
"Maafkan atas semua ucapan kak Dinda ya, Ardi. Kak Dinda emang orang ya begitu," ucap Lina pada Ardi.
"Hey, kamu tak usah kuatir. Maksud dari kakakmu itu baik, makanya dia bersikap begitu karna kakakmu itu sangat menyayangimu," balas Ardi. Pada Lina, membuat hati dan pikirannya tenang.
"Ya, aku juga tahu kak Dinda sangat menyayangiku. Tapi tetap saja aku merasa tak enak hati padamu Ardi," ucap Lina pada Ardi.
Lina hanya memajukan kedua bibirnya, membuat tangan Ardi langsung meraih bibirnya itu dan berkata," sudah jangan monyong kaya begini. Jelek, kaya ikan sapu sapu."
Lina memukul bahu Ardi dan bertanya?" memangnya ikan sapu sapu kaya apa?"
"Kaya kamu ini!" jawab Ardi. Membuat Lina mencubit pipi Ardi dengan begitu keras, membuat Ardi meringis kesakitan.
"Aw," teriak Ardi.
"Ya ampun, sakit ya?" tanya Lina.
Ia malah mencubit hidung Ardi, membuat Ardi mendengus dan berkata," awas ya."
Lina tertawa dengan kelucuanya membuat ia langsung meninggalkan Ardi, akan tetapi Ardi malah menarik tangan Lina dan memeluk tubuh Lina. Membuat jantung Lina seketika berdetak tak karuan.
"Ada apa dengan hatiku, kenapa rasanya nyaman sekali." Gumam hati Lina.
Ardi mengusap pelan rambut panjang Lina dan berkata," aku janji akan membahagiakan kamu."
Deg ....
Lina baru pertama kali mendengar kata kata itu dari mulut lelaki yang tidak ia cintai, membuat suatu getaran yang berbeda dalam hatinya. Yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dinda merasa heran dengan sang adik yang tak kunjung kembali ke rumah, membuat ia sedikit khawatir. sampai di mana Dinda langsung berjalan, menemui adiknya yang berada di luar.
Betapa kagetnya Dinda, melihat Ardi dan juga Lina tengah berpelukan. membuat Dinda bergegas menghampiri sang adik.
"Hem .... Sudah berpelukannya."
Lina kini melepaskan pelukan Ardi, ia membungkukan pandangan merasa malu dengan sang kakak yang melihat dirinya tengah berpelukan dengan sang adik.
"Hem, kalian itu belum sah. Sudah berpelukkan." Sindir Dinda. Membuat Ardi langsung meminta maaf.
"Kali ini saya maafkan, nanti jangan ulangi." Tegas Dinda.
"Iya kak Dinda." Ucap Ardi. Mulai berpamitan pada Dinda, untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Lina, aku pamit dulu." Ucap Ardi pada Lina yang mulai menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Ardi.
__ADS_1
Namun sang kakak malah menghempiskan tangan Lina dan membulatkan kedua matanya," tak usah pegang pegang."
Lina menatap kearah Ardi dan berkata," hati hati."
Tatapan Dinda membuat Ardi menundukkan pandangan, takut akan tatapan tajam Dinda.
"Maaf kak." Ucap Ardi.
"Ya, tunggu apa lagi cepat pulang." Usir Dinda membuat rasa takut pada Ardi. Saat itulah Ardi bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.
Lina Melambaikan tangan yang dimana Ardi sudah melajukan mobilnya, saat itulah Dinda mulai menepuk tangan Lina yang Melambaikan ke arah mobil Ardi.
"Sudah ayo masuk, sudah malam."
"Iya kak."
Dinda mulai mengikuti langkah kakaknya yang masuk ke dalam rumah.
Tring tring ....
Suara pesan datang dari Ardi, membuat Lina langsung membuka isi pesan itu.
( Maaf ya. Gara gara aku kamu jadi kena marah kak Dinda. )
Setelah membaca pesan itu, tiba tiba saja bibir Lina melebar. Membentuk sebuah senyuman. Yang di mana ia tak fokus berjalan dan menabrak sang kakak.
Dinda tersungkur jatuh sembari berteriak, " Lina, kamu ini jalan gimana sih?"
Lina terdiam, menahan rasa ingin tertawa. Melihat sang kakak jatuh, saat itulah ia mulai membantu sang kakak untuk berdiri.
"Ya ampun kakak tidak kenapa napa kan?" tanya Lina.
Dinda mengelus perutnya yang semakin membuncit, hampir saja perutnya mengenai lantai. Untung saja Dinda bisa menahan dengan kedua tangannya.
"Kamu ini, kalau jalan hati hati. Kakak kan lagi hamil, gimana nanti kandungan kakak kenapa napa?"
"Ya maaf kak, kan enggak sengaja!" jawab Lina. Berharap sang kakak tak marah marah lagi.
"Maaf saja yang terlontar dari mulut kamu, memangnya tak ada apa kata kata pujian untuk kakak saat ini," ucap Dinda yang seakan ngelantur dalam ucapanya.
"Kakak ini aneh, gila apa ya," balas Lina. Segera mungkin pergi dari hadapan kakaknya, untuk bergegas masuk ke dalam kamar.
"Lina kamu mau ke mana?" Tanya Dinda yang berteriak.
__ADS_1
"Ahk, apa sih kak. Aku mau tidur sudah malam cape dengar kakak ngomel ngomel mulu," cetus Lina. Berjalan dengan menutup kedua telinganya yang terasa sakit karna terus mendengar ocehan Dinda.
Dinda menutup mulut menahan tawa, ia sengaja berbuat seperti itu, karna dirinya ingin melihat sang adik yang selalu ia rindukan saat dirinya tengah mengomel.
Dinda tak mau melihat sang adik yang menjadi seorang musuh di hadapanya.
"Ini yang terbaik untuk kamu Lina, kakak sengaja begini karna kakak rindu dengan sifat kamu yang dulu." Gumam hati Dinda.
Wanita itu kini berjalan menghampiri sang suami, yang tak lain ialah Haikal yang tengah berbaring di ranjang tempat tidur.
Membuat ia langsung memeluk sang suami dan berkata," kamu belum tidur. Mas."
Haikal menarik nafasnya perlahan dan berkata," aku heran dengan sikap kamu yang berubah sangar begitu. Sebenarnya kamu ini istriku bukan?"
Pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut Haikal, membuat Dinda melepaskan pelukannya, ia kini duduk di ranjang tempat tidur dan memajukan bibir bawahnya.
"Dinda, kamu kenapa?"
Dinda membalikkan wajah, membelakangi Haikal. Air matanya menetes secara perlahan.
"Dinda." Tangan Haikal mulai memegang bahu Dinda.
Dinda mencoba menghempaskan tangan Haikal, membuat Haikal memeluk tubuh Dinda dari arah belakang.
"Maafin mas ya sudah bentak kamu, sayang," ucap Haikal.
merasa menyesal karena sudah berucap dengan menyakiti hati Dinda.
"Lepaskan aku mas, kalau kamu bilang aku sangar sudah jangan peluk aku begini," cetus Dinda kesal.
"Dinda maafin mas, mas tidak bermaksud seperti itu, Mas hanya ingin ...."
Belum ucapan Dinda terlontar semuanya, Dinda mengedus kesal dan berdiri sembari melepaskan pelukan Haikal.
Haikal tak menyadari bahwa sifat orang yang tengah hamil akan berubah rubah, kadang sedih dan kadang di masukan ke hati.
"Aku mau tidur, mas." Cetus Dinda. Haikal mulai menahan tangan istrinya agar tidak pergi ke luar. Membuat Dinda menghempaskan tangan suaminya.
"Dinda, tidur di sini. Kenapa kamu malah pergi," balas Haikal.
" terserah aku dong Mas mau tidur di mana saja, aku nggak mau tidur sama orang yang sudah menyebut bahwa aku bukan istrimu lagi," cetus Dinda. mengambil bantal dan juga selimut untuk segera pergi dari kamar yang ditempati suaminya.
"Dinda kamu mau ke mana, aku tidak bermaksud mengatakan semua itu. Yang aku katakan itu ...."
__ADS_1
saat Haikal yang terus mengoceh menahan Dinda untuk tidak pergi dari kamar, saat itu juga Dinda langsung pergi tanpa menoleh kearah suaminya dengan menutup pintu kamar suaminya dengan begitu keras.
Brugg ....