Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 104


__ADS_3

Lina manarik tangan Ardi, untuk segera pergi ke luar.


Mereka dengan tergesa gesa masuk ke dalam mobil," sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan kakak kamu Dinda?" tanya Ardi penasaran.


"Nanti aku ceritakan, sekarang cepat jalankan mobilnya!" jawab Lina.


Tangan lelaki itu mulai menyalakan mesin mobil, mobil pun melaju. "Sekarang kita mau ke mana?" tanya Ardi.


"Ke mana aja terserah kamu!" jawab Lina.


Brug ....


Saat mobil melaju pelan, seseorang meleparkan batu pada kaca mobil Ardi.


"Apa itu," ucap Ardi menghentikan mobilnya yang melaju pelan.


Lina tentulah kaget, karna batu itu berada dekat di posisinya.


"Kurang ajar, ada orang yang melemparkan batu ke mobilku," gerutu Ardi. Lelaki itu turun dari mobil, melihat kerusakan kaca mobilnya.


Ardi mencari sosok orang yang sengaja meleparkan batu ke arah mobilnya, saat ia melihat ke sana ke mari tak ada salah satu orang pun di daerah sana. Mobil dan motor tak ada yang melintas.


"Ardi, bagaimana. Siapa orang yang sengaja meleparkan batu ke arah mobilmu?" tanya Lina yang sudah berdiri di depan Ardi.


Terlihat pada batu itu, ada sebuah lembar kertas. Ardi mencoba mengambil lembar kertas itu, melihat isi dari kertas itu.


"Apa itu Ardi?" tanya Lina.


Perlahan Ardi membaca setiap baris kata pada lembar tulisan , membuat kedua matanya membulat.


"Ardi kamu kenapa?" tanya Lina.


Ardi langsung memberikan lembaran kertas itu pada Lina," ini coba kamu baca."


tanpa berpikir panjang lina langsung mengambil kertas itu, iya mulai membaca secara perlahan setiap baris kata pada lembar kertas itu.


yang di mana tulisan dari lembaran kertas itu adalah sebuah ancaman untuk dirinya dan juga keluarganya.


KALIAN SEMUA AKAN MATI.


entah siapa orang yang menulis tulisan mengancam itu, karena tulisan itu tertulis bukan dengan tinta melainkan dengan darah segar yang baru saja menetes


Dreet ....


ponsel Lina bergetar membuat wanita itu langsung merogoh saku celananya, melihat Siapa yang menelpon.

__ADS_1


"Nomor baru, siapa ini?" tanya Lina. Ardi yang semakin penasaran langsung menyuruh Lina untuk mengangkat panggilan telepon itu.


"Coba kamu angkat Lina," suruh Ardi.


"Baiklah."


Lina langsung mengangkat panggilan telepon itu, Iya memperbesarkan suara pada ponselnya. agar Ardi bisa mendengarkan suara orang yang menelpon pada Lina.


"Halo, siapa ini?"


beberapa kali Lina terus saja bertanya dalam sambungan telepon itu. Tak ada jawaban.


Tut .... panggilan telepon pun tiba-tiba dimatikan sebelah pihak, membuat Lina sangatlah kesal. Di situasi yang terasa menyeramkan Ini masih saja ada orang yang begitu jahil menelpon Lina dan mematikan begitu saja.


"Siapa sih, iseng banget ini orang." Gerutu Lina.


Lina mencoba menelpon kembali nomor baru itu, hanya saja Ardi menyuruh Lina tidak menelpon balik nomor itu.


"Jangan telepon lagi nomor itu, sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Perasaanku mulai tak enak," ucap Ardi. Menyuruh Lina untuk cepat masuk ke dalam mobil.


"Tapi Ardi aku penasaran siapa orang yang begitu iseng melempar batu dengan tulisan mengancam seperti ini," gerutu Lina.


"Sudah, biar nanti kita bahas lagi. Sekarang kamu cepat naik mobil, aku takut jika orang itu berada di sini," balas Ardi.


dengan Sigap mereka langsung masuk ke dalam mobil, setelah mereka masuk ke dalam mobil. sosok orang yang memakai baju hitam itu nampak terlihat jelas di depan mobil Ardi.


"Entahlah!" jawab Ardi.


Ardi mulai menjalankan mesin mobilnya, berharap agar mobilnya cepat melaju untuk segera pulang.


"Sepertinya ini tak aman, Ardi."


ketegangan kini dirasakan oleh mereka berdua," sial kenapa tiba tiba mogok."


"Ardi ayo cepat jalan," ucap Lina. ketakutan.


"Ya, tapi ini mesin mobil tiba tiba mati segala. Kamu tenang Lina," ucap Ardi berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik..


lelaki berjubah hitam itu mulai berjalan mendekat kearah jendela mobil Lina," Ardi lelaki berjubah hitam itu mendekat kearah jendela ku." ucap Lina begitu panik dan ketakutan.


" kamu harus tenang ya Lina. aku sudah berusaha menyalakan mesin mobilku." balas Ardi.


lelaki berjubah hitam itu menunjukkan sebuah palu, yang di mana Palu itu mulai mengarahkan ke arah jendela samping Lina.


Brug .... 1 pukulan dari Palu itu melayang pada jendela mobil Ardi, membuat Lina tentulah sangat ketakutan. Iya takut pecahan kaca mulai retak," Ardi aku takut."

__ADS_1


sampai di mana suara mesin mobil kini menyala, Ardi dengan begitu cepatnya, menjalankan mobilnya untuk berusaha menghindari lelaki berjubah hitam.


" akhirnya mobilku menyala juga."


di dalam mobil terlihat sekali tangan Lina bergetar hebat, menahan rasa takut, akan sosok lelaki berjubah hitam itu.


" sebenarnya siapa lelaki berjubah hitam itu, Kenapa dia mengejar kita?" tanya Ardi kepada Lina.


Lina masih saja terlihat sangatlah ketakutan, Iya belum bisa menjawab perkataan Ardi. Ardi Yang merasa tak tega melihat calon istrinya itu, mulai memegang tangan Lina .Seraya berkata," kamu harus terang Lina."


" Bagaimana aku bisa tenang Ardi, lelaki berjubah hitam itu itu tadi sore meneror kakakku sendiri, dengan mengirimkan sebuah kardus berisi cincin dan juga bunga. entah apa maksud lelaki berjubah hitam itu, aku benar-benar ketakutan sekali. aku takut terjadi apa-apa dengan keluargaku," ucap Lina.


Ardi memberhentikan mobilnya di depan Cafe, dia menatap kearah Lina memeluk tubuh calon istrinya itu.


"Iya, aku tahu. Apa yang kamu rasakan saat ini Lina, aku akan berusaha membantumu," ucap Ardi.


Lina kini menangis, ia meluapkan ketakutannya dengan menitihkan air mata.


"Jangan takut ada aku di sini."


20 menit berlalu, hati Lina merasa tenang. saat pelukan erat itu terus saja menenangkan hatinya.


"Kamu sudah tenang sekarang Lina?" tanya Ardi. Masih memeluk Lina.


Lina mulai melepaskan pelukan Ardi, ia tersenyum lebar dan kini bernafas lega.


"Terima kasih, Ardi."


"Ya sudah, sekarang kita keluar. Untuk makan di cafe. Pasti kamu lapar?" tanya Ardi pada Lina.


seketika cacing-cacing di perut terdengar, Lina mulai memegang perutnya itu yang terasa lapar.


"Tuh kan, cacing di perut kamu kelaparan."


Lina tersenyum saat Ardi berkata seperti itu. " hehhe iya."


mereka langsung turun dari dalam mobil, untuk segera berjalan masuk kedalam Cafe. suasana Cafe itu terasa sedikit aneh dan juga berbeda.


"Ardi kamu sering datang ke cafe ini?" tanya Lina pada Ardi.


"Aku baru pertama kali datang ke cafe ini!" jawab Ardi pada calon istrinya.


Tangan Lina memegang erat tangan Ardi, terasa suasana malam yang mencekram di tambah lagi dengan suasana cafe yang sepi.


"Kenapa kita tidak pilih cafe yang ramai saja. Di sini tampaklah sepi," ucap Lina.

__ADS_1


" sudah kamu tak usah kuatir, ini Cafe pamanku." balas Ardi.


__ADS_2