Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Ban 197 Kantor polisi.


__ADS_3

Setelah sampai di kantor polisi, kini Ardi bertemu lagi dengan Jerry. Pak polisi yang sudah membantunya untuk mencari data Burhan.


Ardi dan Haikal kini terun dari dalam mobil, begitu pun dengan Lina.


"Kebetulan sekali ada kawanku datang lagi?" tanya Jerry pada Ardi.


Seperti biasa jika Jerry tengah di luar jam kerja, sifat aslina keluar, ia selalu bertingkah konyol dan selalu banyak tingkah.


"Ini sahabat yang kamu ceritakan padakku Ardi?" tanya Lina kepada Ardi.


"Memangnya kenapa?" timpal Jerry. Menatap ke arah Lina.


"Katanya kekar, kok kelihatan alay!" jawab Lina. Mambuat Jerry memukul bahu Lina pelan, memperlihatkan gerak gerik seperti wanita.


"Bagaimana? Kekar apa alay?" tanya Jerry.


Lina langsung bergidig ngeri, melihat Jerry yang seperti perempuan. Ardi pun tertawa terbahak bahak.


"Hey, Ardi kenapa dengan wanita itu," ucap Jerry, tiba tiba saja mencuil pipi Ardi.


"Jerry, dia itu calon istriku, jadi jangan cemburu ya," ucap Ardi membuat Lina tetohok kaget.


"Ah, ayang .... Kok kamu mau nikah sama wanita sih, katanya mau nikah sama aku," ucap Jerry. Membuat Lina kini marah terhadap Ardi.


"Ardi apa benar itu?" tanya Lina.


Ardi malah tertawa, begitu pun dengan Jerry, Ternyata mereka sengaja membuat Lina kesal.


Ardi merangkul bahu Lina dan berkata," bohong Lina. Aku hanya berbohong saja."


"Iss, enggak lucu," ucap Lina.


Jerry kini bertanya pada Ardi?" Ada apa tumben kalian datang ke sini?"


"Aku membawa tahanan plus saksi untuk mengungkap kasus omku!" jawab Jerry.


"Si Pras itu kan?" tanya Jerry.


Lina dan Ardi saling menatap satu sama lain," kamu tahu dia?"


"Ya elah brow, siapa yang enggak tahu dia. Si Pras itu mantan narapidana di sini barengan data orang yang kemarin kamu cari!" jawab Jerry.


"Ya elah lu, kemarin kenapa lu enggak bilang langsung sama gue. Nyesek lu," ucap cetus Ardi.


"Sorry brow, bukan gue pelit. Sebagai polisi gue juga harus mematuhi aturan jangan main kasih tahu orang," balas Jerry.


"Tapi jujur aja, lu emang sahabat gue terbaik. Kalau kemarin enggak ada lu. Mungkin gue udah pusing nyari nyari nama Tu si Burhan," ucap Ardi.


"Udahlah santai aja."


@@@@@@


Di tengah obrolan Pras dan juga Haikal yang berada di luar.


Wawan dan Abdul kini mengobrol di dalam mobil.


"Hey, brow. Lu ingatkan apa rencana kita," ucap wawan.


"Lu, tenang aja. Semua beres, jadi jangan kuatir ini masalah kecil," balas Abdul.

__ADS_1


"Bagus, lu liat nanti apa reaksi mereka semua. pasti menyenangkan," ucap Wawan.


Mereka tersenyum licik, dengan apa yang akan mereka lakukan.


Rasa tak sabar memburu pada hati mereka berdua, pada saat itulah Ardi mulai membuka pintu mobil untuk mengeluarkan mereka berdua.


Wawan dan Abdul, memperlihatkan wajah memelas mereka, agar Haikal dan yang lainnya tak curiga.


Jerry melihat tingkah mereka yang terlihat sekali berpura pura dan ketakutan.


"Ini saksi yang aku ceritakan, Jer," ucap Ardi.


"Saksi, Mm."


Jerry melihat kearah Wawan dan Abdul, sembari mengusap kasar dagunya.


"Kalian berdua, terlihat merencanakan sesuatu?" tanya Jerry tiba tiba.


Lina dan Ardi yang menatap ke arah Jerry, kini saling bertatapan, seakan mencerna ucapan Jerry yang tiba tiba saja menebak pikiran Wawan dan Abdul.


"Sial, apa maksud polisi ini," gumam hati Wawan.


"Apa maksud pak polisi kami datang ke sini hanya ingin memberi kesaksian," ucap Abdul terbata bata.


"Oh, ya. Baguslah kalau begitu, hanya saja aku asal menebak pikiran kalian," ucap Jerry.


"Kurang ajar polisi itu," gerutu hati Abdul. Melihat Jerry tertawa terbahak bahak di depan mereka berdua.


Jerry menepuk bahu mereka berdua dan berkata," tak usah tegang jujur saja. Inikan masih di luar kantor polisi."


Wawan tersenyum kecil, melihat polisi yang ramah seperti Jerry.


Tatapan mata Abdul kini ia perlihatkan ke arah Lina, kesal dengan wanita yang akan menjadi calon istri Ardi.


Karna tamparan yang seakan menjadikan luka pada hati Abdul.


"Aku akan membuat kesaksian palsu ketika masuk ke dalam kantor. Agar Tuan Ardi masuk ke dalam penjara dan wanita itu akan kubuat menderita," gerutu hati Abdul.


Jerry melihat kelicikan pada raut wajah mereka berdua, terlihat sekali gerak gerik mencurigakan pada Wawan dan Abdul.


"Sepertinya kedua orang ini tidak akan serius memberi kesaksian, apa aku saja yang bertanya untuk mendengar kesaksian mereka. Jika polisi lain aku takut Ardi yang malah tersudutkan." Gumam hati Jerry.


Wawan yang menundukkan pandangan, sekilas menatap ke arah Jerry dengan tatapan kesal karna terus menebak isi kepala mereka dengan benar.


Sedangkan Pras yang menyuruh para pelayannya menyelidiki Wawan dan Abdul, kini tengah mengintip dari kejauhan. Di mana mereka bersembunyi di dalam mobil.


"Sepertinya itu Wawan dan Abdul, mereka ternyata ada di kantor polisi yang sering dikunjungi bos."


"Iya benar, dengan siapa mereka ke sana?"


"Kamu lihat, di samping mereka ternyata ada tuan Ardi!"


"Ya benar. Gawat, ini tidak bisa di biarkan. Kalau kita tidak membawa Wawan dan Abdul segera ke hadapan tuan, bisa bisa kita yang akan di bunuh."


"Ya terus kita harus bagaimana? Kamu tahu sendiri kan ini lingkungan Kantor polisi, jika kita datang ke sana dan salah sedikit bisa bisa polisi mencurigai gerak gerik kita berdua."


"Benar juga apa yang kamu katakan. Terus kita harus bagaimana? Ini terlalu berat."


"Ya sudah sebaiknya kita telepon dulu tuan. Untuk memberitahu Wawan dan Abdul yang sudah kita temukan."

__ADS_1


Saat itulah kedua pelayan Pras menelepon Pras yang di mana Pras tengah memarahi semua pelayannya yang tengah berkumpul.


"Halo."


"Halo tuan."


"Ada apa Yono?"


"Tuan, kami berada di lingkungan kantor polisi, kami melihat Wawan dan Abdul berada di kantor polisi."


"Kantor polisi?"


"Ya. Kantor polisi yang biasa tuan datangi."


Pras bergumam dalam hati," untuk apa mereka datang ke kantor polisi."


"Halo tuan,"


"Ya, ada apa Yono?"


"Wawan dan Abdul datang dengan Tuan Ardi dan yang lainnya."


"Apa. Mereka datang ke kantor polisi dengan Ardi?"


"Ya, tuan. Kami curiga mereka di paksa untuk mengakui kejujuran!"


"Ya sudah kalian selidiki dulu, pantau mereka dari kejauhan, saya akan segera ke sana."


Panggilan telepon pun kini mati sebelah pihak, Pras dengan tergesa gesa menaiki mobil untuk segera ke kantor polisi.


"Sial, untuk apa Ardi membawa Wawan dan Abdul ke kantor polisi," gerutu hati Pras yang tengah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Apalagi jalanan yang di tempuhi Pras begitu jauh. Apakah bisa Pras sampai dengan waktu hanya beberapa menti saja.


Drett ....


Suara ponsel kini bergetar kembali, Pras mulai membuka ponselnya itu.


"Nomor baru. Siapa ini?"


Pras tak peduli dengan nomor baru pada panggilan teleponnya. Ia terus melajukan mobilnya.


"Aku harus cepat sampai, sebelum Wawan dan Abdul memberi kesaksian pada polisi tentang kejahatan yang ku buat selama keluar dari dalam penjara," gerutu Pras.


Drett ....


Ponsel Pras kini kembali berbunyi. Membuat konsentrasi Pras terganggu.


Pras dengan terpaksa mengangkat panggilan telepon dari ponselnya. Walau sebenarnya ia malas, karna fokus saat mengendarai mobil.


"Halo."


"Halo."


Tidak ada suara pada sambungan telepon.


"Halo."


Beberapa kali Pras berucap.

__ADS_1


Siapakah?


__ADS_2