
"Ibu ini bagaimana sih, ibu ini harus tahu ya. penampilan itu bisa berubah, dan di ubah. Lina juga bisa lebih cantik," ucap Ardi yang terus membela Lina.
sang Ibu sangatlah kesal dengan jawaban Ardi yang terus membela wanita di belakangnya," tetap saja Ardi. kalau dia dari keturunan miskin, penampilannya yang berubah tidak akan membuat Kharisma kemiskinannya pergi begitu saja. pastinya Kharisma itu akan terus terpancar membuat orang akan memanggilnya si kumuh."
" Ibu ini ada-ada saja, Memangnya kekayaan dan kemiskinan itu ada karismanya, sampai dibahas begitu jelas," ucap Ardi.
" Sudahlah membahas dengan kamu tidak akan selesai Ardi, kamu ini tak jauh beda dengan ayah kamu," balas Sang ibunda.
Setelah itu mereka sampai di sebuah restoran yang ditunjukkan oleh ibunda, terlihat Sisil tengah menunggu kedatangan ibunda Ardi.
Sisil melambaikan tangan kearah mobil, wanita tua itu langsung tersenyum dan melabaikan tangan balik kepada Sisil.
"Itu baru idaman semua lelaki, bukan yang di belakang mobil." Ucap Wanita tua itu, menyindir Lina.
Lina tak mempedulikan semua ucapan yang terus terlontar dari mulut wanita tua itu, ia bukan tipe wanita yang cengeng dan selalu sakit hati jika seorang menyakitinya dengan perkataan.
mereka bertiga langsung turun dari dalam mobil, untuk segera menghampiri yang sudah menunggu di luar restoran.
"Tante."
Sisil terlebih dahulu menyapa ibunda Ardi, membuat Lina yang melihat mereka berdua bergumam dalam hati," akrab sekali."
Tiba-tiba saja Ardi langsung memegang tangan Lina untuk masuk ke dalam restoran, membuat Lina terkejut dan menatap kearah Ardi.
"Ayo kita masuk," ucap Ardi lembut.
Lina nya menuruti perkataan yang terlontar dari mulut Ardi, mereka Langsung masuk dan duduk.
Sisil menatap kearah Lina, yang dimana ia merasa jijik dengan penampilan Lina saat itu.
"Siapa wanita kumuh itu, kenapa Ardi memegang tangannya." Guman hati Lina.
sang ibunda langsung memperkenalkan Lina kepada Sisil," maaf ya Sisil, wanita kumuh yang bersama Ardi itu pacarnya."
Deg ....
sisir tak menyangka jika selera Ardi begitu murahan, padahal Sisil yang merasa dirinya lebih cantik dan juga glamour. berbeda dengan Lina wanita yang menjadi pacar Ardi.
"Masa ia tante. Tipe Ardi seperti dia?" tanya Sisil pelan.
"Iya, tante juga tak menyangka. Tante sebenarnya tak suka dengan wanita itu, tante lebih suka dengan kamu Sisil," ucap pelan sang ibunda Ardi.
__ADS_1
" Hem."
Ardi saat itu langsung memesan makanan, yang dimana pelayan langsung menghampiri mereka berempat.
Ardi langsung membuka buku menu makanan di restoran itu. akan tetapi sang ibunda langsung merebut buku menu makanan di restoran itu, " biar ibu saja yang pilihin, kalian tinggal nikmatin saja."
ibunda Ardi langsung memesan makanan.
"Aku ingin tahu, apa dia bisa makan dengan anggun." gumam hati ibunda Ardi.
beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan sudah jadi. Lina yang melihat makanan itu merasa heran. karena ia baru pertama kali datang ke restoran dan juga melihat makanan mewah.
Sisil dan Ibunda Ardi langsung menyantap makanan itu, sedangkan Lina bingung bagaimana cara memakan makanan di restoran itu.
Ia tidak bisa memotong daging, tangannya begitu kaku.
Ardi yang menyadari semua itu, langsung memegang kedua tangan Lina mengajarkan Lina memotong daging dengan sendok garpu dan juga pisau.
"Kamu baru pertama kali kan makan ini, aku ajari ya." Ucap Ardi.
"Coba kamu makan." Ucap Ardi. Menyuapkan potongan daging itu pada mulut Lina.
Sisil yang melihat semua itu, mengepal kedua tangannya. Kesal dengan pemandangan yang terlihat jelas di depan matanya.
Lina tak mempedulikan ucapan wanita tua itu, dia menikmati makanan di restoran itu dengan begitu bahagia. Ardi yang melihat Lina tersenyum membuat hatinya berdebar.
"Wanita tua itu seakan acuh saat ibunda Ardi menyindirnya. Dia seperti tak punya rasa malu sedikit pun." Gumam hati Sisil.
Ardi memperlihatkan, kemesraannya dengan Lina di depan sang Ibu dan juga Sisil.
"Ibu, jadi bagaimana. Ibu memilih siapa?" tanya Ardi.
Sang ibunda langsung menjawab," ibu tetap pilih ...."
Belum perkataan sang ibunda terlontar semuanya, Ardi langsung menjawab," pasti pilih Lina kan."
"Ardi, ibu belum selesai ngomong. Kamu main menjawab saja," bentak sang ibu.
"Ya elah bu, sudahlah aku sudah tahu jawaban ibu, jadi aku dan Lina mau pergi jalan jalan dulu ya bu," ucap Ardi. langsung berpamitan kepada ibunya sendiri.
"Ardi, tunggu. Ibu belum selesai ngomong kamu main pergi saja," cetus sang ibu. Berteriak memanggil anaknya.
__ADS_1
Ardi mengabaikan teriakan sang ibu, ya pergi dengan begitu cepat bersama Lina masuk ke dalam mobil.
"Anak itu," gerutu sang ibu.
Sisil berusaha menenangkan ibunda Ardi, agar ia selalu terkesan baik di mata ibunda Ardi.
"Tante yang sabar ya, aku yakin wanita itu mendekati Ardi hanya ingin hartanya saja. karena terlihat sekali penampilannya yang begitu kampungan dan juga tidak punya sopan santun," cetus Sisil.
wanita tua itu langsung meminta maaf kepada Sisil, karena Ardi pergi bersama wanita lain. Sisil yang berusaha sok polos dan juga sok baik. menjawab dengan tersenyum kecil," tidak apa apa. Sisil memaklumi semuanya, Sisil yakin kalau suatu saat nanti Ardi akan sadar jika wanita itu tidak baik untuk dirinya."
sang ibunda langsung bersimpati kepada Sisil," Kamu memang anak baik Sisil. Ibu bangga dengan kamu, ibu tak mau jika Ardi bersama wanita kampungan itu. Ibu ingin Ardi bersama kamu."
"Iya bu."
sebenarnya Sisil tak suka dengan semua yang terjadi di restoran, apalagi Sisil melihat Ardi bersama wanita lain. hanya saja ia berusaha tenang karena ia ingin terlihat baik dimata orang tua Ardi. hanya dengan cara bersabar Sisil bisa semakin dekat dengan ibunda Ardi, dan saat itulah peluang untuk mendapatkan Ardi sangatlah mudah bagi Sisil.
suara ponsel Sisil tiba-tiba bergetar, membuat Sisi langsung melihat layar ponselnya, yang di mana 1 nomor baru datang. nomor itu langsung menyapa Sisil dengan begitu ramah.
(Hai, Sisil.)
sapaan itu seakan mengingatkan Sisil pada ada Ayah handa Ardi.
Sisil perlahan langsung membalas isi pesan itu.
(Siapa ya?)
ibunda Ardi langsung bertanya?" siapa Sisil. Kok kaya kaget gitu."
" Entahlah tante aku tidak tahu, soalnya nomornya baru!" jawab Sisil pada ibunda Ardi.
Dreet ....
pesan itu datang kembali lagi.
( Masa kamu lupa dengan saya, Sisil. Saya lelaki yang kemarin bertatapn denganmu.)
Deg ....
Sisi langsung membiarkan pesan itu, tak membalas kembali isi pesan itu. karena dirinya yang tak enak hati dihadapan ibunda Ardi.
"Siapa?" tanya ibunda Ardi.
__ADS_1
"Tak penting tante. Lebih baik kita jalan jalan saja yuk tante!" jawab Sisil.
"Ayo." balas ibunda Ardi.