Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 61


__ADS_3

"Kakak tolong Lina."


Teriakan itu terdengar begitu nyaring pada kedua telinga Dinda, membuat Dinda berjalan menelusuri sebuah tempat yang belum pernah ia singahi.


"Ini tempat apa, aku baru pertama kali datang ke sini." Gumam hati Dinda.


"Kakak tolong Lina."


teriakan itu semakin terdengar jelas pada kedua telinga Dinda, membuat Dinda terus mencari teriakan itu.


" De, kamu ada di mana?" Teriak Dinda.


"Kakak, tolong Lina."


Semakin dalam Dinda masuk ke ruangan itu semakin jelas terdengar suara Lina meminta tolong padanya.


"Lina, kemana dia. Kenapa suara tak terdengar lagi."


Dinda takut terjadi apa apa dengan sang adik, ia terus berjalan dengan hati yang begitu gelisa.


Sampai di mana, Dinda menemukan Lina tengah di ikat dan di jaga oleh kedua penjaga yang memakai baju hitam.


"Lina, dia adikku?"


Dinda mengintip di balik tembok, menunggu para penjaga itu pergi jauh dari Lina.


"Aku harus menyelamatkan Lina sekarang juga." Gumam hati Dinda.


Dinda merasa tak tega melihat Lina, dikurung di ruangan yang terlihat sangat sempit. dengan kedua tangan dan kedua kaki yang terdekat dengan tali tambang. membuat hati Dinda merasa sangat sakit.


Hingga beberapa menit kemudian, para penjaga itu mulai pergi menjaga Lina, kesempatan Dinda untuk menyelamatkan sang adik.


"Para penjaga itu sudah pergi."


Dinda perlahan mendekat ke arah Lina, dengan berjalan pelan pelan. Agar para penjagal itu tak menyadari kehadiran Dinda yang akan menolong sang adik.


"Kakak?"


Dinda menempelkan telunjuk tangannya pada bibirnya," huss. Kamu jangan berisik. Kakak akan tolong kamu. Sekarang juga."


Perlahan Dinda mulai melepaskan ikatan tali yang begitu kuat mengikat kedua tangan Lina dan juga kakinya. Hingga beberapa menit kemudian, Dinda berhasil melepaskan ikatan tali yang mengikat kuat pada kedua tangan Lina dan juga kakinya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini," ucap Dinda pada Lina.


SaatDinda mulai mengajak pergi Lina dari ruangan itu. tiba-tiba saja Lina menyodorkan sebuah pisau pada sang kakak.


"Lina, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dinda panik.


Lina malas tersenyum sembari memegangi pisau, dan berkata." Kenapa? Kakak takut, aku akan membunuh kakak sekarang juga."


padahal Dinda berusaha menyelamatkan Lina jangan begitu susah payah. tapi balasan Lina sangatlah menyeramkan untuk Dinda.


"Kubunuh kau."


pisau yang dilayangkan Lina hampir melayang ke arah, Dinda.


Saat itulah Dinda mulai menjerit.


"Ahkkk."


"Sayang bangun, sayang bangun."


Dinda terbangun dari tidurnya, ia melihat di samping kiri ternyata Haikal berada di dekatnya. Ia mengusap ngusap kedua matanya, ternyata dirinya berada di rumah.


"Kamu kenapa?" tanya Haikal yang terlihat mencemaskan ke adaan sang istri.


Belum perkataan Dinda terlontar semuanya, Dinda langsung terdiam pilu.


"Kamu mimpi apa?" tanya Haikal penasaran.


Dinda tak mau meneruskan, cerita dalam mimpinya. bagi Dinda itulah sangat menyeramkan. yang di mana Dinda menolong Lina dan ternyata Dinda yang malah menjadi korban.


"Hey, kamu kok malah melamun," ucap Haikal. Mengusap pelan rambut Dinda yang begitu panjang.


"Aku tidak kenapa napa, Mas. Aku mimpi buruk," balas Dinda.


Haikal langsung memeluk tubuh Dinda, menenangkan semua rasa ketakutan yang dirasakan Dinda." ya sudah aku ambilkan dulu air minum ya."


Dinda langsung menganggukkan kepala, saat sang suami mau mengambilkannya air minum.


hingga beberapa menit kemudian, Haikal datang membawa air minum dan juga beberapa cemilan.


"Ayo di minum, biar kamu tenang," ucap Haikal

__ADS_1


"Ya, terima kasih," balas Dinda. mulai meneguk air minum yang baru saja dibawa oleh Haikal.


saat itu juga, Haikal mulai menyodorkan beberapa cemilan kepada istrinya. akan tetapi Dinda menolak cemilan itu, ia merasa tak nafsu jika melihat makanan yang dibawakan oleh Haikal.


"Kenapa?" tanya Haikal.


"Tidak aku tidak ingin, dan tidak nafsu!" jawab Dinda.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Haikal. menaruh cemilan itu lagi.


Dinda seakan resah, dengan mimpi yang hadir pada tidurnya. mimpi itu begitu menyeramkan bagi Dinda." Sebenarnya apa arti dari mimpi itu?"


Dinda memijit kepalanya yang terasa sakit, ya terus saja memikirkan arti dari mimpi yang datang pada tidurnya. Haikal yang sudah menaruh cemilan melihat Dinda begitu kebingungan. Membuat Haikal langsung bertanya kepada sang istri.


"Memangnya kamu mimpi buruk apa sayang?" tanya Haikal kepada sang istri dengan begitu lembut.


Dinda mulai menatap sekilas kearah Haikal, ia tak mungkin menceritakan apa yang sudah terjadi pada mimpinya. Dirinya seakan takut jika Haikal tahu bawa Dinda bermimpi tentang Lina yang akan membunuh dirinya, Dinda takut jika Haikal marah dan tak mau mencari keberadaan Lina.


" aku tak boleh menceritakan semua, kalau aku bercerita. Pasti Mas Haikal akan marah besar, dan tak mau mencari keberadaan adikku Lina." Gumam hati Dinda.


" Sayang. Ayo cerita kepadaku, sebenarnya kamu mimpi apa, ada apa yang terjadi dari Mimpimu itu?" tanya Haikal pada sang istri.


" sudahlah mas, kamu tak usah tahu dengan mimpi burukku itu. itu tak penting, sebaiknya kita cepat tidur lagi," ucap Dinda yang enggan menceritakan semuanya.


" baiklah kalau memang kamu tidak mau bercerita kepadaku, tapi aku berharap kamu tenang dan tak usah memikirkan mimpi burukmu itu," ucap Haikal.


Dinda menganggukan kepalanya, ia berusaha bersikap tenang di hadapan Haikal. walau sebenarnya hatinya begitu bimbang memikirkan mimpi buruk tentang Lina yang sudah ia tolong dan tiba-tiba saja menusuknya dari belakang.


" aku harus berusaha melupakan mimpi buruk itu, semua tidak ada kaitannya dengan kehidupan yang sebenarnya. mimpi adalah Bunga Tidur yang tak harus dipikirkan," ucap Dinda pada hatinya.


Dinda mulai menutup kedua matanya, untuk segera tidur dan beristirahat. karena besok banyak lah aktivitas yang harus dilakukan Dinda.


Di samping kiri Haikal tetap saja memikirkan keadaan Dinda, Iya tak mau melihat istrinya terus saja menangis memikirkan sama adik. yang entah kapan sang adik akan kembali lagi pulang ke rumah.


Apalagi saat Haikal menelepon Ardi, tidak ada kepastian yang begitu kuat tentang Lina, membuat Haikal semakin cemas. dan kuatir, jika lambat laun Dinda akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Lina.


Haikal benar-benar ketakutan, jika tidak mengetahui semua. tindak pasti akan merasa sangat sedih, apalagi dia tengah mengandung. Dinda takut jika keadaan Dinda akan drop.


Haikal kini mulai duduk di atas ranjang tempat tidur, tangannya mengusap pelan rambut Dinda yang sudah tertidur. kini bibirnya melayangkan satu kecupan pada dahi Dinda.


"Selamat tidur."

__ADS_1


Haikal mulai kembali tidur, dirinya kini memeluk sang istri dengan begitu erat.


" Dinda aku akan berusaha membuatmu tak sedih." Gumam hati Haikal.


__ADS_2