
" Ardi, cepat lepaskan aku. Jangan paksa aku untuk bertemu dengan ibumu." Ardi tidak mempedulikan teriakan Lina. Iya membopong tubuhnya ke rumah sakit.
Haikal hanya mengangkat kedua alisnya, ketika melihat sang sahabat membuat Lina menuju ke rumah sakit.
Mereka kini naik pada motor, untuk menemui sang ibu, sedangkan Lina terus meronta ronta, ia ingin lepas dari gengaman Ardi.
Setelah motor sampai rumah sakit.
"Lina, aku berharap kamu bisa menjaga perasaan ibuku. Kamu tidak bisa selamat kalau bukan karna ibuku."
Ucapan yang terlontar dari mulut Ardi memang benar, Lina bisa selamat karna Maya. Ia sudah membebaskan dirinya dan juga Alya yang tidak tahu sekarang keberadaannya ada dimana.
Setelah memberitahu Lina, kini Ardi memegang tangan wanita itu untuk berjalan menuju ruangan sang ibu.
Setelah sampai di ruangan, Adnan masih terlihat tak suka dengan kedatangan Lina. Tapi tidak dengan Maya. Ia cenderung memberi senyuman pada gadis itu.
"Tante Maya?"
senyuman di tampilkan pada bibir Lina. Membuat Maya menyuruh Lina untuk mendekat padanya." Sini Lina!"
Lina menatap sekilas ke arah Ardi, dimana ia memberi kode untuk mempersilhakan Lina dekat dengan Maya.
Perlahan Lina melangkah mendekat ke arah Maya.
"Tante."
"Lina, kamu apa kabar? Tante begitu rindu sama kamu?"
" Kabar Lina baik tante,Lina juga, tante. Rindu sekali sama tante."
__ADS_1
keakraban mulai terlihat dari Lina dan juga Maya, mereka mengobrol bersama bagaikan seorang teman. Ardi yang melihat pemandangan itu begitu senang, akan tetapi dia harus menjaga hatinya untuk tetap mengingat Nining.
Ardi berharap jika Nining bisa mengambil hati ibunya seperti Lina sekarang.
Pada saat itu Lina menangis meminta maaf kepada Maya dengan berkata," Maafkan Lina tante, andai saja Lina tidak kabur dan diculik oleh Pras. Mungkin tante tidak akan mengalami hal seperti ini, Lina benar-benar menyesali apa yang diperbuat oleh Lina saat itu."
Maya tetap menampilkan senyumannya, tangannya mulai memegang rambut pendek Lina, mengusap pelan," Kamu jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri, ini semua di luar yang dipikirkan tante. Tante juga tidak tahu kalau adik tante sendiri melakukan hal yang tidak pantas kepada tante."
Lina tetap menangis terisak-isak sembari menatap Maya yang terlihat lemah di ranjang tempat tidur, ia ingin sekali memeluk wanita tua yang sudah menyelamatkannya.
"Ke mana, Alya?"
Gadis berambut pendek itu kini mengusap air mata yang sudah jatuh pada dasar pipi, ia menghentikan Isak tangisnya agar bisa berkata dengan benar.
" Semenjak Lina masih berada di villa, Lina hanya mengantarkan Alya masuk ke dalam ambulans. setelah itu Lina tidak melihat Alya lagi. karena Lina yang ditahan oleh beberapa polisi untuk menceritakan penjelasan atas kasus yang menimpa tante saat di Vila."
Maya berhutang nyawa dengan Alya, iya berani menghajar Pras, untuk menyelamatkan Maya.
" Ia tante sebuah mobil ambulans yang tiba-tiba datang!"
" Semua itu tak mungkin, mana ada ambulans datang ke villa, karena keadaan yang baru saja diketahui polisi."
Setelah mendengar perkataan Maya Ardi kini mendekat ke arah Ibunya dan bertanya," jadi maksud ibu Alya sekarang tengah dalam bahaya?"
"Ibu berpikir seperti itu, Ardi. Sepertinya itu bukan mobil ambulans, melainkan mobil Pras. Ibu benar-benar kuatir dengan keadaan Alya sekarang. Bagaimana jika Prans melakukan sesuatu hal yang mengerikan padahal Alya. Ibu sangat takut itu terjadi!?" Jawaban sang ibu membuat Ardi mengusap pelan dagunya.
"Ardi begitu heran kenapa Om Pras, begitu hebat dan tangguh, seperti mafia terkejam di dunia. Bisa-bisanya identitasnya tidak diketahui polisi dan keberadaannya pun begitu misterius." Ucapan Ardi membuat sang ibu merenung sejenak.
" Ibu juga tak menyangka dengan adik ibu sendiri, padahal dia orang yang sangat baik, tapi sekarang? Dia berubah menjadi orang jahat dan kejam, bisa-bisanya meluapkan kekesalannya dengan menyikasa atau membunuh orang lain, di mana akal sehat adik ibu itu." Maya mengertu kesal, saat membicarakan Pras.
__ADS_1
Ardi berusaha menenangkan sang Ibu, agar tidak terlalu memikirkan kejahatan yang sudah menyebar luas oleh kelakuan Pras.
"Sebaiknya Ibu tenang. Ibu jangan terlalu memikirkan si penjahat itu. Ardi akan usahakan untuk Mencari keberadaannya Om Pras. Walau itu sulit, tapi Ardi yakin jika Om Pras akan ketemu olah Ardi sendiri dan jika Ardi penjahat kejam itu sudah ketemu, Ardi akan menyeret dia dan membunuh dia di depan ibu."
Betapa yakinnya Ardi dengan ucapanya, ia tak tahu jika Pras adalah lelaki kejam yang begitu pintar, hingga sang ibu berucap," itu tidak mudah Ardi dia bukan lelaki sembarangan yang bisa kamu seret dan bunuh begitu saja, dia terlalu licik untuk dimusnahkan."
Perkataan sang ibu, tidak bisa membuat keyakinan Ardi menurun, ia akan membasmi si penjahat bernama Pras itu.
Walau butuh waktu dan otak yang harua berpikir, bagaimana cara agar Ardi bisa menjebak Pras.
"Ardi, ibu tidak mau kamu terluka seperti ibu. lebih baik kamu urungkan saja niatmu itu, untuk bisa memusnahkan pras dari muka bumi ini."
" Mana mungkin bisa begitu Bu, aku akan tetap membuat Prans mati di tanganku. walaupun penjara taruhan untukku saat ini."
Sang Ibu hanya menggelengkan kepala, ia berusaha menahan rencana Ardi yang akan memusnahkan adiknya, karena ia tahu sendiri, jika Ardi malah yang akan mati di tangan Pras, orang yang benar-benar jahat dan tidak punya belas rasa kasihan, iya begitu kejam terhadap orang-orang yang berada di sampingnya, Hati Pras seakan tidak mempunyai rasa simpati sedikitpun.
Pras cenderung memikirkan egonya, daripada perasaan dan juga akal sehatnya.
"Ibu tak mau kamu terluka. Kamu yang akan mati nanti di tangan dia. Ibu mohon jangan lakukan hal hal yang akan membuat ibu ketakutan Ardi."
Ardi melihat rasa kekuatiran pada raut wajah Maya, wanita tua itu tak ingin berurusan lagi dengan adiknya.
"Stop Ardi, akay. dia itu licik dia itu susah untuk dibunuh."
"Selicik liciknya Om Pras, dia juga manusia dia bisa mati dalam tembakan beberapa kali."
Lina kini ikut campur akan pembicaraan Maya dan juga anaknya," Ardi. Sebaiknya kamu dengarkan apa perkataan ibu kamu."
Ardi diam. Tak menjawab perkataan Lina.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita yang memang sudah tidak memiliki hubungan sedekat seperti dulu, Lina tetap mengkhawatirkan keadaan Ardi, jika Ardi kenapa-napa dan bisa saja Omnya itu melakukan sesuatu hal yang akan membuat Ardi menderita.
Rasa simpati yang diberikan Lina tak membuahkan hasil untuk Ardi. Ia tetap bersih kuku akan pergi besok untuk mencari keberadaan Omnya sendiri, Walaupun sulit tapi dia akan berusaha sebisa mungkin agar bisa menyelamatkan Alya mantan kekasihnya.