Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 8 Menyelamatkan Dinda


__ADS_3

 


 


Pov Autor.


 


Lelaki berhidung mancung beralis tebal itu masih memikirkan wanita bernama Dinda, ia seakan jengah. Bagaimana tidak perlakuan lelaki bernama Burhan itu sungguh di luar akal sehat, menyiksa. Memukul.  Istrinya sendiri, lelaki itu tak segan-segan menjambak rambut panjang Dinda yang terurai begitu indah.


 


Mengusap pelan wajah seraya berpikir dengan jernih," apa yang harus aku lakukan. Bukti pun aku tidak punya, bagaimana aku bisa membebaskan Dinda dari kekejaman lelaki berengsek itu."


 


Kedua tangan Haikal mengepal begitu kuat, ia benci dengan lelaki yang hanya bisa memperbudak wanita dan juga menyiksa fisik..


 


Satu minggu Haikal sembuh dari luka pukulan Lelaki berkepala botak itu. Haikal bergegas pergi untuk mencari kerja, ia seakan enggan harus balik lagi ke Perusahaan Permata Dirga. Dimana perusahaan itu di pimpin oleh Nina yang menjadi bos di Perusahaan itu.


Sebuah mobil berwarna putih datang menjemput Haikal, memberikan klakson seakan menyuruh Haikal untuk diam berdiri di tempat. Sosok wanita itu keluar dari mobil berwarna putih dengan memakai Blazer Netral dan sepatu hak tinggi  seakan tak lupa hijab berwarna terang, begitu pun dengan Rok pendek yang biasa Nina pakai sekarang berubah menjadi Rok panjang yang menutup paha dan betis bawahnya. Membuat penampilannya begitu modis.


 


Jantung Haikal seakan berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tangannya mulai meraba pada dada area jantung. Agar dia bisa menahan debarannya itu, akan tetapi rasanya sungguh tak kuat. Pesona Nina membuat kedua mata Haikal tak berkedip, terik matahari mampu menyilaukan wajah Nina hingga terlihat sinar cahaya cantiknya begitu nyata.


Sungguh Indah ciptaanmu jika terlihat memakai pakaian tertutup seperti itu, gumam hati Haikal.


"Pak Haikal," ucap Nina. Melambaikan tangannya pada wajah Haikal yang masih terdiam tanpa berkedip.


Lambaian tangan lembut Nina mampu membuat Haikal bangun dari lamunannya.


"Astagfirullah, Bu Nina. Ada apa ya?


Pertanyaan Haikal membuat  Nina, tersenyum kecil, seraya menjawab!" Bagaimana tentang pekerjaan yang sudah saya tawarkan kemarin, apa Pak Haikal mau kerja lagi di kantor saya."


Terasa berat bagi Haikal, menolak apalagi dengan perubahan Nina yang memakai hijab ini. Rasanya dia ingin bekerja lagi, tapi ucapannya tidak boleh di tentang lagi. Kalau tidak ya tidak. Kalau iya ya iya.


Maka dari itu, mau tidak mau Haikal harus menolak. Itu prinsipnya. Apalagi dalam pikirannya Haikal, takut jika perubahan Nina karna ada maksudnya.


"Maafkan saya Bu Nina, saya sudah memikirkan secara baik-baik. Saya memutuskan menolak pekerjaan dari Bu Nina," ucap Haikal.  Dengan permohonan maaf dan berkata dengan begitu lembut. Haikal sangat takut  ucapannya bisa melukai hati Nina.


"Kenapa kamu menolak Pak Haikal? Apa alasannya? Padahal saya tidak akan menekan kamu!" jawab Nina. Dengan pertanyaan yang tak mampu Haikal jawab lagi.


"Maafkan saya sekali lagi Bu Nina, tidak ada alasan apapun. Ini memang sudah menjadi keinginan saya!"


Langkah Haikal seakan berat untuk melewati Nina yang masih berdiri dengan penuh harapan. Nina mengepal kedua tangannya seakan tidak suka dengan penolakan Haikal saat itu.


"Saya permisi dulu ya Bu. Terima kasih atas tawarannya."


Saat itu angkot Pak Hasan berhenti  di depan mata Haikal. Lelaki berhidung mancung itu segera masuk ke dalam angkot, menyuruh Pak Hasan segera menancapkan gas mobil.


angkot yang berjalan, membuat  sosok wanita bernama Nina itu semakin tak terlihat oleh mata.


Melihat kearah jendela, ada rasa menyesal menyelimuti hati Haikal saat itu, karna ia menolak pekerjaan bagus dari Nina.


"Dinda, dia tengah berjalan menangis. Aku harus menemui dia lagi. Pak Hasan tolong berhenti di sini?"


Haikal keluar dari angkot berlari menghampiri wanita yang tengah berjalan menangis. Memeluk tangannya sendiri.


"Dinda?"


"Pak."


Dinda yang melihat Haikal, sontak ia berlari begitu cepat. Seakan melihat sesuatu yang menyeramkan.

__ADS_1


"Dinda," teriak Haikal berlari mengejar Dinda yang sudah berlari cukup jauh.


Nafas Haikal terengah-engah, menundukkan badan seakan Dinda susah untuk ia kejar.


"Kenapa begitu cepat larinya wanita itu."


Dibalik pohon besar ternyata Dinda bersembunyi, ia menjauh dari hadapan Haikal. Karna Dinda takut Haikal menjadi incaran Burham.


"Aku tahu, kamu bersembunyi di sini Dinda." Ucap Haikal yang tiba-tiba datang dari belakang punggung Dinda.


Sontak wanita berbulu mata lentik itu terkejut, membalikan badannya melihat ke arah Haikal yang sudah berdiri di belakang tubuhnya.


"Pa-k Hai-kal kenapa kamu mengikuti saya?"


Tubuh Haikal semakin mendekat ke arah Dinda, membuat jantung Dinda seketika berdetak  lebih cepat, jantung Dinda tak biasanya seperti ini.


"Dinda, kenapa kamu harus menjauh dari saya. Jujur saja saya ingin menolong kamu!"


Perkataan Haikal, Dinda abaikan. 


"Sudah cukup Pak Haikal, saya sudah pernah ingatkan kamu. Jangan pernah ikut campur urusan saya."


Dinda berjalan menjauhi Haikal.


"Saya tahu Dinda kamu takut saya kenapa-napa, hingga kamu menjauhi saya yang akan menolong kamu. Dinda asal kamu tahu, kamu juga berhak bahagia, tidak seperti sekarang. Di perbudak di siksa seperti ini. Dinda ingat pesan saya. Saya akan membebaskan kamu dari derita yang sekarang kamu alami oleh suamimu."


Teriakan Haikal menggema di kedua telinga Dinda. Air mata Dinda mengalir begitu saja, ia terus berjalan sembari mengusap air mata itu dengan punggung tangannya. 


Haikal mengikuti Dinda secara diam-diam ia ingin mempunyai bukti yang kuat untuk membuat Burhan di penjara.


Aku tahu wanita itu lemah, dia lebih baik menyimpan luka hatinya untuk tetap bertahan. Tapi kalau luka itu benar-benar sudah merusak fisik ada baiknya mundur. Dinda apa setakutnya itu dirimu pada Burhan yang tak lain dia juga adalah manusia biasa, gerutu hati Haikal. 


 "Kamana saja kamu wanita j*lang, kelayapan saja. Ha, apa kamu tidak bisa berdiam diri di rumah," hardik Burhan. Menunjuk wajah istrinya. Ia melepaskan ikat pinggangnya dan memukulkan pada punggung Dinda saat itu.


"Sakit Bang, aku hanya pergi sebentar keluar untuk mencari makanan untuk abang!" jawab Dinda. Seketika Burhan melepaskan ikatan pinggan itu pada tangannya.


"Sekarang mana makanannya?" cetus Burhan menanyakan makanan yang di katakan Dinda.


"Kenapa kamu diam, ke mana makanannya?" tanya Burhan mengepalkan kedua tangannya.


"Pasti kamu berbohong kan. Dasar wanita tidak tahu di untung, harusnya kamu bersyukur aku pungut karna kamu sudah tidak mempunyai orang tua. Nyesel aku punya istri macam kamu, dasar sampah."


Burhan yang geram memukul kepala Dinda, dan beranjak pergi.


"Kalau abang memang terpaksa menikahi  Dinda. Kenapa abang tidak ceraikan saja Dinda? Kenapa abang masih mempertahankan Dinda? Dinda ingin pisah bang Dinda enggak tahan dengan perlakuan abang saat ini." 


Plak ... satu tamparan mengenai pipi kiri Dinda.


"Sudah berani kamu, heh asal kamu tahu  aku tidak akan pernah melepaskan kamu sampai kapan pun. Aku ingin kamu merasakan semuanya."


"Apa salah aku bang?"


"Apa salah kamu, ya karna kamu istri tak berguna."


Burhan lelaki botak itu pergi meninggalkan Dinda yang terisak-isak.  Setiap Dinda lawan Burhan selalu bertingkah menjadi-jadi, lelaki itu seakan tak ingin terkalahkan.


Berapa kali Dinda meminta cerai, dan berapa kali Dinda berusaha menggugatnya. Namun tetap saja, Dinda lemah saat Burhan mengancamnya. Satu ancaman yang benar-benar membuatnya takut.


Haikal yang mengintip dari jendela luar berhasil merekam aksi  Burhan yang memukul Dinda saat itu.


Ketika Burhan pergi ke luar, itulah kesempatan Haikal untuk membawa Dinda pergi jauh.


Tok ... tok ...


Dinda yang lemah tak berdaya berusaha beranjak untuk berdiri, segera membuka pintu depan rumahnya.


Sesaat membuka pintu itu," Pak Haikal."

__ADS_1


Dinda langsung menutup pintu, dan menguncinya. Ia sangat syok melihat Haikal yang sudah  berdiri di luar pintu.


Haikal terus mengedor-gedor pintu kamarnya.


"Dinda, buka Dinda saya ke sini datang untuk membantu kamu," teriak Haikal. Yang terus mengedor-gedor pintu rumah Dinda.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini Pak Haikal. Saya tidak akan ikut bersamamu," teriak Dinda. Tangannya bergetar hebat ia takut Burhan datang dan melihat Haikal ada di luar rumah.


"Pleas Dinda, berikan saya kesempatan untuk membantu kamu. Saya mohon," ucapan dari mulut Haikal terus terlontar. Tapi Dinda benar-benar mengabaikan pertolongan Haikal.


"Cepat pergi dari sini Pak Haikal, saya takut bapak kenapa-napa," teriak Dinda mengusir Haikal.


Dinda tak kunjung ke luar rumah, Haikal seakan pasrah. Ia sudah berusaha membujuk Dinda untuk pergi dari rumah itu. Namun Dinda menolak.


Mengegam ponsel yang berada di tangannya. Haikal pergi dari rumah Dinda, ia takut Burhan datang dan akan memukulnya seperti kemarin.


Tubuh Dinda seketika merosot pada pintu rumah, ia menagis sejadi-jadinya merasakan penderitaan yang teramat sakit.


"Ka Dinda," panggil gadis kecil bernama Lina datang menghampiri Dinda.


"Lina," ucap Dinda. Lina langsung memeluk kakinya.


"Kenapa dengan kakak?" tanya Lina. Sang kakak hanya menjawab," Kaka tidak apa-apa Lina!" 


Gadis kecil itu, menggosok-gosok matanya. Ia baru saja bangun dari tidurnya. Entah Lina tahu atau tidak saat Burhan tengah menyiksa dirinya.


 Linai yang di kuatirkan Dinda, ialah Lina. Yang tidak tahu apa-apa. Takut menjadi korban kekerasan Burhan.


Dinda bingung dengan Burhan, kenapa dia bisa menemukan adiknya. Padahal Dinda sudah menitipkan Lina pada panti asuhan.


Tapi Burhan begitu licik dan pintar, ia mencari informasi mencari Lina untuk mengancamku.


Situasi Dinda sekarang benar-benar dalam kesulitan.


Sesaat di dalam perjalanan menuju pulang Haikal tak sabar ingin segera melaporkan semuanya pada polisi?


Lihat saja nanti Dinda aku akan membebaskan kamu dari derita, gumam hati Haikal


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2