Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 42


__ADS_3

"Semua belum berakhir. Masih ada rencanaku, di mana aku menuangkan serbuk putih untuk Haikal," Gumam hati Lina.


Saat itu Lina hanya duduk di kursi depan rumah, menunggu reaksi serbuk putih yang ia sengaja tuangkan untuk Haikal. Ardi yang mengetahui rencana Lina, mulai menukar minuman yang berada di dekat Haikal


"Hai, Haikal. Aku haus minta minummu," ucap Ardi. Mengambil gelas yang berada di depan Haikal.


Haikal hanya mengelus dada, ia sudah terbiasa dengan tingkah Ardi yang selalu tak sopan kepadanya.


"Itu teman kamu?" tanya Dinda.


Haikal menepuk jidatnya dan menjawab!" ya ampun, sayang. Aku lupa, mengenalkan Ardi."


Dinda tersenyum," sudah tak apa. Aku mengerti, kan tadi kondisi tubuhku ngerdrop mas."


Haikal mengusap pelan kepala sang istri." Sekali lagi Mas, minta maaf ya."


"Iya." Balas Dinda menganggukan kepala.


Ardi yang melihat Lina duduk santai di luar, membuat ia langsung berniat memberikan air minum yang ia ambil dari Haikal.


"Aku penasaran dengan reaksi obat ini, jadinya gimana ya." Gumam hati Ardi.


Mendekat ke arah Lina, menyodorkan air minum.


"Nih."


Lina menatap ke arah air minum yang di sodorkan Ardi.


"Untuk apa kamu memberiku air minum?" tanya Lina cetus.


Ardi mengehelap napas beratnya dan menjawab!" ya aku kasihan sama kamu, kamu pasti haus sudah menahan rasa cemburu berlebihan. Jadi aku bawakan air minum, agar pikiran kamu ini jerni."


Dengan terpaksa Lina mengambil air minum itu, karna memang rasanya begitu haus. Apalagi dari tadi Lina berusaha menahan amarah karna kesal melihat kemesraan kedua kakaknya yang menyakiti hati.


"Minum yang habis," ucap Ardi.


Dan benar saja Lina meminum air putih itu, sampai habis. Membuat Ardi berucap," wkwkwk, kena jebakan sendiri."


Ucapan Ardi, membuat Lina kaget, dan memuntahkan air minum yang masih ada pada mulutnya.


"Apa maksud kamu?" tanya tegas Lina.


"Maksud aku, ya kamu kena jebakan sendiri!" jawab Ardi. Pergi begitu saja dari hadapan Lina.

__ADS_1


Lina berusaha membuang air minum yang ia telan sebagian," gawat ini. Bagaimana, kalau aku meminum air putih yang sengaja aku kasih serbuk."


Lina begitu panik, ia berlari ke arah kamar. Membuat Haikal dan Dinda langsung memanggil namanya.


"Lina, kamu mau ke mana?" Teriak Haikal.


Ada yang heran dengan tingkah Lina, yang hanya menatap tanpa menjawab saat Haikal memanggil namanya.


Membuat Haikal, bergegas berdiri. Namun Dinda berusaha menahan tangan sang suami. Untuk tetap duduk berhadapan dengannya.


"Kamu mau ke mana, Mas. Kita belum selesai makan loh," ucap Dinda.


Haikal, tak mungkin menghampiri Lina. Karna masih menyuapi Dinda. mau tidak mau Haikal harus menyuapi Dinda karna makanan yang berada dalam piring harus habis tanpa sisa.


"Aku masih lapar, Mas."


Entah kenapa Dinda merasa sangat takut, akan Haikal yang lama ke lamaan akan tertarik dengan Lina.


"Mas, kamu masih mencintaiku kan?" tanya Dinda. Ada rasa ragu pada hatinya, karna akhir akhir ini, Haikal sering mencemasi Lina.


"Kamu ini ngomong apa!" jawab Haikal merasa heran dengan pertanyaan istrinya.


"Kamu tinggal jawab aja, Mas. Kamu masih mencintaiku kan?" tanya Dinda menekan sang suami.


"Sebenarnya, Dinda masih ragu. Karna akhir akhir ini Mas sering memperhatikan Lina," cetus Dinda. Berterus terang dengan apa yang ada pada perasaanya.


"Hanya karna itu, Mas ini mencemaskan Lina karna dia sudah menginjak dewasa, sebagai seorang kakak. Mas takut jika Lina salah dalam pergaulan," balas Haikal.


Dinda hanya tersenyum dan membalas," oh."


"Kenapa sih, kaya enggak senang begitu. Dengan jewaban Mas. Apa Mas salah ya, sudah menjawab seperti itu," ucap Haikal. Terlihat wajah kekecewaan pada hatinya.


"Enggak, kok," balas Dinda.


Melihat Dinda yang cemberut seperti itu, membuat Haikal langsung mencium kening Dinda membuat kedua pipi Dinda memerah.


"Sudah jangan cemberut terus kasihan dede dalam perutnya." Ucap Haikal mengelus perut sang istri.


"Kamu bisa saja, Mas," Balas Dinda membungkukkan kepala.


@@@@@@


Sedangkan dengan Lina, ia merasa panik. Mengacak rambutnya mencari penangkal obat serbuk dalam minuman yang sengaja ia tuangkan untuk Haikal.

__ADS_1


"Ke mana obat penangkal itu."


Ardi datang membuka pintu kamar Lina, membawa sebuah obat memperlihatkan ke hadapan Lina.


"Apa kamu mencari ini, adik cantik," ucap Ardi pada Lina.


Lina membalikkan wajah, melihat Ardi menunjukkan sebuah keresek putih yang ternyata sebuah obat yang tengah di cari Lina.


"Obat, kenapa ada di tangan kamu. Ardi." ucap Lina. Menghampiri Ardi.


Sedangkan Ardi dengan sigap menjauhkan obat itu. Mengancungkan tangannya, membuat Lina berusaha dengan keras. Ia tak mau reaksi obat dalam tubuhnya membuat ia tak sadar diri.


"Kamu mau obat ini adik cantik," ucap Ardi. Tersenyum tipis, menatap ke arah Lina tanpa rasa kasihan sedikit pun


"Kembalikan obat itu, aku mohon." Teriak Lina. Air matanya berkaca kaca, berusaha menahan reaksi obat yang terus menjalar pada tubuhnya.


Ardi malah sengaja menjauhkan obat itu, membuat Lina terus berusaha mengambil obat itu. Dengan meloncat loncat, meraih obat dari tangan Ardi.


"Kembalikan Ardi. Cepat, atau aku akan." Ancam Lina. Berharap Ardi takut dan memberikan obat itu untuknya.


Lina menahan rasa keinginannya, ia tak tahan. Dengan obat yang mulai beraksi pada tubuhnya. Obat itu semakin merasuki tubuhnya, membuat kedua tangannya tak tahan.


Ardi sengaja berbuat seperti itu, ia ingin melihat reaksi obat itu seperti seperti apa.


"Cepat Ardi, aku tak kuat." Teriakan Lina, membuat Ardi tertawa, hatinya puas dengan pemandangan Lina yang menahan reaksi obat itu.


"Lina kamu mau ini, aku tidak akan memberikan obat ini. Aku ingin tahu reaksi obat yang kamu minum, akan seperti apa jadinya," ucap Ardi. Memegang dagu Lina.


"Jangan kurang ajar kamu, Ardi," cetus Lina. Menghempaskan tangan Ardi yang sengaja memegang dagu Lina.


"Aku kurang ajar, mana mungkin," balas Ardi.


" Bagaimana ini, aku tak kuat. Apa yang harus aku lakukan. Ardi sangatlah kurang ajar, dia sengaja memancingku seperti ini," Gumam hati Lina.


"Ayo Lina, tunjukkan reaksi obat itu. Aku ingin tahu, seperti apa reaksi obat itu," ucap Ardi.


@@@@@


Haikal, tak melihat Lina dan Ardi, ia penasaran ke mana adik dan sahabatnya itu. Karna kuatir mereka berdua belum memakan apa apa.


Haikal mulai mencari Lina ke kamarnya, ingin tahu kenapa Lina seperti orang yang kesal padanya.


" aku harus menghampiri Lina, menanyakan Kenapa dia tiba-tiba saja berubah seperti orang yang mempunyai banyak masalah." Ucap Haikal.

__ADS_1


__ADS_2