
"Benar apa yang dikatakan ibu, aku berada di rumah sakit ini. Memang tak di hargai. Tadi saja Bu Nunik, mengabaikanku. Padahal aku berniat baik pada Bu Nunik." Gumam hati Nining.
Menghelap nafas, Nining berusaha menurunkan egonya, agar hatinya tidak benci terhadap Bu Nunik.
"Sudahlah bu. Tak apa apa jika Bu Nunik tak peduli terhadap Nining."
"Kamu memang anak baik, Nak."
Bu Sari begitu bangga dengan Nining, dimana hatinya tak pernah menyimpan dendam sedikit pun.
"Ibu bisa aja memuji Nining."
Nining senang dengan pujian sang ibu yang selalu membuat hatinya tak sedih lagi.
Panggilan teleponpun di matikan sebelah pihak.
Saat itulah, Pak Yono langsung bertanya kepada sang istri dengan raut wajah penasaran
"kumaha kaayaan Bu Nunik? manehna cager ayena?)
( Bagaimana keadaan Bu Nunik? Apa dia baik-baik saja?)
Bu Sari kini menjawab perkataan sang suami ,"wanita itu masih dalam pemeriksaan dokter, mudah-mudahan Bu Nunik sadar akan kesalahannya setelah sesuatu menimpa dirinya."
Bu Sari berharap jika Bu Nunik bisa berubah akan kesalahanya, di mana ia tidak mengulanginya lagi.
Setelah menelepon Nining hati ibu Sari sedikit lega, ia mulai membalikkan badan untuk segera masuk ke dalam kamar, beristirahat. Untuk segera tidur, karna jam tidurnya sempat terganggu karena ulah Bu Nunik.
@@@@@
Berbeda dengan Maya, wanita yang menjadi ibunda Ardi kini tengah menyelidiki Prans, di mana Maya kini tengah mencari keberadaan Pras. Dengan menyuruh beberapa suruhan yang mungkin bisa menyered Pras kehadapan Maya.
Semenjak Ardi memberitahu jika Lina diculik, membuat Maya kini menyelidiki Pras yang sudah jarang ia tahu di mana kabarnya.
Apalagi sekarang Pras sudah menjadi buronan polisi, karena kejahatannya yang sudah diketahui semua orang.
Maya tak menyangka jika lelaki yang menjadi adiknya itu kini malah membuat kerusuhan, apalagi sekarang Maya mencurigai jika Pras dalang dari penculikan calon istri Ardi.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya sang suami, melihat kecemasan istrinya yang tak biasa.
"Entahlah, semenjak adikku Pras menjadi buronan, banyak sekali keanehan di rumah kita dari pembantu baru yang menjadi mata mata. Sekarang hilangnya Lina. Calon istri Ardi, anak kita," keluh Maya.
__ADS_1
Sang suami kini menenangkan sang istri, dengan pelukan hangat, berharap Maya yang di landa kebingungan sedikit tenang.
"Aku akan membantu anak kita."
Ucap Pak Anton.
Sebenarnya ke mana Lina? Siapa yang sudah berani menculik Lina? Kenapa tidak ada jejak tentang penculikan Lina?
pertanyaan itu membuat teka-teki bagi Maya untuk menuntas kasus Lina.
@@@@@@@
di rumah Alya berusaha menikmati apa yang disediakan lelaki yang tidak ia cintai, Pras begitu baik, tak membut Alya tersikas.
Ia memperlakukan Alya seperti ratu, jika Alya menurut padanya. Tapi jika Alya membantah, bisa saja Alya akan menderita oleh Pras.
Lelaki yang sangat licik.
Alya berusaha terbiasa dengan situasi di rumah lelaki yang menjadi buronan polisi karena kejahatannya yang sudah melebar luas.
Walau Pras sudah menjadi buronan polisi, tapi Pras begitu ahli dalam menyembuyikan jati diri. Hingga polisi kewalahan mencari dirinya.
"Pras, kapan aku bisa terbebas dari jeratanmu. Sekarang aku lemah, setiap aku ingin membalaskan perbuatanmu, kamu begitu licik. Kamu tahu apa yang akan aku perbuat padamu." Gerutu Alya, duduk di meja makan mewah sendirian, tanpa sosok pelayan yang menemani.
Ada rasa tak nyaman pada diri Alya, ia tak menikmati apa yang berada di hadapannya saat ini. Dari makanan, pakaian dan juga segala macam fasilitas yang disediakan Pras. Ia seakan tersiksa dengan keadaannya yang sekarang.
"Aku ingin bebas dari sini." Gerutu hati Alya.
Ia ingin berteriak tapi tak kuasa, takut mejadi sebuah kehebohan di rumah Pras.
Tidak ada rasa kepuasan dengan apa yang disediakan Pras, karena tujuannya Alya dari dulu adalah. Dirinya ingin bersama Ardi, lelaki yang sangat ia cintai dan tak bisa ia lupakan.
Di tengah-tengah lamunan yang melanda hati, saat itulah Pras tiba tiba datang membawa seorang wanita. Wajah wanita itu ditutupi oleh kain.
"Siapa wanita itu? Kenapa Pras menutupi wajah wanita itu?"
Pertanyaan mulai mengelilingi pikiran Alya, yang di mana Alya bertanya kepada Fras. Siapa dia? Kenapa kamu mengikat dia dan membawa ke hadapanku?"
Pras malah tertawa terbahak bahak dengan pertanyaan Alya yang terlontat tanpa jeda.
"Apa kamu tidak akan kaget ketika melihat wanita ini ada di hadapanmu?"
__ADS_1
Ucapan Pras membuat Alya mengerutkan dahi, dan tersenyum tipis.
" Apa maksud kamu Pras? Aku tak mengerti dengan ucapan kamu, kenapa aku harus kaget dengan wanita yang kamu bawa ke hadapanku?"
Alya kini berdiri dari tempat duduknya menghampiri Pras, dan melihat wanita yang masih di tutupi dengan kain pada wajahnya.
"Apa kamu tidak penasaran, di balik kain ini. Ada wajah siapa?"
Pras masih dengan senyum liciknya, menggambarkan kemenangan dari apa yang ia bawa.
Saat itulah, Pras perlahan mulai membuka kain yang menutupi wajah wanita itu, perlahan Pras membukanya dan betapa kagetnya Alya.
Ternyata wajah dibalik kain yang tertutup itu ialah Lina calon istri dari Ardi lelaki yang sangat ia cintai.
"Bagaimana bisa kamu membawa Lina kehadapanku, itu sangat mustahil, Pras. Kamu masih menjadi buronan polisi." Ucap Alya.
Lina hanya terdiam, ia tak sanggup mengeluarkan satu patah katapun.
"Alya di dunia ini tidak ada yang mustahil bagiku, aku ini cukup hebat dalam bidang menculik sesorang yang aku inginkan."
Alya melipatkan kedua tanganya," memangnya apa berguna dia, kenapa kamu mau menculik wanita itu. Bukanya dendam kamu kepada Dinda, wanita yang sudah meninggal dunia."
"Hey, sekali aku dendam pada Dinda, aku juga berhak membunuh keluarganya, agar tidak ada yang tersisa di muka bumi ini, orang yang sudah membuat Burhan sahabatku mati sia sia."
" Tapi Pras, dia calon istri Ardi. Dan Ardi itu adalah keluarga kamu. Kenapa kamu membawa dia di hadapan?"
"Sudahlah Alya, jangan munafik jadi orang. Aku juga tahu kalau kamu benci sekali pada Lina kan?"
"Aku sudah melupakan kebencianku sekarang pada Lina. Aku ingin hidup tenang tanpa mengharap cinta Ardi lagi."
"Waw, perkataan kamu luar biasa. Aku baru mendengarnya sekarang."
"Sudahlah, aku ingin pergi ke kamar, untuk beristirahat."
Alya mulai melangkahkan kaki menuju kamar, tidur. Ia sudah tak peduli dengan dendam Pras, dan juga cintanya.
Tangan Alya kini tertahan oleh Pras.
"Ada apa lagi Pras?"
"Apa kamu sudah melupakan Ardi?"
__ADS_1
Pertanyaan Pras membuat Alya terdiam dan tak menjawab, ia malah pergi begitu saja. Melepaskan tangan Pras.