
Tia yang sudah berhasil mengambil uang tabungannya dari anaknya sendiri, yang di mana uang tabungannya sudah hampir tercuri oleh Sisil. ada rasa bingung untuk menghubungi Maya sahabatnya sendiri, saat ini Tia tidak memegang ponsel.
hatinya bingung bagaimana bisa dirinya menghubungi Maya, untuk merencanakan pertemuan.
"Bagaimana ini, pasti Maya menungguku. Tapi ponselku ada di tangan Sisil."
Tia kini mulai bergegas untuk berdagang, ia sudah siap-siap membawa dagangannya keluar rumah. di perjalanan, Tia melihat tetangganya tengah memainkan HP, rasanya ia ingin sekali meminjam ponsel tetangganya itu.
namun tetapi dirinya seakan ragu, karena ia jarang sekali bergaul dengan tetangga di luar rumah." apa aku harus memberanikan diri ya untuk bisa meminjam ponsel pada tetanggaku."
perasaan Tia mulai tak karuan, saat dirinya berjalan menatap ke arah tetangganya yang tengah memegang ponsel. saat itu tiba-tiba tetangganya memanggil Tia.
"Mbak, aku mau beli gorengannya."
Tia dengan senangnya langsung berjalan ke arah sang tetangga,
"Mbak, gorengannya."
"Iya, Mbak. Berapa."
"20 ribu aja."
dengan sigapnya Tia membungkuskan gorengan yang tetangganya pesan, saat dia mulai memberikan bungkusan gorengan kepada tetangganya, saat itu juga dia mulai berucap kepada tetangganya itu.
"Anu, Mbak, Saya mau pinjam ponselnya untuk menelepon saudara saya, apa boleh?"
sang tetangga hanya menatap sekilas ke arah Tia, membuat dia berusaha berpikir agar ponsel tetangganya itu mau dipinjamkan untuk dirinya.
" Bagaimana kalau saya gratiskan saja gorengan ini untuk Mbak, untuk bisa meminjam ponsel."
Sang tetangga kini tersenyum kecil," ide yang bagus Mbak."
saat itulah ia mau meminjamkan ponselnya kepada Tia, Karena Tia sudah memberikan gratis gorengannya terhadap sang tetangga yang mempunyai ponsel. Walaupun dia harus rugi akan jualannya, mana ia terpaksa pulang gratis kan untuk tetangganya yang mau meminjamkan ponsel.
Tia mulai mencari nomor ponsel pada dompetnya itu, ia sudah tak sabar ingin segera menghubungi Maya. hatinya tak karuan karena ada janji yang harus ditepati.
" buruan ya Mbak, ponselnya mau saya pakai." ucap sang tetangga sembari menikmati gorengan gratis dari Tia.
Tia menganggukkan kepala mengerti apa yang dikatakan tetangganya itu.
beberapa kali Tia menelpon, berharap jika sahabatnya mau mengangkat panggilan telepon.
ini ponsel sudah Iya dekatkan pada telinganya, tinggal menunggu Maya yang mengangkat panggilan teleponnya.
.
__ADS_1
" Ayo Maya cepat angkat,"
Dreet Dreet .....
saat itulah sambungan telepon terhubung, di mana Tia mendengar suara Maya yang begitu terdengar jelas dari sambungan telepon.
"Halo."
Tia begitu senang jika Maya langsung mengangkat panggilan teleponnya..
" Halo Maya, akhirnya kamu mau berangkat panggilan telepon."
" Tia, Apakah ini kamu?"
" Iya Maya, ini aku Tia sahabatmu sendiri!"
" Kenapa kamu baru menghubungiku, padahal aku sudah mengirim pesan kepada anakmu agar segera mungkin kamu menghubungiku kembali."
Tia sedikit menarik nafasnya yang terasa sesak.
" Maafkan aku Maya, Sisil tidak menyampaikan apa yang kamu katakan untukku."
"Apah, Sisil begitu tega sekali padamu Tia."
" kamu yang sabar ya Tia, mungkin suatu saat nanti Sisil akan berubah, untuk bisa peduli padamu kembali."
"Ya, Terima kasih Maya."
" Oh ya aku belum bisa menemuimu sekarang, karena aku masih menjaga calon menantuku di rumah sakit."
"calon menantumu? jadi kamu sudah mau menikahkan anakku."
"Iya Tia, sebentar lagi aku akan menikahkan Ardi dengan wanita pilihannya."
" syukurlah kalau begitu, aku turut senang jika anakmu sebentar lagi akan menikah dengan wanita pilihannya."
"Iya. Terima kasih Tia, soal pertemuan kita, sore aku akan menjemput kamu ke rumah untuk membahas masalah semalam yang kamu ceritakan kepadaku."
" sebaiknya kamu jangan menjemputku Maya, aku takut jika nanti anakku tahu kedatanganmu, ia malah tidak mengizinkan ibunya ini untuk keluar bersamamu."
" Ya sudah kalau begitu, nanti kita ketemu di sebuah taman yang tak jauh dari rumahmu."
" Baiklah Maya, setelah beres berdagang aku akan segera menemuimu."
"Iya, Tia."
__ADS_1
Tut ....
Hingga di mana panggilan telepon pun mati begitu saja, membuat Maya dengan terpaksa menyudahi ucapannya dengan sang sahabat.
saat itulah Tia mulai memberikan ponsel yang ia Pinjam ke pemiliknya," Mbak ini ponselnya saya balikan lagi kepada mbak, Terima kasih ya Mbak sudah mau meminjamkan ponselnya kepada saya."
" Oke, Oh ya Mbak karena Mbak lama meminjam ponsel saya, jadi saya mau meminta lagi gorengan yang Mbak jual."
"Loh, Mbak. perasaan saya kan saya minjam ponsel Mbak itu tidak lama kok,"
" itu perasaan Mbak, tapi tidak buat saya. Mbak itu begitu lama menelpon sampai kuata saya habis."
" Ya sudah kalau begitu saya akan membungkuskan lagi gorengan untuk, Mbak."
. mau tidak mau, Tia membungkuskan lagi gorengan dagangannya kepada orang yang sudah meminjamkan ya ponsel.
dia harus menerima, hari ini dagangannya tidak membuahkan hasil. saat itu dia mulai memberikan gorengan yang sudah ia bungkus ke dalam plastik, pada tetangganya itu.
"Nah, gitu donk. Kan ini sudah adil. Ya sudah aku mau pergi dulu."
" Oh ya Mbak Terima kasih ya sudah mau meminjamkan saya ponsel, Mbak."
" santai saja, kapan-kapan mbak Bisa pinjam lagi ponsel saya kok, asalkan gorengan Mbak Mbak gratiskan kepada saya."
"Iya, Mbak terima kasih sekali."
tetangga itu kini mulai Kembali Pulang ke rumahnya, ya tersenyum senang karena sudah mendapatkan gorengan gratis dari tetangganya itu.
" dasar pedagang gorengan bodoh, mau saja aku kibulin. lumayanlah pagi-pagi gini udah dapat makanan gratis, banyak lagi."
Tia kini meneruskan perjalanannya untuk segera berdagang mengelilingi rumah-rumah yang tak jauh dari rumahnya, walau dagangannya sekarang rugi. Iya tetap saja begitu semangat saat perdagangan gorengan yang ia masak dengan hati yang bahagia.
Di tengah perjalanan, Tia melihat orang-orang berkumpul. membuat dirinya sangatlah penasaran, kini Tia mulai bertanya kepada orang-orang yang tengah menyaksikan sebuah kejadian yang ia tidak tahu kejadian sebenarnya.
" Maaf Mas, kenapa ya orang-orang pada kumpul di pinggir jalan begitu. Memangnya ada apa ya?" tanya Tia dengan menatap ke arah segerombolan orang,
"Oh, Tadi ada kecelakaan Mbak, seorang wanita yang tertabrak oleh mobil, wanita itu kini dibawa segera mungkin ke rumah sakit untuk segera ditangani!" jawab lelaki muda yang baru saja Tia tanya.
Deg ...
" Seorang wanita."
Tia benar-benar penasaran dengan orang itu, ya takut jika orang yang tertabrak oleh mobil adalah anaknya sendiri, membuat Iya bertanya kembali kepada pemuda yang tengah melihat perkumpulan orang-orang di pinggir jalan.
"Oh ya, Mas, ciri-ciri wanita yang tertabrak itu bagaimana? apa dia memakai baju berwarna biru muda?" tanya Sisil. Membuat lelaki muda itu mengertukan dahinya.
__ADS_1