Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 290 Tamat.


__ADS_3

Lina kini membalikkan badanya, menatap ke arah Maya dan berkata. " Lina. Tante berharap kamu mau tinggal di rumah tante yang berada di alamat ini. Tante tahu kamu pasti tak punya rumah dan uang. Tinggallah di sana, dan mungkin kamu bisa menbuat usaha di rumah itu, karna tempatnya yang ramai. "


Lina awalnya ragu saat diberi bantuan oleh Maya, ia ingin menolak bantuan ibunda Ardi dirinya tak mau menyusahkan orang lain apalagi dengan Maya yang begitu baik selalu mau menerima dirimu, tanpa mempersalahkan kesalahannya sendiri..


"Terimalah Lina, ini demi kebaikan kamu nanti juga, tante tahu kamu sudah tidak punya siapa-siapa . Tante berharap dengan kamu menerima ini, hidup kamu tidak merasa sepi dan kamu bisa menjalankan hidupmu yang lebih baik lagi. " Perkataan Maya membuat Lina merasa tak enak hati.


"Tapi, tante ini terlalu berlebihan." Lina berusaha menolak dengan cara halus. Walau sebenarnya dia itu sangat butuh sekali, untuk menyambung hidupnya besok.


" Ini tidak berlebihan, Lina. Ayo terima, tante ikhlas memberikan ini semua, tante tak mau melihat kamu sengsara di luar sana. Tante menerima kamu sebagai anak tante sendiri. Jangan tolok ya." Terlihat sekali raut wajah Maya yang begitu menyayangi Lina, sampai ia memeluk erat tubuh gadis berambut pendek itu.


karena Maya yang memaksa, saat itulah Lina menerima apa yang diberikan ibunda Ardi pada dirinya. Lina beruntung dalam hidupnya saat ini, di mana tidak ada satu keluarga pun yang berada di sisinya, tapi masih ada orang baik seperti Maya yang mau membantu kehidupannya saat ini.


Setelah menerima apa yang sudah diberikan Tante Maya, Lina kini berpamitan lagi untuk pergi, ia melepaskan pelukan wanita tua itu. Ardi yang berada di samping Nining hanya bisa menatap kepergian mantan kekasihnya itu tidak ada rasa ingin mencegah ataupun berniat Kembali lagi bersama Lina.


Langkah Lina kini sudah tak terlihat lagi. Gadis itu sudah pergi jauh. Maya membalikkan badannya ke arah Nining dan juga Ardi.


Tersenyum dan berkata. " Bagaimana kita segerakan acara pernikahanya. "


Mendengar hal itu, tentu saja Ardi sangat senang begitupun dengan Nining.


@@@@@


Langkah kaki memang terasa lemas, tapi Lina berusaha kuat dan tegar, ia tak mau jika harus putus asa dengan keadaannya yang sekarang. Ia harus bangkit, walau hatinya rapuh. Akan kehilangan orang orang yang sudah mencintainya.


Nining di beri sebuah alamat rumah, dimana ia menaiki mobil untuk sampai di alamat yang diberikan Maya padanya.


Bus mulai membawa dia pergi dari kota yang sudah membesarkan dirinya, menemukan orang orang yang peduli dan mencintai dirinya.


Selamat tinggal Ardi, selamat tinggal Kenangan indah bersama kakaku. Kak Dinda, mungkin setelah aku menemukan kesuksesan untuk hidupku aku akan datang menengok makammu kak Indah.


@@@@@


Waktu begitu cepat berlalu, pada akhinya Lina menemukan alamat rumah yang di berikan Maya kepada dirinya. Rumah itu terlihat nyaman, dan jalananya pun ramai. "Tante Maya begitu baik, aku tidak akan sia siakan kebaikanya ini. "

__ADS_1


Setelah sampai di rumah itu, Lina mulai memikirkan cara bagaimana mengelola uang yang diberikan Maya kepada dirinya. Ia memikirkan suatu usaha, agar bisa menyambung kehidupannya saat ini.


Sampai dimana ia ingat dulu bersama sang kakak pernah hidup miskin dan mengadalkan makan dari mencuci baju orang.


"Aku punya ide, bagaimana kalau aku membuka usaha laudry. "


Dengan bermodalkan tekad dan keahlian yang ia punya, Lina membeli 2 mesin cuci. Untuk dengan gampangnya menerima banyak cucian, selama ia membuka usaha laundry, banyak sekali orang yang silih berdatangan ke tempatnya.


Pemasukan sedikit kini semakin membukit, Lina menambah 3 mesin cuci lagi dengan hasil ia menabung, dengan berjualan kue kueahan lewat onlen. Pemasukkanya lebih besar dari sebelumnya, hingga dirinya mencari seorang pegawai untuk bekerja di usaha laudrynya.


Hidup Lina sekarang semakin hari semakin berubah, ia seperti tak bahagia walau dirinya sekarang sukses. Padahal banyak lelaki yang berdatangan mencoba mendekat ke arah dirinya. Tapi tidak ada satupun yang cocok.


Lina hanya ingin sendiri, tak ada niatan diri ingin memiliki sang pujaan hati..


Menatap kaleder, ini sudah ke bulan 8, dimana ia berjanji akan menemui makan kakaknya. " Aku rindu kak Dinda. "


Seperti biasa ia menitipkan laudry pada pegawainya yang kini sudah bertambah lagi, Lina bersyukur kini ia memiliki kendaraan mobil. Hidupnya semakin jaya, berkat Maya yang sudah membantunya di saat itu.


"Kak Haikal. "


Mereka kini saling menatap satu sama lain, Haikal yang selalu terlihat tampan saat Lina menatapnya, kini berubah derastis.


"Lina, kamu berbeda sekali."


Haikal menatap Lina dengan tatapan terpesona, Lina yang toby begitu berubah menjadi perminim. Berbeda dengan Haikal, yang malah terlihat dekil.


"Kamu sekarang berada di mana? "


Lina hanya tersenyum dan berkata. " Aku sekarang tinggal di daerah Kota Bandung. Menetap di sana. Karna kebaikan Tante Maya membuat aku berubah seperti ini. Kalau kak Haikal? "


"Aku sekarang menjadi petani di kampung, menjadi pertenak domba. Ya memang hidupku harus berada di kampung. Rasanya nyaman. "


"Syukurlah kalau begitu. "

__ADS_1


"Kamu hebat sekarang Lina. "


Lina tersenyum di saat dirinya di puji. " Kak Haikal, bagaimana sudah mencari penganti Kak Dinda. "


Haikal menggelengkan kepala dan berkata, " tidak. Aku nyaman dengan kesedirianku. Sedangkan kamu. "


Ada mimik wajah malu dari Lina, " aku juga masih sendiri. Aku betah dengan kesendirian ini Kak. Memulai hidup terasa nyaman. "


"Baguslah kalau begitu. "


Haikal kini pamit kepada Lina, setelah menjenguk makan istrinya. "kakak Pamit dulu. "


Lina hanya mengangguk dan tersenyum kecil, tak ada respon panggilan setelah Haikal pergi. Lina seperti tak peduli.


"Kak Dinda. Yang tenang ya, adikmu ini akan berusaha lebih baik lagi. Tidak akan mengecewakan kakak. "


Setelah memberi doa pada makam sang kakak, saat itulah Lina mulai pergi, hatinya sudah terkubur dalam dalam untuk mencitai Haikal. Karna penolakan ia tak mau menjadikan harga dirinya di rendahkan untuk yang kedua kalinya.


Tapi sebagai seorang lelaki, Haikal hanya bisa menerima semuanya. Tak peduli dengan kesendirianya. Ia tak akan pernah menduakan almarhum istrinya sampai kapanpun.


Mobil merah yang dikendarai Lina, kini melaju pergi meninggalkan pemakaman sang kakak. Sedangkan Haikal, masih sama seperti dulu, menjadi lelaki sederhana yang mencintai dunia dengan kesendirianya.


Hidup tidak bisa di tebak, begitupun dengan cinta tidak bisa dipaksakan. Bagaimana pun sosok Haikal akan menjadi dirinya sendiri. Tak akan ada perubahan dalam hidupnya....


TAMAT .......


Terima kasih sudah membaca sampai akhir, tunggu evet yang akan di bagikan autornya.


Terima kasih untuk #kak nikas's mom, sudah mengikuti alur sampai tamat dan mengomentari karya autor.


Untuk teman teman jangan bekecil hati, jika ingin mendapatkan pulsa jangan lupa like komen dan ikuti setiap cerita autor ya.


#Oh ya. Untuk kakak semuanya. Jangan lupa mampir di karya yang ke 3 saya yang berjudul. #DI BALIK DIAMNYA MERTUAKU.

__ADS_1


__ADS_2