Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 237 Ruslan tertawa.


__ADS_3

Setelah kepergian Ruslan dan kedua orang tuanya.


Wanita tua yang menjadi ibu Nining menepuk bahu Nining dan berkata," kamu teh kalau lagi marah jangan gitu sama orang?"


Nining memajukkan bibir atas bawahnya, dan menjawab," habisnya kedua orang tua Ruslan itu, nyebelin, bu."


"Walau pun nyebelin, kita enggak boleh berkata seperti tadi, itu enggak sopan."


"Ya, Nining minta maaf."


Lelaki tua yang menjadi ayah Nining, kini mengusap kasar wajahnya.


"Ning, bapak mah moal ikut campur urusan jodoh maneh. Nu pentingmah maneh bahagia."


(Ning, bapak enggak mau ikut camput dengan jodoh kamu, yang penting kamu bahagia.)


Nining tersenyum mendengar ucapan Sang Bapak yang sekarang mendukung dirinya, "Makasih pak."


lelaki tua itu kini berpamitan untuk beristirahat, menghilangkan rasa lelah sehabis bekerja.


"Bu, akhirnya bapak setuju dengan pilihan, Nining."


"Ya, Ibu juga nggak nyangka bapak kamu sekarang setuju dengan pilihan kamu, Nining."


"Nining teh bahagia."


"Ibu juga bahagia, kalau lihat Nining bahagia."


"Makasih, bu."


Mereka kini berpelukan merasakan rasa bahagia yang sesungguhnya.


Pelukan hangat dari sang ibu membuat Nining merasa semakin tenang dan bahagia. Ia bisa mengejar cinta Ardi sampai kepelaminan tanpa halangan apapun.


@@@@@@


Sedangkan Ruslan dan orang tuanya, kini mengerutu kesal atas perilaku Nining yang tak sopan.


"Ibu. Enggak habis pikir sama kamu Ruslan, kenapa kamu malah membela gadis itu, dari pada ibu?"


Terlihat sekali wajah Bu Nunik yang masih tak terima dengan prilaku anaknya, Ruslan malah tertawa di depan ibu dan bapaknya.


Pak Hasan langsung menegur anaknya, memukul jidat Ruslan dan berkata." Kamu ini jadi anak, tidak tahu diri, Ruslan."


"Iya, kamu ini gila apa? Nak. Karna si Nining itu, sampai tertawa tanpa sebab," timpal Bu Nunik. Menatap kuatir kepada anaknya.


"Ya ampun ibu bapak. kenapa serius seperti ini, sih. Harusnya kalian ini tahan emosi. Jangan sampai seperti tadi," ucap Ruslan dengan penuh ketenangan.


"Apa maksud kamu, Ruslan?" tanya sang bapak menatap sekilas ke arah anaknya.

__ADS_1


"Iya. Ibu enggak ngerti?" timpal sang ibu, sembari bertanya.


"Ruslan ini sedang membuat Nining jatuh cinta dengan apa yang Ruslan lakukan, setelah Ruslan bikin Nining jatuh cinta, Ruslan bisa membuat sawah bapak Nining yang berhektar hektar itu jatuh pada tangan Ruslan!"jawab Ruslan dengan niat liciknya.


Bu Nunik dan Pak Hasan, sering di pandang oleh orang desa sebagai orang kaya. Karna perhiasan yang dipakai Bu Nunik begitu banyak dan besar besar. Sedangkan Pak Hasan selalu terlihat keren dengan jas kantornya, yang di mana ia selalu berdandan rapi ala orang kaya.


Tapi kenyataanya. Mereka hanya orang miskin yang banyak gengsi. Perhiasan Bu Nunik hanya perhiasan imitasi, sedangkan Pak Hasan yang selalu memakai jas kantor, hanya seorang sopir di kota.


Sopir angkot.


Mereka selalu berpura pura kaya dan mempunyai kekuasaan, agar di pandang tinggi oleh para orang orang desa.


"Ternyata ide kamu berlian, Ruslan," ucap Pak Hasan.


"Iya donk." balas Ruslan dengan sangat angkuhnya.


Mereka berjalan dengan suara tawa yang menggema, hingga di mana salah satu teman Nining mendengar obrolan mereka bertiga.


"Aduh, ini teh gawat. Harus kasih tahu dulu. Nining, kasihan kalau Nining sampe menikah dengan si Ruslan matre itu." Gumam hati Euis.


"Pokonya, Euis harus ke rumah Nining."


Dengan terburu buru, Euis berjalan. Untuk menemui Nining. Ia tak peduli jika waktu sudah menujukkan malam.


Dengan berlari, pada akhirnya Euis sampai di rumah Nining dengan nafas teengah engah, Euis terus mengedor gedor pintu rumah Nining.


"Aduh, pada ke mana ini teh, Si Nining."


"Ning, Ning."


Eusi terus berteriak-teriak memanggil nama Nining, ia begitu terlihat gelisah, jika tidak bertemu Nining langsung saat itu juga.


Hingga beberapa menit kemudian, Ibu Sari keluar, melihat Euis yang terus berteriak-teriak memanggil nama anaknya.


"Aduh, iye neng Euis malam malam gini, ngapain teriak teriak atuh, berisik. Nanti tetangga dengar enggak enak, kaya apa aja."


"Maaf Bu Sari, habisnya tadi Euis Ketuk pintu nggak ada yang buka pintu, makanya Euis langsung teriak manggil nama Nining. Karena ada urusan penting saat ini juga."


"Urusan penting apa? Kalau memang ada urusan penting, ya sudah bilang saja sama Ibu nanti Ibu sampaikan sama Nining."


Euis malah menggaruk belakang kepalanya seraya perguman dalam hati," aduh Euis teh harus jawab apa ke Ibu Sari, rasanya enggak enak. Takutnya malah enggak percaya."


"Heh. Euis malah ngelamun."


Bu Sari memukul pelan bahu Euis, membuat lamunan Euis seketika membayar.


"Eh, ibu sari ada apa?"


"Kamu ini gimana? Ibu tanya malah nanya balik!"

__ADS_1


" Maaf Bu Sari sebelumnya, Euis nggak bisa ngomongin rahasia ini ke Bu Sari, karena rahasia ini harus langsung disampaikan kepada Nining."


"Ya elah pelit amet sih."


"Bukan pelit."


Tiba-tiba Nining datang dengan berdiri di belakang Bu Sari, membuat Euis tersenyum lebar menunjuk ke arah Nining.


" Kamu kenapa, Euis?" Tanya Bu Sari, karna melihat. Nining menunjuk-nunjuk ke arah belakang Bu Sari.


"Itu, Nining datang!" Jawab Euis tersenyum lebar.


"Mana."


Bu Sari langsung melirik ke arah belakang punggungnya.


"Nining."


"Eh, Euis ada apa. Malam malam begini?" tanya Nining kepada Euis yang terlihat gelisa.


"Anu, bisa dibicarakan empat mata!" jawab Euis.


Nining kini menganggukkan kepala, dan menjawab perkataan Euis." Bisa, ya udah ayo."


Bu Sari Yang penasaran dengan rahasia yang akan diceritakan Euis kepada anaknya, membuat Bu Sari mengikuti langkah mereka berdua.


Hingga di mana Euis dan Nining menyadari sang ibu yang mengikutinya dari arah belakang. Mereka langsung membalikkan badan menatap ke arah wanita tua yang menjadi Ibu Nining.


"Ibu ini kenapa, ikut ikutan," ucap Nining pada sang ibu.


"Ya ibu pengen tahu, Ning. Penasaran. Kepo." jawab Wanita tua yang menjadi ibu Nining.


Nining menggelengkan kepala, tak menyangka ibu nya sendiri ingin tahu masalah anak muda.


"Ibu sebaiknya, pergi. Ini masalah anak muda."


Nining berusaha mengusir sang ibu, agar tidak ikut campur dengan obrolan yang akan disampaikan oleh Euis


"Ya, kamu mah pelit Ning."


Bu Sari langsung membalikkan badan pergi ke dalam rumah, setelah anaknya sendiri mengusir dan tak ingin didengar oleh ibunya.


Elis merasa tak enak hati melihat Bu Sari diusir oleh anaknya sendiri, membuat ia langsung meminta maaf kepada Nining.


"Ning, maafin Euis ya, ibu kamu jadi pergi gara gara Euis yang mau mengobrol berdua dengan kamu Ning."


"Tenang aja, Euis. Ibu aku emang biasa begitu, ia selalu kepo urusan anaknya, pengen tahu aja."


Euis bernapas lega dan mulai membicarakan hal penting pada Nining.

__ADS_1


__ADS_2