
"Bu, Ardi ini anak ibu. Bisa tidak ibu memuji anaknya sendiri apa." ucap Ardi pada sang ibu.
Bu Maya kini mencubit wajah anaknya perlahan, seraya berkata," memuji, apa yang harus ibu puji dari anak ibu yang tampan ini."
Lina yang melihat Ardi dan ibunya, sedikit tertawa pelan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Ardi kamu begitu beruntung mempunyai orang tua yang begitu baik kepada dirimu." gumam hati Lina.
di tengah percakapan yang berbahagia itu, seorang dokter datang untuk memeriksa Lina. Bu Maya dan juga Ardi hanya menatap Lina yang tengah diperiksa oleh dokter, membuat wanita tua itu langsung bertanya kepada dokter," Bagaimana keadaan menantu saya, dok."
setelah selesai memeriksa keadaan Lina, sang dokter langsung menjawab perkataan Bu Maya dengan tersenyum lebar." keadaan menantu ibu sekarang sudah baikan, besok juga bisa pulang."
Bu Maya sangatlah senang dengan apa yang dikatakan dokter, wanita tua itu tersenyum kepada Ardi dan berkata," Alhamdulillah akhirnya Lina bisa pulang juga ke rumah."
" Iya Bu, besok jadi kawinnya."
sang Ibu langsung memukul bahu anaknya, membuat Ardi sedikit meringis kesakitan dan berkata," kawin-kawin, nanti kawinnya nunggu dulu Lina sembuh total."
" ya Bu. bukannya kata ibu dua hari lagi aku dan Lina akan menikah, kok jadi nanti sih Bu padahal kan Ini udah waktu kedua hari."
" Ibu terpaksa undur lagi selama 3 hari."
Ardi seakan tak terima dengan perkataan sang ibu, padahal Ia tak sabar ingin berada di momen bahagia bersama Lina secepatnya.
" kelamaan lah Bu, gimana kalau satu hari lagi. pasti Lina udah sehat total." Ardi seakan merengek seperti anak kecil kepada ibunya sendiri, akan tetapi sang Ibu tetap bersyukur dengan apa yang ia katakan," pokoknya tiga hari lagi ya. Ibu nggak tega lihat keadaan Lina yang masih terlihat pucat."
Ardi menundukkan wajah seakan kecewa dengan jawaban sang ibu, di saat kekecewaan itu Lina kini angkat bicara kepada Bu Maya.
" tak usah diundur juga nggak papa Bu, Lina sudah sehat kok. kasihan Ardi ingin cepat-cepat menikah denganku."
__ADS_1
sang Ibu kini mendekat ke arah menantunya, memegang pipi cabby Lina," Lina kamu tak usah mengalah dengan Ardi yang memang tak sabar ingin memiliki kamu. Biarkan saja dia seperti itu, namanya seorang lelaki itu harus sabar, dan kamu jangan terlalu merasa kasihan terhadap dia."
entah apa yang berada di pikiran Bu Maya, bukan membela anaknya sendiri.
"Bu."
" Ardi, kamu jangan merengek lagi ya. ini sudah jadi keputusan ibu, ngomong-ngomong 3 hari itu nggak lama kok Ardi sebentar lagi. Kamu harus sabar jadi laki jangan mau enaknya aja."
Ardi mengeluarkan nafasnya dari hidung, ia tak bisa membatah lagi perkataan sang ibu.
Bu Maya tiba-tiba memanggil beberapa suster ke dalam ruangan menantunya, yang di mana Ardi merasa heran dengan ibunya yang tiba-tiba saja memanggil para suster ke dalam ruangan Lina.
sang Ibu kini berbicara kepada para suster itu, membuat Ardi mengangkat kedua alisnya.
"Apa yang sedang ibu bicarakan dengan suster itu."
akan tetapi obrolan sang ibu dengan para suster itu seketika terhenti saat Ardi menghampiri.
"Bu. sebenarnya apa sih yang pernah ibu obrolin dengan para suster itu?" tanya Ardi yang sangat penasaran.
"Mm, tapi kamu jadi anak kepo banget sih, Mau tau aja urusan orang tua!" jawab sang Ibu terdengar bernada cetus.
" Ya habisnya ngobrol kayak serius banget," ucap Ardi kepada sang ibu.
sang Ibu kini melangkah maju ke arah Lina, mengusap pelan rambut pendek Lina dan berkata," Lina. Ibu pergi dulu ya, nanti ada para suster yang akan menemani kamu di dalam ruangan."
Ardi yang mendengar perkataan sang ibu kepada calon istrinya, membuat ia sangatlah terkejut dan berkata," Bu, ngapain coba ibu suruh suster berjaga di sini. Ibu emang nggak percaya sama anak sendiri."
sang Ibu menatap sekilas ke arah Ardi tanpa menjawab perkataannya.
__ADS_1
" Lina, jika kamu butuh sesuatu kan gampang ada para suster yang berjaga di sini. Jadi kamu tinggal minta apa-apa ke Suster itu ya, dan juga kamu bisa tenang dan tidur nyenyak tanpa was-was akan Ardi yang akan macam-macam terhadap kamu."
Lina hanya menganggukkan kepala, mengerti apa yang dikatakan Bu Maya.
sudah diduga, itu yang ada di pikiran sang ibu. Di saat obrolan serius Bu Maya dan para suster, Habis sudah Curiga dengan apa yang akan Ibu sampaikan kepada Lina.
"Ya elah bu. Sampai segitunya, ada juga nggak bakal macam-macam kok terhadap Lina." Timpal Ardi.
sang Ibu kini menatap lekat terhadap sang anak," bagaimanapun seorang ibu tidak ingin melihat kedua anaknya melakukan sesuatu di luar batas, tanpa ada ikatan pernikahan. Walaupun kamu itu tidak akan melakukan sesuatu yang ibu pikirkan, tapi, namanya orang jatuh cinta berduaan di dalam ruangan mana bisa terkendali."
"Aku kan anak Ibu, aku itu kuat iman. Bu."
" sekuat-kuatnya kamu Ardi, melihat Lina yang cantik ini pasti kamu akan tergoda dan melakukan hal-hal Di Luar Batas. Apalagi Ibu sudah tahu pikiran jelek kamu, walaupun kamu sudah berniat menikahi Lina. Akan tetapi ibu harus waspada dengan anak ibu sendiri yang belum pasti benar-benar baik."
Ardi menggelengkan kepala tak percaya dengan perkataan sang ibu yang sedikit menyindir apa yang memang berada pada diri Ardi.
" Ya sudahlah terserah ibu, yang terpenting ibu senang dan bahagia."
sang Ibu kini memperlihatkan jempol tangannya ke arah Ardi, tersenyum lebar dan berkata." pintar."
wanita tua itu kini berpamitan kepada Lina dan Ardi untuk segera pulang, sedangkan Ardi yang melihat ibunya pergi masih memperlihatkan wajahnya yang muram. seakan tak terima dengan apa yang dilakukan ibunya. di mana sang Ibu menyuruh 5 suster berjaga di ruangan Lina.
membuat rasa risih pada hati Ardi.
Lina tertawa pelan melihat tingkah Ardi seakan tak suka dengan apa yang ia lihat di dalam ruangan. Di mana Ardi membulatkan kedua matanya ke arah suster-suster yang tengah berjaga melihat ke arah mereka berdua.
" kadang-kadang Ibu bikin kesel ya, ngapain coba ibu suruh 5 orang suster untuk berjaga di ruangan kamu. gila apa wanita tua itu," gerutu Ardi kepada Lina.
" mungkin ibu kamu ingin yang terbaik untuk kita berdua, jadi kamu tetap berpikir positif pada ibu kamu ya. Bagaimanapun ibu kamu tetap menyayangi kamu Ardi," ucap Lina dengan begitu lembut.
__ADS_1