Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 51


__ADS_3

" untuk apa Ardi memberikan kado kepada ?" tanya Dinda pada Haikal.


Haikal menaiki kedua bahunya," entahlah. Mana Mas tahu, mungkin si Ardi suka sama adik kamu. makanya dia memberikan hadiah untuk Lina!" jawab Haikal.


Dinda terdiam setelah mendengar jawaban dari suaminya, membuat Haikal mengagetkan istrinya." Hey. Melamun."


Dinda memukul bahu sang suami dan berkata," apa sih."


Haikal langsung mencuil dagu istrinya, tersenyum dan membalas," udah nggak ngambek lagi kan."


kedua pipi Dinda merah, menahan rasa malu karena rayuan sang suami.


"Tuh kan, pipinya merah." Rayu Haikal.


"Sudah, ah. Mas. Aku mau masak," ucap cetus Dinda. Masih dengan rasa bahagia pada hatinya.


Tapi tetap saja di hati Dinda ada rasa Waspada, dan rasa takut akan Haikal yang akan direbut oleh Adiknya sendiri.


"Melamun lagi," ucap Haikal. lelaki berparas tampan itu langsung menyodorkan sebuah kado kecil yang ia pegang dari tangannya untuk sang istri.


"Nih, hadiahnya terima dong," ucap Haikal sekali lagi.


Tangan Dinda mulai meraih kado kecil itu.


"Et ...."


Haikal malah menjauhkan kado kecil itu, membuat Dinda berucap." Ih sebal."


Haikal tertawa, dia menyodorkan bibirnya. Mengetuk ngetuk bibirnya dengan jari tangan.


"Apa."


"Masa enggak ngerti."


Dengan rasa malu Dinda langsung mencium bibir sang suami, Saat itu pula Haikal langsung memberikan kado kecil itu kepada sang istri. " Ini."


Dinda meraih kado itu dan berkata," terima kasih. Nanti di bukanya, kalau udah beres masak."


Dinda segera mungkin, menaruh kado kecil itu pada saku celananya.


Ia melanjutkan memasak untuk sang suami.


saat tangannya mulai sibuk memasak, Saat itu pula Haikal mulai membantu sang istri.


"Sini biar Mas bantu."


Senyum terukir dari bibir Dinda, ia merasakan kehangatan jika Haikal kembali lagi seperti semula.


"Mas, kamu kan cape. sebaiknya kamu istrirahat saja. Biar aku saja yang memasak."


"Tapi, Mas pengen bantu kamu. Memang ya, enggak boleh ya."


"Bukan gitu, Mas."

__ADS_1


"Sudah, kamu juga cape. Kita sama sama cape, kita kerjain semuanya bareng bareng. Oke."


"Siap."


Dinda dan Haikal, memasak bedua. Membuat Lina yang menatap kemesraan mereka kembali seperti biasanya. membuat hatinya sangat lah hancur.


pada saat itu Lina mulai bergegas pergi menuju kamar, " kenapa hidupku selalu tidak beruntung."


Lina menatap ke arah meja rias yang di mana kado kecil itu Iya taruh dan belum dia buka.


" sebenarnya Apa isi dari kado itu."


menghela napas panjang mengeluarkan secara perlahan, Lina kini bangkit dari tempat tidurnya. iya meraih kado kecil itu. perlahan membuka bungkus kado.


betapa kagetnya Lina melihat isi dari bungkus kado itu, yang dimana isi dari bungkus kado Itu adalah sebuah berlian..."Ardi memberiku cicin berlian."


terselip di bawah cincin berlian itu ada sebuah surat dari Ardi. Lina perlahan membuka lembaran surat dan membaca isi dari surat itu.


(Lina, aku berikan cincin berlian ini untuk kamu pakai, Jika sewaktu-waktu kamu hamil aku akan menikahimu.)


Deg ....


Lina menyobek sobek surat yang diberikan Ardi, setelah membaca surat itu Lina semakin frustrasi.


"Apa maksud dari surat yang di berikan Ardi. Kenapa dia berkata seperti itu. Hamil, mana mungkin, aku tidak merasa melakukannya."


Ahkkkk .....


"Lina, kenapa dengan dia?" tanya Haikal kepada Dinda.


"Entahlah, ayo kita temui Lina!" jawab Dinda.


mereka berdua langsung menghampiri Lina di dalam kamarnya, rasa kuatir mulai menyelimuti mereka berdua.


Tok .... tok ....


"Lina, kamu kenapa?" Teriak Dinda.


Lina yang mendengar suara Dinda, membuat ia langsung menjawab." aku tidak kenapa napa. Hanya melihat kecoa saja."


Dinda mengelus dada, ia mengira Lina kenapa napa.


"Lina, coba buka dulu." Ucap Haikal.


Lina yang mendengar suara Haikal, bergegas mengusap pelan air matanya yang mengalir, membuka pintu kamarnya.


"Mas Haikal."


saat Lina mulai memeluk Haikal, pada saat itu pula Haikal mulai menyingkir. membuat lina langsung tersungkur jatuh di atas lantai.


"Aw."


HaiKal kini berdiri di belakang punggung sang istri, Iya tak mau jika Lina memeluknya kembali.

__ADS_1


Dinda dengan Sigap membantu Lina untuk berdiri.


"Lina, kamu ini kenapa?" tanya Dinda sang kakak.


Lina menatap ke arah Haikal dan bergumam dalam hati," kenapa Kak Haikal menghindar, biasanya ia diam saat kupeluk."


Dinda memanggil-manggil nama adiknya.


"Lina, Lina."


seketika Lamunan Lina membuyar.


"Kakak."


"Kamu kenapa?" tanya Dinda sekali lagi.


"Tadi, aku melihat kecoa di kamarku sendiri, jadi aku berteriak ketakutan!" jawab Lina berbohong.


padahal ia sangatlah frustasi dengan surat yang diberikan Ardi kepada dirinya, membuat ia tak bisa mengontrol amarah dan juga rasa kesal. sehingga mulutnya mulai berteriak tak terkendali.


"Mana kecoanya?" tanya Haikal. masih berdiri di belakang punggung sang istri.


saat itu juga Lina mulai menunjuk ke arah kamarnya, agar Haikal masuk kedalam kamar Lina. dan saat itu juga Lina mulai menyusun rencana.


agar sang kakaknya yang tak lain ialah Dinda merasa cemburu.


"Ya sudah, kalian berdua tunggu di dapur. Biar kakak yang masuk ke dalam kamar Lina." Ucap Haikal.


Namun Lina tak mau pergi ke dapur, ia ingin berdiri di depan pintu melihat Haikal masuk ke dalam kamar dan saat Haikal mencari kecoa di dalam kamar Lina. saat itu juga Lina akan mendorong tubuh Haikal. Hingga Haikal tersungkur jatuh ke ranjang tempat tidur. Dengan begitu Lina akan memeluk Haikal.


"Lina, kenapa kamu malah berdiri di abang pintu. Ayo kita ke dapur, takut nanti kecoa itu ke kita," ajak Dinda.


Tapi Lina masih bersikukuh berdiri di dekat pintu kamarnya." Aku penasaran dengan Kecoa itu Kak, Aku ingin melihat Kecoa itu sekarang juga."


Haikal mulai menghampiri Lina dan berkata" sudah sebaiknya kalian berdua cepat pergi ke dapur, Kakak mau membersihkan kamar Lina yang memang di kamarnya banyak kecoa." Ucap Haikal.


"Ayo Lina."


Dinda langsung menarik paksa tangan Lina, membuat Lina merasa kesal. karena dirinya ingin membuat rencana agar bisa berpelukan dengan Haikal di dalam kamar.


"Ayo kenapa sih dengan kamu."


setelah menarik Lina, masuk ke dapur. Lina langsung menghempaskan tangan Dinda.


" lepaskan tanganmu, Kak."


Dinda mengerutkan dahinya dan berkata," kamu ini kenapa. Kan suami kakak bilang kita harus menunggu di dapur. tapi kamu begitu bersikukuh Ingin berdiri di pintu kamar mu sendiri."


Lina melipatkan kedua tangannya menjawab Cetus terhadap kakaknya sendiri." terserah aku dong. mau aku diam di pintu kamarku sendiri."


" Mm. sepertinya Kakak curiga terhadap kamu. apa jangan-jangan kamu Tengah merencanakan sesuatu. berpura-pura di dalam kamar mau itu ada kecoa."


Lina membulatkan kedua matanya. saat sang kakak berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2