
Saat di dalam mobil, Ardi memberi tahu pada Lina, bahwa Haikal meneleponnya di jam malam, membuat Lina yang mendengar cerita itu langsung berucap pada Ardi," terus apa yang di katakan kakakku."
Hanya saja Ardi merasa menyesal karna semalam ponselnya lobet dan mati mendadak, " Maaf, Lina. Hpku tiba tiba mati, karna kehabisan batrai."
"Hah, terus sekarang kamu sudah menelepon kak Haikal?" tanya Lina begitu panik.
Ardi menggelengkan kepala, dan menjawab," sudah. Hanya saja ponsel Haikal tak aktip.
Lina menepuk keningnya, ia seakan curiga jika Haikal dan Kakaknya dalam bahaya.
"Bagaimana ini," ucap Lina, membuat Ardi mengerutkan dahinya.
"Bagaimana, apanya maksud kamu?" tanya Ardi, menatap sekilas ke arah Lina.
Gadis itu menelan ludah, ia harus berkata jujur untuk kebaikan kedua kakaknya kepada Ardi, walau bagaimana pun masalah yang di hadapi Lina akan merebet ke mana mana.
"Ayo jawab, Lina," tegas Ardi.
Lina berusaha menarik nafasnya yang merasa tak tenang, mengeluarkan secara perlahan dan berkata," tadi pagi aku dapat panggilan telepon dari nomor kak Dinda."
Ardi langsung memberhentikan mobilnya secara mendadak, membuat kepala Lina sedikit membentur kursi.
"Sorry."
"Hah, kamu kalau kaget kebiasaan Ardi."
"Ya, maaf."
Ardi meminta maaf kepada Lina dengan memegang kedua tangan calon istrinya, Rina yang memajukan bibirnya atas bawahnya kini menatap kembali kearah Ardi.
"Ya sudah aku maafkan."
saat itulah Lina mulai menceritakan kepada Ardi tentang sang kakak.
" asal kamu tahu Ardi ponsel ka Dinda sekarang berada di tangan orang lain, yang entah aku tidak tahu siapa orang itu. saat aku mengangkat panggilan telepon dari nomor ponsel Kak Dinda, orang itu malah mengancam aku dan juga mentertawakanku," jelas Lina.
"Apa kamu tahu suara orang itu?" tanya Ardi.
"Entahlah, aku tidak mengenal suaranya. Aku juga tak tahu apa tujuannya, sampai dia mengancamku dan akan membuat keluargaku menderita," ucap Lina. Tak terasa kedua matanya mengeluarkan air mata.
Membuat Ardi mengusap perlahan air mata itu," kamu harus tenang."
Lina menganggukkan kepala dengan sedikit menenangkan perasaanya yang tak karuan.
__ADS_1
"Sekarang orang itu menyuruh aku datang ke kediamnya," Ucap Lina.
"Jadi tadi pagi, cerita yang terlontar dari mulutmu semuanya bohong?" tanya Ardi.
Lina memganggukkan kepala, dan menjawab!" maafkan aku, aku tak ingin melihat kamu dan ibumu terlibat dari masalah ini."
"Ya ampun Lina, kita ini keluarga. Tak usah kamu tutupi semua masalah keluargamu, aku dan ibuku pasti akan membantumu," tegas Ardi. Membuat senyuman kini merekah pada bibir Lina.
"Tapi ....."
Belum perktaan Lina terlontar semuanya, Ardi langsung menghentikan bibir Lina yang mulai bicara dengan jari tangannya.
..
"Sudah kamu jangan berbicara lagi, sebaiknya kita telusuri sama sama."
Lina merasa lega, di saat Ardi bersedia membantu dan menerima semua yang masalah yang tengah dihadapi Lina dan juga keluarganya.
Lina sangatlah beruntung bisa menemukan seorang lelaki, yang mampu menjaganya dan juga mampu membuat dirinya selalu nyaman. walaupun hatinya belum bisa menerima sepenuhnya.
Entah kapan hati Lina bisa menerima kehadiran Ardi dalam hatinya, karena hatinya masih begitu berat terhadap Haikal.
saat itulah Ardi dan Lina mulai bergegas mencari keberadaan Dinda dan juga Haikal.
sebenarnya mereka tak tahu kalau Dinda dan juga Haikal berada di rumah sakit, karena ponsel Haikal yang tiba-tiba lowbat membuat Ardi tak bisa menelpon balik.
( aku sudah menunggumu. )
Pesan itu datang lagi, membuat Lina sangatlah ketakutan.
"Kamu kenapa, Lina?" tanya Ardi tengah mengendarai mobil.
Lina langsung menunjukkan pesan itu kepada Ardi.
"Pesan macam apa ini?"
Ardi benar benar merasa tak tahan dengan pesan orang yang berani mengancam Lina.
"Siapa sebenarnya orang itu.*
Dengan fokusnya Ardi mengendarai mobil hingga, Lina di kejutkan dengan suara ponselnya yang berdering.
Lina langsung menunjukkan panggilan telepon itu, Tertera nama kak Dinda.
__ADS_1
" Dia menelepon lagi, Ardi," ucap Lina kepada Ardi.
"Coba kamu angkat saja," balas Ardi.
Lina langsung mengangkat panggilan telepon dari ponselnya, Iya mengeraskan ada suara ponsel itu agar Ardi mendengar suara orang yang yang berani mengancam Lina dan juga keluarganya.
"Halo, sayangku Lina. Kenapa kamu lama sekali mengangkat panggilan teleponku?" tanya orang itu pada panggilan telepon.
Lina menatap sekilas ke arah Ardi, membuat Ardi menyuruhnya untuk berbicara.
"Aku akan ke sana!" jawab Lina.
.
orang itu tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar suara Lina yang berkata akan datang menghampirinya.
" Bagus kalau begitu, ingat jika kamu datang ke sini, sendirilah. jangan ajak orang lain, kalau kamu sampai mengajak orang lain datang ke sini. Aku tak segan-segan akan membuat kakak kamu tersiksa." ancaman itu kini dilayangkan membuat Lina merasa ketakutan.
" baik, aku akan turuti keinginan kamu. hak untuk segera pergi menemuimu sendiri ke sana. Aku berharap kamu tidak melukai kakakku saat ini juga,"
Lina berusaha mengecoh orang yang entah dia tidak tahu siapa dia sebenarnya, Ya berusaha membohongi orang itu agar dirinya bisa menyelamatkan kedua Kakaknya.
panggilan pun dimatikan sebelah pihak, orang itu langsung mengirimkan lokasi keberadaan dirinya..
Ardi dengan Sigap langsung mengendarai mobil kearah daerah itu.
@@@@@
sedangkan di rumah sakit Haikal yang ingat dengan ponselnya, kini langsung merogoh saku celana, untuk segera menelpon Lina. Haikal takut jika Lina mencari keberadaan mereka berdua yang tiba-tiba saja tidak ada di rumah.
namun sialnya saat Haikal melihat ponselnya sendiri, ponsel itu ternyata sudah mati." ah sial aku lupa mengecas ponselku tadi malam."
Haikal berusaha mencari seseorang yang mau meminjamkan ponselnya, dia ingin menelpon Lina. dirinya takut jika Lina mencari keberadaan dirinya dan juga kakaknya.
Haikal berusaha mencari kesana kemari, akan tetapi tidak ada orang yang mau meminjamkan ponselnya untuk dirinya.
hingga dimana ada salah satu suster bertanya kepada Haikal," bapak kenapa kok seperti bingung begitu. Ada yang bisa saya bantu."
Haikal langsung menatap kearah Suster itu, terlihat keringat dingin bercucuran membuat sang suster merasa kasihan terhadap Haikal.
"Sus, maaf apa saya boleh meminjam ponsel suster sebentar untuk menelepon keluarga saya, karena dari tadi orang-orang tidak mau meminjamkan ponsel kepada saya kemungkinan karena mereka takut dengan saya yang berpenampilan kumuh seperti ini," ucap Haikal kepada sang suster, Suster itu kini tersenyum merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.
Changcuters itu tak segan-segan memberi pinjam ponselnya kepada Haikal, Iya tak merasa curiga ataupun takut pada Haikal.
__ADS_1
" Ya sudah kamu cepat pakai ponselku untuk segera menelpon keluargamu," ucap Suster itu menyodorkan ponselnya kepada Haikal..
tentulah Haikal sangat senang, Iya langsung mengambil ponsel sang suster untuk menghubungi Lina.