
"Lepaskan aku dari sini," ucap Lina. Membuat Pras menatap ke arah Lina, tangan kekar mencerkram pipi Lina dan berkata," tidak akan?"
"Apa mau kamu? Sudah puas kamu membunuh kakaku sekarang ...."
Pras malah semakin erat mencekram kedua pipi Lina, menatap tajam ke arah wanita yang ada di hadapanya.
"Mungkin itu menurut kamu, tidak menurutku. Tetap saja aku belum puas menghancurkan satu persatu orang yang dekat degan Dinda," kecam Pras.
"Pras, apa kamu gila. Kamu hanya menuruti hawa nafsumu hanya untuk mengurusi dendam orang mati," pekik Lina.
Palkkk ....
Satu tamparan melayang pada pipi kiri Lina, membuat wanita berambut pendek hanya bisa menahan sakit bekas tamparan pras yang tiba tiba melayang begitu saja.
"Aku bisa lebih meyiksamu dari pada ini." Ancam Pras.
Lina tertawa dengan rasa kesalnya. Melihat Pras menatap wajahnya dengan kebencian.
"Semakin kamu membenciku dan keluargaku, semakin kamu akan terpuruk dalam derita."
Ucapan Lina membuat Pras menjambak rambut pendek Lina dengan tangan kekarnya. "Kamu benar benar kurang ajar, pantas saja Burhan sangat membenci keluargamu."
"Kebencian akan selalu tumbuh pada orang yang tidak akan ikhlas akan menerima nasibnya."
Ucapan Lina dengan sepontan membuat Pras melepaskan cengkraman tangan yang mencengkeram rambut dan juga rahang Lina.
Lelaki berkulit putih kini pergi meninggalkan Lina yang berada di dalam ruangan tanpa satu orang pun yang menemaninya.
Ia menangis sejadi-jadinya, merasakan rasa penyesalan, karena sudah membuat suatu rencana yang Merugikan dirinya sendiri.
kepalanya kini dipenuhi rasa bersalah, mengingat alwajah Ardi yang selalu terbayangkan
"Apakah ini balasan untukku? karena sudah menyediakan satu lelaki yang benar mencintaiku Tulus?" Gumam hati Lina.
Lina menangis dalam kesepian dan juga kesendirian yang ia rasakan. Hatinya hancur seketika.
"Maafkan aku, Ardi."
Harapan mulai tumbuh dalam benak Lina, ia tidak tahu jika Ardi sebentar lagi akan menikah dengan Nining.
"Jika aku bebas, aku akan menghampiri Ardi, dan menebus kesalahanku."
@@@@@@
Pras kini mulai menghampiri Alya, di mana Alya tengah membaringkan badannya pada ranjang tempat tidur, seketika lelaki berkulit putih itu langsung duduk di samping Alya.
"Apa kamu kesal terhadapku, Alya?"
Pertanyaan Pras membuat Alya membalikkan badan, membelakangi Pras.
Dua sejoli yang belum mengikar janji suci, kini berduan di dalam kamar.
"Aku ingin sendiri."
Perkataan Alya membuat Pras memukul meja dengan keras.
__ADS_1
Bruggg ....
Lelaki berbadan tinggi dengan kulit putih, kini meninggalkan Alya, wanita yang menyamping, membelakangi Pras.
Seketika air mata itu menetes perlahan, membuat Alya terus mengusap dengan kasar.
"Aku harus pergi dari sini, mencoba untuk kabur. Aku tak mau jika terus menjadi kemarahan Pras setiap hari."
Pras mulai membuka pintu ke luar dengan kemarahan.
Megusap kasar wajah dan rambut, yang sekarang sudah berantakan.
"Ahkkkk."
Dreet ....
Ponsel berdering .... Pras kini mengangkat panggilan telepon yang ternyata adalah Maya.
"Kak Maya? Ada apa dia menelepon?"
Pras tersenyum sinis, di kala sang kakak menelepon.
"Halo, kakakku sayang?"
Pras mencoba besikap lembut, dikala sang kakak menelepon.
"Pras, bisa tidak kamu bersikap seperti biasa saja. Tidak usah sok lembut!"
Balas Maya terdengar kesal oleh kedua telinga Pras.
"Cukup, Pras. Jangan banyak basa basi, cepat katakan. Apa benar kamu yang menculik Lina, calon istri Pras?"
tanya Maya, membuat Pras tertawa terbahak bahak.
"Kakakku sayang, kenapa kakak malah berkata seperti itu, mana mungkin aku menculik calon istri Ardi keponakanku sendiri!" jawab Pras, dengan santainya.
"Sudahlah Pras, kakak sekarang sudah tahu. Kamu menjadi buronan dan menculik Lina. Sebenarnya apa tujuan kamu pada Ardi?" tanya Maya. Menekan Pras.
"Sebaiknya kakak jangan ikut campur urusan Pras kak, ini semua juga demi kebaikan Ardi!" jawab Pras.
"Maksud kamu."
Pras masih merasakan rasa pusing karna sikap Alya, kini mematikkan ponselnya seketika. Tak mempedulikan ucapan Kakaknya sendiri.
@@@@
Maya yang kesal, kini menelepon kembali adiknya.
"Pras, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan kakak? Ahkkk. Kenapa dia berubah?"
Anton kini datang menghampiri Maya, mencoba menanyakan apa yang terjadi dengan istri tercintanya.
"Kamu kenapa?"
Maya terduduk, sembari memegang ponselnya. Menatap layar ponsel. Beberapa kali menelepon sang adik.
__ADS_1
Tatapan Maya melihat sang suami sangatlah berbeda. Tidak seperti biasanya.
"Anton. Aku ingin bertanya kepadamu? Selama ini kamu sudah tahu akan kejahatan?"
Anton terdiam saat pertanyaan Maya dilayangkan kepadanya," aku tidak tahu hal itu?"
" Sudahlah Anton, katakan yang sesungguhnya, aku tahu pasti kamu juga tahu akan kejahatan adikku sendiri. Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini, Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal. Jika kamu memberitahuku dari awal? mungkin aku bisa mencegah kelakuan adikku sendiri?"
Anton kini duduk di sebelah kiri Maya, mengusap punggung sang istri," jika aku dan Ardi memberitahu kejahatan adikmu, aku takut kamu akan melakukan hal yang tidak baik terhadap adikmu sendiri. Kami berusaha menyembunyikan semua itu, agar kamu tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tak seharusnya kamu pikirkan saat ini."
"Tapi, jika kalian tidak memberitahuku dari awal, adikku malah semakin jahat. Sekarang buktinya Pras berani menculik Lina calon istri anak kita. Aku tak mengerti kenapa Pras ingin menghancurkan kebahagian anak kita."
" Asal kamu tahu Maya, tidak ada urusannya Pras dengan Ardi!"
"Maksud kamu?"
"Pras tidak bermaksud menjahati Ardi. Sebenarnya Pras bermaksud untuk membuat Lina menderita karena Lina adalah adik dari Dinda yang di mana Pras, membalaskan dendam temannya."
"Aku tak paham dengan perkataanmu itu, Anton."
"Jika kamu tak paham, sebaiknya kamu jangan ikut campur urusana Ardi, biarkan dia yang menyelesaikan semuanya."
"Tapi aku ingin menolong anak kita? Aku mau Ardi bahagia dengan Lina."
"Aku juga berharap begitu."
"Apa aku harus menghampiri Pras?"
"Ke mana? Bukanya adik kamu sudah menjadi buronan? Dan juga kita tidak tahu keberadaan Pras ada di mana?"
"Benar juga. Hanya saja aku sudah menyuruh para suruhanku untuk melacak keberadaan Pras. Aku ingin membebaskan Lina."
"Ya sudah kalau begitu, jika itu kemauan kamu."
Derrtttt.
(Ardi, besok pulang. Membawa calon istri untuk ibu.)
Maya terdiam mencarna isi pesan dari Ardi.
Membawa calon istri? Bukanya calon istri Ardi Lina? Tapi kenapa?
(Apa maksud kamu Ardi, bukanya Lina di culik.)
(Maaf bu, Ardi sudah mempunyai penganti baru. Ardi tidak mau berharap lagi dengan Lina. Karna aksi penculikan itu, karna ulahnya sendiri.)
Maya benar benar di buat bingung dengan isi pesan Ardi.
(Ibu masih tidak mengerti dengan perkataan kamu, sekarang kamu ada di mana.)
(Di kampung Haikal?)
(Loh, ngapain kamu di sana, harusnya kamu mencari Lina Ardi?)
(Aku sudah menyuruh suruhanku dan juga melaporkan pada polisi. Untuk mencari keberadaan Lina. Aku tidak mau ambil pusing sekarang.)
__ADS_1