua matamu yang terus menatap keponakanku dengan begitu penuh cinta. Apa kamu tidak menyadari semua itu, itu kesalahanmu yang sangat sangat fatal bagiku, Alya."
Alya tak menyangka jika Pras begitu sakit hati, karna Alya yang terus memuji dan memandang Ardi tanpa sadar di depan Pras.
"Ya terus aku harus apa, bukannya kamu yang menjerat aku dalam duniamu. Padahal aku ini tidak mencintaimu, aku mencintai Ardi, kamu yang sudah menjeratku pada duniamu dengan mengambil kesucianku waktu itu. Jadi kenapa aku yang terus kamu salahkan, harusnya kamu sadar diri Pras."
Plakkk .... Plakkk ....
Beberapa tamparan di layangkan Pras kepada Alya, membuat Alya yang menahan tamparan itu sampai terkulai jatuh ke atas lantai.
"Bagaimana rasanya sakit?"
Alya hanya menangis histeris, dengan apa yang di lakukan Pras.
"Sakit sekali kan?"
"Pras, kamu tega, kamu kejam!" Teriak Alya.
Di setiap tangisan Alya, seakan tidak ada rasa kasian pada lubuk hati Pras, ia begitu tega dan kejam menganiaya Alya.
"Terus saja teriak, aku suka dengan teriakan wanita macam sa*p*h seperti kamu." Ucap Pras sembari menunjuk wajah Alya dengan penuh kebencian.
Haikal yang tengah berada di kamar mandi, tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya bisa mendengarkan teriakan dan kesakitan Alya calon istri Pras.
Jika Haikal berniat membantu Alya, kemungkinan besar urusan akan ribet dan malah tambah runyem.
Maka dari itu, Haikal hanya mereka adegan Pras yang menampar Alya dan juga ucapan kasar Pras kepada calon istrinya.
Haikal bertanya tanya pada hati kecilnya, sepertinya ada cinta segitiga di antara Ardi dan juga Alya begitupun Pras.
Teriakan Alya kini terdengar kembali, membuat Haikal ingin sekali membantu Alya.
"Ayo Alya berdiri, cepat ganti bajumu." Ucap Pras.
"Tidak akan." Teriak Alya
Pras dengan kekesalanya, kini menarik tangan Alya hingga wanita itu berdiri.
__ADS_1
"Kamu mulai berani melawan. Awas ya, setelah aku menemui Ardi, aku akan membuat pelajaran untuk kamu Alya. Calon istriku."
Perkataan yang terlontar dari mulut Pras, membuat Alya membuang ludah dan berkata." dasar laki laki jahat."
Kini Pras, memanggil para pelayannya untuk membawa Alya ke dalam kamarnya.
"Pelayan."
"Pelayan."
Kedua pelayan laki laki datang, menghampiri Pras.
"Ada apa tuan?"
"Cepat kalian bawa wanita itu ke dalam kamarnya, dan kunci dia rapat rapat di dalam kamar. Jangan sampai dia kabur!"
"Baik tuan."
Kedua pelayan itu kini menyered paksa Alya, untuk membawanya ke dalam kamar.
"Lepasakan tanganku."
"Diam kamu."
Kedua pelayan itu memberikan kode satu sama lain, seakan berniat melakukan sesuatu yang tidak Alya tahu.
Setelah sampai di dalam kamar, kedua pelayan itu langsung meleparkan Alya pada kasur.
"Haha. Akhirnya keinginan kita akan terpenuhi."
"Iya benar."
Alya melihat tatapan kedua pelayan itu sangat menakutkan, membuat ia melangkah mundur mendorong kakinya dari kasur.
"Mau apa kalian?"
Alya begitu takut dengan tingkah kedua pelayan itu, membuat Alya kini mulai berteriak.
"Menyingkir kalian dari sini?"
Kedua pelayan itu. Mulai melayangkan aksi mereka, tanpa Pras tahu.
"Sudahlah nona tenang saja."
Salah satu pelayan mulai menutup pintu kamar Alya dan mengunci kamar Alya dengan begitu rapat.
"Kenapa kalian tidak ke luar?"
"Sudahlah nona jangan banyak bertanya, kita akan bersenang senang bertiga di kamar nona. Masa nona tidak mengerti!"
"Bersenang senang, jangan bodoh kalian. Pras akan membunuh kalian."
"Nona tenang saja, tuan kami tengah sibuk melayani para tamu di luar. Jadi sebaiknya nona rileks saja, rasakan yang akan kami lakukan pada Nona, tak perlu takut kami akan bermain pelan kok, tidak akan membuat Nona kesakitan."
"Gawat ini. Apa yang harus aku lakukan, aku tak mau jika mereka menyentuhku. Sial mana mereka berdua lagi." Gerutu hati Alya.
Bagaimana dengan Alya. Apa dia akan selamat dari kedua pelayan yang buas akan nafsu?
__ADS_1