Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 278


__ADS_3

Ketika hati Marcel sudah tenang, ia melangkah menuju pintu kamar Alya, gadis manis yang menjadi anaknya itu.


Marcel berusaha menarik napasnya mengeluarkan secara perlahan, ia berusaha bersikap tenang menghadapi anaknya sendiri.


"Aku yakin, pasti bisa." Gumam Hati Marcel.


Lelaki berperawakan tinggi, kini melihat anaknya di kelilingi ketiga lelaki yang menunggu kesadaranya.


Melangkah, mecoba mendekat. Marcel mulai duduk memegang rambut kepala anaknya.


"Alya, maafkan papi sayang."


Tangis lelaki egois, kini keluar dari kedua matanya. Membuat Renata mendekat dan berkata," aku berharap kamu tidak akan menekan lago Alya."


Anggukan kepala diperlihatkan Marcel pada istrinya, ia memeluk sang istri tercinta dengan erat, hingga pada akhirnya, Alya terbangun. Ia memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


"Aw,"


Kedua orang tua Alya, tentulah mendekat ke arah Alya, mereka memperlihatkan rasa kuatir pada anak semata wayangnya.


"Mami, papi, kenapa kalian menangis."


Renata dan Marcel saling menatap satu sama lain, mereka terlihat begitu bersalah, sampai pada akhirnya meminta maaf.


"Maafkan kami, Alya?"


Betapa kompaknya mereka berdua saat melayangkan kata maaf.


Alya tersenyum dan bahagia. Melihat keegoisan kini tak nampak lagi pada diri kedua orang tuanya.


Alya langsung memeluk kedua orang tuanya dengan begitu erat.


"Kenapa kalian minta maaf, kalian tidak punya salah. Alya yang harusnya meminta maaf pada mami dan papi."


Kata kata Alya sungguh terdengar manis, bagaimana bisa kedua orang tua yang egois itu tidak menyesali perbuatan mereka.

__ADS_1


"Alya, kamu anak baik nak, mami menyesal sudah menekan kamu."


"Tidak ada kata menyesal, Alya bangga punya mami dan papi, yang masih menekan Alya. Karna Alya tahu mami dan papi tentulah menyayangi Alya."


Apa yang dikatakan Alya tak sanggup lagi di jawab oleh kedua orang tuanya, mereka hanya menangis terisak isak, di saat pelukan hangat mendekap tanpa terlepas.


Sungguh disayangkan jika kedua orang tua itu, tak merubah sifat egoisnya sendiri, mereka akan menyesal dan menyia nyiakan seorang anak bernama Alya.


Pelukan itu kini terlepas. Di saat Alya mendengar isak tangis kedua orang tuanya. Tangan lembutnya kini mengusap air mata sang mami dan papi yang ternyata sudah menetes mengenai kedua pipi mereka.


"Mami papi Kenapa menangis. Apa kalian sakit hati karena Alya yang salah berbicara?" tanya Aliyah dengan wajah polosnya.


Sang Mami dan Papi menggelengkan kepala, mereka sudah mengusap air mata yang ternyata terus menetes keluar dari mata mereka," tidak ada yang membuat hati kami sakit, Alya, ucapan kamu membuat hati kami senang, Kami bahagia memiliki anak seperti kamu."


Alya tentulah tersenyum dengan apa yang dikatakan sang Mami. Hingga senyum itu ia perlihatkan kepada kedua orang tuanya," terima kasih Mami, papi."


Haikal yang melihat pemandangan itu, tentulah mengingat sang Emak tercinta yang sudah lama meninggal dunia. Iya berharap Emak tercintanya bisa hidup tenang di alam sana.


Alya yang menatap ketiga lelaki berdiri menatap ke arahnya, kini berucap." Ada apa ini? kenapa ada Haikal dan juga Ferdi di sini?"


Marcel takut jika nanti Alya, syok dan bisa saja ia depresi.


"Kami di sini sangat khawatir dengan keadaanmu Alya, karena kamu tadi jatuh pingsan."


Alya mendengarkan perkataan sang papi, dengan begitu fokus, membuat Marcel meneruskan perkataanya," Papi berharap kamu tidak kaget saat mendengar apa yang papi ucapkan pada kamu."


Alya masih menyimak Sang Papi, ia berusaha tetap mendengar ucapan papi ya dengan begitu tenang.


"Sebenarnya ada apa, kenapa tidak langsung ke inti permasalahnya sih?"


Sang papi kini menjawab pertanyaan anaknya," ferdi tadi mengecek perut kamu. Yang ternyata kamu sengan hamil."


Deg ....


Betapa terkejutnya Alya setelah mendengar apa yang dikatakan sang Papi, tangannya kini memegang perut, tatapannya begitu kosong." aku hamil."

__ADS_1


Terlihat sekali wajah Alya yang seakan tak menerima kehamilan pada perutnya," mana mungkin." Alya tiba-tiba saja menjerit tak menerima dengan apa yang dikatakan Papinya.


orang-orang di sana berusaha menenangkan kepanikan Alya," Alya, kamu tenang dulu ya, Nak."


Alya menangis, ia tak tahu harus berbuat apa lagi, setelah mendengar dirinya hamil.


Ferdi, berharap jika Alya berkata jujur.


" Alya. Tolong berkata jujur kepadaku, Siapa yang sudah menghamili kamu?"


Pertanyaan Ardi membuat Alya, hanya terdiam, ya seakan enggan mengatakan Siapa yang sudah merenggut kesuciannya.


Hatinya kini di ambang kebingungan, antara mengatakan kejujuran atau hanya menyimpan Siapa ayah dari anak yang ia kandung saat ini.


Ferdi mulai memegang kedua pipi Alya." Coba kamu lihat mataku Alya. Jangan takut, di sini ada aku. Siapapun anak yang ada dalam perutmu itu. Aku siap bertanggung jawab dan menjadi ayah dalam anak yang kamu kandung itu."


Alya malah menundukkan kepala, ia seakan enggak mengatakan siapa ayah dari anak yang ia kandung.


"Coba kamu katakan Alya, jangan takut. Aku akan tetap mencintai kamu."


Ardi hanya terdiam setelah melihat ketulusan sahabatnya yang mencintai Alya, Ardi hanya bisa melihat tanpa berbuat apa apa.


Karna ia sekarang terikat dengan cinta Nining, Ardi yang membuat dirinya rumit sendiri.


karena ketulusan yang dikatakan Ferdi kepada dirinya, saat itulah Alya mulai mengungkapkan Siapa ayah dari bayi yang ia kandung.


kedua mata Bulat itu ini memberanikan diri untuk menatap ke arah wajah Ferdi, lelaki yang tak ia cintai sama sekali tapi rela berkorban demi dirinya. Ferdi tak peduli jika Alya Tengah hamil, karena ia sangat mencintai Alya bukan karena tingkah ataupun kelakuannya, Ferdi mencintai Alya dengan sepenuh hati.


" Ayo katakan Alya, kamu tak usah takut. Aku akan terus berada di sampingmu sampai kamu melahirkan. hingga saat itulah aku akan menikahimu Alya. Aku tidak akan membuat kamu menderita. Aku akan selalu menjagamu, karena aku sangat mencintaimu, cintaku tak akan pernah pudar walau kamu tengah hamil sekarang."


Alya berusaha tenang saat itulah ia mengatakan Siapa ayah dari anak yang ia kandung," anak yang aku kandung saat ini ialah anak Pras. lelaki yang sudah menjebakku dan memperkosaku di waktu yang bersamaan, aku dipaksa untuk melayani dirinya jika tidak aku akan diancam, maka dari itu setiap dia menginginkan, aku selalu melayaninya walau Sebenarnya hatiku tak ingin."


Betapa sakitnya hati kedua orang tua Alya, setelah mendengar penderitaan anaknya yang dimanfaatkan oleh Pras.


" Lelaki itu, Kenapa bisa dia berbuat seenaknya kepada wanita yang sangat aku cintai. Apa dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya sudah membuat wanita yang aku cintai menderita. Dimana akal sehat lelaki b******* seperti Pras."

__ADS_1


__ADS_2