
Ardi kini menyadari sang ibu yang tengah mengintip mendengarkan pembicaraan mereka berdua. saat itulah Ardi mulai memberikan kode kepada sang ayah agar tidak membicarakan tentang Pras.
Kedipan mata dari Ardi, membuat sang ayah mengerti.
langkah kaki Bu Maya terdengar lebih dekat, membuat Kedua lelaki itu tiba-tiba tertawa, mengalihkan topik pembicaraan.
Bu Maya melipatkan kedua tangannya dengan bertanya kepada kedua lelaki yang berada di hadapannya," Kenapa tadi obrolan kalian mengenai Pras? Ada masalah apa dengan dia?"
sebenarnya Ardi ingin sekali mengatakan yang Sejujurnya kepada sang ibu, akan tetapi Ardi tak mau jika ibunya terlibat dalam masalah yang tengah ia hadapi bersama Lina.
Ardi takut jika sewaktu-waktu Bu Maya menghampiri Pras, bisa saja rencana akan sia sia. Dan tak membuahkan hasil.
"Tidak apa apa, kok. Bu, kami sekarang mau mengecek kamar Lina."
Ucap Ardi, mengedipkan sebelah mata ke arah ayahnya, untuk segera pergi dari hadapan sang ibu.
"Iya sayang, kita mau mengontrol kamar Lina," Timpa sang ayah tersenyum lebar ke arah sang istri.
Ardi menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, Iya segera mungkin menarik tangan ayahnya untuk segera pergi dari hadapan sang ibu, yang terus bertanya.
"Ayo ayah."
"Iya, ayo Ardi."
Kedua lelaki itu langsung bergegas pergi meninggalkan Bu Maya.
"Tunggu."
langkah kaki Kedua lelaki itu tak berhenti, mereka terus melangkahkan kaki mereka lebih cepat dari sebelumnya.
"Hey, kalian ini tunggu. Ibu."
Teriakan sang ibu di abaykan oleh Ardi dan ayahnya.
mereka sekilas saling berpandangan untuk segera pergi mengabaikan teriakan Bu Maya.
"Kalian ini budek ya."
Bu Maya dengan Sigap mengejar Kedua lelaki itu, ia ingin sekali melihat keadaan kamar Lina seperti apa.
saat pintu dibuka, banyak sekali pecahan kaca yang berserakan di atas lantai, membuat Ardi dan sang ayah berhati-hati melewati setiap lantai di kamar Lina.
Ardi melangkah pelan menuju jendela kamar Lina, terlihat retakan yang begitu lebar membuat Ardi sangatlah kesal.
sedangkan sang ayah langsung mengambil batu yang tergeletak di atas lantai, lelaki tua itu melirik ke arah batu itu dengan begitu jeli, sesaat batu itu dilihat. ada sebuah tulisan dengan perkataan," kamu akan mati."
__ADS_1
sang ayah langsung memanggil anaknya untuk menghampirinya, saat itu lahar dimulai bergegas menghampiri sang ayah dan bertanya." ada apa ayah?"
sang ayah langsung memberikan batu berukuran besar itu kepada anaknya," kamu lihat tulisan pada batu ini."
Ardi Kini membaca tulisan yang berada di batu itu, tulisan di Batu itu membuat tangan Ardi mengepal erat batu itu dan berkata," kurang ajar. Ini tidak bisa di biarkan."
suara ponsel Lina kini bergetar, membuat Ardi langsung meraih ponsel itu dan melihat Siapa yang mengirim pesan. ( Bagaimana permainanku seru kan.)
Ardi yang sudah dilanda emosi, kini melemparkan batu itu ke atas lantai. Ya mulai menekan tombol untuk memanggil nomor yang mengirim pesan pada HP Lina.
Dreet ....
beberapa kali Ardi menelpon nomor yang mengirim pesan pada Lina. Nomor itu malah merijek panggilan Ardi.
"Ahk, sial. Kenapa juga dia malah merijek nomor teleponku."
Kesal yang terasa menjalar mengenai kepala Ardi, membuat sang ayah bertanya." Siapa Ardi."
"Entahlah, dia malah merijek panggilan teleponku."
sang ayah mencoba melihat nomor ponsel yang Ardi telepon, segera mungkin ia akan melacak nomor ponsel itu.
"Kamu tenang saja, ayah akan bantu kamu sebisa mungkin."
di tengah obrolan yang begitu serius antara sang ayah dan juga Ardi, Bu Maya hanya bisa memperhatikan suami dan anaknya yang begitu serius menangani masalah tentang Lina.
Ahkkk .....
teriakan terdengar begitu jelas, membuat Ardi langsung mengingat tentang keadaan Lina.
"Lina."
Ardi dan Bu maya kini berlari menghampiri kamar yang tengah ditempati Lina, mereka begitu kaget setelah mendengar teriakan yang begitu keras dari kamar yang ditempati Lina.
sang ayah yang memang sudah tua hanya bisa berjalan lebih cepat dan tidak bisa berlari, Ardi dan Bu Maya dengan sigap mengetuk pintu kamar yang ditempati Lina.
beberapa kali Ardi dan Bu Maya mengetuk pintu dan meneriaki Lina, tak ada jawaban sama sekali di kamar itu.
"Lina, Lina. Cepat buka."
Ardi terlihat gelisah, Iya terus mendorong pintu kamar yang ditempati Lina. padahal Bu Maya dari tadi tidak mengunci pintu kamar itu, tapi kenapa tiba-tiba sekali pintu kamar itu terkunci dengan begitu rapat.
membuat rasa heran pada hati Bu Maya.
"Bu, ini kuncinya ke mana?" tanya Ardi panik.
__ADS_1
Ahkkk .....
teriakan itu kini terdengar kembali, membuat rasa panik terus menggebu-gebuk pada hati Ardi dan juga Bu Maya.
Tok .... tok ....
"Lina, cepat buka. Nak." Teriak Bu Maya.
"Kuncinya ke mana, bu?" tanya Ardi pada ibunya yang terus mengetuk-ngetuk pintu kamar.
" Entahlah Ibu juga tak tahu di mana kunci kamar ini, padahal saat ibu meninggalkan Lina Ibu tidak mengunci kamar ini sama sekali, Ibu sangat heran kenapa bisa pintu kamar ini terkunci begitu saja!" jawab sang ibu.
"Ya sudah, cepat panggil pelayan," balas Ardi.
Sang ayah kini datang dengan membawa alat untuk mencongkel pintu kamar itu, hingga di mana. Kamar terbuka.
Ardi masuk, berteriak memanggil manggil nama Lina.
"Lina. kamu di mana."
teriakan Ardi tak mampu dijawab oleh Lina, entah ke mana Lina saat itu. Ia begitu menghuatirkan keadaan Lina.
"Lina, di mana kamu."
Saat itu Ardi membuka pintu kamar mandi," Lina."
Terlihat Lina tengah membungkukkan badan menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia terlihat ketakutan sekali.
"Kamu kenapa, Lina."
Baju Lina begitu basah, terdengar isak tangis.
"Kamu kenapa, Lina?" tanya Ardi mendekat ke arah calon istrinya.
saat Lina mendengar suara Ardi, ia langsung memeluk tubuh Ardi dengan begitu erat, tangan Lina bergetar hebat.
"Ardi."
"Kamu kenapa Lina, kenapa bajumu basah begini? Ada apa?"
pertanyaan Ardi tak mampu dijawab oleh Lina saat itu, dia hanya menangis ketakutan. Dirinya terus saja memeluk tubuh Ardi,
"Kamu tenang dulu, sebaiknya kamu cepat ganti baju. Biar aku panggilkan para pelayan untuk mengganti baju kamu." Ucap Ardi pada Lina.
akan tetapi Lina tetap saja memeluk tubuh Ardi, seakan ia tak ingin lepas dan tak ingin jauh dengan lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya.
__ADS_1
"Aku tak mau pergi dari sini, aku takut Ardi. Aku takut, aku takut ..."
Tangisan Lina tak henti henti, membuat Ardi, tak tega.