
"Haikal kamu mau bawa aku ke mana?" tanyaku. Haikal hanya melirik wajah ini sebentar dengan senyuman yang membuat hati meronta-ronta. Senyuman penuh arti!
Langka kaki kami melangkah menelusuri pinggir jalan, hingga tempat kontrakan Bu Nunik sudah tak terlihat lagi.
"Haikal, kamu budek ya. Aku tanya kita mau ke mana?"
Haikal tak menjawab pertanyaanku, saat itulah aku berhenti bertanya. Karna Haikal yang terus menarikku.
Hingga saatnya tiba, Haikal membawaku ke suatu jembatan jalan. Terlihat jembatan itu dikelilingi dengan lampu berwarna.
Menampilkan warna yang nampak cerah dengan sorot lampu yang mampu membuat warna lampu itu bercahaya.
Ingin rasanya merai satu lampu itu. Tapi apa daya tubuhku yang pendek ini tidak bisa memegang lampu warna warni itu.
"Kamu suka?" tanya Haikal padaku. Seyumnya begitu manis, dengan balutan bibir tipis membuat wajah tampannya terlihat begitu sempurna di mata para wanita.
"Loh kenapa malah melamun?" tanya Haikal, aku terlalu memandang ke tampanannya hingga lupa pertanyaan yang ia lontarkan.
"I-ya ke-napa Haikal?" ucapku bertanya balik pada lelaki di hadapanku ini. Jujur saja aku begitu gugup ketika di dekati oleh Haikal.
"Apa ada yang di pikirkan, kenapa enggak pakus," ucap Haikal membuat aku bingung menjawab apa.
Masa harus ku jawab, ketampanan mu yang aku pikirkan. Membuat aku tak henti memandang wajahmu Haikal. Enggak mungkin kan?
"Oh, anu. Enggak ada apa-apa ko Haikal!" jawabku mengulung-ngulungkan sedikit ujung baju yang aku pakai.
"Terus kenapa. Kaya enggak senang aku ajak kamu ke sini?" tanya Haikal tatapannya begitu menusuk. Membuat jantungku seperti mau copot.
"Loh, enggak ko. Malahan saya begitu suka dengan lampu yang menghiasi jembatan ini. Membuat saya terpaku. Haikal," ucapku. Aku berharap perkataanku tak di salah artikan oleh lelaki di sampingku ini.
"Oh ya, Haikal mau ngomong apa sama saya?" tanyaku. Membalikkan badan ke arah wajahnya, berusaha kuat menahan senyumannya yang manis itu.
Saat itu Aku bertanya ke intinya saja tanpa berbasa-basi lebih lama, karna jantungku yang terus berdetak tak karuan. Ingin tahu apa yang akan di bicarakan oleh Haikal.
Aku melihat raut wajah Haikal tampak gugup, ia seakan ketakutan saat aku bertanya. Padahal diriku juga sama seperti dia, ada kegugupan yang melanda hati ini. Namun aku berusaha tegar, mana mungkin seorang janda kalah dengan perjaka. Penasaran Tentang omongan apa yang akan di sampaikan kepada diriku.
Haikal langsung menarik pelan nafasnya, berusaha untuk berkata yang sejujurnya.
"Aku menyukaimu Dinda, aku benar-benar tulus padamu."
Menutup mulut begitu tercengang kaget ketika Haikal berkata tentang cinta. Mana mungkin bisa Haikal menyukaiku, padahal aku sudah menganggap itu hanya lelucon dari dulu. Walau sebenarnya hatiku sedikit merasakan rasa suka pada Haikal.
Aku harus jawab apa? Sedangkan aku berstatus janda dan belum bubar masa ida.
"Dinda aku akan menunggu masa idahmu, setelah selesai baru aku akan menikahimu."
"Mana mungkin Haikal aku hannyalah seorang janda. Sedangkan kamu masih perjaka, itu tidak mungkin!"
"Itu bisa terjadi Dinda, asal kita saling menyayangi dan saling melengkapi."
Ucapan Haikal membuatku kaget bukan main, lelaki di hadapanku begitu berani mengutarakan cinta.
"Maafkan aku Haikal. Aku tidak bisa, aku takut kamu kecewa setelah menikah denganku di kemudian hari."
"Tapi aku benar-benar tulus Dinda. Aku mohon terima cintaku. Apa kamu tidak mencintaiku?"
Pertanyaan Haikal membuat aku menggeleng-gelengkan kepala. Dengan terpaksa aku berbohong, karna dengan cara ini Haikal akan melupakanku dengan perlahan.
"Haikal maafkan aku!"
Aku berlalu pergi meninggalkan Haikal sendirian di jembatan.
Sampai tiba hujan datang mengguyur tubuhku yang tengah pergi menjauh pada Haikal.
Kalau pun aku ingin berkata jujur. Aku juga mencintaimu Haikal, aku takut sestatusku menghancurkan kehidupanmu Haikal.
__ADS_1
Hujan yang tiba-tiba datang seakan tahu apa yang tengah aku rasakan dalam hati ini.
Entah lah Haikal mengejarku atau tidak, saat ku lihat ke belakang ternyata Haikal tidak mengejarku. Mungkin dia kesal dengan jawaban yang aku layangkan pada dirinya.
Terlalu pedenya diriku, mana mungkin Haikal mengejarku. Dia tahu jika di tolak oleh janda sepertiku mungkin dia akan berpaling pada wanita lain.
Hah, ini yang terbaik bagiku. Apa lah daya wanita seperti aku akan bahagia..
Di saat hujan yang begitu deras, seseorang datang dengan memakai jas hujan hitam.
Ternyata wanita itu adalah Nina.
"Hallo. Dinda apa kabar?" tanya sosok wanita memakai jas hujan menyapaku.
"Nina, kamu lagi!" jawabku yang sudah merasakan kedinginan.
"Ya aku Nina. Aku datang lagi untuk membuat kamu tersiksa, gara-gara adik kamu. Aku jadi di permalukan oleh orang-orang di sana."
"Itu kesalahan kamu sendiri, kenapa kamu menyalahkan adikku. Jelas-jelas kamu jalan tidak hati-hati jadi terjatuhkah," hardikku.
Nina menjambak rambutku kasar, di tengah hujan begini tidak ada orang yang mampu menolongku dari cengkeraman Nina saat ini.
"Lepaskan aku Nina, apa kamu gila," teriakku.
Dengan terpaksa ku jambak lagi rambutnya, hingga ia meringis kesakitan.
"Sakit kan." Menjambak rambut Nina dengan tanganku.
Nina malah menendang perutku. Membuat aku terhepas ke tanah.
"Enak kan rasanya?" tanya Nina padaku.
Aku segera bangun, menghajar wajahnya. Hingga tubuhnya terhempas ka tanah.
"Aku sudah beri kamu kesempatan jangan dekati lagi Haikal, apa kamu tidak takut dengan ancamanku," teriak Nina. Dengan suara hujan yang begitu deras. Aku terus mengusap kasar wajah karna air yang terus membasahi rambut hingga sekujur tubuhku. Membuat penglihatanku terganggu.
Nina terdiam pilu dia seakan tak mampu ber ucap kata-kata lagi.
"Kenapa kamu diam Nina jawab?" teriakan Haikal. Membuat gendang telingaku sakit, baru pertama kali aku melihat lelaki di sampingku begitu marah besar.
"Apa ini rencanamu, menyingkirkan Dinda agar aku bisa bersamamu. Jangan harap Nina, aku sudah tahu kebaikanmu pasti ada keinginan yang kamu sembunyikan," hardik Haikal.
Bibir Nina mulai mengkerut memperlihatkan ketidak sukaan saat Haikal berbicara seperti itu.
"Apa maksud kamu Haikal, saya sama sekali tak mengerti?" tanya Nina. Ada deraian air mata yang jatuh dari pelipih matanya, entah itu karna air hujan.
"Sudah, jangan berpura-pura bodoh Bu Nina. Saya sudah tahu rencana busuk Bu Nina. kamu kan yang sudah menyekap saya dua hari yang lalu?" tanya Haikal. Membuat suasa semakin mencekram hanya air hujan yang terdengar begitu berisik, membuat Bu Nina hanya terdiam.
Ku coba menenangkan amarah Haikal yang semakin menggebu-gebu. Haikal seakan tak bisa mengontrol emosinya.
"Kenapa kamu tidak menjawab Bu Nina," desak Haikal.
Nina yang menundukkan pandangan, bibirnya seakan keluh. Beberapa kali Haikal bertanya Nina tetap tak menjawab satu kata patah pun.
Entah apa yang di pikirkan wanita itu, ia berjalan menuju tengah jalan raya yang begitu banyak mobil berseberangan.
Haikal tampak panik saat itu, ia mencoba mengejar Nina, dan menarik wanita itu ke pinggir jalan. Untung saja semua belum terlambat, aku yang melihatnya begitu syok. Betapa nekatnya Nina berbuat hal yang bodoh.
"Apa kamu gila Bu Nina?" Teriakan Haikal terdengar begitu jelas.
Aku berlari menghampiri mereka. Nina menangis tubuhnya merosot ke atas tanah, ia menangis terisak-isak.
Haikal hanya mengusap kasar wajahnya karna air hujan terus membasahi rambut dan wajahnya.
__ADS_1
"Aku gila. Memang aku gila." Teriak Nina.
Aku mencoba menenangkan dirinya, meraih lengan tangannya untuk berdiri. Namun Nina malah menepiskan tanganku begitu saja.
Haikal mencoba menenangkan amarahnya mencoba membujuk Nina untuk berdiri. Aku yang melihatnya sungguh terpaku, ternyata Nina hanya ingin di bantu oleh Haikal.
"Ayo berdiri Bu Nina. Biar saya yang mengantarkan kamu pulang."
Haikal saat itu pasrah, hanya dirinya yang mampu membujuk Nina untuk tidak melakukan hal bodoh dan mengantarkannya pulang.
Punggung mereka sudah tak tampak lagi, tinggal aku sendiri di pinggir jalan ini. Melihat dan merasakan rincikan hujan membasahi tubuh.
Tidak ada yang menemani kesedihan hati dan juga kesengsaraan jiwa.
"Ka Dinda," ucap Lina. Menghampiriku menutup tubuhku dengan jaket.
"Lina," jawabku. Menatap sang adik, hanya dia yang selalu mengerti keadaanku.
"Ayo kita pulang," ajak Lina. Merangkul punggungku, membawa aku untuk segera pulang ke kontrakan.
Lina menatap ke arah kanan dan kiri seakan mencari seseorang.
"Ke mana ka Haikal?" Pertanyaan nya membuat aku harus berkata sejujurnya.
"Haikal pergi mengantarkan Nina ke rumahnya!" jawabku. Bibirku sudah terlihat membiru karna dinginnya air hujan.
"Dedemit itu, kenapa sih selalu mengacau," gerutu Lina.
"Semua bukan salah dia Lina. Kaka yang tidak bisa berkata jujur kalau kakak juga menyukai Haikal," keluhku pada sang adik.
"Ya sudah kita pulang dulu, kakak sudah kedinginan. Biar kita obrolkan di dalam kontrakan," ucap Lina.
Setelah sampai di kontrakan Lina menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Dan menyiapkan teh hangat.
Setelah selesai mandi dan meminum teh hangat buatan adikku. Rasanya begitu terasa tenang dan hangat.
Aku menceritakan kejadian saat itu kepada Lina, membuat adikku tercengang kaget.
Ia kesal dengan Nina yang selalu tiba-tiba muncul dan menggagalkan kebahagiaan orang lain.
Yang aku takutkan sekarang, aku takut Nina menjebak Haikal. Di rumahnya.
Apa Haikal akan kuat?
__ADS_1