Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 235


__ADS_3

"Maafkan saya Ning, saya tidak bisa mencintaimu," ucap Ardi membalikkan badan, dengan hati tak tahu arah.


Nining menangis secara perlahan, ia mulai Mengejar Cinta Pertamanya, bagaimanapun Nining akan berusaha mengambil hati lelaki yang sudah disakiti oleh Lina.


"Aa Ardi."


Nining memegang tangan Ardi, membuat Ardi menghentikan langkah kakinya. Ardi mulai membalikkan badan ke arah Nining.


"Aa Ardi, Percayalah pada Nining, Nining tidak akan menyakiti Aa Ardi."


Terlihat Ardi memperlihatkan wajah muramnya, sedangkan Nining menangis," Aa Ardi jawab atuh."


Ardi berusaha menghindari tatapan Nining, Ya berusaha tak merasa kasihan terhadap gadis yang dianggap dirinya masih terlalu muda.


"Ning, kamu ini masih muda. Carilah lelaki yang tak jauh berbeda dengan kamu."


Perkataan Ardi membuat Haikal tertawa, di mana Ardi langsung menatap tajam ke arah Haikal.


Kini sahabatnya itu langsung menghentikan tawanya yang menggema.


" Jadi Aa Ardi tuh nolak Nining karna umur?"


Ardi memperlihatkan kedua pipinya yang memerah, menahan rasa malu akan jawaban Nining.


"Iya."


saat jawaban kata iya terlontar pada mulut Ardi, saat itulah Haikal langsung tertawa terbahak-bahak di depan kedua Insan. Yang ternyata sama-sama saling menyukai.


Entah Sejak kapan Ardi menyukai Nining, padahal mereka baru saja bertemu selama 3 hari.


Haikal mencoba melihat ke arah mereka berdua, gadis desa dan juga lelaki kota.


Memang Haikal saat melihat Ardi dan juga Nining tengah bersejajar. Mereka terlihat seperti adik kakak, karena mungkin jarak umur mereka yang jauh sangat berbeda.


Tapi Haikal tak peduli dengan masalah itu, yang terpenting ia bisa melihat sahabatnya bahagia. tanpa harus memikirkan Lina orang yang ternyata tidak mencintai sahabatnya,


Sungguh disayangkan bagi Lina, Iya sudah Kehilangan lelaki yang benar-benar tulus mencintainya.


Ardi dan Nining saling menatap satu sama lain, membuat sindiran terlontar dari mulut Haikal.


" Punya yang baru nih, masih segar lagi?"


Ardi membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Haikal sang sahabat.


dia memajukan bibir atasnya," daripada kamu jomblo,"


Deg ....


kata-kata Ardi sedikit membuat hati Haikal kesal, membuat Haikal langsung memukul kepala Ardi dengan pelan.


" ye enak aja kalau ngomong, orang belum nemu. kalau sudah nemu yang nanti juga nggak jomblo lagi."

__ADS_1


perkataan Haikal kini membuat semua orang tertawa, hingga di mana Ardi akan segera berpamitan pulang ke kota, begitupun dengan Haikal.


karena mereka berdua harus mencari keberadaan Lina sampai ketemu, walaupun rasa kesal dan juga benci terhadap Lina, dirasakan sekarang oleh Ardi.


sebagai seorang lelaki Ardi harus bertanggung jawab, membuat Lina selamat.


Nining yang baru saja kemarin bahagia, Kini harus merasakan rasa kehilangan akan kepergian Ardi.


Hingga di mana pertemuan mereka direncanakan, Sebelum pulang ke kota, Ardi sudah berencana ingin bertemu dengan Nining.


Iya ingin mengikat sebuah janji untuk Nining, agar Nining gadis desa yang baru saja mengatakan cinta kepadanya, bersabar menunggu akan kedatangannya untuk melamar Nining.


setelah bertemu di sebuah jalanan kecil, yang begitu banyak dengan tumbuhan dan juga rerumputan kecil, Ardi mulai mengatakan janjinya.


"Ning, tunggu aku. Nanti aku akan menjemputmu."


"Baiklah, Aa Ardi. Nining pasti nunggu Aa Ardi."


"Terima kasih, Ning."


Setelah pertemuan itu, perasaan Ardi terasa lega, iya mulai berangkat menaiki mobil bersama Haikal.


Nining melambaikan tangan untuk sebuah perpisahan, gadis desa itu berharap jika Ardi akan kembali lagi dan menemui dirinya.


Nining pulang dengan wajah ceria, ia begitu bahagia. Bisa Memiliki Ardi, walaupun ia belum sepenuhnya tahu jika Ardi benar-benar mencintainya atau tidak.


karena Nining melihat dari kedua matanya ada keraguan pada diri Ardi. Maka dari itu Nining berusaha menguatkan keyakinan dirinya bahwa Ardi pasti bisa mencintai Nining sepenuh hatinya, seperti Ardi mencintai Lina dan tak ingin kehilangan dirinya.


Nining akan membuktikan bahwa ia bisa membahagiakan Ardi, tanpa harus menyakitinya,


Di dalam perjalanan menuju kota, Haikal kini mempertanyakan tentang perasaan Ardi kepada Nining. Ia tidak mau jika Ardi malah plin plan dengan pilihanya.


"Ardi, lu yakin sama keponakan gue. Bukanya lu baru mengenal Nining 3 hari yang lalu, dan lu ...."


Belum pertanyaan Haikal terlontar semuanya, saat itu juga Ardi langsung menjawab," Cinta itu akan tubuh pada waktunya. Percaya sama gue."


"Iya, iya gue percaya, sama lu."


"Bagus."


Setelah sampai di rumah, Kedua orang tua Ardi datang menyambut kedatangannya.


"Ardi, kamu sudah pulang, nak. Ibu sangat kuatir sekali padamu?"


Ardi memeluk sang ibu, berusaha menenangkan rasa sakitnya, ia tak berhasil membawa Lina pulang.


Haikal memberi salam pada kedua orang tua Ardi.


Pak Anton kini bertanya kepada Ardi?" kemana Lina, calon istrimu?"


"Tidak ada!" cetus Ardi. Masih kesal dengan perasaan Lina yang sesungguhnya.

__ADS_1


Haikal, berusaha bersikap tenang. Ia tak berani berucap satu patah kata pun, dirinya lebih baik diam.


Ardi dengan tergesa gesa, masuk ke dalam rumah, ia seakan malah menjawab pertanyaan kedua orang tuanya.


Sedangkan Haikal, mengikuti langkah kaki Ardi yang begitu cepat.


"Haikal?"


Haikal membalikkan badan setelah mendengar panggilan Maya, yang menyebut namanya.


"Iya, tante kenapa?"


"Tante ingin bicara sama kamu!"


Haikal membalikkan badannya ke arah Maya. di mana Saya ingin berbicara tentang perubahan sifat Ardi.


Haikal sebenarnya ingin menjauhi pertanyaan-pertanyaan ibunda Ardi, yang pastinya akan bertanya tentang Lina.


Haikal menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ya terus mengikuti langkah ibunda Ardi, yang di mana ibunda Ardi mengajak Haikal ke ruang tamu.


Haikal dipersilahkan duduk oleh Maya, ada rasa keraguan pada hati Haikal, yang di mana Maya terus menatap wajahnya.


"Haikal."


"Eh iya, tante. Ada apa?"


" Bukannya Lina ada di kampung kamu Haikal?"


Haikal menelan ludah, Ya sudah mengira akan pertanyaan ibunda Maya pasti tentang Lina.


"Coba kamu jawab, Haikal!"


"Sebenarnya."


saat itu Ardi langsung datang menemui Haikal dan juga ibunya, yang tengah bertanya tentang Lina.


"Lina sudah tidak ada di kampung Haikal!


"Maksud kamu, Ardi."


" Lina kabur saat aku menemui dia di kampung Haikal, akibat Lina yang kabur. pada akhirnya dia diculik oleh salah seorang yang entah Ardi tak tahu mereka siapa."


"Di culik?"


"Iya, Lina di culik tante!" kini Haikal mulai angkat bicara, dia langsung memperlihatkan nomor plat mobil yang sudah menculik Lina pada saat itu.


"Plat mobil ini?"


Maya berusaha mengingat kode plat mobil yang diperlihatkan oleh Haikal.


"Apa ibu tahu, itu palt mobil siapa?"

__ADS_1


" Jujur saja Ibu pernah melihat plat mobil ini, karena bagi ibu plat mobil ini tak asing. Ini seperti milik Pras."


Ardi sudah menduga dari dulu bahwa ini adalah rencana pamannya sendiri.


__ADS_2