
Dari kejauhan Ardi melihat Pras dan Alya saling bergandengan tangan. Mereka terlihat begitu mesra, membuat Ardi berpura-pura tidak melihat kemesraan mereka.
langkah mereka semakin mendekat, ke arah pemakaman, membuat Ardi berusaha bersikap tenang.
sedangkan Lina masih dengan tangisannya yang melihat sang kakak dimakamkan, hatinya merasa begitu remuk, membuat Lina terus menangis. Haikal yang berada di samping Lina, hanya bisa menenangkan kesedihannya, dengan berbicara." yang sabar ya Lina."
Pras dan Alya kini mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Dinda.
"Lina, saya turut bersedih akan meninggalnya kakak kamu," ucap Pras. Membuat Lina hanya berucap dalam rasa kesal.
"Terima kasih, kak."
Alya yang menundukkan pandangan, berusaha untuk tetap kuat tidak melihat Ardi. Alya memegang erat tangan Pras.
"Alya aku tak menyangka jika kita akan bertemu di saat aku melihatmu bergandengan tangan dengan Pras, Omku sendiri." Gumam hati Ardi. Mengepalkan kedua tanganya.
"Ardi, maafkan aku. Aku melakukan semua ini karna aku terjebak dalam lembah kejahatan Pras." ucap Alya dalam hati.
Tak sadar mereka yang saling menundukkan wajah, tiba tiba mengangkatkan kepala. Membuat mereka sekilas saling menatap.
Tatapan Ardi membuat kedua pipi Alya, jantungnya bedetak tak karuan." Bagaimana bisa jantungku berdetak tak karuan begini." Gumam hati Alya.
Ardi hanya cuek, ia seakan tak merasakan rasa apa pun pada hatinya saat melihat Alya.
Lina kini mulai berdiri mendekat ke arah Ardi, Ardi kini meraih tangan Lina menggenggam erat tangan calon istrinya itu.
Apa yang dilihat Alya membuat hati Alya sangatlah kesal, api cemburu yang dirasakan Alya begitu saja. rasanya Alya ingin sekali menampar pipi Li na yang terus menempel di dekat Ardi.
" wanita itu," gerutu Alya.
Pras melirik ke arah Alya, melihat rasa kesal pada wajah Alya saat melihat Ardi dan juga Lina. yang saling berpegangan tangan.
"Mm."
suara Pras mampu mengagetkan Alya, perlahan wajahnya kini menetap ke arah depan. Ya berusaha bersikap tenang.
Pras yang menyadari tingkah Alya kini berbisik pada telinga wanita itu," kamu jangan lupakan apa yang aku katakan tadi."
Alya menelan ludah, saat bisikan itu terdengar begitu jelas pada kedua telinganya. Iya kini berusaha tetap tenang dan tak larut dalam ketakutan akan ancaman dari Pras.
pemakaman sudah mulai selesai, begitu pun dengan iringan doa.
semua orang-orang yang menyaksikan pemakaman Dinda, kini segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
sedangkan Lina dan Ardi masih berada di pemakaman begitupun dengan Haikal.
__ADS_1
saat luka akan kepergian Dinda yang sudah meninggal, tiba-tiba saja Pras berucap." Ardi. Bagaimana jika acara pernikahan kita digelar bersama. sepertinya akan menarik?"
Ardi sebenarnya kesal dengan pertanyaan yang tak seharusnya dikatakan di pemakaman, seharusnya sang Om harus bisa menahan apa yang ia ingin katakan. Lebih baik urusan pernikahan dibicarakan di rumah saja, bukan di pemakaman, yang di mana orang-orang tengah bersedih.
Haikal yang melihat amarah Ardi terlihat menggebu, kini berusaha menenangkan Ardi dan berbisik pada telinga sahabatnya itu," kamu harus tetap tenang, jangan sampai amarahmu membuat lelaki itu curiga."
benar apa yang dikatakan Haikal kepada Ardi, Iya tak boleh larut dalam kekesalan terhadap Omnya sendiri. Ardi seharusnya bersikap tenang, tidak membuat kecurigaan pada Omnya sendiri.
Alya yang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Prans tentulah kaget, mana mungkin acara pernikahan digelar bersamaan.
Ardi tersenyum kecil, ya kini berusaha tetap tenang dan berkata," sepertinya menarik, boleh juga."
" tentulah menarik, dalam acara pernikahan ada dua pengantin."
bagi Alya yang mendengar ucapan Pras, merasa semua itu adalah hal yang konyol.
Ardi kini mulai bertanya kepada Lina," jika yang terlontar dari mulut Om Pras. kamu akan menyetujuinya atau tidak Lina?"
pertanyaan yang terlontar dari mulut Ardi, membuat Lina menatap ke arah Alya yang terdiam tanpa berucap satu patah kata pun.
"Aku ayo ayo aja. akan tetapi calon istri Om setuju atau tidak?"
pertanyaan Lina membuat Alya tentulah tertohok kaget, apa bisa Alya menyetujui rencana yang menurutnya itu konyol.
Alya menunjuk pada dadanya dengan tangan," Mm. Tentulah aku setuju."
Pras yang mendengar semua itu pastinya bahagia.
Haikal yang mendengar percakapan mereka, seakan menjadi orang kelima diantara mereka berempat.
setelah obrolan itu, mereka kini bergegas untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
di dalam perjalanan menuju pulang, wajah Alya terlihat begitu murung.
membuat Pras yang tengah mengendarai mobil kini bertanya kepada Alya.
" Kenapa dengan wajahmu?"
pertanyaan Pras membuat Alya langsung melirik ke arahnya.
" Memangnya kenapa dengan wajahku?"
"Wajahmu terlihat murung dan tak bersemangat, sebenarnya. Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?!"
" mungkin itu perasaan kamu, aku sedang tidak memikirkan apapun!"
__ADS_1
" Sudahlah Alya, tak usah lah kamu berbohong lagi kepadaku. dari wajahmu aku sudah melihat kamu sedang bersedih."
"Tidak aku tidak sedang bersedih. Itu hanya perasaanmu saja."
Tiba tiba saja Pras menyampingkan mobilnya, membuat Alya tentulah kaget.
"Pras, kenapa kamu mengeremkan mobilmu mendadak, bikin aku jantungan. Tahu enggak?"
Pras tertawa terbahak bahak dengan teriakan yang terlontar dari mulut Alya.
"Kamu kaget, hanya dengan hal sepele ini."
Alya kini terdiam saat perkataan pras sedikit terdengar menakutkan.
Pras memegang dagu Alya dengan begitu kencang, membuat Alya merasa kesakitan.
"Pras, lepasakan. Apa yang kamu lakukan, tangamu hampir melukai daguku."
Rengekan Alya tak di dengar Pras saat itu, ia malah semakin kencang memegang dagu Alya.
"Kenapa, sakit."
"Pras, apa kamu tidak sadar. Tanganmu ini menyakiti daguku."
Pras tertawa dengan apa yang ia lakukan, iya tak peduli jika Alya merasakan kesakitan akan tangannya yang terus mencengkram dagu Alya, dengan begitu keras.
"Sakit."
"Pras, lepaskan."
berulang kali Alya berusaha melepaskan tangan pas yang begitu menyakiti dagunya.
"Sakit tidak. Ayolah Alya jawab?"
"Pras apa kamu sudah gila?"
"Aku gila, coba kamu tanyakan pada diri kamu sendiri, apa aku ini gila!"
Pras begitu terlihat bersikap aneh, ia lebih kejam dari sebelumnya. Seakan amarah yang ia tahan kini membeludak di depan Alya.
Pras terus bertanya kepada Alya, tentang apa yang dirasakannya saat Pras dengan sengaja, mencekram dagu Alya dengan begitu keras.
Alya kini menampar Pras membuat pegangan tangan Pras yang memegang dagu Alya terlepas seketika.
" Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu begitu tega melukai dagu ku. Pras, apa yang kamu kesalkan kepadaku. Bukannya aku tidak melakukan kesalahan kepadamu."
__ADS_1
Pras malah tertawa dengan apa yang terucap dari mulut Alya untuk dirinya," Kamu mau tahu kenapa aku begini?"