Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bba 277


__ADS_3

Ardi tak menyangka jika selama ini, adalah sebuah kesalah pahaman, ia mengira Alya menghianatinya. Ia mengira jika Alya berusaha menjauhinya karna ia ternyata mencintai Pras.


Alya di jebak oleh Pras, agar Pras bisa menutupi kejahatanya, Ardi menyesali semuanya. Hatinya merasa begitu sakit, setelah apa yang ditunjukkan Alya kepada dirinya.


Sekilas Ardi menatap pada Alya, dimana Alya menceritakan semuanya. Ia bukan tidak ingin mengirim kabar ataupun menelepon lelaki yang sangat ia cintai yang tak lain ialah Ardi.


Alya berusaha menyimpan semua surat yang ingin Ia kirim kepada kekasihnya itu, karena semenjak Alya tahu jika ayahnya terus melarang hingga saat itulah Alya selalu menyimpan rasa rindu pada Surat yang ia tulis dan ia simpan pada kotak yang bagi dirinya begitu sangat berharga.


Air mata kini keluar menetes perlahan membuat Ardi mencoba mengusap air mata itu tanpa harus Alya tahu. )antas saja Ardi tak bisa melupakan Alya karena ternyata Alya juga tak bisa melupakan Ardi begitu saja. Cinta begitu rumit.


Ardi kini memeluk Alya dengan begitu erat merasakan dekapan yang sangat luar biasa, ia rindu sekali dengan sosok wanita bernama Alya wanita berambut panjang dengan bola mata bulat dan juga alis yang begitu tebal.


Tangisan yang dirasakan Ardi kini tak terbendung lagi, ia mengeluarkan isak tangis akan menyesali apa yang sudah ia lakukan selama ini. Harusnya ia mencari tahu kenapa Alya tidak mengabari dirinya bukan malah berdiam diri dan menunggu.


"Maafkan aku Alya, aku benar-benar salah selama ini, aku sudah menyakiti kamu. Aku tidak pernah mencari kamu, aku ini egois. Aku tidak tahu kalau cinta kita terhalang oleh satu orang yang tidak merestui. Jika aku tahu semua itu. Aku akan memperjuangkan kamu. Tapi, sekarang aku sudah memilih gadis desa yang memang aku tidak cintai berharap aku menikah dengan dia aku bisa mencintai dia seperti aku mencintai kamu Alya." Gumam hati Ardi dalam pelukan.


Alya melepaskan pelukan Ardi dan berkata," Aku sudah melepaskan kamu, agar kamu bahagia dengan wanita lain."


Deg ....


Perkataan itu membuat Ardi mejadi lebih sakit," maafkan aku Alya. Sebenarnya aku sudah mempunyai seorang wanita bernama Nining, yang akan aku nikahi."


Alya berusaha tersenyum lepas, ia tahu jika cinta Ardi dan juga Alya akan berakhir kandas.


"Aku sudah mengikhlaskan kamu sekarang, hanya saja kamu harus memberitahu Lina tentang ini. Kamu juga pernah menjalin hubungan dengan dia."


"Aku sudah memberitahu dia, tapi Lina tetap saja tak menerima." Ucapan Ardi membuat Alya membulatkan kedua matanya.


Alya tersenyum kecil," kamu harus memakluminya. Karna melupakan dan menyesali butuh waktu yang sedikit lumayan lama, jadi kamu harus pahami semua itu, Ardi."


"Mm, ya."


Alya tersenyum dalam hati yang merasakan rasa sakit, ia pasrah dan tak mengejar cintanya lagi. Karna ia tahu, dirinya sudah tak pantas dengan Ardi.


Apalagi kesucian yang sudah direngut paksa oleh Pras. " Kejar orang yang mungkin terbaik untuk kamu Ardi."

__ADS_1


Ucapan Lina membuat Ardi tersenyum, walau sebenarnya hatinya merasa sakit.


Setelah percakapan itu, pada akhirnya Ardi mulai meninggalkan Alya yang duduk diranjang tempat tidur, ia membuka pintu kamar perlahan dan menutupnya kembali.


Ferdi dan yang lainnya, begitu penasaran dengan cerita Ardi, mereka terus bertanya.


Hingga dimana Ardimemberitahu semua tentang Alya. Hanya saja Ardi tak memberitahu akan perjalanan cintanya dengan Alya, karna saat Ardi keluar dari kamar Alya.


Alya berpesan," jangan pernah menceritakan tentang cinta kita di masa lalu, cukup Semua menjadi rahasia untuk kita berdua."


Ardi hanya memberitahu siapa yang sudah membuat Alya menderita dan tersiksa seperti sekarang.


Dan benar saja dugaan Ferdi jika yang membuat Alya sekarang seperti ini. adalah Pras, maka dari itu mereka harus segera memusnahkan lelaki jahat yang sudah membuat Alya menderita.


Huekkk ....


Ferdi dan juga Ardi begitupun orang tua Alya, mendengar suara Alya tengah muntah-muntah, membuat mereka tentulah heran dan segera mungkin membuka pintu kamar Alya. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Alya.


Brugg ....


Alya, keluar dari kamar mandi dan langsung jatuh pingsan begitu saja. Membuat Ferdi bergegas pembopong tubuh Alya untuk membawanya pada tempat tidur.


Ferdi benar-benar terlihat begitu panik setelah ia memeriksa perut Alya.


Ardi kini bertanya kepada sahabatnya itu," cepat katakan Ferdi, sebenarnya Kenapa dengan Alya?"


Sebenarnya aku tak yakin hanya saja saat aku memeriksa perut Alya, Iya sepertinya setengah hamil.


Renata tentulah kaget dengan apa yang dikatakan Ferdi, sedangkan Marcell, berjalan ke arah istrinya yang merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Ferdi.


"Apa yang terjadi? kenapa kalian berkumpul seperti ini bagaimana keadaan anakku?"


pertanyaan Marcel membuat Renata menarik tangan suaminya.


"kenapa kamu malah menarik tanganku Renata? Bukannya kamu bisa menjelaskan semuanya di depan mereka." hardik Marcel memarahi istrinya begitu saja, Marcel masih direnungi amarah, ya belum bisa menenangkan dirinya. hingga istrinya pun menjadi sasaran kemarahannya saat itu.

__ADS_1


"Aku bukan tidak mau menjelaskan di depan mereka, tapi mereka sudah mengetahui semuanya tentang Alya, hanya saja aku takut, ketika aku menjelaskan semua ini kamu akan marah kepada mereka bertiga," jelas Renata kepada suaminya. yang di mana Renata menatap tajam ke arah suaminya.


"Apa maksud perkataan kamu? kenapa kamu berkata seperti itu Renata?" tanya kembali Marcel pada sang istri dengan perasaan semakin tak mengerti.


"Kenapa, aku berkata seperti ini, karena aku sudah tahu sifat kamu dan amarah kamu jika mengetahui kalau anak kita itu tengah hamil."


Deg .... Serasa di sambar petir di siang bolong. Marcel seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. Renata berusaha bersikap tenang setelah mengatakan semua itu.


"Apa yang kamu katakan jangan gila kamu Renata, mana mungkin anak kita bisa hamil. Siapa yang sudah melakukan semua itu?" bentakan dan pertanyaan dilayangkan Marcrel kepada istrinya.


Ia tidak mempercayai perkataan istrinya.


"kamu bilang. Kenapa? Tentu saja semua ini gara-gara kamu, kamu yang melarang Alya Menjalin cinta dengan Ardi karena keegoisan kamu sendiri, karena kamu benci kepada kedua orang tua Ardi."


Palkk .... "Diam"


Renata terus meluapkan kekesalanya," Marcel , jika kamu tidak melarang mereka berdua, mungkin semua kejadian ini tidak akan terjadi. Pada anak semata wayang kita, sekarang hidup Alya hancur. Marcel."


"kenapa kamu menyalahkan aku Renata. Kenapa kamu katakan semua itu, kenapa?" tegas Marcel, ia tak mau dirinya tersalahkan.


Bagi Marcel semua itu adalah hal yang terbaik, yang ternyata malah membuat sang anak menderita.


"Jelas kamu ini yang benar-benar salah dari semuanya," teriak Renata. Dengan berharap menyadarkan suaminya agar tidak engois.


Musuh tetaplah musuh, jangan sampai anak anak menjadi korban.


Marcel yang tak tahan akan tuduhan dan ucapan Renata yang menyudutkannya terus menerus, membuat lelaki tua itu berkata." aku akan menemui Alya sekarang dan mengatakan Siapa ayah dalam anak yang tengah dikandung Alya."


Renata langsung menarik paksa tangan suaminya, menahan lelaki tua itu agar tidak memarahi Alya yang memang sekarang dalam kondisi tidak baik.


"kenapa kamu menahan aku lagi?" Cetus Marcel.


"Kenapa aku menahan kamu, agar kamu itu bisa berpikir jernih, mengalami musibah kenapa kamu malah ingin bertanya dan menekan dia kembali. Sudah jelas kan kamu sendiri yang menasihatiku, sekarang Kamu sendiri yang melakukannya. Aku heran dengan lelaki macam kamu."


" Hah Sudahlah. "

__ADS_1


"Sekarang kamu tenangkan hati kamu dulu agar bisa mengobrol baik-baik dengan anak kita."


"Baiklah kalau begitu."


__ADS_2