Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 271


__ADS_3

Sang Papi langsung membopong tubuh Alya masuk ke dalam rumah, lelaki tua yang menjadi Ayah Alya tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan anaknya saat ini.


Kenapa bisa pada kedua tangannya terlihat begitu banyak sayapan pisau. Tidak terbayangkan betapa terasa perih bekas sayapan pisau itu, hingga meninggalkan luka kecil.


"Alya, Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu?" Gumam hati sang papi.


Gadis bermata sipit dengan rambutnya yang terurai panjang, kini diletakkan perlahan pada kasur dengan motif sprei bunga-bunga.


Wanita tua yang menjadi Ibunda Alya kini melangkah semakin mendekat ke arah anaknya, Iya duduk di samping Alya, tangan kanannya perlahan mengusap pelan kepala anak semata wayangnya itu.


Air mata tak terbendung lagi, kini perlahan jatuh mengenai pipi kedua wanita tua itu.


sang Mami menyuruh pelayannya untuk membersihkan badan Alya, ketika Alya sedang pingsan seperti sekarang.


Saat itulah, ia mulai bangkit dari ranjang tempat tidur. Mengambil ponsel dan menelepon dokter untuk menangani Alya.


Sang Mami yang bernama Renata, menjelaskan semua yang terlihat oleh dirinya kepada sang dokter.


Percakapan mereka sedikit lumayan lama, hingga di mana Renata mematikan ponselnya. sang Papi yang bernama Marcell, bertanya pada istrinya tercinta "apa yang dikatakan dokter itu? Apa dia mau datang ke sini?"


Renata membalikan badannya ke arah sang suami dan menjawab," tentu dia akan datang ke sini."


"syukurlah kalau begitu, jika dokter itu akan datang ke sini, aku sangat mengkhawatirkan keadaan anak kita. Dan lagi, aku sedikit bingung dengan kondisi Alya yang sekarang? Kenapa di badannya begitu penuh luka? Apa yang sudah terjadi dengan anak kita? Apa seseorang melakukan semua ini kepada Alya? Tapi siapa. Kenapa saat kita bertanya Alya malah jatuh pingsan. Begitu ketakutannya Alya. Hingga Alya tak berani mengungkapkan siapa pelaku atas semua yang sudah ia terima."


Renata juga bingung dengan apa yang ia lihat. Kenapa anaknya bisa mengalami luka pada tangannya?


Suara bel rumah berbunyi di mana kedua orang tua Alya dengan terburu-burunya membuka pintu rumah, mereka berharap jika orang yang membunyikan adalah dokter yang akan menangani Alya.


"Selamat siang."

__ADS_1


Membuka pintu, sosok seorang lelaki memberikan senyuman pada Marcel dan Renata. Ialah sosok sang dokter yang disuruh datang oleh Marcel ke rumah.


"Akhirnya kamu datang juga." Ucap Renata bernapas lega, setelah melihat kedatangan dokter muda bernama Ferdi.


"Ada apa tante, om?" Pertanyaan Ferdi, membuat kedua orang tua Alya menatap satu sama lain. Raut wajah kekuatiran mereka perlihatkan.


" Tante butuh bantuan kamu sekarang. Alya pulang dengan keadaan meyedihkan." Keluhan Renata membuat Ferdi mengerutkan dahi.


"Menyedihkan? Maksud tante?" Ferdi tak mengerti dengan kata menyedihkan yang di ucapkan Renata.


"Sekarang kamu ikut Tante, nanti kamu akan tahu sendiri, bagaimana keadaan Alya!" Renata mengajak Ferdi untuk segera masuk melihat keadaan anak semata wayangnya.


Dengan izin Renata pada akhirnya Ferdi mengikuti langkah kedua orang tua Alya.


Perlahan membuka pintu kamar Alya, wanita itu masih terbaring lemah di rajang tempat tidur. Ferdi perlahan mendekat ke arah Alya, mulai mengecek keadaanya saat itu.


Alya masih menutup mata, semenjak ia jatuh pingsan. Ferdi mengecek setiap luka pada tubuh Alya.


Hati seorang ibu mana yang tak rapuh, melihat anaknya tiba baik baik saja. Renata tak tega melihat luka itu di jait, ia keluar dari dalam kamar Alya, berusaha tidak melihat apa yang dilakukan sang dokter.


Marcel melihat sang istri ke luar dari kamar Alya, membuat ia mendekat dan bertanya?" Kenapa?"


"Aku tak tega melihat tangan Alya di jahit, jika ia tahu. Mungkin ia akan syok." Perkataan Renata membuat Marcel memeluk sang istri menenangkan rasa ketakutan yang ia lihat.


"Kamu tenang saja, Renata. Ferdi sudah memberi bius untuk Alya agar dia tidak bangun. Dokter itu tahu jika Alya takut dengan jarum." Marcel berusaha menjelasakan kepada sang istri. Pengobatan akan, berjalan lancar. Karna Ferdi dokter Profesional.


"Aku sedikit tenang kalau begitu! Hanya saja aku ingin tahu siapa orang yang tega membuat Alya seperti sekarang?" Pertanyaan Renata begitu sama dengan apa yang dipikirkan Marcel.


"Aku juga berpikir seperti itu, kenapa dia tega membuat anak kita terluka fisik. Aku tidak akan tinggal diam, akan kucari siapa orang yang sudah membuat anakku terluka." Terlihat wajah mengancam Marcel.

__ADS_1


Lelaki tua itu tidak akan tinggal diam, setelah sang anak terluka. Marcel sang ayah akan membalaskan perbuatan orang yang sudah melukai fisik Alya.


Marcel tidak akan membiarkan orang itu bersenang-senang di luar, di saat anaknya terkulai lemah di atas kasur dengan luka dimana mana.


"Aku akan mencari siapa dalang dari semua ini, tak akan aku biarkan dia hidup setelah apa yang dia lakukan pada anakku."


@@@@@@@@


Sedangkan di dalam kamar, di mana Alya tengah di tangani, Ferdi melihat wajah cantik Alya tidak pernah berubah.


Sudah lama, semenjak ia kabur, dan tak ingin dijodohkan oleh kedua orang tuanya, Ferdi merasa rindu, luka kehilangan kini terobati di saat ia mengobati luka pada tangan sang pujaan hati.


"Alya, bagaimana kamu bisa menjadi seperti ini?"


Pertanyaan mulai dilayangkan Ferdi, Alya masih tertidur, ia mungkin tak mendengar ucapan Ferdi.


"Kamu tahu tidak Alya, di saat kamu pergi ke luar rumah. Aku begitu menunggu penantian kamu, dimana orang tua kita menjodohkan kita. Apa yang kurang dari aku Alya." Gumam hati Ferdi.


Mengeluh adalah sesuatu hal yang wajar, apalagi Ferdi yang begitu mencintai Alya, di saat pandangan pertama. Dimana keduanya akan dijodohkan.


Ada rasa sesak dengan penolakan Alya, tapi Ferdi tetap merasakan cinta pada hatinya untuk Alya


"Apakah aku bisa mengejar cintamu lagi, Alya?" Pertanyaan hanya bisa dikatakan pada hati Ferdi.


Alya masih dengan kedua matanya yang menutup, sedangkan Ferdi yang mengeluh dalam hati, dengan santainya menjait luka sobekan pada tangan Alya.


"Betapa kejamnya orang yang sudah meluakai kamu. Jika kamu sadar nanti, aku ingin tahu siapa yang sudah membuat tangan mulus ini terluka."


Jaitan kini hampir selesai, hingga dimana Ferdi mulai membuka kaki Alya, untuk memeriksa, apa ada luka sayapan.

__ADS_1


Kedua mata Ferdi membulat disaat ia melihat bekas yang tak wajar pada kaki Alya. Perlahan ia sentuh dan luka itu terlihat begitu jelas, seperti luka cambukan.


__ADS_2