Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 261


__ADS_3

Hati Lina benar benar terasa sakit, di saat Ardi sudah memilih Nining. Di tambah lagi dengan perkataan Haikal, yang sudah menganggapnya sebagai seorang adik.


Lina seperti WANITA YANG TERCAMPAKAN.


Apa yang harus Lina lakukan sekarang? Ia seakan tak punya arah tujuan. Cinta dan harapan sudah hancur lembur begitu saja.


"Lina, aku berharap kamu menerima keputusanku ini." Ucap Ardi.


Lina berusaha tegar dengan menundukkan kepala, sedangkan Ardi menatap ke arah jendela, ia tahu jika wanita pujaan hatinya menangis dan kecewa.


Tapi ini semua harus Ardi lakukan, demi menyadarkan ke egoisan Lina.


Haikal, berusaha tetap tegas, ia berusaha mengubur dalam dalam rasa kasihanya terhadap Lina.


Tangan wanita berambut pendek itu, ia gerakan dengan rasa kesal. Tangisan kini sampai pada kedua tangan yang mengepal di atas lututnya.


Lina hanya biaa diam, ia benar benar lemah saat ini. Tak bisa melawan atau menimpal perkataan kedua lelaki berada satu mobil denganya.


"Lina, apa kamu baik baik saja?"


Diam dan hanya itu saja yang kini ada pada diri Lina, beberapa kali Ardi bertanya, bibirnya seakan keluh. Menjawab seakan berat, tertahan oleh rasa sakit yang semakin lama semakin menyebar pada kepala Lina.


Ardi menarik nafas mengeluarkan secara perlahan, ia mengambil sapu tangan pada saku bajunya, sapu tangan yang selalu ia bawa ke mana pun Ardi pergi.


"Hapus, air matamu Lina." Dengan menyodorkan sapu tangan bertulisakan namanya dan juga Ardi, membuat Lina malah menangis terisak isak.


"Sudah Lina, hentikan tangisanmu itu. Cepat kamu bersihkan air matamu dari penglihatanku sekarang."


Tangan Lina yang bergetar kini mengambil kain yang di sodorkan Ardi, perlahan. Lina mengusap air mata yang sudah basah mengenai kedua pipinya.


Nama yang selalu ia ingat, ketika dirinya merajut sapu tangan untuk Ardi.


"Aku berikan lagi sapu tanganmu itu, berharap setelah hubungan kita berakhir di hari ini. Kamu hapus namaku dalam rajutan sapu tangan yang kamu buat, Lina." ucap Ardi.


Ucapan lembut Ardi kini berubah. Menjadi sedikit cetus. Dimana ia merasakan jika lelaki di sampingnya seperti orang asing yang baru saja Lina kenal.


Lina memberanikan diri menatap ke arah Ardi dengan pipinya yang terus basah, karna air mata yang terus keluar.

__ADS_1


Ardi berusaha tak menatap dalam dalam wajah Lina yang sudah basah dengan air mata penyesalan.


"Baik, akan kuhapus rajutan nama ini."


Menggengam erat kain yang berada tangan Lina, penyesalan pada wajah Lina berubah menjadi kebencian.


"Aku berharap kamu tidak dendam pada Nining."


Lina hanya diam tak medengar peringatan dari mulut Ardi.


"Jangan kamu buat kekacaoan lagi pada kebahagianku ini. Aku bebaskan kamu untuk memilih lelaki yang kamu cintai."


Lina berusaha bersikap tenang, lelaki yang di cintai Lina justru menolaknya mentah mentah dan Ardi meninggalkanya begitu saja.


Obrolan seketika terhenti, di saat Haikal sudah memberhentikan mobil di depan rumah sakit.


Ardi dengan terburu buru turun, begitu pun dengan Haikal. Sedangkan Lina, memperlihatkan raut wajahnya yang malas untuk turun dari dalam mobil.


Tubuhnya tak bertenaga, hatinya rapuh. Semua seakan tak ada guna untuk hidup.


Perlahan berjalan menuju rumah sakit, Ardi langsung memukul Adnan. Tanpa Adnan sadari kehadiran sang tuan muda.


Kursi rumah sakit kini mengeluarkan suara, karna terkena bantingan tubuh Adnan yang terduduk pada kursi rumah sakit.


Ardi menunjuk-nunjuk Adnan, kesal dengan suruhan ibunya yang sudah membohongi dirinya di dalam sambungan telepon.


" Kenapa kamu tidak memberitahu aku langsung bahwa ibu berada di rumah sakit, KENAPA?"


Ardi memperlihatkan kemarahannya di hadapan Adnan, sedangkan Adnan hanya menahan sakit pada pipinya yang terkena pukulan keras dari sang tuan muda.


Kelaki tua yang menjadi Ayah Ardi, berusaha menenangkan anaknya. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Ardi yang memang sudah dikuasai amarah, tak mendengar nasehat sang Ayah yang terus terlontar, mengingatkannya untuk tetap tenang karena dokter telah menjalankan operasi untuk Maya ibunda Ardi.


"Ayah, harap kamu tenang. Ardi?"


kekesalan yang dirasakan lelaki ber bola mata coklat dengan hidungnya yang mancung Itu. Malah menghempaskan tangan sang ayah.

__ADS_1


Sedangkan Adnan yang masih berada dalam posisinya, hanya bisa pasrah dengan perlakuan sang tuan muda.


Adnan tak bisa berbuat apa-apa, karena dirinya yang memang merasa bersalah.


"Sudahlah, ayah tak usah ikut campur. Aku kesal dengan anak ini, kenapa dia tidak memberitahu ibu jika ibu berada di rumah sakit. Anak ini malah mematikan ponselnya."


Sang ayah mengusap kasar wajahnya, Iya tak bisa mengendalikan amarah Ardi.


"Ardi, Adnan melakukan semua itu untuk keselamatan kamu, ia berbohong karena ia takut jika kamu nanti di dalam perjalanan tidak bisa fokus dan Adnan takut, malah membuat sesuatu terjadi pada dirimu, Ardi."


Nasehat sang papah tak bisa di cerna oleh akal pikiran Ardi sekarang. Haikal yang baru saja menyusul sahabatnya kini bergegas berlari menghentikan kemarahan Ardi.


"Ar, lu harus tenang."


Terlihat dada Ardi naik turun," Adnan, kamu."


"Sudah Ar, ini rumah sakit. Alangkah baiknya kita menjaga sopan satun kita di sini."


Haikal yang terus menasehati Ardi, kini berhasil membuat Ardi tenang.


Sedangkan Lina yang berjalan belakangan, hanya bisa menundukkan pandangan. Membuat Adnan yang melihat Wanita itu semakin kesal, "Lina, dia ke sini. Pasti dia yang sudah memberi tahu ke adaan Nyonya Maya."


Suasana kembali tenang, Pak Anton baru melihat Lina. Ia sempat lupa dalam perjalanan menuju ke rumah sakit Lina tak ikut.


Ardi dan Pak Anton duduk bersamaan. Amarah Ardi yang sudah mereda, membuat ia kini bertanya?" Pah, kenapa papah bisa tega teganya tak ngabarin Ibu masuk ke rumah sakit."


Lelaki tua itu berusaha menjelaskan kenapa dia tak mengangkat panggilan telepon dari anaknya. karna ia panik dengan keadaan sang istri yang semakin kritis.


Ardi yang mendengar ucapan sang ayah, ingin sekali memukul lelaki tua yang menjadi ayahnya itu.


Haikal mendekat lagi ke arah Ardi, " Ar, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak bertanya kasihan ayah kamu."


Bisikan Haikal mampu membuat Ardi mengganggukan kepala, hatinya juga tak tega dengan keadaan sang ayah yang terlihat begitu sangat panik, terlihat sekali wajah penyesalannya karena sudah mengizinkan sang istri pergi menemui Pras.


Adnan kini mendekat ke arah Lina, yang hanya berdiri sembari menundukkan pandangan. Adnan mencoba mengawali obrolan bersama wanita yang membuatnya kesal.


Dengan santainya Adnan langsung mencaci dan juga menghina wanita yang berada di hadapannya, di mana Lina kesal dan langsung menampar di hadapan Ardi dan juga Haikal begitupun Pak Anton.

__ADS_1


Plakkk ....


semua tampak terkejut, setelah melihat apa yang sudah dilakukan Lina pada Adnan.


__ADS_2