
Saat itulah Haikal mulai bercerita pada istrinya tentang Ardi yang menyukai Lina.
"Dinda, mas mau bercerita pada kamu tentang Ardi," ucap Haikal. Setelah selesai memakan makanannya hingga habis.
Dinda langsung menghentikan kunyahannya dan menjawab," berceritan tentang Ardi? Ardi itu sahabat kamu bukan?"
"Iya dia sahabatku. Sebenarnya dia meminta izin kepadaku, kalau dia menyukai Lina adikmu sendiri," ucap Haikal. Membuat Dinda mengerutkan dahi.
"Bukanya Ardi baru bertemu dengan adikku kemarin? Memangnya dengan dasar apa Ardi langsung menyukai adikku hanya sekali?" tanya Dinda. Membuat Haikal bingung.
"Entahlah. Hanya saja, mas kuatir dengan Lina!" jawab Haikal.
"Kuatir apa, Mas?" tanya Dinda yang penasaran.
"Mas kuatir jika Ardi malah tidak serius dengan Lina. Karna di keluarga Ardi banyak sekali masalah," ucap Haikal.
"Mas, rasa kekuatiran itu boleh kita rasakan. Apalagi tentang masalah keluarga, karna di kehidupan masalah itu selalu datang. Kalau memang Ardi menykai Lina, di harus datang ke sini dan bersungguh sungguh, bukan hanya meminta izin lewat kamu saja," ucap Dinda.
"Iya tapi ...."
Dinda langsung memotong pembicaraan suaminya," sudah tak usah tapi tapian. Kita lihat saja kesungguhan Ardi jika dia menyukai adikku Lina."
Haikal hanya menganggukan kepala mengerti dengan apa yang di katakan istrinya.
saat itulah Dinda mulai meneruskan makanannya, tak memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya. apalagi menyangkut paut tentang Lina. Dinda seakan tak peduli dengan Adiknya sendiri, Iya sudah melepaskan adiknya berusaha untuk membiarkan kan Lina menjadi wanita dewasa.
sedangkan kekuatiran Haikal begitu berlebihan, Iya terus saja memikirkan keadaan Lina. membuat dirinya seakan tak tenang.
setelah selesai Haikal langsung berjalan pergi ke ruang tv, ia Menonton siaran yang biasa ia sukai. kedua matanya melihat kearah siaran itu, tapi hatinya Masih memikirkan pada Lina.
mengusap kasar wajahnya dan berkata dalam hati," kenpa aku memikirkan Lina terus menerus. Harusnya aku senang jika Lina di sukai Ardi."
Dinda langsung mendekat ke arah Suaminya, dan bertanya?" Mas, kamu kenapa? Kok kelihatan gelisa begitu. Apa kamu tengah memikirkan Lina."
Haikal langsung membalas perkataan sang istri," untuk apa aku memikirkan Lina. Itu tak penting."
Haikal berusaha menutupi apa yang berada pada pikiran dan juga hatinya, Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu memikirkan keadaan Lina. Semejak Lina di sukai oleh Ardi.
__ADS_1
"Baguslah kalau memang kamu tak memikirkan Lina adikku, hanya saja aku heran sama kamu. Soalnya dari tadi kamu melamun saja, kedua matamu itu tak fokus, seperti Tengah memikirkan sesuatu," ucap Dinda kepada Haikal.
Dinda begitu tepat dengan perkataannya sendiri, membuat Haikal sedikit gugup.
" Kamu ngomong apa sih, Mas hanya kelelahan saja. karna seharian ini Mas banyak sekali pekerjaan," jawab Haikal.
Haikal kini kembali fokus ke arah TV, ya tak mau menjawab lagi perkataan istrinya yang hampir saja membuat dirinya mengatakan kejujuran.
@@@@@
Saat malam hari.
tiba-tiba saja di arah jendela kamar Lina, terdengar suara ketukan pada jendela Lina.
membuat Lina terbangun dari tidurnya yang begitu pulas, dirinya mengusap-ngusap kedua matanya dengan tangan," siapa sih?"
Lina kini bangun dari ranjang tempat tidur, dirinya mulai melangkah ke arah jendela kamar. membuka gorden kamar, melihat siapa yang sudah jail mengetuk jendela kamarnya.
tiba-tiba saja Lina terkejut, melihat sosok hitam melewati jendela kamarnya.
membuat Lina merasa ketakutan dan juga penasaran, " kenapa hatiku tak enak sekali."
Lina langsung keluar dari kamarnya.
Namun saat ia keluar dari kamarnya. Iya dikagetkan dengan penampakan kakaknya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kak Dinda." Ucap Lina mengusap pelan dadanya, karna kaget dengan penampakan kakaknya tiba tiba.
"Lina, kamu kenapa. Kok kaget begitu?" tanya sang kakak kepada adiknya.
keringat dingin mulai terlihat dari jidat Lina, bibirnya kalau seakan susah untuk menjawab pertanyaan Kakaknya sendiri. Lina menunjuk ke arah jendela kamarnya kepada sang kakak.
"Kenapa? Apa yang kamu lihat?" tanya Dinda.
"Aku lihat bayangan hitam melewati jendela!" jawab Lina.
saat itulah Dinda mulai masuk ke dalam kamar adiknya, melihat ke arah jendela. membuka gorden jendela dan juga jendela kamar Lina. Dinda tak melihat apa-apa di luar.
__ADS_1
"Tidak ada apa- apa. Lina. Kamu salah lihat kayanya," ucap Dinda pada adiknya sendiri.
"Masa sih kak, aku lihat tadi ada bayangan hitam. Dan juga aku dengar jendela ku diketuk oleh seseorang yang entah aku tidak tahu dia siapa," ucap Lina.
" Sudah tak ada apa apa, kamu hanya mengigau Lina. Sebaiknya kamu istrirahat lagi sekarang. Oh ya kakak datang ke sini, mau mengantarkan nasi goreng hangat ini untuk kamu," balas Dinda. Menyodorkan nasi goreng buatanya pada Lina.
"Terima kasih, kak Dinda," ucap Lina.
"Ya sudah, kamu makan dulu. Lupakan bayangan tadi, itu mungkin halusinasi kamu," ucap Dinda pada sang adik.
"Iya kak," balas Lina.
saat itulah Dinda mulai keluar dari kamar Lina, setelah Dinda mengantarkan nasi goreng yang ia sengaja buat untuk Lina. sekesal apapun hati seorang kakak Dinda tetap peduli dengan kesehatan adiknya.
"Hah, Lina maafkan kakak." Ucap Dinda pada hatinya.
Lina menyantap nasi goreng itu dengan begitu lahap, Ya mulai perlahan melupakan bayangan hitam yang sempat ia lihat di balik jendela kamarnya.
hatinya kini mulai tenang kembali, melupakan semua masalah dan juga kekesalan dari hatinya.
"Nasi goreng kak Dinda memang enak sekali," ucap Lina. Ia mulai tersadar akan masa lalu. Dimana dirinya pernah merasakan rasa senang, susah dan tak pernah jauh dari dekapan sang kakak.
Perlahan air matanya mengalir, membuat ia mengusap perlahan air mata itu dan berkata," aku menyesal. Telah mencintai Haikal suami dari kakakku sendiri, padahal dari dulu Kak Dinda selalu menjagaku, tapi sekarang aku malah menyakiti hatinya."
menghela nafas yang terasa begitu berat, Lina mulai menenangkan perasaannya.
"Aku harus merubah diriku, untuk melupakan rasa cintaku pada kak Haikal. Aku harus berusaha, apa pun itu caranya. Aku tak mau menyesali semuanya."
tiba-tiba saja Lina terpikirkan oleh Ardi, dia bergegas mencari ponselnya. untuk segera Menelpon Ardi dan mengatakan sesuatu yang penting kepada lelaki itu.
beberapa kali Lina Menelpon Ardi, Ardi tak mengangkat panggilan teleponnya, membuat dirinya sedikit cemas.
"Ke mana Ardi? Biasanya dia selalu menelponku atau mengirimkan pesan kepadaku, tapi hari ini dia tidak meneleponku ataupun mengirim pesan kepada ku. Ada apa dengan Ardi?"
Lina mencoba lagi Menelpon Ardi, akan tetapi Ardi tidak menjawab panggilan telepon dari Lina.
"Ardi ayolah angkat panggilan telepon ku saat ini juga, Aku ingin berbicara penting." Ucap Lina.
__ADS_1