Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 212 Pulang kampung.


__ADS_3

tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam di mana Bus berhenti di sebuah desa yang dinanti-nanti Haikal, seorang sopir bus datang ke arah Haikal untuk meminta uang ongkos.


Haikal langsung merogoh saku celananya untuk memberikan uang ongkos kepada sang sopir bus, akan tetapi Supir itu menatap ke arah wanita yang berada di samping Ardi dan bertanya?


"Maaf Pak. Datanya berdua?"


Tanya sang sopir bus, sembari menghitung lembaran uang lima ribuan dari Haikal.


Haikal melirik ke arah samping wanita itu, melihat ia hanya menunduk tanpa berucap satu patah kata pun.


Apa mungkin wanita itu tak mempunyai uang?


Hati Haikal bertanya tanya.


"Bagaimana pak, bisa di bayarkan?"


Karna merasa kasian dengan sang wanita, Haikal kini merogoh saku celananya. Ia menyodorkan uang kembali pada pak sopir.


"Ini pak!"


"Gitu donk, kasian masa cewek sendiri enggak di bayarin," celetuk sang sopir menyindir Haikal.


"Mm, pasangan saya baru saja meninggal kemarin, pak!"


mendengar jawaban yang terlantar dari mulut Haikal, Sopir itu kini tersenyum kecil, membalikkan badan mempersilahkan para penumpang untuk keluar dari dalam bus.


Dengan hati merasa senang, Haikal melangkah dengan tergesa gesa, wanita itu mulai mengikuti dirinya dari belakang.


Langkah demi langkah kakinya terus menyelusuri jalan, dengan mulut yang mengeluarkan suara bernyayi dan melupakan akan hal di kota.


Bertapa sejuknya, hidung yang sudah lama tak menghirup udara segar. Kedua mata yang sudah lama tak menatap pemandangan desa.


Rumah rumah yang tersusun kayu dan bilik, membuat suasana malam itu, membuat rasa rindu pada hatinya terlepas.


Switer hitam yang ia kenakan, menjadi saksi bisu akan dinginya angin malam.


Suara langkah membuat Haikal terhenti seketika, ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang punggungnya.


Badan yang sudah terasa lelah, memaksakan diri untuk berbalik, langkah kaki siapa yang mengikuti Haikal saat itu.


Deg ....


Kedua mata Haikal melebar, melihat wanita yang duduk di sampingnya kini berdiri.


"Kamu lagi?"

__ADS_1


Jaket biru dongker yang ia kenakan, membuat kedua tanganya mengepal, wanita itu menunduk dan tak berani menjawab.


"Kenapa, dari tadi kamu mengikutiku terus?"


Pertanyaan Haikal, membuat sang wanita merasa ketakutan.


Melangkahkan kaki mendekat ke arah wanita yang ada di hadapanya?


"Siapa kamu?"


Rasa penasaran semakin menggebu, membuat tangan Haikal tak mampu lagi terkendali ingin membuka kupluk yang di kenakan sang wanita.


"Maafkan Lina Kak Haikal."


Tangan yang sudah mulai sampai menyetuh kupluk sang wanita, kini terasa lemas, saat suaranya terdengar begitu mengiris hati.


Suara yang tak jauh seperti suara Dinda.


Tatapan kekesalan kini Haikal tunjukkan pada Lina, wanita itu hanya menangis dan menatap balik ke arah Haikal.


Tidak ada rasa takut, Lina malah memeluk Haikal dengan begitu erat.


"Kak. Haikal ...."


Setiap lelaki pasti tidak akan menolak jika dipeluk oleh seorang gadis, akan tetapi tidak dengan Haikal. Ia melepaskan tangan yang melingkar pada pinggangnya, memberi ucapan tegas pada Lina.


Lina malah menangis sejadi jadinya, membuat Haikal tentulah panik dengan tangisan keras Lina yang secara tiba-tiba keluar dari mulutnya.


"Lina, stop kamu jangan menangis."


Haikal takut jika orang-orang di kampung salah paham dengan apa yang ditangisi Lina saat itu, apalagi suasana di kampung sangatlah sepi walaupun jam masih menunjukkan 9 malam.


Lina berusaha tenang saat Haikal menyuruhnya untuk tidak menangis, perlahan Lina mengusap pelan air matanya yang sudah jatuh mengenai kedua pipi.


"Kak Haikal, aku sengaja kabur dan mengikutimu. Karna aku tak tahan dengan Ardi yang tak mempercayaiku."


tangisan itu kini kembali lagi datang, dari kedua mata sipit Lina.


"Stop, ini kampung Lina. Tolonglah mengerti, jangan menangis di sini."


"Kak. Aku ikut kakak, ya."


mana mungkin Haikal akan membawa seorang gadis ke desanya, apalagi gadis itu adalah Lina.


"Lina, kakak akan bawa kamu ke rumah saudara kakak, besok kakak akan antarkan kamu ke rumah Ardi."

__ADS_1


"Kak, aku tidak mau menikah dengan dia, Ardi sudah berubah."


Haikal memegang kedua bahu Lina, menatap sayu wajah cantik Lina." kalau kamu memutuskan semua itu, Ardi akan semakin membenci kakak, dan ia mengira apa yang kita lakukan tanpa sengaja ia anggap sebuah penghianatan."


"Tapi, aku tidak mencintai Ardi."


Ucapan kata cinta terlontar kembali dari mulut gadis yang memang belum sepenuhnya dewasa, hati Lina masih dalam pilihan dan juga di ombang ambing kebingungan.


" kamu harus sadar Lina, aku ini kakakmu, bekas suami dari kakakmu. Ayolah kubur dalam-dalam rasa cintamu itu kepada Kakak."


Air mata Lina kini menetes kembali," iya, aku tahu itu. Tapi semakin aku melupakan Kak Haikal semakin rasa cintaku semakin dalam untuk Kakak."


Haikal mengusap kasar wajahnya, setelah mendengar pernyataan yang terlontar pada mulut gadis yang masih berumur 20 tahun.


"Kakak tahu, tapi cintamu itu hanya cinta sesaat Lina. Bisa hilang kapan saja, ayolah Lina jangan siksa dirimu dengan rasa cinta yang tak akan pernah kamu miliki, menikahlah dengan Ardi yang jelas jelas mencintaimu sepenuh hati."


"Tapi aku tidak bisa, kak. Aku sudah berusaha, aku ...."


belum perkataan Lina terlontar semuanya seorang lelaki tua datang menghampiri Haikal dan bertanya," eh ini teh Haikal, kok masih di pinggir jalan begini."


Haikal menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, Iya sampai malu pada lelaki tua yang ternyata itu adalah Amil yang dulu menikahkannya dengan Dinda.


" Ya."


"Istrinya ke mana?"


wajah Haikal kini berubah muram, setelah lelaki tua itu bertanya tentang sang istri tercinta.


"Kamu kenapa, bapak lihat wajahmu sedih seperti itu."


Lina mengerti apa yang dirasakan Haikal, saat seseorang bertanya tentang Dinda yang tak ikut serta pulang ke kampung.


"Istri saya sudah meninggal, pak."


ucapan Haikal membuat lelaki tua yang pernah menjadi saksi bisu akan pernikahan Haikal dan Dinda, merasa tak enak hati.


"Bapak enggak tahu kalau istri kamu sudah meninggal. Maaf Haikal."


"Sudah pak, namanya sudah takdir. Haikal sudah ikhlas."


"Syukur Alhamdulilah. kalau Haikal sudah ikhlas dengan takdir yang Allah berikan. Bapak cuman doan, semoga kamu kuat dan tegar, dan istri kamu di tempatkan sang maha kuasa. Di surganya Allah."


"Amin. Terima kasih pak Amil."


"Sama sama."

__ADS_1


Lelaki tua itu kini pergi, berpamitan kepada Haikal. Hanya saja tatapan lelaki tua itu pada Lina sangatlah berbeda seakan tak suka.


Entah karna penampilanya yang terlihat seksi.


__ADS_2