Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 206 Rasa bersalah Lina.


__ADS_3

Haikal berharap jika Lina tidak terus mengekor dirinya, karna bagaimana pun Haikal tidak mau membuat Ardi semakin salah paham.


"Lina, walau aku pernah menikahi kakakmu, menjadikan kita sebagai keluarga, aku berharap kamu tetap di sini, kakak tidak mau melihat sahabat kakak sendiri terpuruk, karna kesalah pahaman ini."


Nasehat terus dilayangkan Ardi, dengan harapan agar Lina tetap bertahan dengan Ardi.


"Tapi ..."


"Lina, jika kamu ikut dengan kakak. Ardi akan semakin benci pada kakak dan menyalahkan atas semua ini."


Ada rasa perih pada hatinya saat Haikal setengah mengusirnya.


"Balikalah ke hadapan calon suamimu."


Lina ini terdiam memakai melihat pekerjaan Haikal, rasa sesaktian merasuki hati dan pikirannya. melihat perlahan punggung Haikal yang sudah semakin menjauh.


"Lina."


Melihat kepergian Haikal, membuat Ardi datang ke hadapan Lina, melihat wajahnya yang sudah basah dengan air mata.


Lina merasa kehadiran Haikal semakin dekat ke arahnya, membuat dirinya berjalan menghampiri Ardi dengan berkata," tolonglah percaya pada kami. Kami berdua tidak melakukan apapun?"


Ardi yang sudah direnungi amarah dan rasa kesel hanya terdiam pilu, saat perkataan Lina terlontar.


"Aku butuh waktu sebentar untuk berpikir."


Ardi kini perlahan melewati tubuh lina, tak mempedulikan apa yang dikatakan Lina kepada dirinya.


pikiran Ardi terasa begitu kacau, dengan apa yang ia lihat pada mata kepalanya sendiri.


Lina berusaha menahan tangan Ardi untuk tidak pergi.


"Ardi, aku ...."


belum sempat perkataan Lina terucap semuanya, ini Ardi Memotong perkataan Lina dengan sedikit tegas," sebaiknya kamu cepat memakai baju. Aku tidak mau melihat pelayanan peria lewat ke sini, melihat penampilanmu seperti ini."


Lina melirik tubuhnya yang memang masih memakai handuk, karena amarah yang terus terlontar dari Ardi dengan tatapan benci terhadap Lina. membuat wanita itu lupa bahwa tubuhnya masih di lingkari handuk.


Ardi berjalan begitu cepat untuk segera masuk ke dalam kamar, Ia membuka keras pintu kamarnya. seketika menutup dengan membantingkan pintu kamarnya.


Brung ....


suara bantingan pintu itu terdengar begitu keras, membuat Lina kaget dan merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Padahal semua yang terjadi bukan keinginannya, semua adalah kesalahpahaman.


Ardi kini duduk pada kasurnya, ia mengacak rambut dan merasakan rasa frustasi akan apa yang ia lihat.


antara percaya dan tidak percaya dirinya, membuat dia harus menahan segala amarah yang meledak pada hati dan pikirannya.

__ADS_1


Ardi berusaha menjernihkan pikiran yang sudah di landa amarah.


"Kenapa mereka melakukan semua itu di depanku. Hah."


Ardi kini berdiri membanting meja yang terjauh di hadapan.


Iya berjalan ke arah jendela kamarnya, melihat Haikal yang berjalan dengan tubuh tergopoh-gopoh, membuat rasa iba pada hatinya. Akan tetapi rasa iba itu mulai ia tutup perlahan.


Hati Ardi benar-benar hancur sekarang,


"Haikal, sebenarnya apa kamu ingingkan?"


Ardi tak bisa berpikir dengan akal sehatnya, sekarang ia hanya bisa menatap sahabatnya dengan penuh kebencian.


Kebencian yang benar benar melada dirinya, membuat ia tak mampu menahan kemaran yang hanya sesaat pada dirinya.


@@@@


Lina berjalan dengan perasaan bingung, dan juga mengkhawatirkan keadaan Haikal. membuat ia seketika menangis.


"Kenapa bisa terjadi masalah seperti ini?"


wanita berbadan ramping dengan kulit putih, kini berusaha menghampiri Ardi yang tengah marah di dalam kamar.


Tangan Lina mulai melayangkan satu ketukan pada pintu Ardi, dengan harapan jika Ardi akan membuka pintu kamarnya.


Tok .... Tok ....


"Ardi, ini aku. Lina?"


"Ada apa!?"


"Tolong buka pintunya, Ar. Aku ingin menjelaskan semuanya dengan kamu hanya berdua saja."


Tak ada jawaban, Lina masih dengan raut wajah muramnya.


"Beri aku waktu untuk sendiri!"


Setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Ardi, tentulah Lina merasa kecewa dia kini membalikkan badan untuk berjalan pergi ke dalam kamar, saat berjalan menuju kamar terasa sesak terus menghantui pikiran dan hatinya.


Begitu bodoh ia tidak bisa menahan amarah, saat Ardi terus memukuli Haikal, seharusnya ia tak membela Haikal.


Lina terus menyalahkan dirinya sendiri ya tak tahu harus berbuat apa lagi, karena pernikahan yang mulai mendekati hari.


pikiran Lina benar-benar tak karuan, ya sekarang bingung harus berbuat apa. Entah bagaimana dengan nasib pernikahannya saat ini.


apa akan berakhir begitu saja? Lina terus memikirkan hal tentang pernikahannya, ya tak mau mengecewakan kedua orang tua Ardi yang sudah sangat mempercayai dirinya.

__ADS_1


Lina kini sampai di kamar tidurnya, Iya duduk membaringkan tubuhnya sebentar, handuk Putih itu masih menempel pada badannya,


kedua matanya menatap langit-langit, di mana ia memikirkan apa yang sudah terjadi pada dirinya, Lina seakan ingin menjerit sekeras mungkin, melihat Ardi yang tak mau mendengarkan penjelasannya.


Lina yang merasakan angin masuk dari jendela kamarnya, membuat ia sedikit menggigil kedinginan.


Lina mulai membuka lemari bajunya, untuk segera memakai baju.


Tok .... Tok ....


ketukan pintu kini mengagetkan Lina dari lamunannya, ia berharap jika orang yang mengetuk pintu itu adalah yang mau mendengarkan penjelasannya saat itu juga.


saat Lina membuka pintu kamarnya, ternyata sosok orang yang mengetuk pintu itu adalah pelayan di rumah.


pelayan itu melayangkan sebuah senyuman dan berkata kepada, Lina." untuk makan siang sudah saya siapkan, Nona."


Lina kini Memegang perutnya yang terasa perih, membuat dirinya berusaha menahan rasa lapar.


"Nona."


"Eh, iya?"


"Maknan sudah siap, apa saya antarkan ke sini saja. Nona seperti kurang sehat!?"


"Tak usah nanti saya ke sana."


Lina tak mau menyembunyikan diri dari Ardi akan kesalaha pahaman yang terjadi. Ia kini berjalan ke meja makan, dengan harapan jika Ardi sudah berada di meja makan.


"Mudah mudahan saja Ardi sudah duluan ada di meja makan."


Lina kini melangkah ke arah meja makan untuk segera menemui Ardi, akan tetapi langkah Lina kini terhenti. saat Ardi ternyata tidak ada di meja makan.


"Ke mana Tuan Ardi?"


tanya Lina kepada para pelayan yang tengah menyediakan beberapa makanan untuk Lina.


" kami sudah memberitahu Tuan Ardi untuk segera makan, akan tetapi Tuan Ardi menyuruh kami menyediakan makanan di atas meja untuk Nona saja."


Lina mengira jika Ardi akan berada di meja makan, untuk menyantap makan siang bersama. Namun ternyata itu salah.


Ardi masih berada di kamar, Ardi malah menyuruh para pelayan untuk menyediakan makanan untuk Lina saja sedangkan dirinya?


rasa lapar terus menghantui perut Lina, akan tetapi dalam pikirannya masih memikirkan keadaan Ardi yang masih berada di dalam kamar tidurnya.


"Pelayan, apa tuan Ardi makan?"


"Tidak nona, kami menawarkan tuan untuk kami bawakan makanan, tapi tuan menolak!"

__ADS_1


Lina merasa semakin bersalah


__ADS_2