Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 180


__ADS_3

" tak usah lah kamu berpura-pura tidak tahu akan kesalahanmu, Alya. Padahal dari tadi aku berusaha keras menahan kekesalanku untuk tidak melukai dirimu, akan tetapi kamu terus saja memancing emosiku, membuat aku tak tahan hingga sekarang aku layangkan semuanya di depanmu."


Ucapan yang terlontar dari mulut Pras, tentulah membuat Alya tediam.


" Kenapa kamu tidak mencoba perkataanku, Alya? kamu takut, apa kamu sudah menyadari semuanya?"


Pras memegang kedua pipi Alya dengan begitu lembut." kamu tahukan, aku tidak suka orang yang selalu berkhianat kepadaku?"


Alya menggigit giginya, menahan rasa kesal yang terasa pada hatinya.


Tid ....


suara klakson mobil terdengar dari arah belakang, membuat Prans sangatlah marah. Rasanya Pras ingin sekali membunuh orang yang sudah mengagetkannya pada saat.


karena klakson mobil itu sudah membuat dirinya kaget, perlahan tangan Pras melepaskan pipi Alya yang ia cengkram begitu keras.


membuat Alya sedikit bernafas lega, Pras mulai turun dari mobilnya. melihat Siapa orang yang sudah melaksoninya dengan begitu sengaja.


Pras turun dari mobil dengan membanting pintu mobil.


saat ia mulai melihat ke belakang mobil, ternyata orang yang sengaja mengagetkannya saat itu terntaya sang keponakan.


"Hay Om Pras. Ketemu lagi," ucap Ardi. Melabaikan tangan di dalam mobil ke pada Pras.


"Sialan, ternyata orang yang mengagetkanku itu adalah Ardi." gerutu hati Pras.


Ardi dan juga Haikal kini turun dari dalam mobil, menghampiri sang Om yang tengah direndungi rasa kesal akibat dirinya.


"Om, kenapa malah berpacaran di dalam mobil, itu tidak baik loh," sindir Pras kepada Omnya sendiri.


"Mm, memangnya kenapa tak boleh," balas sang Om. Dengan berusaha bersikap tenang.


Walau sebenarnya hatinya teramat kesal dengan kelakuan sang keponakan.

__ADS_1


"Yeh di bilangin, asal Om tahu ya. Kalau habis pulang dari kuburan itu bukan pacaran tapi mandi yang bersih biar enggak ketempelan," ucap Ardi. Berusaha menakuti omnya sendiri.


"Mitos." cetus sang Om.


"Ye, di bilangin," balas Ardi.


Alya begitu penasaran dengan orang yang sudah mengagetkan dirinya dan juga Pras, membuat Alya ingin sekali berterima kasih kepada orang itu, karena sudah melepaskannya dari cengkraman tangan keras dan juga ancaman yang begitu kejam dari mulut Prans.


Alya yang mengusap pelan dada nya, hanya menatap ke arah cermin luar, yang di mana Di belakang itu ada Pras dan juga Ardi tengah mengobrol. Seraya bercanda dan bergurau.


" Ardi, aku tak menyangka jika orang yang sudah melaksoni mobil Pras dari arah belakang adalah dia. Andai saja aku bisa mengobrol dengannya. Mungkin aku akan mengatakan kelak keluh kesahku kepada dirinya. Karena kelakuan Omnya yang begitu kejam dan tak mempunyai perasaan terhadap diriku."


sebenarnya Alya ingin sekali turun menemui Ardi, untuk mengatakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, akan tetapi dengan keterpaksaan Alya harus menunggu kedatangan Pras. Ia tak mau jika menemui Ardi akan membuat pras malah semakin murka dan bisa saja pras dengan nekatnya membunuh Alya.


"Ya sudah Om, kami sekarang akan mampir ke Cafe Om gimana, boleh kan?" tanya Ardi.


padahal Pras ingin sekali menyelesaikan masalahnya dengan Alya. Pras ingin memberi pelajaran untuk calon istrinya itu, agar tidak membuat dirinya terus-menerus kesal dan selalu membuat api cemburu pada hati Pras.


Ardi kini mulai bertanya kembali kepada Pras yang tiba-tiba saja melamun, memikirkan sesuatu hal tang entah Ardi tak tahu.


Ardi mengangkat kedua alisnya melirik ke arah Haikal, memberikan kode bahwa Omnya tengah melamun.


Saat itulah Ardi mulai memukul bahu sang Om dengan begitu keras, membuat lelaki itu tentulah terkejut dan menatap ke arah Ardi


"Kenapa Ardi?"


pertanyaan sang Om membuat Ardi tertawa terbahak-bahak, Pras malah terdiam dingin, tak suka dengan tawa Ardi yang seakan meledeknya.


"Apa bisa kalian menghentikan tawa kalian."


"Ya, habisnya kita tanya Om. Omnya malah melamun, mikirin apa sih?"


"Tidak ada yang aku pikirkan. Jadi tadi kamu ngomong apa?"

__ADS_1


"Cape deh, harus di ulang lagi!"


sang om hanya bisa menatap kesal ke arah Ardi.


"Om, kami ini mau ke cafe om, bagaimana Om tidak keberatan kan?"


sebenarnya Pras ingin sekali menolak keinginan mereka bertiga, karena Pras sangatlah bosan melayani mereka dan juga bercanda dengan hal yang tak penting. Pras kini bersikap pura-pura baik dengan terpaksa, mengizinkan mereka untuk datang dan memakan makanan di cafe secara gratis.


"ya boleh saja."


Ardi berpura-pura senang dengan apa yang dikatakan Omnya sendiri, padahal Ia sudah merencanakan sesuatu yang tidak akan Omnya tahu.


Haikal merasa Curiga dengan calon istri Pras yang kini menatap ke arah kaca mobil, yang di mana calon istri Pras itu terlihat begitu pucat dengan kedua mata yang terlihat begitu bengkak. Padahal saat Haikal melihat di pemakaman, wanita itu terlihat baik baik saja.


Lina yang berada di dalam mobil hanya bisa menunggu obrolan mereka, Lina tak berani keluar karena ia takut jika salah berucap di hadapan mereka bertiga. Lebih baik menunggu walaupun harus lama di dalam mobil.


walau sebenarnya hatinya sangat penasaran dengan obrolan yang tengah dibicarakan Ardi dengan yang lainnya.


"Ya sudah,kalau Om setuju dengan keinginan kami. Maka kami akan berangkat sekarang ke cafe Om dan Om tinggal siapkan makanan gratis untuk kami bagaimana?"


"kalian tenang saja, di cafe Om banyak pelayan. Untuk makanan gratis. Kalian tidak usah kuatir, Om akan menyediakan apa yang kalian inginkan karena Om merasa senang dengan persetujuan calon istrimu Ardi, yang mau menikah bersama di acara pernikahan yang sebentar lagi akan digelar."


"Tentu sajalah, berarti Om harus banyak berterima kasih dengan calon istriku, karena calon istriku kita bisa bareng menikah dengan pasangan kita masing-masing."


Haikal yang mendengar percakapan Ardi dan Omnya, hanyalah bisa mengusap kasar wajahnya. Hatinya begitu hampa ketika orang lain mau menikah dirinya kini menjadi seorang duda.


Haikal berucap dalam hatinya dengan sedikit bersedih," beruntung sekali mereka berdua akan secepatnya menikah dan mempunyai sang istri, sedangkan aku yang berada di dalam kebahagiaan mereka, hanya bisa merenung diri sendiri dengan apa yang sudah terjadi pada istriku Dinda."


Percakapan kini selesai, Pras mulai berjalan ke arah mobilnya untuk segera mengendarai mobil dan pergi ke cafe.


Alya yang sangat penasaran dengan apa yang diobrolkan Pras dan juga Ardi, kini mulai bertanya


"Sebenarnya apa yang sudah kalian obrolkan, kenapa begitu lama dan terlihat begitu serius?"

__ADS_1


Pertanyaan Alya malah tak dianggap oleh pras saat itu, "Prans padahal aku bertanya kepada kamu, tapi kenapa kamu diam saja?"


"Untuk apa aku mengatakan semuanya, itu tak penting."


__ADS_2