
" kalau kamu terus memikirkan adikmu itu, yang ada nanti kamu akan sakit," ucap Haikal kepada sang istri.
"Ya. Mas."
@@@@@
Di dalam kamar, Lina yang tak tahan dengan Ardi, yang selalu membuat dirinya frustasi. kini menelepon lelaki itu kembali.
"Halo, Lina. Ternyata kamu menelpon lagi ya, kakak kira kamu marah dan tak mau mengobrol lagi dengan Kakak," Ucap Ardi pada sambungan telepon.
"Sudah cukup omong kosongmu itu, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga," balas Lina dalam sambungan telepon.
"Bertemu, baiklah. Kamu mau bertemu denganku di mana. Di taman, di hotel. Atau di restoran?" tanya Ardi.
"Aku ingin bertemu dengan kamu di taman!" jawab tegas Lina.
"Baiklah, kalau itu kemauanmu. Jadi kita bertemu di taman. Jujur saja sangat disayangkan untukku," ucap Ardi membuat Lina tak mengerti.
"Apa maksud kamu," balas Lina.
"Ya, masa kamu tak mengerti si sayang. Ya kalau kita ketemu di hotel, otomatis kita bisa mengulang masa masa kita kemarin," ucap Ardi.
Lina merasa sangat jijik dengan perktaan Ardi.
"Sudah cukup, jangan membahas lagi masalah. Kemarin," tegas Lina.
"Owh, baiklah. Kalau kamu tidak mau aku membahas masalah ke marin, aku akan tutup mulut. Asalkan kamu ...."
Belum perkataan Ardi terlontar, Lina langsung memotong pembicaraan Ardi.
"Asalkan apa?" tanya Lina.
"Waw, belum apa apa sudah bertanya kamu Lina. Asalkan kamu mau menurut!" jawab Ardi.
"Menurut untuk apa?" tanya Lina.
"Pokonya nanti kita ketemu aku bahas deh!" jawab Ardi.
"Ya sudah, kalau begitu, aku akan siap siap dulu." Ucap Lina.
Sambungan telepon pun mati sebelah pihak.
.
Di mana Lina mulai bergegas bedandan untuk menemui Ardi.
Di tengah tengah, Dinda dan Haikal. Sarapan, Lina ke luar dari kamarnya. Ia bergegas untuk menemui Ardi.
Dinda yang melihat sang adik langsung memanggil namanya, tapi Lina mengabaikan panggilan kakaknya sendiri.
Dinda mulai mengejar Lina, tapi tertahan oleh Haikal.
"Kamu mau ke mana?" tanya Haikal. Memegang tangan Lina.
"Aku mau mengejar, Lina!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja, jangan kamu kejar Lina. Sebaiknya kamu sarapan biarkan saja dia mau ke mana pun. Nanti ujungnya dia pulang sendiri," ucap Haikal.
Dinda kini mulai meneruskan sarapannya, ia mencoba tak memperdulikan sang adik yang pergi.
"Aku penarasan dengan Dinda, mau pergi ke mana anak itu?" Gumam hati Dinda.
Haikal menikmati, makananya. Ia tak peduli dengan Lina. Semenjak dirinya tahu jika Lina menyukainya dan ingin memilikinya .
@@@@@
Lina hanya bisa berjalan kaki, karna ia tak memiliki uang sama sekali. perjalanan ke taman sangatlah jauh, membuat tubuhnya begitu terasa lemas. apalagi dia belum mendapatkan asupan makanan pada tubuhnya.
"Hah, lelah. Sekali."
Matahari mulai menyinari jalanan, membuat hawa panas semakin terasa.
"Panasnya."
Kini Lina sudah sampai di taman," akhirnya sampai juga."
Lina mulai mencari keberadaan Ardi, " ke mana dia?"
saat itu Lina menemukan sebuah kursi, iya mulai berjalan ke arah kursi itu, dan duduk merehatkan rasa lelahnya.
"Lelah."
Terik matahari semakin menyilaukan, membuat Lina tak bisa menahan hawa panasnya.
Lina menunggu setengah jam Ardi belum datang-datang juga, hatinya terasa sangat kesal.
"Kenapa si Ardi itu lama sekali?" tanya Lina.
"Sudah setengah jam menunggu dia tak datang juga."
sampai di mana, seseorang menyodorkan sebuah minuman dan juga makanan di depan wajahnya. Lina langsung menatap kearah orang itu," lama menunggu."
Lina memajukan kedua bibir, menahan amarah pada hatinya.
"Adek manis marah ya."
tangan Ardi mulai menyentuh dagu Lina, membuat Lina menghempaskan tangan lelaki itu," bisa tidak tanganmu itu tak usah usil."
"Usil."
Ardi tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar ucapan Lina.
"Kamu marah Lina."
"Aku bukan marah aku kesal padamu."
Lina menggerutu kesal pada Ardi, karena hampir saja seharian dia menunggu di taman, dengan menahan lapar dan juga haus. belum lagi cuaca yang begitu menyengat. terik matahari yang terus menyilau pada wajahnya.
"Ya sudah nih, kamu makan."
Lina seakan ragu, saat Ardi menyodorkan sebuah makanan dan minuman untuk dirinya.
__ADS_1
"Ayo terima."
Lina seakan enggan mengambil makanan yang disodorkan Ardi, Iya takut jika dalam makanan itu terdapat obat bius ataupun sebuah obat perangsang.
"Kamu ragu atau kamu takut, jika aku racuni. Makanan ini," ucap Ardi.
Lina tak menyangka, jika Ardi mengetahui apa yang berada di dalam isi kepalanya. " Hah. Aku bukan takut, tapi aku waspada."
Ardi tertawa tanpa henti, Iya seakan menganggap ucapan Lina itu sangatlah konyol. membuat dirinya tak tahan ingin selalu tertawa di depan Lina.
dengan rasa kesal yang dirasakan Lina, pada akhirnya wanita itu memukul bahu Ardi dengan begitu keras, membuat Ardi batuk.
"Rasain emang enak."
Ardi menatap wajah Lina yang begitu terlihat senang ketika Ardi batuk secara tiba tiba.
"Kenapa, sakit. Pas aku pukul." Cetus Lina.
tak segan-segan Ardi langsung mencium pipi Lina, membuat Lina tiba-tiba Shyok berat.
"Kurang ajar kamu."
Palkkkk ......
satu tamparan dilayangkan oleh Lina untuk Ardi." Tamparan ini pantas untukmu."
Ardi memegang pipinya, yang terasa sakit bekas pukulan Lina. Bukanya marah Ardi malah tertawa kembali.
"Dasar lelaki gila."
Ardi mencubit kedua pipi Lina," adek manisku."
"Ahkk, sakit." Rengek Lina.
Lina berusaha melepaskan tangan Ardi yang menempel pada kedua pipinya, kakinya mulai menendang kedua kaki Ardi dengan begitu keras. Membuat Ardi tersungkur jatuh dalam rasa kesakitan.
"Bagaimana sakit."
"Adek manis hebat juga."
Setelah tendangan itu, Lina baru merasakan rasa lapar yang begitu terasa perih pada perutnya.
" Sakit."
"Perih."
kedua tangan Lina Memegang perutnya menahan rasa lapar, yang tak tertahankan. arti menyodorkan kembali makanan yang ia bawa begitupun dengan minumannya." nih makan, daripada nanti kamu kelaparan."
Lina tetap saja tak mengambil makanan yang sudah disodorkan Ardi, Iya tak mau jika setelah memakan makanan yang diberikan Ardi untuknya, akan membuahkan hari yang sial untuk dirinya,
" ya sudah, kalau kamu nggak mau memakan makanan ini. Terpaksa aku akan berikan makanan ini kepada orang lain."
Ardi mulai pergi dari hadapan Lina, ya Mencari seseorang yang mau menerima makanan dan juga minuman yang ia sengaja bawa.
Lina bingung antra ingin makan dan takut.
__ADS_1
. Baru beberapa langkah Ardi menemukan seseorang untuk diberikan makanan. Lina tiba-tiba berteriak kepada Ardi." tunggu Ardi, sini biar aku makan makanan yang sudah kamu bawa."
Lina dengan spontan langsung berebut makanan yang berada di tangan Ardi, perlahan Ia membuka makanan itu. kedua matanya begitu terkejut melihat makanan yang begitu terlihat lezat, membuat air liurnya seketika menetes.