
Pagi kini menjelang, di mana Ardi terbangun dari tidurnya. Ia lupa akan ponselnya yang di mana dirinya sudah mengirim pesan pada Lina.
Saat menatap layar ponsel, Ardi merasa heran kenapa Lina tidak membalas isi pesan darinya.
"Kenapa Lina belum membalas pesanku?"
Ardi mengusap kasar wajahnya, saat itulah ia mulai bergegas untuk bersiap-siap datang ke rumah Lina dengan membawa kedua orang tua nya sendiri.
sedangkan ibunda Ardi tampaklah kuat, dirinya tak mau datang ke rumah Lina, apalagi melihat Ardi anaknya sendiri melamar wanita kampung yang tak di sukai Lina.
"Bagaimana cara untuk aku bisa menghancurkan hubungan Lina dengan Ardi? Sisil sekarang susah sekali di hubungi."
Jam sudah menunjukkan pukul 08 pagi, dimana Ardi sudah bersiap siap dan menemui sang ayah yang ternyata sudah rapi dengan mengenakan jas mewah.
"Ayah sudah siap, loh. Ke mana Ibu?" tanya Ardi ke pada ayahnya yang tengah merapihkan jas dan bajunya.
Sebenarnya Ardi sudah lama tahu bahwa kedua orang tuanya sudah pisah ranjang membuat Ardi tak heran dengan sang ayah yang hanya menjawab dengan mengerakan bahunya saja.
Ardi mulai berjalan menuju kamar ibunya, yang di mana ternyata sang ibu belum bersiap siap.
Tok .... tok ....
Ardi mulai mengetuk pintu kamar ibunya, beberapa kali Ardi mengetuk pintu kamarnya, sang Ibu tidak menjawab ataupun membuka pintu kamarnya.
"Bu, ibu." Ardi terus berteriak memanggil ibunya.
ternyata sang Ibu masih saja menatap kearah cermin, ya belum bersiap ataupun memakai baju yang biasa ia pakai.
saat itulah wanita tua itu mulai membuka pintu kamarnya menghampiri Ardi.
"Loh, ibu belum siap siap?" tanya Ardi pada sang ibu.
"Ardi, sabar sedikit donk. Bentar lagi ibu sudah mulai selesai kok!" jawab sang ibu. Seakan sengaja bersantai santai.
"Ibu ini gimana sih, ini kan sudah jam setengah sembilan, nanti keburu siang," ucap Ardi sedikit kesal dengan sang ibu yang begitu santai dalam berdandan.
__ADS_1
"Iya iya sepuluh menit lagi, nanti ibu sudah beres kok," balas sang ibu pada Ardi.
Ardi menahan kekesalannya, mencoba untuk bersikap tenang. " Ya sudah. Ardi dan ayah menunggu ibu di ruang tamu."
"Oke."
Sang ibu tersenyum, ia sengaja bersikap seperti itu untuk mengelabui anaknya sendiri agar tidak pergi ke tempan Lina. Berencana menggagalkan lemaran Ardi pada Lina.
Ardi mulai berjalan menghampiri sang ayah yang tengah duduk bersantai menunggu kedatangannya dan juga ibu nya sendiri.
"Mana ibu kamu, Ardi?" tanya sang ayah.
"Ibu belum siap siap, ayah!" jawab Ardi. Sedikit terlihat kecewa dengan ibunya yang seperti itu.
"Ya sudah kita tunggu setengah jam lagi, kalau ibumu belum siap siapa. Kamu sama ayah aja pergi," ucap sang ayah.
"Baiklah kalau begitu," balas Ardi.
setengah jam menunggu sang Ibu tak kunjung juga datang, saat itulah sang ayah mulai berucap kepada anaknya." Ayo cepat kita pergi. Biarkan saja ibumu, di kamar, sepertinya dia sengaja berlama lama. Agar kamu gagal datang ke rumah Lina."
"Baiklah, ayah."
wanita tua itu kini keluar dari kamarnya, Iya tak mendengar suara Ardi yang terus mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. membuat dirinya bergegas pergi menemui anak dan juga suaminya yang tengah menunggu dirinya di ruang tamu.
setelah sampai di ruang tamu, wanita tua itu melihat Ardi dan juga suaminya naik ke dalam mobil. membuat ia berlarian untuk segera menghentikan mobil yang ditumpangi Ardi dan juga suaminya.
"Ahk, sial mereka ternyata tahu apa niatku."
dengan gaun yang begitu panjang membuat wanita tua itu susah untuk berlari, saat itulah wanita tua itu mulai berteriak dengan begitu keras. membuat Ardi langsung membuka pintu mobil.
"Ardi."
"Yah, itu ibu."
wanita tua itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri anak dan juga suaminya," Kenapa kalian berdua meninggalkan Ibu sih."
__ADS_1
sang suami yang sudah duduk di dalam mobil kini mendelik kesal ke arah istrinya," siapa suruh lama."
ibunda Ardi membulatkan kedua matanya, tak suka dengan perkataan suaminya." terserah aku lah, namanya juga wanita."
"Sudah tua juga, tak ingat umur bentar lagi mau mati," cetus Ayah handa Ardi.
Mereka seakan memulai perdebataan kembali, membuat Ardi berteriak.
"Stop."
Ibunda Ardi dan Ayahnya kini terdiam bersamaan saat Ardi berteriak.
"Ayo cepat kita pergi, waktu sudah mulai jam 11 siang."
kedua orang tua Ardi mulai mengalah dengan perdebatan mereka, saat itulah mereka mulai duduk bersamaan di dalam mobil. sedangkan Ardi duduk di depan dengan sang supir. Ardi menatap kearah kaca mobil yang di mana kaca mobil itu mengarah ke arah kedua orang tua Ardi yang tengah duduk berdampingan.
tidak ada obrolan dari kedua orangtua Ardi saat itu, mereka lebih banyak diam dan juga menatap kearah jendela masing-masing. Ardi mengira jika mereka duduk berdampingan mereka akan mengingat masa-masa muda dan juga masa saat bersama.
Tapi nyatanya mereka seperti musuh yang sudah tak bisa bersatu kembali, membuat Ardi lelah untuk bisa membuat kedua orang tuanya kembali seperti dulu.
entah apa yang bisa menyebabkan mereka berdua menjadi sosok yang begitu egois, tak mau mengalah satu sama lain dan sering bertengkar dengan masalah sepele.
Ardi memulai percakapan di dalam mobil, untuk memberitahu kedua orang tuanya agar tetap terlihat harmonis. Ardi tak mau membuat Lina kecewa karna keluarganya yang tak pernah akur.
kedua Insan itu saling menatap dengan penuh kebencian, saat Ardi mulai memberitahu mereka jika mereka harus harmonis di depan semua orang dan juga keluarga Lina.
"Ardi, Kenapa kita harus harmonis di depan semua keluarga Lina. Sepertinya itu tak mungkin Ardi, tak usah lah kita tutup-tutupi keluarga kita yang sudah hancur lebur ini karena ayahmu sendiri yang sudah berselingkuh beberapa kali." Ucap Sang ibu.
sang ayah menatap tajam kearah istrinya, yang membalas perkataan istrinya itu," kenapa kamu malah menyudutkanku, jika aku sudah berselingkuh beberapa kali. Harusnya kamu sebagai seorang wanita sadar diri, yang mulai duluan dari kehancuran ini adalah dirimu sendiri. Istriku."
Ardi memegang kepalanya yang terasa berdenyut, setelah mendengar kedua orang tuanya yang terus mengungkit ngungkit masa lalu dan juga kesalahan yang mereka perbuat masing-masing.
"Kamu salahkan aku lagi, mas. Harusnya kamu itu ...."
Belum perkataan sang ibu terlontar semuanya, yang dimana wanita tua itu. Terus saja mengolok-ngolok suaminya sendiri di depan anaknya yang sudah lelah dengan nasib keluarganya yang tak harmonis.
__ADS_1