
"Masa ia papahmu ke luar negri, tapi kenapa dia tidak memberitahu aku soal ini?"
tanya wanita itu, menggigit bibir bawahnya.
"Jelas ayahku tak memberitahu kepada kamu, karena selingkuhan ayahku bukan kamu saja!" jawab Ardi. Tersenyum tipis.
" Apa maksud perkataanmu itu?" tanya wanita itu.
" Sudahlah kamu jangan berpura-pura tak mengerti, Ayahku itu kan sudah terkenal mempunyai banyak wanita. jadi aku ingat kan sama kamu jangan terlalu berharap ayahku," tegas Ardi.
"Kamu lihat saja nanti," ucap wanita itu berlengak lengok. Meninggalkan Ardi.
Haikal yang berjalan menuju ruangan Ardi, kini berpapasan dengan wanita itu.
Membuat kedua mata wanita itu, menatap genit terhadap Haikal.
"Kenapa? Terpesona," bisik wanita itu pada teling Haikal.
Haikal langsung menghindari bisikan wanita itu, yang membuat dirinya sedikit geli. ia tak menyukai wanita seksi.
Wanita itu terlihat kesal, ia langsung pergi begitu saja.
Haikal kini mengetuk pintu ruangan sang bos. ternyata di dalamnya adalah Ardi.
"Hai Haikal," sapa Ardi.
"Ke mana ayah lu?" tanya Haikal.
"Biasalah, dia pergi ke luar negri. Untuk happy happy bersama wanita-wanita seksi!" jawab Ardi.
"Masa ia, bukannya ayah lu udah punya bini. Bagaimana perasaan ibu lu nantinya," ucap Haikal.
"Ibu gue. Ya pastinya sakit hati, dan ingin bercerai. Tapi ayah gue enggak mau," balas Ardi.
"Miris," ucap Haikal.
"Dan juga gue, ngigetin lu. Agar tak terlalu perhatian dengan wanita lain. Oke." balas Ardi.
"Perhatian, ya enggak mungkin lah," ucap Haikal.
"Enggak mungkin tapi mungkin," balas Ardi.
"Maksud lu."
Ardi langsung mengalihkan pembicaraan, Dia meminta berkas-berkas yang berada di tangan Haikal." mana Sini berkas yang sudah selesai, ya gue tanda tangan sini."
Haikal langsung memberikan Berkas berkas yang berada di tangannya. kepada Ardi untuk segera ditandatangani.
"Oh ya, Haikal. Nanti pulang, gue titip ini buat adik lu ya." Ucap Ardi menyerahkan sebuah kado kepada Haikal.
__ADS_1
"Tumben lu baik sama adik istri gue?" Tanya Haikal.
"Hanya hadia kecil, karna dia baik sama gue."
Haikal langsung menganggukkan kepala, bergegas pergi dari hadapan Ardi.
Sedangkan Ardi tersenyum senang, dengan apa yang sudah ia berikan untuk Lina.
"Sebuah kejutan untuk adik manis." Gumam hati Ardi.
@@@@@
Lina yang sudah keluar dari rumah, ini berusaha mencari counter terdekat. hanya untuk membeli kartu, menganti nomornya dengan yang baru.
berkeliling ke sana ke mari, Lina belum juga menemukan counter. keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, terik matahari membuat badannya terasa lesu.
"Panas sekali hari ini."
sudah setengah perjalanan, pada akhirnya Lina menemukan counter untuk membeli kartu baru.
karena terik matahari yang membuat kedua mata Lina sedikit silau, ia malah melihat pegawai counter itu seperti Ardi.
"Ardi, ngapai kamu di sini. Oh ya jangan jangan kamu mengikuti aku, ya," pekik Lina. tiba-tiba saja marah-marah di hadapan pegawai counter.
pegawai counter itu merasa heran, dengan tingkah Lina yang tiba-tiba saja marah-marah kepada dirinya. membuat pegawai itu langsung mengusir Lina, menganggap dia seperti orang gila.
"Kamu gila ya." Bentak pegawai lelaki itu.
Lina tak segan-segan mengobrak-abrik toko konter itu, membuat pegawai itu langsung berteriak meminta tolong kepada orang-orang yang berada di sana.
"Tolong."
Orang orang di sana langsung menolong pegawai itu, mengamankan Lina.
"Heh, Ardi. Aku tak akan segan segan membunuh kamu."
entah apa yang terjadi dengan Lina , dirinya seperti dirasuki sesuatu. dengan beraninya Lina mengamuk di hadapan orang lain.
"Lepaskan aku, aku ingin membunuh lelaki itu." Teriak Lina.
orang-orang di sana tidak mengenal wajah Lina, hingga dimana salah satu tetangga Lina datang menghampiri keributan itu.
"Lina, kamu kenapa?" tanya tetangga yang selalu menyapa Dinda dan Lina setiap pagi.
"Ibu mengenal wanita ini!" jawab orang orang yang tengah memegangi tangan Lina dengan kencang.
"Saya tahu wanita ini, karna dia tetangga saya," ucap wanita paruh baya itu.
"Ya sudah bu, biar kita antarkan saja dia ke rumahnya, karna dia mengamuk di counter." balas orang orang di sana.
__ADS_1
"Ya sudah ayo."
Untung saja masih ada orang-orang baik yang mau mengantarkan Lina ke rumah, walau keadaan Lina dianggap seperti orang gila oleh orang-orang di sana.
"Lepaskan aku."
Dinda yang masih berada di dalam rumah, mendengar sebuah teriakan Yang Tak asing pada kedua telinga.
"Lepaskan aku, aku ingin membunuh lelaki itu."
Tok .... tok ....
ketukan pintu terdengar oleh Dinda, di mana Dinda langsung menghampiri pintu depan rumahnya.
"Kok rame, ada apa ya."
membuka pintu, betapa kagetnya Dinda. Melihat Lina di pegang tangannya oleh orang orang yang tak di kenali Dinda.
"Lina. Kamu kenapa?" tanya Dinda. Meraih tubuh adiknya.
wanita paruh baya yang dikenali Dinda langsung berkata," orang orang ini. Menemukan Lina mengamuk pada pegawai counter. Jadi kami langsung mengantarkan Lina ke sini."
Dinda berterima kasih pada wanita paruh baya itu yang sudah mengantarkan Lina sampai ke rumah.
"Bu, pak, terima kasih sudah mau mengantarkan Lina ke rumah."
orang-orang itu tersenyum ramah menjawab perkataan Dinda," iya sama sama neng. Oh ya adiknya di jaga. Sepertinya dia mempunyai sakit jiwa."
"Oh ya. Terima kasih sekali lagi."
orang-orang itu langsung pergi setelah mengantarkan Lina.
Lina yang masuk ke dalam rumah, langsung berjalan pergi menuju kamar.
Dinda mengejar sama adik dan berteriak memanggil namanya," Lina. Tunggu."
Lina mengabaikan kembali teriakan sang kakak, ya terus berjalan melangkah menuju Kamar tidurnya. menutup pintu kamar dengan begitu keras.
Dinda beberapakali mengetuk kamar Lina, merasakan rasa kuatir terhadap adiknya.
" Lina, buka. Sebenarnya ada apa dengan dirimu, Kenapa orang-orang itu menyebut kamu ini sakit jiwa."
Lina menutup kedua telinganya, Tak Mendengar ocehan sang kakak. Ya kembali merebahkan tubuhnya tertidur. di atas kasur melupakan kejadian tadi.
" memalukan sekali." teriak Lina.
membuat Dinda mendengar teriakan itu, " Lina cepat buka. Kamu kenapa?"
" Sudahlah cepat pergi dari pintu kamarku, aku sudah tak sudi bercerita dengan kakak yang tak mau berbagi suami denganku," teriak Lina.
__ADS_1
Dinda tak menyangka dengan perkataan Lina yang masih sama seperti tadi pagi. Ke egoisannya begitu terpajang nyata, membuat Dinda tak tahan dengan sifat adiknya sendiri.
"Lina, kakak berharap hubungan kita sama seperti dulu, dalam duka mau pun suka. Jangan sampai kita memperebutkan satu lelaki dan membuat hubungan persaudaraan kita hancur." Teriak Dinda. menangis terisak isak, berharap teriakannya menyadarkan Lina.