Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 29


__ADS_3

"Apa, tidak mungkin?" tanya Pak Andi yang baru saja mengangkat panggilan telepon.


Air matanya keluar perlahan, mendengar kabar duka, bahwa Nina mendapat kecelakaan. Dimana Nina meninggal dunia.


Dengan sigap Pak Andi bersiap-siap untuk, menemui jenazah anaknya di rumah sakit. Hatinya benar-benar rapuh, baru saja kemarin Pak Andi merasakan dekapan Nina, senyum Nina. Dan kepedulian Nina.


Kini hilang sirna bagai di telan bumi.


Yang Maha Kuasa lebih sayang pada Nina, ia mengambil Nina begitu singkat.


Setelah sampai di rumah sakit, Pak Andi melihat jenazah anaknya yang terbaring kaku, pucat dengan wajah yang berseri.


"Sekarang kamu tenang Nina," ucap sang ayah menatap jenazah anaknya.


Tangan Pak Andi bergetar hebat, ia segera menelepon Haikal. Lelaki yang pernah Nina inginkan.


Sabungan telepon pun tersambung.


"Hallo, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam Pak Andi ada apa ya?"


"Saya hanya ingin menanyakan pada kamu Haikal, apa Nina sudah menemui mu?" tanya Pak Andi, matanya terlihat merah bengkak


bekas tangisan yang tiada henti.


"Sudah Pak Andi. Memang kenapa ya?" tanya Haikal yang tak mengerti dengan pertanyaan Pak Andi saat itu.


"Alhamdulillah kalau begitu, bapak tidak perlu menyampaikan apa yang ingin dikatakan Nina. Maafkan bapak juga ya Haikal!"


Permintaan maaf datang begitu saja dari mulut Pak Andi, membuat Haikal merasa heran.


"Sebenarnya ada apa ya pak?" tanya Haikal.


"Anak bapak, Nina meninggal dunia dalam kecelakaan!" jawab Pak Andi dengan mulut bergetar. Air mata terus mengalir pada pipi tua Pak Andi.


"Inalilahiwainalilahirojiun!"


Haikal tak menyangka baru saja bertemu dengan Nina, kini kabar duka itu datang tiba-tiba membuat sekujur tubuh Haikal lemas.

__ADS_1


Mengingat tentang sang ibu yang baru saja meninggal dunia.


"Loh. Mas kenapa?" tanya Dinda pada suaminya yang terduduk di bawah lantai.


"Nina meninggal dunia, setelah menemui kita Dinda!" jawab Haikal. Masih tak percaya, ia masih menatap ponsel pemberian Nina waktu itu.


Kematian datang secara tiba-tiba, yang hanya bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan amalan-amalan yang dapat membantu kita kelak ketika sudah tidak ada di dunia.


Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita semua pasti akan kembali.(Q.S Al-Baqarah: 156).


Lina yang mendengar obrolan kakaknya, menundukkan pandangan tak percaya wanita yang ia benci meninggal dunia.


Saat itulah, bibirnya mulai berucap." Inalilahiwainalilahi rojiun, aku maafkan kamu Nina semoga kamu tenang."


*****************


Di dalam penjara ....


"Kamu kenapa Burhan, sudah satu minggu ini kamu melamun saja?" tanya Fras di dalam penjara.


"Aku kesal, mendengar Dinda menikah dengan lelaki itu!" jawab Burhan.


Sesak di dalam dada, entah kenapa hati yang membenci Dinda membuat dirinya merasakan sesak perih yang menjalar ke ulu hati.


Fras menepak bahu sang sahabat seraya berkata," jangan jadikan dendam dan kebencian merusak dirimu sendiri."


Memegang jeruji besi dengan erat, mendengkus kesal. Fras selalu mengatakan kata-kata yang perlahan membuat hatinya menyesal.


"Apa kamu akan memedam semua rasa benci di hatimu sampai mati?" tanya Fras.


"Maksud kamu!" jawab Burhan.


"Ya, aku cuma mengingatkan kamu saja. Ada baiknya berubah sebelum kamu menyesali semuanya. Hidup ini seperti buku. Cover depan adalah tanggal lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah hari-hari dalam hidup kamu. Masa lembaran hidup kamu akan diisi dengan balas dendam saja. " ucap Fras.


"Aku gak ngerti, apa perkataan kamu," hardik Burhan.


Lelaki berkepala botak itu duduk, di ujung penjara, ia seakan stres dengan semuanya. Hidupnya merasa tak ada artinya lagi.


"Assalamualaikum, Bang Burhan," ucap salam dari Dinda yang datang menjenguk dirinya.

__ADS_1


Air mata Burhan seketika luluh, melihat wanita yang selalu ia sakiti fisik dan batinnya datang menjenguknya.


"Ada apa kamu datang ke sini, bukannya kamu sudah bahagia bersama suami barumu?" tanya Burhan. Menatap tajam ke arah wajah Dinda.


Seketika badan Dinda merosot ke bawah, seraya berkata. " kenapa kamu menyembunyikan rahasiamu kepadaku Rama."


Sontak perkataan Dinda membuat Burhan tercengang kaget.


"Aku tahu kamu adalah Rama, teman masa kecilku. Kenapa kamu berpura-pura menjadi Burhan dan malah menghancurkan hidupku."


"Karna aku benci dengan kedua orang tuamu?"


Dinda memperlihatkan robot-robotan yang pernah Dinda beri pada Rama teman masa kecilnya. Dan robot mainan itu berada di rumah Burhan.


Dinda datang untuk mengambil surat-surat penting di rumah Burhan dan malah menemukan surat dari Tante Sarah yang di simpan oleh Burhan.


"Bang Burhan yang tak lain adalah Rama, kenapa kamu menjadi jahat seperti ini, kamu telah membunuh kedua orang tuaku. Aku sudah mempunyai bukti dimana kamu membuat mobil yang di tumpangi orang tuaku remnya blong," hardik Dinda. Di temani dengan Haikal.


"Aku berbuat seperti itu, karna kalian telah menghancurkan hidupku dan hidup ibuku. Asal kamu tahu, semua gara-gara ayahmu yang telah membuat ibuku meninggal," teriak Burhan.


"Ibumu meninggal karna bunuh diri, bukan karna dibunuh!" jawab Dinda.


"Bunuh diri karna papahmu yang sudah menghamili ibuku dan tidak mau bertanggung jawab," teriakan Burhan. Membuat Dinda benar-benar syok, tak percaya apa yang di katakan mantan suaminya itu.


"Kenapa kamu diam, kenapa? Pasti kamu tidak percayakan. Aku yang masih kecil menyaksikan ayahmu berbuat tak pantas pada ibuku," hardik Burhan. Membuat bibir Dinda diam keluh.


"Dinda, aku balas dendam seperti ini aku tidak suka melihat hidupmu bahagia. Sedangkan aku dari kecil harus menderita karna kesalahan kedua orang tuamu," cecar Burhan.


Fras menenangkan Burhan, namun air mata burhan keluar seketika. Pertama kali Dinda melihat Burhan menangis.


"Aku hidup sebatang karak, luntang lantung di jalanan, menahan lapar. Mencari sesuap nasi sendirian. Tidak ada orang yang peduli padaku saat itu, hidupku tersiksa Dinda. Karna ayah kamu. Makanya aku ingin kamu merasakan bagaimana jadi diriku tersiksa."


Haikal menghampiri Burhan seraya berkata," yang salah orang tuanya, kenapa kamu libatkan anaknya yang tak bersalah?"


Burhan tertawa dan menjawab," jelas. Dulu aku pun begitu. Ibuku yang menderita oleh ayah Dinda, aku yang jadi korban. Setimpalkah."


"Aku tak mengerti akal pikiran kamu, semoga kamu berubah, menyesali perbuatanmu Burhan," ucap Haikal. Menggandeng pundak istrinya meninggalkan Burhan yang berada di dalam penjara.


Burhan menatap keji, ke hadapan Haikal dan Dinda berkata dalam hati,” semua belum berakhir. Aku tidak sudi jika melihat kalian berdua merasakan kebahagiaan. Sedangkan aku tersiksa di dalam penjara ini. Liat saja Dinda apa yang akan aku lakukan nanti."

__ADS_1


__ADS_2