Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 262


__ADS_3

Semua mata kini memandang Lina, dengan aksinya yang menampar Adnan. Pak Anton tentu bingung dibuat Lina, kenapa malah menampar Adnan?


Apa yang sudah terjadi antara mereka berdua?


Wanita berambut pendek itu kini mentihkan air mata, perlahan demi perlahan, hingga air mata itu kini terus menerus keluar. Isak tangis ia keluarkan dengan begitu terdengar keras.


"Kalian. Benar benar keterlaluan, seakan aku ini yang salah dalam masalah ini. Dimana hati nurani kalian?"


Lina berlari dengan mengusap gusap air matanya,


Ia tak peduli jika orang orang memanggil namanya. Hatinya kini kesal, tak terbendung lagi.


Ardi yang masih merasakan rasa cinta, kini mengejar Lina. Sedangkan Haikal hanya menarik nafasnya pelan, "Bagaimana jika Nining tahu, Ardi terlihat masih ingin bersama Lina?"


Haikal berusaha ikut serta, ia juga tak ingin melihat keponakannya terluka. "Ardi, tidak bisa aku percaya. Ucapannya tak sama dengan kenyataan yang sebenarnya."


Lina menangis sembari berlari, ia tak memperdulikan omongan orang lain yang menatap tingkahnya.


Ardi berlari sembari memanggil Lina.


"Lina, tunggu."


Lina kini duduk di teras depan rumah sakit, ia menutup kedua wajahnya dengan isakan tangis yang sudah basah pada wajahnya.


Rasa kasihan yang berusaha di pedam Ardi, kini malah bunyar seketika. Dengan tangisan Lina.


Ardi duduk di samping Lina dan berkata," kenapa kamu malah menangis."


Lina menatap ke arah sisi kiri orang yang duduk di sampingnya," Kenapa? kenapa kamu malah bertanya? Apa kurang jelas aku meneriaki orang orang di rumah sakit?"


Ardi menatap kesedihan Lina, begitu dalam." Lina."


"Sudah, kamu pergi dari sini, aku tidak butuh nasehat dari kamu Ardi. Aku memang salah atas semua ini. Terus saja kalian salahkan aku saja."


Tangisan di wajah Lina tak henti hentinya ke luar, membuat Ardi berusaha memegangan air mata yang jatuh dari pipi gadis yang ia cintai.


Haikal datang dengan suara paniknya, ia berusaha membuat Ardi sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Haikal?"


Lina mulai berjalan pergi, menjauh dari hadapan Ardi dan juga Haikal.


"Lina, kamu mau ke mana?"


Teriakan Ardi membuat Haikal mendekat ke arah sahabatnya.


"Biarkan saja, jangan kamu kejar dia. Kamu harus ingat Nining, jangan sampai kamu menyakiti wanita yang sangat mencintai kamu."

__ADS_1


Ardi sadar dengan apa yang ia lakukan, seharusnya tak mengejar Lina, wanita yang sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya. Ardi harus fokus terhadap Nining, wanita yang akan ia nikahi secepat mungkin.


Haikal dan Ardi mulai masuk lagi ke dalam rumah sakit.


"Aku ingatkan kamu Ardi, kamu sudah melamar Nining. Kamu harus pada pendirianmu, saat kamu melihat Lina, kamu harus buang rasa cintamu itu."


Haikal terus saja meyadarkan sang sahabat agar tidak terkecoh dengan kesedihan yang selalu di perlihatkan Lina saat ini.


Mengusap kasar wajah, Ardi bangkit dari rasa cinta yang tak seharusnya ia teruskan. Membuang semua kenangan bersama Lina.


@@@@


Saat berjalan menuju Pak Anton dan Adnan. Saat itu juga dokter ke luar dari ruangan oprasi


Ardi berlari dan menanyakan ke adaan sang ibu, begitu pun dengan Pak Anton.


"Dok, bagaimana keadaan papah saya?"


Sang dokter menghebuskan nafasnya, ia memperlihatkan senyuman dan berkata," masih belum terlambat."


"Jadi, maksud dokter. Ibu saya masih hidup?"


Sang dokter menganggukkan kepala, tersenyum ke arah Ardi dan ayahnya.


Adnan yang mendengar perkataan dokter, kini bisa bernafas lega.


Ini keajaiban bagi Ardi, sang ibu bisa di selamatkan.


Lina yang mengintip dari kejauhan, hanya bisa mengusap pelan air matanya dan berkata." Tante Maya selamat. Aku sungguh bahagia."


Lina hampir lupa dengan Alya, semenjak Alya di bawa ke mobil ambulan. Lina tak melihat lagi keadaan Alya yang sekarang.


"Alya kemana kamu?"


@@@@@


Sedangkan Pras, yang menerima pukulan bertubi tubi, kini di tangani oleh para pelayan dan dokter kusus yang di panggil oleh asistenya.


Pras tidak bisa dilarikan ke rumah sakit, karna statusnya sebagai buronan. Ia hanya bisa di tangani di tempat persembunyian yang menurutnya aman.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Pras, hanya bisa ia tahan, Pras tak bisa berbuat apa apa. Dirinya hanya terbaring di tangani dokter.


"Tuan, bertahanlah." ucap pelayan dan suruhan Pras, yang masih setia bersamanya."


Dokter hanya memakai alat seadanya, ia tak yakin jika Pras akan bertahan. Karna luka sayapan yang begitu dalam.


@@@@@

__ADS_1


Setelah oprasi, sang ibu masih tak sadarkan diri, Ardi hanya bisa mengintip di balik jendela sang ibu yang tengah tertidur di ranjang tempat tidur rumah sakit.


Dreet ....


Suara ponsel berbunyu, di mana Nining menelepon Aerdi.


"Halo, Aa Ardi, gimana keadaan ibu? Apa ibu Aa Ardi sudah di temukan?"


Nining terdengar begitu menguatirkan keadaan ibunda Ardi, yang belum bertatap muka dengannya.


"Halo, Ning. ibu sudah di temukan. Sekarang ibu sudah menjalankan oprasi."


Nining terkejut dengan perkataan Ardi, di mana ia mendengar kata oprasi?


"Oprasi? Memangnya kenapa dengan ibu Aa Ardi?"


"Ibu di temukan dalam kondisi perut terkena sayapan pisau. Jadi ibu harus di oprasi, dan untuknya ke adaan ibu sekarang tengah menjalani pemulihan pasca oprasi."


Setelah mendengar cerita dari Ardi, Nining mengusap pelan dadanya dan berkata," syukur kalau begitu. Nining kuatir dengan ke adaan Ibu dan juga Aa Ardi yang pulang dengan terburu buru."


"Kamu jangan kuatir, saya selamat kok. Buktinya sekarang saya bisa mengangkat panggilan telepon kamu."


Nining tertawa di saat Ardi sedikit bercanda kepada dirinya.


"Gimana keadaan Bu Nunik?"


"Justru itu, Nining masih menunggu ke adana Bu Nunik. Dokter dan Pak Hasan belum keluar dari ruangan Bu Nunik!"


"Kenapa kamu enggak pulang, Ning? Ibu dan bapak kamu pasti sangat kuatir pada kamu?"


Apa yang dikatakan Ardi memang benar, untuk apa Nining menunggu Bu Nunik sampai sembuh? Bukanya ada sang suami? Karna yang bertanggung jawab bukan Nining, yaitu suaminya sendiri.


Masih untung Nining tak melaporkan semua pada polisi.


"Nining juga udah enggak betah di rumah sakit, tapi kasihan Pak Hasan, mondar mandir ke sana ke mari. "


"Ning, lelaki tua itu emang seharusnya mondar mandir ke sana ke mari. karna ia suaminya. Kamu lebih baik pulang sekarang, kasihan ibu dan bapak."


Pada saat itulah Nining mulai menuruti perkataan Ardi.


"Ya sudah kalau begitu, Nining mau pulang dari rumah sakit ini. Karna Bu Nunik juga tak menganggap Nining di sini."


"Ya sudah kamu cepat pulang, dan kasih tahu sama ibu dan bapak, saya minta maaf pulang tanpa pamit."


"Iya, nanti Nining sampaikan ke ibu dan bapak."


Di tengah obrolan itu Nining di kagetkan dengan suara Pak Hasan.

__ADS_1


__ADS_2