Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 76


__ADS_3

Lina menghentikan langkah kakinya, berucap kepada Ardi yang masih memegang tangan kanan," Ardi. Kenapa kita main pergi saja, di restoran kan masih ada ibu kamu."


Ardi perlahan melepaskan tangan Lina dan menjawab perkataannya," sudah kamu tak usah memikirkan Ibuku itu. Dia sudah terbiasa dengan aku yang seperti ini."


" aku merasa tak enak dengan ibu kamu," ucap Lina.


" sudah tak apa, bawa santai aja," balas Ardi.


saat itu juga Lina dibawa pergi oleh Ardi, entah Lina mau dibawa Kemana?


membuat Lina sedikit lagu terus mengikuti langkah kakinya.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Lina kepada Ardi.


" aku akan bawa kamu ke suatu tempat yang belum kamu datanggi!" jawab Ardi.


dan ternyata Ardi membawa Lina ke sebuah Mal besar, yang di mana Lina begitu kaget, karna dirinya yang baru pertama kali datang ke mal.


" kamu mau ajak aku pergi ke sini untuk apa?" tanya Lina.


" Apa kamu tidak tahu, ini itu tempat belanja. Kamu lihat sendiri kan banyak baju dan juga kecantikan!" jawab Ardi.


Lina perlahan mulai membalikkan badan untuk segera pergi dari mall itu, Iya Teh suka dengan baju-baju mewah yang terpasang. jadinya lebih baik pergi menikmati udara segar di taman.


hanya saja Ardi langsung menarik tangan Lina, agar tidak pergi begitu saja.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ardi pada Lina.


" sebaiknya aku pergi dari sini, aku tak biasa berbelanja di sini. Biasanya aku berbelanja bersama Kak Dinda di pasar!" jawab Lina.


Ardi mulai tersenyum kecil saat mendengar ucapan Lina yang begitu polos, membuat dirinya langsung menarik paksa tangan Lina untuk masuk ke dalam mall. sedangkan Lina benar-benar tak mau masuk ke dalam Mal itu.


"Ayo kita masuk."

__ADS_1


setelah masuk ke dalam Mal itu, Nina benar-benar dibuat terpanah oleh pemandangan yang begitu indah. di mana baju-baju bagus terlihat oleh kedua matanya dan juga barang-barang lainnya. membuat hati Lina ingin memiliki semua barang-barang itu.


"Ayo kita belanja," ucap Ardi langsung mengajak Lina memilih baju.


"Ardi, aku ini kan enggak punya duit," balas Lina.


Ardi mengabaikan ucapan Lina, Iya terus memilih baju yang pantas untuk Lina pakai.


"Sudahlah, sekarang aku akan teraktir kamu."


Lina sangatlah senang ketika Ardi ingin membelikan beberapa baju untuk dirinya," apa kamu yakin."


"Iya aku yakin."


saat itulah Lina mulai memilih baju yang menurut ia begitu bagus dengan badannya, sedangkan Ardi begitu sibuk memilih baju untuk Lina hingga pada akhirnya Ardi membawa tumpukan baju untuk Lina pakai.


"Kamu beli semua ini untukku." Lina kaget melihat tumpukan baju yang dibawa Ardi.


Lina tentu saja senang, namun ia merasa tak enak hati.


Sedangkan dari kejauhan Sisil melihat Ardi dan juga Lina telah berbelanja baju. membuat rasa iri terasa pada hati Sisil.


Sisil langsung, memberi tahu keberadaan Ardi dengan Lina yang tengah berbelanja. kepada sang ibunda Ardi.


"Tante, tante lihat itu Ardi dengan wanita kumuh itu," ucapan Sisil menunjuk keberadaan Ardi dan juga Lina.


Ibunda Ardi tak suka jika anaknya mentraktir wanita kampungan itu, wanita tua itu langsung berjalan menghampiri Ardi dan Lina yang tengah asyik berbelanja baju.


"Ardi." Panggil sang ibu kepada anaknya.


Ardi langsung menatap kearah ibunya yang memanggil namanya.


"Ibu, kebetulan sekali kita bertemu?" tanya Ardi menyapa balik sang ibu.

__ADS_1


Sisil kini menyusul.


" ngapain kamu mentraktir wanita kampungan. mau bagaimanapun wanita itu mengganti baju dan juga penampilan, dia tetap wanita kampungan dan juga kumuh," adik sang Ibu sedikit menghina Lina.


Namun Lina seakan terbiasa dengan hinaan yang terlontar dari mulut ibunda Ardi, membuat Lina hanya diam dan mendengarkan perdebatan ibu dan anak itu.


" Itu hanya pikiran ibu saja, tidak sama dengan pikiranku. aku tidak melihat penampilan pacarku, yang aku lihat adalah ketulusannya."


ucapan Ardi seketika membuat darah sang ibu naik, wanita tua itu ingin sekali mengacak rambut Lina yang berada di belakang punggung Ardi.


"Eh, Lina. Jangan karena kamu gadis kampung, kamu bisa seenaknya memoroti anakku," ucap wanita tua itu kepada Lina.


padahal ini tidak ada maksud untuk memoroti uang Ardi.


" tidak ada yang memoroti uangku di sini bu, Lina itu baik tidak matre seperti wanita yang berada di samping ibu, aku yang sebenarnya sengaja mengajak Lina datang ke sini dan membelikan beberapa pakaian untuk ia pakai. karena sebagai pacar aku harus bisa membuat dia bahagia," ucap Ardi.


Sisil seakan tak terima dengan perkataan Ardi, membuat dirinya langsung mengadu kepada sang ibunda Ardi," tante masa aku di sebut matre sama anak tante."


' Kamu harus jaga mulut kamu Ardi, Sisil ini bukan wanita matre dia itu anak baik. dia yang selalu menemani Ibu," timpal sang ibu kepada anaknya.


" apa Ibu yakin jika Sisil itu tidak matre, Soalnya aku melihat dari penampilan saja. itu terlihat haus akan harta dan juga kekayaan yang kita miliki," ucap Ardi menilai Sisil.


Sisil semakin tak terima dengan ucapan Ardi, ia langsung membalikkan badan untuk segera pergi dari hadapan Ardi dan juga ibunya," Sisil, kamu mau ke mana?" tanya Ardi.


membuat langkah Sisil seketika terhenti, Sisil mulai membalikkan badan menatap kearah Ardi yang sudah ah mengatakan dirinya matre.


" Jika kamu tidak merasa dirimu itu matre, seharusnya kamu jangan pergi begitu saja. Diamlah berdiri di belakang Ibuku dengarkan apa perkataan yang terlontar dari mulutku, seperti halnya pacarku yang tak pernah sakit hati akan perkataan ibu ku sendiri," ucap Ardi membandingkan Sisil dengan Lina.


" cukup Ardi. jangan kamu bandingkan Sisil dengan Lina. mau dibandingkan dengan segi apapun, Sisil tetap yang terbaik di mata Ibu, Ibu tidak akan melepaskan Sisil begitu saja. ibu akan berusaha mendekatkan Sisil dengan kamu. karena Ibu yakin setelah kamu bosan dengan wanita kampungan itu, kamu pasti akan berubah pikiran untuk bisa bersama Sisil," ucap sang ibu, yang terus saja mengagungkan Sisil.


" sudah cukup Ibu mengagungkan Sisil, yang baru saja Ibu temui beberapa hari yang lalu. belum tentu Sisil itu lebih baik dari Lina. bisa saja Sisil masuk ke dalam keluarga kita hanya untuk menikmati harta dan juga kekayaan yang kita miliki, karena aku melihat Sisil itu bukanlah orang kaya seperti kita. Ya seperti orang yang pernah berpura-pura kaya raya," ucap Ardi.


Sisil merasa ketakutan, saat Ardi begitu tepat mengatakan bahwa Sisil berpura pura kaya untuk bisa masuk ke dalam keluarga Ardi.

__ADS_1


__ADS_2