
Semua tertawa dengan kejailan yang di buat Haikal, membuat suasana semakin mengasikan.
" Rasanya aku tak mau pulang dari rumah ini, aku ingin terus tinggal dan merasakan kebahagiaan dan juga kehangatan." Gumam hati Ardi. Menatap ke arah Dinda dan Haikal.
Senyuman kini terukir dari bibir Ardi, seakan kesedihan hilang sekejap mata.
Apakah ini yang di namakan bahagia?
Apakah ini yang di namakan keluarga?
Hanya perkataan itu yang terus terbayang pada pikiran Ardi.
Setelah selesai makan. Haikal menyuruh Ardi untuk tidak dulu pulang, karna ia ingin menanyakan tentang keseriusannya terhadap Lina.
"Ardi."
"Mm."
Dinda baru saja beres membersihkan piring dan meja makan, bergegas menghampiri Ardi dan Haikal. Sedangkan Lina masih berjalan dengan penuh keraguan.
"Aku ingin berbicara dengan kamu Ardi tentang prihal keseriusan kamu terhadap Lina," ucap Haikal pada Ardi.
Yang di mana Ardi mulai menepuk bahu Haikal," tumben bicara lu sopan sama atasan."
Haikal memukul kepala Ardi dengan mencubit kedua pipinya," ini masalah serius. Lu dengar enggak gue ini di sini adalah kepala keluarga yang harus mencontohkan yang baik baik."
Dinda datang, melihat Haikal yang mencubit kedua pipi Ardi. Membuat Dinda membulatkan kedua matanya.
"Mm."
Suara Dinda, membuat Haikal langsung melepaskan tangannya yang mencubit kedua pipi Ardi.
"Sayang, semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Jadi ...."
Ardi menutup mulut, melihat Dinda menatap tajam ke arah suaminya sedangkan Ardi langsung berucap," ya. Kamy jangan salah paham Dinda. Kita ini normal, sahabat baik."
Dinda mulai bersikap tenang dan menyuruh Ardi untuk duduk, ada sesuatu hal yang ingin di bicarakan Dinda.
"Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting. Di ruangan tamu, bersama kamu Ardi." Ucap Dinda yang begitu serius.
Ardi mulai bersikap sopan pada Dinda dengan berkata," baik kak Dinda."
Lina kini mulai mengintip pada balik tembok, yang di mana ia melihat Kakaknya dan juga Ardi tengah berbicara serius. Hati Lina seakan tak karuan, saat keluarganya mulai berbicara hal Serius mengenai dirinya.
Dinda mulai mengawali percakapan, akan tetapi Ardi yang melihat Lina mengintip di balik tembok langsung memanggil gadis itu dengan begitu keras, membuat sang kakak langsung menatap ke arah Lina.
"Lina." Ardi melambai-lambaikan tangannya menyuruh Lina untuk duduk di sisinya.
Teriakan Ardi membuat Lina sangatlah kesal, sebenarnya ia tak mau duduk di samping Ardi apalagi dengan membicarakan hal Serius.
__ADS_1
Saat itulah Dinda mulai berdiri, berjalan menghampiri adiknya yang tengah berdiam diri. "Ayo Lina. Ada yang mau kakak bicarakan dengan kamu."
Dinda mulai menuntun tangan Lina untuk segera duduk, membuat ketegangan terasa pada hati Lina. sedangkan Ardi begitu terlihat santai. seakan tak ada beban dalam hatinya.
Saat itulah Dinda mulai mengawali pembicaraan kembali. Dinda mulai bertanya kepada Ardi dengan wajah yang begitu serius, membuat Ardi yang tadinya bersikap santai merasa tegang.
"Ardi, apa benar yang dikatakan suamiku, bahwa kamu akan menikahi adikku Lina?" tanya Dinda.
Deg ....
Tiba-tiba saja Ardi merasa kaku, bibirnya keluh. Entah kenapa ia seakan susah untuk menjawab. Haikal yang melihat Ardi merasa heran, karna baru pertama kali melihat sahabatnya menjadi gugup seperti itu.
saat itulah Haikal mulai mengedipkan kedua matanya, memberi kode agar Ardi menjawab tanpa rasa ragu.
Sedangkan dengan Ardi ia malah memutarkan bola matanya, tak mengerti dengan apa yang di katakan Haikal.
"Mm." Dinda berpura pura batuk. Membuat Ardi terdiam dan menundukkan pandangan.
"Sial, kenapa aku menjadi gugup seperti ini?" Gumam hati Ardi.
Haikal kini mendekat ke arah Ardi dan memukul punggungnya dengan sangat keras.
"Aw, lu ...."
Haikal membulatkan kedua matanya menyuruh Ardi agar menjawab pertanyaan Dinda.
"Ardi, apa kamu serius dengan adik saya Lina?"
Saat itulah Dinda semakin tegas bertanya pada Ardi.
"Saya tanya lagi pada kamu. Apa kamu serius dengan adik saya Lina?"
Haikal menepuk jidanya, baru pertama kali melihat Ardi seperti itu. Kaku dan gugup.
Haikal membisikan sesuatu pada Ardi." Payah lu. Cemen."
Ardi, mencubit bahu Haikal dan membalas." Apa sih lu."
"Hem."
Mereka berdua mulai fokus menatap ke arah Dinda, membuat Dinda langsung membulatkan kedua matanya pada Haikal sang suami agar menjauh dari sisi Ardi.
Haikal menelan ludah, ia berusaha menjauh dan tak lagi berdekatan dengan Ardi.
"Semangat."
Lina kini angkat tangan, ia tahu jika Ardi gugup. Membuat dirinya mewakili perkataan Ardi.
"Kak ...."
__ADS_1
Belum perkataan Lina terlontar semuanya, Dinda mulai berucap dengan nada tinggi." Diam kamu Lina, kakak ingin bertanya keseriusan lelaki ini pada kamu. Kakak tak ingin jika lelaki ini hanya mempermainkan kamu saja."
"Tapi, kak."
Dinda mulai menatap ke arah Lina, membuat tatapan Dinda semakin tajam. saat itulah Lina tak berani membantah Kakaknya sendiri.
lina langsung membungkukkan kepalanya.
Ardi mulai menarik nafasnya, mengeluarkan secara perlahan. Hatinya kini berusaha tenang. Ia menatap ke arah Haikal yang berada di belakang Dinda.
Haikal memberikan senyuman dan kata kata semangat, membuat Dinda langsung memukul wajah suaminya.
"Kak Dinda. Saya serius dengan Lina, saya akan menjaga Lina dan tidak akan menyakiti dia." Ucap Ardi.
"Mm, apa kamu akan menjamin kata katamu itu," balas Dinda.
Haikal mulai ikut campur." Sayang, sudah jangan tekan terus Ardi. Kasihan dia."
Dinda menatap ke arah sang suami dengan tatapan mata yang membulat, seperti dendam film nyibelorong. Membuat Haikal menelan ludah dan tak berani berucap.
"Kak Dinda, saya akan menjamin ucapan saya," ucap Ardi. Dengan bersungguh sungguh.
"Jaminannya apa?" tanya Dinda.
Haikal sangatlah geram ia kini menjawab perkataan istrinya," jaminanya stnk motor, sama ansuransi jiwa."
"Mas ini kenapa sih ikut campur terus." Bentak Dinda.
"Ya, maaf. Habisnya nanya sampe segitunya," ucap Haikal.
Lina menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ia mulai bertanya," kak Haikal emang ada ya. Jaminan Ansuransi jiwa."
"Ada, kusus buat kakak kamu yang banyak nanya." cetus Haikal.
" Kalian ini bisa diam tidak." Teriak Dinda. Mulut yang mengagah seperti harimau yang tengah marah.
"Ih, seram." Ucap Haikal bergidig ngeri.
"Kak Dinda, sebagai jaminannya aku akan menikahi Lina secepat mungkin."
Ucap Ardi yang begitu berani di depan Dinda.
Deg .... Deg ....
Jantung Haikal seakan ingin copot mendengar keseriusan sahabatnya, membuat Haikal menghampiri Ardi dan memegang kedua pipi Ardi.
"Gue enggak menyangka lu sekeren itu, Ardi."
Dinda tak sanggup melihat pemandangan suaminya yang tiba tiba semakin menjadi jadi. Ia menarik belakang baju suaminya.
__ADS_1
"Eling mas, aku istrimu. Dia itu sahabatmu, jangan salah sasaran."
Lina tertawa terbahak bahak, membuat Dinda menyered paksa suaminya. Pergi dari hadapan Ardi.