Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
BB 44


__ADS_3

Ardi mulai menutup tubuh Lina, dengan selimut. yang di mana kain Lina sudah terbuka dari tubuhnya. karena rangsangan obat yang terus membuat tubuhnya terasa panas. setelah menutup tubuh Lina dengan selimut, Ardi mulai mencium kening Lina perlahan. sampai di mana Lina memeluk Ardi dengan begitu erat.


"Ardi, tolong aku. Aku tak tahan," ucap lembut Lina.


Ardi berusaha sekuat mungkin untuk terlepas dari pelukan Lina, " Ardi. Ayolah bantu aku. Malam ini."


Ardi tidak mungkin menodai Lina, apalagi Lina adalah gadis yang baru saja bertumbuh dewasa. gadis suci yang belum tersentuh dengan lelaki manapun.


sebaji**an Ardi pada wanita lain, ia tak mungkin menodai adik dari sahabatnya.


lelaki itu mulai meraih obat, dia membuka perlahan obat itu. memasukkan ke dalam mulut Lina.


"Kamu tahan, Lina. Sebagai lelaki, aku tak mungkin menodai kamu."


Lina terus saja menarik tubuh Ardi, hingga Lina menopang tubuh Ardi. mereka saling bertatapan muka. membuat Ardi sesekali menelan ludah. hawa panas mulai menjalar pada tubuh Ardi.


"Ardi, kamu mau ke mana?" tanya Lina.


"Maaf Lina, aku tak bisa!" jawab Ardi.


Haikal kini masuk ke dalam rumah, iya mulai berjalan. menemui istrinya kembali. namun langkahnya seketika terhenti, melihat Ardi berjalan dengan rambut yang berantakan dan juga kancil baju yang terbuka.


Haikal langsung menghentikan langkah kaki Ardi dan bertanya kepada sahabatnya itu," kamu habis dari mana Ardi, kenapa menampilan kamu seperti ini."


Ardi mulai ragu menjawab pertanyaan yang terlontar dari Haikal, ia tersenyum berusaha bersikap santai di hadapan Haikal." Oh biasa anak muda. lagi gabut."


"Hah, kamu ini. Ada ada aja, oh ya. Kamu lihat Lina tidak?" tanya Haikal.


Ardi di tak tahu apa yang tengah dipikirkan Haikal. Padahal baru saja Tadi Ardi mendengar Haikal dan juga istrinya bertengkar, karena Haikal yang terus memperdulikan Lina. seharusnya Haikal berusaha cuek.


"Kamu ini gimana sih, Lina itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Kamu begitu kuatir sekali. Apa kamu punya rasa pada adikmu dari istrimu sendiri," ucap Ardi. Yang asal bicara.


Haikal tentu saja gugup, padahal dia tidak ada maksud hati pada Lina. Hanya ingin mengetahui keadaanya karna belum makan.


"Bukan begitu, aku hanya kasihan pada adik dari istriku dia belum makan," balas Haikal.


Ardi mulai menepuk bahu Haikal dan berkata," bukan Lina saja yang belum makan. Kamu lihat aku juga belum makan. Aku curiga kamu terlalu peduli pada Lina."


setelah berkata seperti itu, Ardi langsung bergegas pergi dari hadapan Haikal. ya tak mau memperpanjang masalah, dirinya hanya memberi kode agar Haikal sadar akan kepeduliannya yang terlalu pada Lina.

__ADS_1


"Hah, Haikal. Aku tak tahu apa yang ada pada otakmu, padahal istrinya lebih penting dari pada adiknya," ucap Ardi.


rasa lapar kini mulai Ardi rasakan pada perutnya, cacing-cacing di perut mulai merontak meminta jatah makan.


Ardi langsung mengusap pelan perutnya itu, dia bergegas mencari makanan di meja makan." lapar."


saat itu juga Ardi mulai menyantap makanan di atas meja, baru pertama kali memakan makanan sederhana ini.


"Rasanya enak. nikmat. Sederhana."


dengan lahap menyuapkan makanan ke mulut, sampai di mana tiba-tiba bayangan itu datang, yang di mana Ardi mengingat akan Lina yang terus mengajaknya untuk bermalam karna pengaruh obat.


"Kenapa dengan otakku, ingat terus."


Ardi bergegas menghabiskan, makanana yang masih ada di piring. Ia bergegas pergi untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Dan melupakan bayangan Lina dan tubunnya yang terlihat jelas di depan mata.


.


"Aku harus melupakan kejadian tadi pagi. kalau tidak aku bisa gila. Nah pulang dari sini aku harus mencari pelarian seorang wanita yang bisa membuat darahku setabil. kalau aku mengigat Lina, mungkin darahku tak akan setabil seperti sekarang." Gerutu Ardi.


Ardi bulak balik ke sana ke mari, menenangkan gelora pada tubuhnya. Sebagai lelaki dia juga mempunyai nafsu.


Sedangkan di dalam kamar Lina, mulai bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat jam sudah menujukkan jam 5 subuh.


"Dingin sekali."


Melihat pada tubuhnya, selimut yang menutup tubuhnya terlepas membuat ia sangatlah kaget bukan main. Tidak ada kain yang menempel pada tubuhnya, hanya ada selimut.


"Ke mana bajuku."


Dengan segera mungkin, Lina menarik selimut menutup kembali tubuhnya yang terbuka karna kain.


"Kenapa bisa aku tidur tanpa busana sedikit pun."


Lina mulai mengigat kejadian tadi malam, entah apa yang terjadi pada dirinya saat malam.


apa ada seseorang yang sengaja membuat busananya terlepas, ataupun orang yang sudah menodai dirinya.


semakin Lina mengingat kejadian semalam semakin kepalanya terasa sakit, " aw. Kepalaku sakit sekali."

__ADS_1


Lina bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk segera membersihkan tubuhnya. Walau terasa dingin, ia memaksakan diri karna keringatnya yang begitu tercium bau dan sangatlah lengket.


"Hah, segar."


Lina mulai memakai baju, dan keluar dari kamarnya. saat itu langkah kakinya terhenti, melihat Haikal Tengah tertidur pulas di kursi ruang tamu.


"Kak Haikal tidur di ruang tamu. Kenapa ya."


Hati Lina ingin sekali menghampiri Haikal yang tengah tertidur pulas, ia berusaha menahan, tapi keinginannya begitu kuat. dengan terpaksa Lina menatap ke arah kiri dan kanan. melihat situasi Apakah ada orang yang memperhatikan dirinya.


"Sepertinya aman."


Lina tak melihat kakaknya dan juga sahabatnya yang tak lain ialah Ardi.


"Sepertinya mereka masih tertidur. Kesempatanku." Ucap Lina.


wanita itu langsung mendekati Haikal yang tengah tertidur pulas, perlahan duduk tangannya mengusap pelan kening Haikal yang bercucuran keringat.


"kak Haikal kamu begitu tampan," ucap pelan Lina.


Dinda yang baru saja bangun, mulai membuka pintu kamarnya. Perasaanya seakan tak enak. Dengan sigap Dinda bergegas pergi ke ruangan tengah.


Ia begitu kaget, melihat Lina duduk di dekat Haikal. Membuat dirinya kesal.


"Lina sedang apa kamu di sana." Teriak Dinda.


Baru saja bibir Lina mulai mendarat pada kening Haikal, Haikal terbangun mendengar Dinda berteriak. otomatis kepala Haikal membentur bibir Lina. Hinga Lina meringis kesakitan.


Dinda menghampiri Lina dan Haikal.


"Lina, apa kamu tidak punya malu sama sekali," cetus Dinda.


Lina berusaha bersikap polos, menjawab pertanyaan sang kakak." Kakak ini. kenapa, subuh subuh marah marah."


"Sudahlah Lina, jangan sok polos lagi. Kakak tahu niat jelek kamu," bentak Dinda. Mulai menuduh adiknya.


Lina berpura-pura menangis dihadapan Haikal, membuat Haikal bersimpati kepada Lina.


"Dinda, bisa tidak kamu tidak berpikir macam macam terhadap adik kandungmu sendiri. Dia itu hanya mau membangunkanku, itu saja tak lebih," pekik Haikal.

__ADS_1


Baru pertama kali, Haikal memarahi Dinda, hanya karna membela Lina yang menangis.


__ADS_2